My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
46. Season2



Reynald terlibat obrolan ringan dan penuh tawa dengan Alisha. Gadis kecil itu mudah dekat dan tidak malu jika bertemu dengan orang baru.


Alisha tipikal anak yang cerewet dan kritis dibanding dengan anak lain seusianya. Sifat ini diturunkan dari Angel yang memang sangat humble dan welcome pada siapapun.


Karin hanya sesekali masuk dalam obrolan antara ayah dan anak itu. Dia tidak banyak bicara karena merasa canggung, terlebih dia baru saja berdebat dengan Reynald hingga moodnya memburuk.


Kedekatan Reynald dan Alisha mampu mengetuk hatinya. Rasanya menyakitkan ada di posisi Reynald yang harus berpisah dengan anak kandungnya, bahkan dia harus di panggil dengan om oleh anak kandungannya sendiri. Kasian memang, namun sikap Reynald yang menyebabkan membuat Karin memilih untuk tidak peduli akan hal itu.


Karin tidak sengaja menatap Angel saat dia menoleh, tapi rupanya saat itu Angel juga sedang menatap ke arahnya. Wanita di masa lalu Reynald itu tersenyum ramah padanya. Senyum yang terlihat sangat menyejukkan dan tidak membosankan. Pantas saja Reynald kesulitan untuk melupakan masa lalunya. Pasti bayang - bayang Angel tidak mudah hilang dari ingatannya.


"Siapa nama kamu.?" Tanya Angel ramah.


Entah garis hidup macam apa yang sedang dijalani oleh Karin. Dia tidak pernah berfikir akan masuk dalam kehidupan Reynald yang rumit itu. Memiliki anak dari wanita lain dan sekarang Karin harus terlibat interaksi dengan wanita itu. Tentu saja ada rasa canggung, kesal dan cemburu yang di rasakan oleh Karin. Bahkan tidak mudah berada dalam situasi seperti ini.


"Karin kak,,," Karin hanya menjawab singkat. Dia tidak berani bersuara jika tidak ada yang bertanya atau mengajaknya bicara.


Angel menganggukan kepalanya sembari mengulas senyum.


"Kamu cape nggak.? Duduk di sana aja yuk, Rey nya biarin aja ngobrol sama Alisha." Tanpa rasa canggung, Angel menggandeng tangan Karin dan mengajaknya duduk di sofa yang terletak di pojok ruangan. Dari sana Karin masih bisa melihat interaksi Reynald dan Alisha, sedangkan Dion terlihat sibuk dengan ponselnya. Kedua laki - laki itu hanya sekali bertegur sapa, lalu saling diam hingga saat ini. Sejujurnya Dion terlihat santai dan menerima kedatangan Reynald dengan tangan terbuka, namun Reynald yang justru terlihat tidak suka pada Dion.


"Aku minta maaf Karin,,," Tiba - tiba saja Angel mengucapkan permintaan maaf pada Karin, tentu hal itu membuat Karin kebingungan. Pasalnya dia dan Angel baru bertemu 2 kali dan baru melakukan interaksi hari ini, jadi tidak mungkin Angel punya salah padanya.


"Untuk apa kak.?" Karin mulai fokus menatap Angel, dia menunggu Angel bersuara. Dilihat dari raut wajahnya saat ini, sepertinya Angel ingin berbicara banyak hal padanya.


"Kenyataan ini pasti berat untuk kamu,," Ujar Angel lirih.


"Dari awal aku sudah menyembunyikan Alisha dari Rey, karena aku sudah meninggalkannya dan menikah dengan orang lain. Rey sama sekali tidak tau kalau saat itu aku sedang hamil."


"Aku sudah menyakitinya. Aku pikir dia akan mengalami masa sulit. Tapi setelah tau dia sudah menikah, aku jadi merasa lebih lega."


"Kamu nggak usah khawatir, aku nggak punya perasaan apapun lagi sama Rey."


"Kamu juga nggak perlu cemburu sama aku,,," Angel tersenyum. Dia bisa melihat kecemburuan di mata Karin saat sedang menatapnya.


