
Pagi ini terasa begitu indah. Aku bangun dalam keadaan berada di dekapan om Kenzo. Sebenarnya sejak tadi malam dia terus mendekapku setelah kami kembali mengulangi kegiatan panas itu lagi.
Om Kenzo tidak melepaskan pelukannya sedetikpun. Seakan takut aku akan pergi jauh jika dia melepaskan pelukannya.
Setakut itukah om Kenzo untuk kehilanganku.?
Aku pikir hanya aku saja yang takut kehilangannya.
Om Kenzo bahkan terus membisikan kalimat yang sama berulang kali. Aku baru sadar kalau sejak berada di bali, om Kenzo sudah sering mengatakannya.
Dia memintaku untuk percaya padanya apapun yang terjadi, juga memintaku untuk tetap disisinya.
Aku sangat takut saat om Kenzo bilang 'jangan pernah pergi dariku', aku bisa merasakan kesedihan dalam nada bicaranya. Dan hal itu membuatku takut. Aku takut akan terjadi sesuatu di antara kita. Itu sebabnya aku memilih diam, aku tidak mampu berkata apapun.
Aku terus memandangi wajah tampan om Kenzo yang terlelap. Wajah yang selama itu selalu hadir dalam mimpi indahku. Wajah yang selalu muncul dalam benakku karna aku terus memikirkannya.
Sebuah harapan terus aku panjatkan untuk kebahagiaan kami berdua.
Harapan akan hidup bersama dalam ikatan suci pernikahan. Bahagia hingga maut memisahkan.
Bersamanya adalah kebahagiaanku.
Mungkin aku terlalu berharap pada cinta pertamaku. Berharap hanya ada 1 nama yang akan mengisi hatiku untuk selamanya, yaitu laki - laki tampan yang ada di hadapanku.
Tidak tahan hanya memandangnya saja, jariku mulai menyentuh pipinya dan perlahan meraba semua bagian wajahnya yang begitu sempurna.
Mulai dari bibirnya yang selalu memberikan ciuman hangat padaku, juga senyuman yang menawan hingga membuatku semakin jatuh dalam cintanya, dan ucapan dari bibirnya yang membuatku merasa di perhatikan dan dicintai olehnya.
Hidung mancung dan mata tajamnya tak luput dari sentuhan tanganku. Semua yang ada dalam dirinya begitu indah.
Aku tersentak saat om Kenzo membuka mata dan memegang tanganku yang berada di wajahnya.
Dia tersenyum tipis, kemudian langsung mendekat dan mencium bibirku.
"Morning kiss sayang,,," Ucapnya. Senyum om Kenzo semakin merekah. Aku tersenyum, lalu melakukan hal yang sama seperti yang om Kenzo lakukan padaku
"Morning kiss too,,,"
Aku langsung memeluk om Kenzo dan membenamkan wajah didada bidangnya yang polos.
Aku sudah mandi, saat ini sedang membuat sarapan di dapur. Om Kenzo sempat membantuku tadi, setelah ada yang menelfon, dia langsung beranjak dari dapur dan belum kembali lagi.
"Sudah selesai,,.?" Tanya om Kenzo. Bersamaan dengan itu, dia juga memelukku dari belakang.
Aku tersentak karna tadi sempat melamun.
"Ya ampun om,,! Kenapa harus ngagetin.!" Protesku.
"Makanya jangan kebanyakan ngelamun,," Om Kenzo mengacak gemas rambutku. Dia membantuku menata makanan di atas meja.
Hari ini indah sekali. Rasanya aku ingin menghentikan waktu untuk lebih lama merasakan kebahagiaan ini bersama om Kenzo.
Terlebih perlakuan manis yang terus om Kenzo. berikan padaku, semakin membuatku tidak rela untuk mengakhiri pagi ini.
Om Kenzo sedang mengantarku pulang setelah tadi kami menghabiskan sarapan lebih dulu.
