
Karin hanya pasrah saja saat Reynald ikut masuk kedalam Bathtub dan duduk di belakangnya dengan kedua lututnya yang di tekuk. Tubuh Karin di apit oleh dua kaki besar. Reynald juga memeluknya, menempatkan kedua tangannya di perut Karin. Sesekali memberikan usapan lembut pada perut Karin yang sudah terlihat membuncit.
Jangan tanya bagaimana keadaan Karin saat ini. Tubuhnya seketika kaku, detak jantungnya berpacu cepat hingga merasa akan lompat dari sana.
Bukan hanya gerogi, Karin juga merasa sangat malu karna di peluk Reynald dalam keadaan tanpa sehelai benang yang melekat di tubuhnya. Sentuhan tangan Karin dan tekanan dada bidang Reynald yang menempel di punggungnya juga mampu menghadirkan gelayar yang perlahan mampu menghilangkan akal sehatnya.
Semua rasa dan dan perasaan yang bercampur aduk itu membuat Karin hanya diam saja dan pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Reynald.
Sesuatu yang mulai mengeras di bawah sana juga terus mendesak di tubuh bagian belakang Karin. Bagaimana dia bisa berfikir jernih jika berada dalam posisi seperti ini. Tubuhnya bahkan sudah mulai terasa panas, di tambah air di dalam bathtub yang juga hangat. Berkali - kali Karin menelan salivannya dengan susah payah agar tidak di ketahui oleh Reynald. Tapi berbeda dengan Reynald yang terang - terangan menelan salivanya sampai Karin bisa mendengarnya dengan jelas.
Tubuh Karin menggeliat saat kedua tangan Reynald bergerak ke atas dengan gerakan lembut yang terkesan meraba perut hingga dada.
"Kak.!" Pekik Karin geli. Kedua tangannya reflek memegangi tangan Reynald yang sudah menangkup kedua asetnya.
"Hanya pegang,," Ucapnya datar. Namun suara Reynald sudah terdengar berat, suara yang sudah di selimuti gairah.
Menolak.? Jangankan untuk menolak, Karin merasa tidak berdaya dan pasrah saja.
Dia bahkan langsung menyingkirkan kedua tangannya saat tadi Reynald melepaskan br*nya.
"Kenapa badan kamu dari tadi kaku seperti ini.? Rileks dan nikmati saja." Reynald berbicara sembari menggerakkan tangannya untuk meremas dua benda favoritnya.
"Kenapa makin kaku.? Aku bilang rileks saja."
Protesnya lagi.
"Biasakan santai, kalau perlu membalas." Ujarnya sedikit ketus.
Karin mendengus kesal. Bagaimana dia bisa rileks dalam kondisi seperti ini. Reynald dengan santainya memberikan rangsangan pada daerah sensitifnya.
Meski sudah berkali - kali melakukannya, tetap saja dia tidak bisa bersikap santai, apa lagi membalasnya. Berfikir untuk membalasnya pun belum pernah terlintas dalam pikirannya.
Baginya melakukan kegiatan panas dengan Reynald adalah seperti melakukannya dengan orang asing meski Reynald sudah menjadi suaminya.
Rasanya sama seperti dulu saat dia dan Reynald melakukannya tanpa adanya ikatan pernikahan.
Bedanya kali ini dia tidak lagi merasakan marah dan benci saat Reynald melakukannya.
"Kenapa harus protes.? Bukannya sejak dulu aku seperti ini."
"Aku belum terbiasa, rasanya masih asing."
Karin lebih memilih untuk mengutarakan isi hati dan pikirannya. Setidaknya dia punya harapan agar Reynald bisa mengerti dan lebih bisa memahami kondisi serta perasaannya.
"Belum terbiasa.? Sudah berapa puluh kali kita melakukannya.? Kita lebih banyak melakukannya saat belum menikah di banding setelah kita menikah."
"Kurang terbiasa apa lagi.? Dan apanya yang asing.?"
