
Kenzo Pov
Aku memang sudah menyuruh Jeje untuk datang ke apartemenku sebelum aku pulang dari Bali. Aku hanya ingin membuatnya merasa senang, karna saat masih berada di Bali dia enggan pulang dan masih ingin menghabiskan waktu bersama.
Sepertinya gadis itu benar - benar merindukanku. Matanya berbinar saat melihatku sudah berada di hadapannya. Sengaja ku rentangkan tangan agar dia bisa menghambur kepelukanku. Bukankah memeluk seseorang yang sangat kita rindukan mampu mengobati rasa rindu itu.?
Ya, aku hanya ingin rasa rindunya terobati.
Dia langsung berlari menghampiriku dengan mata yang semakin berbinar dan senyum yang tersungging di bibir mungilnya. Nyatanya dia justru bergelayut dileherku, badannya menempel erat bak bayi koala yang menggemaskan. Aku bisa merasakan kerinduan yang mendalam darinya.
Ku usap lembut punggungnya, untuk membuatnya semakin nyaman dalam gendonganku.
Aku berjalan sembari menggendongnya, mendekati kompor yang belum sempat dia matikan tadi. Rupanya sejak tadi dia sibuk memasak untuk menyambutku pulang.
Sikapnya memang terkadang seperti anak kecil, tapi aku akui dia sangat paham dan pandai dalam hal mengurus apa yang aku butuhkan.
Seperti tidak salah jika dia ingin menikah di usia muda. Aku rasa dia memang sudah layak untuk menjalani bahtera rumah tangga.
Meskipun manja dan kekanakan, dia juga memiliki sisi kedewasaan dalam berfikir.
Aku terus menggendongnya, membawanya ke kamarku saat aku hendak mengganti baju. Kemudian ku gendong lagi dan kembali ke dapur.
Aku hanya ingin rasa rindunya terobati seluruhnya dengan cara seperti ini.
Ku suruh dia untuk duduk didepan meja makan, sedangkan aku melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terhenti. Aku menata makanan yang tadi sudah dia masak. Dia hanya diam sambil terus memperhatikanku.
Tatapan mendamba itu selalu membuatku takut, takut jika suatu saat akan berubah menjadi tatapan kebencian dan kekecewaan.
"Makan dulu Je,,," Tegur ku karna dia masih terus menatapku meski aku sudah selesai menghidangkan makan siang kami.
Sekilas dia memfokuskan pandangan pada mataku, lalu menunduk malu. Malu karna aku sudah memergokinya yang terus menatapku.
"Kak Fely kenapa nggak ikut pulang kesini om.? Kenapa harus tinggal di apartemen sendiri.?"
Sepertinya mode cerewet sudah mulai di aktifkan. Sembari menyendok makanan kedalam piringnya, dia mengajukan pertanyaan tentang Felicia padaku.
"Kalau bisa, mungkin sudah dari satu tahun yang lalu dia tinggi disini,,"
Rupanya jawabanku membuatnya bingung, dahinya bahkan sampai mengkerut.
"Kenapa nggak bisa om.? Kalian kan kakak beradik, nggak ada salahnya tinggal bersama,,,"
Aku menyunggingkan seluas senyum. Rupanya dia berfikir ke arah lain.
"Felicia bukan anak kandung papa, dan papa sangat membencinya. Bagaimana mungkin dia bisa tinggal di apartemen milik papa,,"
Papa memang membolehkan ku untuk membiayai semua kebutuhan hidup mama dan Felicia, dengan catatan tidak menggunakan uang dan fasilitas miliknya.
Apa yang aku berikan pada mereka, adalah uang dari kerja kerasku selama memimpin perusahan papa. Perusahaan yang memang pada akhirnya akan menjadi milikku juga.
Namun seperti itu peraturan yang papa berikan padaku. Dia enggan uangnya di gunakan untuk menghidupi anak yang menyebabkan rumah tangganya hancur.
Papa terlalu sakit hati, sampai dia begitu membenci anak yang tidak berdosa.
Bukan keinginan Felicia yang terlahir akibat kebiadaban seseorang. Namun sakit hati membuat papa sulit untuk menerimanya.
"Jadi om dan kak Fely beda ayah,,?"
Aku mengangguk. Lalu menceritakan kejadian buruk yang dialami oleh mama. Jeje langsung membulatkan matanya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Ya ampun,,," Pekiknya.
"Aku nggak percaya ibu Grace dan kak Fely mengalami kesulitan selama belasan tahun." Dia menunduk sedih, dengan mata yang mulai berkaca - kaca.
"Aku tau selama ini mereka kesusahan, tapi mereka selalu menolak bantuan dariku dan kak Nicho." Tuturnya dan mulai meneteskan air mata.
Apa sedekat itu hubungan Jeje dengan Fely dan mama.?
"Kadang aku pura - pura main ke rumah mereka dengan membawa banyak bahan makanan, dengan alasan aku ingin makan masakan ibu Grace,," Ujarnya lagi. Kali ini Jeje mengulas senyum yang dipaksakan dalam keadaan menangis.