Aku juga harus berangkat ke kampus dua jam lagi, jadi meminta om Kenzo untuk cepat - cepat mengantarku pulang.
Seperti biasa, om Kenzo menghentikan mobilnya di seberang rumahku.
"Jangan lupa hari minggu pagi jam 8, orang suruhanku dan Fely akan menjemputmu. Aku akan menyusul senin sore,,"
"Nomor Felicia nanti aku kirim ke kamu,,"
"Siap om,,!" Sahutku sembari memberi hormat.
"Makasih untuk hari ini,,," Aku memberanikan diri mencium bibir om Kenzo. Saat akan melepaskannya, om Kenzo justru menahanku dan membalas ciumanku.
"I love you,,," Katanya dengan tatapan dalam penuh cinta. Aku menghambur kepelukannya. Rasa enggan untuk berpisah hari ini, aku masih ingin menghabiskan waktu bersamanya.
"I love you too,," Sahutku lirih.
"Ingat, kamu harus tetap disisiku." Katanya mengingatkan lagi. Entah sudah berapa kali om Kenzo bicara seperti itu. Aku mengangguk cepat.
"Bye om,,, sampai jumpa,,," Aku melambaikan tangan padanya dengan senyum yang terus mengembang.
Om Kenzo tersenyum, namun ada kesedihan dimatanya. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama sepertiku, enggan untuk mengakhiri pagi yang indah ini.
...****...
Jam 6 pagi aku sudah bangun dan mulai bersiap. Tidak sabar rasnata untuk bertemu dengan ibu Grace.
Aku meminta ijin pada mama dan papa dengan alasan ingin menginap dirumah temanku. Tidak mungkin kalau aku bilang akan menemui ibu Grace di Singapur, papa pasti tidak akan mengijinkannya.
Begitu sudah rapi, aku langsung turun ke bawah untuk bergabung dengan mama dan papa yang sedang sarapan.
"Pagi mah, pah,,,"
Sapaku. Aku mencium pipi mereka bergantian.
"Pagi sayang,,,"
"Pagi,,,"
Jawab mama dan papa bersamaan.
"Sepagi ini akan pergi.?"
Tanya papa.
Papa mengangguk pelan.
"Mereka sudah lama nggak main kerumah, kenapa nggak menginap disini saja,," Mama menimpali.
"Nanti ada gilirannya mah. Sekarang di rumah Celina dulu. Biar pertemanan kita nggak putus,," Lagi - lagi aku hanya beralasan saja.
"Menginap saja harus begilir, udah kayak arisan aja,," Mama terkekeh geli.
Aku hanya tersenyum kikuk. Kami mulai menyantap makanan tanpa saling bicara lagi.
"Mama taruh dimana undangan dari Andreas.? Papa lupa jamnya. Sore ini harus ketemu klien dulu, takut nggak keburu datang,,,"
Papa mulai bicara setelah selesai menghabiskan makanannya.
"Sebentar, mama ambil dulu,," Mama beranjak dari duduknya, entah mau mengambil undangan dimana.
Aku masih sibuk memakan potongan buah dipiringku.
Rupanya om Andreas punya acara. Pantas saja om Kenzo sangat sibuk akhir - akhir ini.
Pengusaha sukses seperti papa dan om Andreas memang sudah biasa jika mengadakan acara.
"Mulai jam 8 malam pah,," Mama berjalan menghampiri meja makan sembari membaca undangan mewah di tangannya. Undangan mewah yang lebih cocok untuk acara pernikahan.
"Masih sempat untuk datang,," Kata papa.
"Sayang sekali sudah keduluan orang lain ya pah. Padahal mama kagum loh sama nak Kenzo. Dia sopan, baik dan kelihatan dewasa. Cocok untuk Jeje,," Ujar mama.
Aku bengong mendengarnya. Antara bingung dan senang. Aku tidak menyangka kalau mama punya pikiran untuk menyatukan ku dengan om Kenzo.