Reynald menghentikan aktifitas tangannya, namun kedua tangannya masih menempel di tempat ternyaman yang mampu membuatnya melayang saat memainkannya.
"Ini bukan soal seberapa sering kita melakukannya."
"Aku bukan wanita malam yang menjajakan diri untuk orang asing yang tidak mau tau dengan perasaan wanitanya, dan tidak memiliki perasaan apapun selain nafsu."
Meski suara Karin pelan, tapi terdengar jelas jika dia sangat kecewa dan menahan kekesalannya.
Perlahan Karin menyingkirkan tangan Reynald dari dadanya, kemudian beranjak dari bathtub sembari meraih handuk kimono yang ada di dekatnya.
Karna tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Reynald setelah dia bicara seperti itu.
Hanya terdengar hembusan nafasnya yang perlahan mulai teratur. Menandakan jika Reynald tidak lagi di selimuti gairah.
"Mau kemana.?" Tanya Reynald dengan kepala yang menengadah, menatap Karin yang sudah berdiri di sisi bathtub. Karin sedang membalut tubuhnya dengan handuk.
"Mau mandi, udah kelamaan berendam."
Karin beranjak dari sana, masuk ke dalam ruangan berlapis kaca yang buram. Dia juga menguncinya.
Tak lama terdengar gemercik air dari dalam sana.
Sementara itu Reynald masih saja diam di tempat.
Ada yang menggelitik hatinya saat Karin membandingkan dirinya dengan wanita malam. Jadi selama ini istrinya itu masih menganggapnya seperti orang asing, bahkan menyamakan hubungan intim mereka layaknya hubungan wanita malam dengan pelanggannya.
Cukup lama Reynald masih terdiam di tempat semula. Karin bahkan sudah selesai mandi dan keluar dari ruangan kecil itu.
Pandangan mata keduanya bertemu. Ada tatapan yang ingin di mengerti, dan disisi lain ada tatapan mata yang masih butuh penjelasan.
Karin hanya diam di tempat beberapa detik, selama itu tidak ada yang saling bicara. Dia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, berjalan melewati Reynald begitu saja.
Percuma berharap lebih pada Reynald agar laki - laki bisa mengerti perasaannya.
Sejak awal bertemu dengannya, Reynald memang cenderung berbuat seenaknya tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain.
Reynald terlalu keras kepala, egois, tidak mau di bantah dan selalu bersikap dingin padanya.
Laki - laki itu seperti tidak tau bagaimana cara menghargai dan menjaga perasaan orang lain.
Karin sudah selesai memakai baju, dia juga baru saja mengeringkan rambut dan menyisirnya.
Wajah polosnya setelah mandi di biarkan begitu saja tanpa riasan apapun. Dia hanya memakaikan pelembab pada wajahnya.
Hari ini terlalu banyak perasaan sesak di dada yang menguras emosi dan pikirannya. Tak heran jika wajahnya terlihat pucat dan sedikit sendu.
Wanita cantik itu hampir saja beranjak dari meja rias, namun mengurungkan niatnya saat melihat bayangan Reynald dalam pantulan cermin yang sedang berjalan ke arahnya.
Mereka saling pandang dalam pantulan cermin, sampai akhirnya Karin Menundukan pandangannya karna Reynald sudah berdiri di belakangnya.
"Semua make up itu memang aku beli untuk kamu."
Kedua tangan Reynald mendarat di bahu Karin. Dia menatap lekat wajah Karin dalam pantulan cermin. Wanita itu masih saja menundukan pandangannya.
"Kamu boleh memakainya saat aku ada di rumah."
"Hanya di depanku saja, bukan di depan orang lain."
Tangan Reynald mulai mengusap bahu Karin dengan gerakan perlahan.
"Jadi,,," Ucapan Reynald menggantung, badannya mulai menunduk hingga dagunya menyentuh pucuk kepala Karin.
"Pakai saja make up itu sekarang,," Ujarnya dengan suara berat.