"Aku jadi rindu padanya,,, ibu Grace sangat baik dan sayang padaku, bahkan melebihi mama,,"
Dia mengusap air matanya, lalu tersenyum lebar padaku. Aku tau dia hanya berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Kapan om dan kak Fely akan ke Singapur lagi.? Apa aku boleh ikut menjenguknya,,,?" Tanyanya antusias.
Aku langsung mengangguk cepat. Saat itu juga matanya berbinar.
Ternyata sebelum aku dan Jeje dipertemukan, kami sudah memiliki keterikatan satu sama lain.
Memang tidak ada suatu pertemuan yang kebetulan, pasti ada alasan dibalik pertemuan ini.
"Mungkin papa tidak benar - benar membenci Felicia, hanya saja dia merasa kecewa karna kebahagiaannya harus hancur."
"Jika kamu ada di posisi Felicia, apa yang akan kamu lakukan,,?
Jeje yang hampir saja menyuapkan makanan ke mulutnya, langsung berhenti dan menatapku.
"Itu sangat berat. Sepertinya aku nggak akan sekuat kak Fely,,," Jawabnya, lalu menyantap makanannya.
Kami menghabiskan makan siang dalam diam.
Sepertinya Jeje sibuk berkelana dengan pikirannya sendiri. Entah kenapa anak itu sering sekali melamun, pernah batin dengan dirinya sendiri.
Seperti yang dia lakukan pada hubunganku dan Felicia, sampai akhirnya dia salah paham akibat dugaan yang dia ciptakan sendiri.
Jika mengingat bagaimana lucunya dia saat mencemburui ku dan Felicia, rasanya aku ingin tertawa. Dia sangat lucu dan menggemaskan.
"Om ada DVD film nggak,,,?"
"Masih siang mau nonton film.?" Tanyaku heran.
"Kayaknya otak kamu perlu dibersihin dulu Je,,"
Dia melotot padaku.
"Iihh,,! Apaan sih om. Aku tuh mau nonton film romantis. Bukan nonton film begituan om,,!" Sahutnya dengan mencebikkan bibir.
"Film romantis juga ada adegan 21+ Je,,,"
"Paling cuma kissing doang om."
"Bosen nih om, dari pada nggak ngapa - ngapain, mendingan aku nonton film aja."
Dia beranjak dari duduknya, aku juga berdiri dan mengikutinya di belakang.
Sampai di ruang tv, dia mulai mengobrak abrik rak DVD.
"Yang bagus film apa om.?" Tanya sambil terus membaca satu persatu cover DVD yang bertumpuk.
"Yang ada adegan di atas ranjang." Jawabku santai.
Aku duduk bersender disofa, sambil memperhatikannya.
"Jangan bercanda om, aku serius,,,!" Protesnya tanpa menatapku sedikitpun.
"Kapan aku bercanda."
"Memang cuma itu film yang paling bagus. Lebih bagus lagi kalau,,," Sengaja ku gantung ucapanku untuk menarik perhatiannya. Benar saja, dia langsung menoleh ke arahku.
"Kalau si praktekin.?!" Ucapnya tegas namun terdengar ketus.
"Kamu memang pintar,"
"Jadi gimana.? Mau sambil praktek,,,?" Tanyaku untuk menggoda nya. Pipinya seketika merona, aku hampir saja tertawa melihatnya malu - malu seperti itu.
"Nggak mau.! Nanti aja kalau om udah nikahin aku,,"
Dia segera berbalik badan, lalu kembali sibuk dengan DVD di tangannya.
Aku tidak lagi bicara apapun. Bingung harus menjawab apa.
Kesal karna tak kunjung menemukan film yang dia inginkan, akhirnya anak itu memilih untuk menonton kartun. Sambil bersender di pundakku, dia terlihat serius menonton kartun kesukaannya. Tak jarang dia tertawa.
Aku berharap bisa melihatnya terus bahagia dan tertawa seperti ini.
"Om,,!" Aku tersentak saat dia menepuk pahaku. Kali ini aku yang kepergok melamun olehnya.
"Kayaknya om ketularan aku ya, jadi suka ngelamun,," Ujarnya meledek.
"Sok tau kamu.! Siapa juga yang ngelamun,," Sanggahku. Ku cubit hidungnya yang menggemaskan itu.
"Sakit tau om.!" Keluhnya sembari menepis tanganku.
"Itu dari tadi ponsel om bunyi. Om taruh di kamar ya.?"
Aku langsung memfokuskan pendengaran, ternyata memang benar ponselku berdering.
"Tunggu disini, jangan berisik dan kecilkan volume tvnya,,,"
Aku langsung beranjak menuju kamar. Pasti papa yang menelfon dan menyuruhku untuk bertemu dengannya.
...*****...
Pengen up 2 bab sekaligus, tapi nanti bab pertama pasti likenya sedikit.(Readers keasyikan baca, jadi cuma dilewatin jempolnya) 🤣
Jadi othor kasih jeda aja ya upnya, biar likenya sama sama banyak. hihi
Terus dukung novel othor.
Besok udah hari senin, jangan lupa vote yah.
Makasih,,,