Itu artinya aku akan mudah mendapat restu dari mereka jika memberitahu hubungan kami pada mama.
Tapi yang membuat ku bingung, kenapa mama bilang sudah keduluan orang lain.? Apa maksudnya.?
"Huss,, mama ini kalau bicara suka asal.! Usia mereka itu terpaut cukup jauh. Ken bisa keburu tua kalau menunggu Jeje siap menikah,,," Sahut papa.
Aku menatap keduanya dengan kebingungan dan penuh tanya.
"Mama sama papa lagi ngomongin apaan sih.?"
Aku mulai berkomentar.
"Ini loh sayang,,," Mama menyodorkan undangan itu padaku. Aku mengambilnya dengan tangan yang bergetar, entah kenapa aku punya firasat buruk pada undangan itu.
Aku memilih meletakan undangan itu di atas meja, aku takut mama dan papa melihat tanganku yang terus gemetar.
Nama yang tertera pada undangan itu, seketika membuat pandanganku gelap, telinga ini seakan tuli, bahkan lidah ini terasa kaku. Ragaku seakan keluar dari tempatnya. Aku hanya diam mematung sambil terus menatap undangan pertunangan om Kenzo dan Nadine.
Bukan sakit hati lagi yang aku rasakan, tapi hati ini seakan hancur tak tersisa.
Jadi ini arti dari ucapan yang selalu om Kenzo padaku.?
Dia tetap menyuruhku untuk berada disisinya dan hanya percaya padanya.
Ternyata dia akan bertunangan dan menikah dengan wanita lagi.
Lalu untuk apa dia memberikan harapan padaku.? Untuk apa dia memberikan janji dan mengucapkan kata cinta padaku.?
Bagaimana aku akan tetap disisinya saat dia sudah memiliki wanita lain.!
Apa dia ingin menyiksa ku dengan terus menggoreskan luka karna harus menahan cemburu.!
Kenapa om Kenzo tidak pernah bilang padaku.! Kenapa dia selalu berkata bahwa cincin di jari manisnya tidak berarti.! Lalu apa arti undangan ini.?
Malam ini dia menggelar pertunangan mewah dengan model itu. Tapi pagi ini dia mengirim ku ke Singapur.!
Kenapa tidak menyuruhku untuk pergi saja dari kehidupannya.!
Lalu bagaimana dengan ku.? Aku sudah menyerahkan kesucianku padanya. Apa yang harus aku lakukan.?
"Je,,! Je,,!" Aku tersentak saat mama menggoncang lenganku berkali.
"Kamu kenapa.?" Mama terlihat panik.
"Hah.? Nggak kenapa - napa kok mah. Jeje ke atas dulu, mah, pah,,"
Aku bergegas meninggalkan meja makan. Mama dan papa tidak boleh melihatku menangis.
Aku mengurung diri di kamar. Menangis dalam diam. Sakit sekali rasanya. Bukan hanya hatiku yang hancur, tapi duniaku pun ikut luruh dalam kehancuran.
Aku langsung mengambil ponsel, mengirimkan pesan pada kak Fely kalau aku tidak bisa ikut ke Singapur dengan alasan sakit.
Rupanya kak Fely dan om Kenzo sudah bekerja sama. Aku yakin kak Fely tau akan hubunganku dan om Kenzo, juga tau om Kenzo akan bertunangan malam ini.
Aku akan datang,, bukan untuk mengucapkan selamat, melainkan untuk mengucapkan kata perpisahan. Aku akan menemuinya untuk terakhir kalinya.!!
...*****...
Udah up 3 bab nih sehari, masih ada yang belum vote.? Banyak banget yang belum,,,,,! 😁
Vote dulu yuk,,,
readers harap bersabar.
Ini bukan akhir dari kehancuran, tapi awal kebahagiaan untuk Jeje,,,
Apa ya kira - kira❓