Karin mulai berani menatap cermin, dan saat itu dia bisa melihat wajah tampan Reynald yang sedang tersenyum manis padanya. Senyum yang ingin Karin dapatkan dari Reynald setiap hari, tapi sayangnya Reynald terlalu sulit untuk memberikan senyum itu padanya.
"Untuk apa.? Bukannya kakak bilang riasan wajahku seperti ondel - ondel.?"
"Apa kakak nggak akan muak liat ondel - ondel semalam disini.!" Seru Karin ketus.
"Nggak maslah kalau kamu yang jadi ondel - ondelnya." Jawab Reynald datar, namun dia seperti menahan tawa.
"Ada 2 paperbag di atas ranjang, aku tidak tau ukuran sepatu kamu."
"Coba saja dulu. Kalau tidak muat atau kebesaran, bisa kita tukar nanti."
Reynald mengusap pucuk kepala Karin, sebelum akhirnya dia pergi dari sana dan masuk ke walk in closet.
Karin menyentuh pucuk kepalanya, sentuhan lembut tangan Reynald masih sangat terasa di sana.
Sentuhan yang berbeda, juga tatapan dan nada bicara yang menenangkan.
Hatinya tiba - tiba bergemuruh. Ada perasaan yang seolah sedang menyambutnya. Perasaan yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata - kata namun bisa dia rasakan.
Karin mengembangkan senyum lebar sejenak. Hatinya memang terlalu lunak, mudah luluh dan tersentuh dengan sedikit perhatian dan kelembutan yang di tunjukan oleh Reynald.
Karin kembali menatap deretan alat make up didepannya. Pada akhirnya dia memilih untuk merias wajahnya sesuai perintah Reynald.
Hanya butuh beberapa menit untuk sekedar mengoleskan lipstik dan blush on di wajahnya. Juga sedikit mempertegas alis dan menyapukan maskara pada bulu matanya yang lentik.
Karin langsung beranjak dari meja rias, dia bergegas mendekati ranjang untuk melihat isi paperbag yang di maksud oleh Reynald.
Karin mengambil isi di dalam paperbag. Ada 2 kotak sepatu di dalam 2 paperbag besar itu.
Sepatu dengan brand ternama yang sudah pasti harganya sangat mahal bagi Karin.
Dia hanya mengeluarkan 2 pasang sepatu dari dalam kotak tanpa mencobanya.
Sepatu itu terlalu bagus dan mahal untuk melekat di kakinya.
"Sudah di coba.?"
Suara Reynald mengagetkannya. Rupanya laki - laki itu sudah berdiri di samping Karin dan kini ikut duduk di sebelahnya.
Karin hanya menggelengkan kepalanya, tanpa bereaksi apapun.
"Kenapa.? Tidak suka modelnya.?"
"Bukannya ini cocok dipakai untuk wanita seusiamu.?"
Reynald mengambil 1 sepatu dari tangan Karin.
"Bukan untuk seusiaku, tapi untuk orang yang berada." Ujar Karin lirih.
Reynald hanya tersenyum tipis.
"Kak Rey mau apa.?" Karin terlihat kaget saat Reynald tiba - tiba berjongkok di depannya.
Reynald tidak menjawab, dia memegang 1 kaki Karin dan memasangkan sepatu itu di kakinya.
"Aku bisa sendiri kak,," Tolak Karin. Dia merasa tidak enak karna Reynald memakaikan sepatu di kakinya.
"Yang ini pas. Tidak sempit kan.?" Tanya Reynald sembari mendongakkan kepalanya.
Karin mengangguk cepat.
Reynald melepaskan sepatu itu dan mengambil sepatu lain, kemudian kembali memasangkannya di kaki Karin.
Perlakuan Reynald kembali membuat hati dan jantungnya bergemuruh. Laki - laki sangat sempurna di matanya untuk saat ini.
Andai saja Reynald tetap seperti itu setiap hari.
...****...