Karin tersenyum kaku, dia terlihat malu pada Angel.


Rupanya mantan kekasih suaminya itu bisa menebak apa yang dia rasakan saat ini.


Tentu saja Karin cemburu. Siapa yang tidak cemburu jika berhadapan dengan masa lalu suaminya, terlebih mereka telah memiliki anak tanpa adanya ikatan pernikahan.


Itu artinya Angel dan Reynald sering melakukan hubungan. Meski Karin sudah tau tabiat buruk Reynald, tapi entah kenapa dia merasa gerah dan kesal membayangkannya.


"Aku tau, kakak juga tidak perlu minta maaf untuk itu. Masa lalu kakak dan kak Rey tidak ada hubungannya denganku, semuanya sudah berlalu."


Karin merasa permasalahan yang dihadapi Reynald tidak ada sangkut pautnya dengannya, semua itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Jauh sebelum dia bertemu dan memiliki hubungan dengan Reynald. Memang berat untuknya, tapi apa yang bisa dia lakukan selain menerima kenyataan ini.?


"Kamu terlihat baik, aku senang Reynald menikah dengan wanita baik seperti kamu."


"Mulai saat ini aku tidak bisa lagi menutupi keberadaan Alisha dari Reynald, aku membebaskannya untuk menemui Alisha. Aku harap kamu bisa menerima kehadiran Alisha dalam kehidupan Reynald. Aku bahkan akan senang jika kamu juga menganggap Alisha seperti putri kamu sendiri." Angel menepuk pelan punggung tangan Karin, tak lupa melemparkan senyum ramah padanya.


Karin mengangguk pelan. Mungkin dia bisa menerima kehadiran Alisha dan menganggapnya seperti anak sendiri, tapi dia belum siap melihat Reynald terus bertemu dengan Angel nantinya.


"Tentu saja, aku akan menganggap Alisha seperti putriku sendiri." Karin terlihat terpaksa mengembangkan senyum.


"Dokternya masih ada jadwal operasi kak,," Suara seseorang terdengar jelas dari arah pintu, semua orang yang ada di ruangan itu kompak menoleh.


Karin dan Reynald terlihat kaget melihat Edwin masuk keruangan Alisha. Begitu juga dengan Edwin yang sempat terdiam saat melihat Karin ada disana.


"Katanya 30 menit lagi selesai dan baru akan mengecek kondisi Alisha setelah ini,,," Lanjut Edwin lagi. Dia berjalan menghampiri Dion, namun matanya sesekali melirik Karin.


"Ya sudah, kita tunggu saja." Sahut Dion singkat.


"Om pulang dulu yah, nanti kita ngobrol dan main bareng lagi kalau Alisha sudah pulang ke rumah,,,"


Reynald mengusap gemas pucuk kepala Alisha, kemudian mencium keningnya. Sebagai seorang ayah, tentu saja Reynald sangat sedih karena tidak bisa membawa Alisha ikut tinggal bersamanya.


"Ok om tampan, nanti main lagi yah sama Alisha,,,"


Serunya dengan wajah ceria. Gadis kecil itu langsung mendekat dan mencium pipi Reynald. Hal itu sempat membuat Reynald membeku, kecupan Alisha adalah kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata - kata.


"Tentu saja Alisha sayang,,," Reynald mengembangkan senyum, kemudian menatap Karin yang masih duduk bersama Angel.


"Ayo pulang,,," Ajaknya. Dia melambaikan tangan pada Karin, meminta wanita itu untuk mendekat.


"Permisi kak,,," Karin beranjak dari duduknya, dia menghampiri Alisha dan Reynald.


"Siap tante cantik,," Alisha juga memberikan kecupan di pipi Karin, yang dibalas tawa gemas oleh ibu hamil itu.


"Ayo,," Reynald menggandeng tangan Karin, laki - laki itu sama sekali tidak berpamitan pada Angel ataupun Dion. Bahkan tidak melirik Sedikitpun. Dia justru memberikan tatapan sinis pada Edwin.


Karin tidak mengira kalau Alisha adalah keponakan Edwin. Entah kenapa mereka harus saling terkait. Dunia ini terasa sangat sempit. Pantas saja setelah melihat wajah Dion dari dekat, Karin merasa sudah sering melihatnya.


"Kak Edwin aku duluan,,," Karin terpaksa pamit pada Edwin, kemudian pamit pada Angel.


"Kami pulang dulu kak,,," Dia sedikit menundukkan kepalanya pada Angel.


"Iya, Terima kasih sudah menjenguk Alisha,,"


Ucapnya tulus, Karin hanya mengangguk.


"Kamu kenal sama dia.?" Suara Angel masih terdengar saat Karin baru saja keluar dari ruangan itu. Siapa lagi yang dia tanya kalau bukan Edwin.


"Kita makan malam dulu yah, baru beli ponsel setelah itu." Tanpa menatap Karin, Reynald mengajaknya bicara dengan suara yang terdengar lebih sopan di telinga.


"Iya, terserah kak Reynald saja."


Reynald hanya berdehem mendengar jawaban Karin.


"Angel bicara apa saja sama kamu.?"


"Dia nggak bicara macam - macam kan.?" Kali ini Reynald melirik Karin. Dia terlihat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Angel pada Karin.


"Kenapa.? Kakak takut kalau kak Angel menceritakan hubungan kalian di masa lalu.?" Cecar Karin curiga.


"Aku sudah tau hubungan seperti apa yang kalian jalani dulu tanpa harus mendengarkan cerita dari kak Angel."


"Kakak selalu berbuat seenaknya sendiri tanpa memikirkan masa depan orang lain. Meniduri wanita - wanita diluar sana tanpa memikirkan bagaimana nasibnya setelah itu."


"Bukan kak Angel atau aku yang akan jadi korban, tapi Alisha dan anakku nantinya."


Karin langsung membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak sanggup membayangkan jika nanti anaknya harus berpisah dengan Reynald dan tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.


"Aku bahkan tidak tega melihat Alisha. Saat ini dia hanya tau kalau kak Dion adalah papanya, bagaimana kalau nanti kakak dan Angel menceritakan kebenarannya pada Alisha.? Dia pasti akan bingung dan harus berfikir keras di usianya yang masih sangat kecil."


Tambah Karin lagi. Reynald hanya diam, ucapan Karin seperti tamparan keras baginya.


Reynald tidak bisa memungkiri kalau dia sudah membuat kesalahan besar dengan melakukan hubungan sek'sual sebelum menikah. Sampai akhirnya Alisha harus terlahir ke dunia ini akibat kesalahannya.


"Kamu tidak perlu bicara seperti itu untuk menunjukan seburuk apa diriku, dan sebesar apa kesalahan yang sudah aku perbuat." Ujar Reynald lirih, namun penuh penekanan.


"Aku memang bukan pria baik - baik,,," Akunya tegas.


Reynald tidak memungkiri kalau dirinya tidak sebaik pria di luar sana.


"Kenapa tidak mencoba untuk memperbaiki diri.?"


Tanya Karin. Meski takut membuat Reynald tersinggung, namun Karin memberanikan diri untuk mengatakannya.


"Kita lihat seberapa besar kemapuan kamu,,," Sahutnya cepat.


"Kenapa aku.?" Tanya Karin dengan dahi yang mengkerut. Jawaban Reynald sama sekali tidak sesuai dengan pertanyaan yang dia ajukan.


"Lalu siapa lagi.?"


"Apa aku harus meminta bantuan dari wanita lain.?"


Pertanyaan Reynald hanya semakin membuat Karin kebingungan. Dia memilih diam dan mengangkat bahunya acuh.


Reynald menghela nafas pelan.


"Kamu mau makan apa.?"


Reynald bertanya dengan suara lembut. Sama seperti saat dia berbicara dengan Alisha.


"Apa saja, aku nggak pilih - pilih makanan."


Keduanya meninggalkan rumah sakit dan menuju ke sebuah restoran.


...****...