My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
28. Season2



Kerinduan yang di rasakan oleh Jeje pada sosok suaminya begitu menggebu. Entah kenapa 2 hari tanpa Kenzo seperti 2 bulan lamanya.


Rasa rindunya begitu besar, hingga dia tidak bisa membedakan kenyataan dan mimpi.


Seperti saat dia membuka mata pagi ini. Di tatapnya wajah tampan yang amat sangat ia rindukan itu. Jeje tersenyum lebar, rasa hangat menjalar di hatinya. Dia terlihat begitu bahagia melihat suaminya masuk kedalam mimpi indahnya.


Jeje terus menatap Kenzo yang terpejam. Dia bahkan memperhatikan tangan Kenzo yang memeluk erat pinggangnya. Dengan bagian telapak tangan yang berada di atas perut ratanya.


"Mimpi pun terasa nyata,,," Gumam Jeje sembari memejamkan matanya kembali. Dia memeluk Kenzo erat, seakan tidak ingin mimpi indahnya cepat berlalu.


"Kamu pikir aku nggak nyata.?" Suara datar dan serak itu membuat Jeje terkejut. Wanita itu memberingsut, sedikit menjauh untuk menatap wajah Kenzo seluruhnya.


Kenzo mengembangkan senyum smirknya. Merasa konyol dengan ulah istrinya yang menganggap kalau ini hanya mimpi.


Terlebih raut wajah Jeje sangat lucu, setengah bengong dan kaget, dengan mulut yang terbuka.


Kenzo bangkit, duduk di atas ranjang dengan bersender pada kepala ranjang.


Laki - laki itu terus menatap istrinya yang masih diam di tempat dengan raut wajah yang tak kunjung berubah.


"Kemari,,," Tegas Kenzo datar. Dia merentangkan lebar kedua tangannya, menyuruh Jeje untuk menghambur padanya.


"Jadi ini bukan mimpi.?" Tanya Jeje dengan raut wajah yang begitu polos.


Kenzo mengangguk cepat. Saat itu juga Jeje langsung bangun dan menghambur ke pelukan Kenzo. Duduk di pangkuan Kenzo dan mendekap erat tubuh besar itu.


"Hubbyyyy,,,,," Serunya dengan air mata yang lolos dari pelupuk matanya.


"Kapan hubby pulang.? Kenapa nggak bangunin aku,,?" Tanya Jeje setengah merengek.


"Menahan rindu itu nggak enak,,," Keluhnya sembari memukul pelan punggung Kenzo.


Kenzo terkekeh gemas, dia menepuk nepuk pantat Jeje bak bayi yang sedang merengek.


"Bayi besarku,,," Ujarnya sembari mendorong pelan kedua bahu Jeje untuk melihat wajah cantiknya yang sejak tadi di sembunyikan pada ceruk lehernya.


"Jangan nangis." Kenzo mengusap air mata Jeje dengan satu tangannya.


Jeje mencebikkan bibirnya, merasa kesal dengan Kenzo karena tidak membangunkannya saat baru pulang.


Namun aksi Jeje yang mencebikkan bibirnya justru membuat Kenzo ingin melahap bibir merah muda yang menggoda itu.


Jeje mulai sadar kalau Kenzo sedang memperhatikan bibirnya, menatap bibirnya dengan mata yang sedikit berkabut gairah.


"Stop.!" Seru Jeje. Dia menutup bibir Kenzo dengan telapak tangannya.


Terdengar helaan nafas Kenzo karena gagal melu**t bibir kenyal itu.


"Hubby nggak boleh cium aku sebelum jawab pertanyaanku,,,!" Tegas Jeje.


Kenzo menyingkirkan tangan Jeje dari bibirnya.


"Aku nggak bisa jawab kalau belum dapat amunisi,,," Sahut Kenzo dengan senyum liciknya.


"Tapi itu hubby bisa bicara, kenapa nggak bisa jawab.?" Protes Jeje dengan wajah kesal. Namun Kenzo tidak menggubrisnya, dia langsung menyambar bibir Jeje, menyesap dan melum*tnya dengan gerakan lembut namun dalam.


Ciuman mendadak itu membuat tubuh Jeje memaku. Nyatanya dia juga sangat merindukan ciuman hangat dan panas milik suaminya.


Jeje memejamkan matanya, dia memilih untuk menikmati ciuman dari Kenzo tanpa berniat untuk membalasnya. Wanita cantik itu bahkan semakin membuka mulutnya, membiarkan Kenzo mengabsen setiap inci bibirnya.


Meski hanya ciuman, namun mampu membuat pria dewasa itu semakin berkabut gairah. Terlebih posisi Jeje yang duduk diatas pangkuannya, membuat miliknya memberontak dibawah sana.


"Hubby,,,!" Pekik Jeje dengan mata yang melotot.


Dia sedikit mengangkat tubuhnya agar tidak menempel dengan benda itu.


"Cepat turun,,," Pinta Kenzo sembari menggeser tubuh Jeje ke samping. Jeje menurut, dan duduk disebelah Kenzo. Dia terlihat tidak enak hati pada suaminya. Dia mengira kalau Kenzo marah padanya.


"Hubby marah.?" Tanyanya pelan.


Kenzo menggeleng dengan seulas senyum, tangannya mengusap lembut pucuk kepala Jeje.


"Aku nggak bermaksud menolak,,," Katanya lagi dengan menundukkan kepalanya.


"Saat ini ada yang jauh lebih penting dari bergulat,," Ujar Kenzo berbisik. Jeje langsung menatapnya dengan dahi yang mengkerut.


"Jauh lebih penting.? Apa itu.?" Tanyanya.


Kenzo mengulurkan tangannya, mengambil benda yang tadi malam dia letakkan di atas nakas.


"Ayo ke kamar mandi,," Ajaknya sembari turun dari ranjang.


Jeje terlihat semakin bingung, namun dia mengikuti langkah Kenzo.


"Ada apa by,,?" Kini Jeje baru bersuara setelah masuk kedalam kamar mandi.


Kenzo mengambil gelas kecil yang ada di washtafel, lalu menyodorkannya pada Jeje.


"Masukin pipis kamu disini,," Ujar Kenzo. Jeje mengerutkan keningnya dengan raut wajah yang terlihat jijik membayangkan kencingnya sendiri dimasukan kedalam gelas kecil.


"Ya ampun by,, buat apa.?" Protesnya.


Kenzo meraih tangan Jeje, meletakan gelas kecil itu ditangan Jeje. Kemudian meraih 1 tangannya lagi dan memberikan tespek digital pada istrinya itu.


"Aku ingin memastikan apa ada Kenzo junior disini,," Katanya sembari mengusap lembut perut Jeje. Yang di usap perutnya hanya bisa melongo. Perasaannya bercampur aduk melihat kedua benda di tangannya, juga dengan usapan tangan Kenzo yang seakan sampai ke hatinya.


"Ma,,,maksud hubby aku hamil,,?" Tanya Jeje dengan mata yang berbinar.


"Aku baru menduga, cepat tes dulu. Petunjuknya ada di kertas itu,," Kenzo mengusap kepala Jeje, lalu keluar dari kamar mandi.


Sementara itu Jeje masih berdiri mematung dengan jantung yang berdetak kencang. Dia tidak menyangka bisa melakukan tes kehamilan secepat ini. Dan yang membuatnya heran, Kenzo terlihat sangat yakin kalau dia sedang hamil.


Dia sudah tidak sabar melihat hasilnya.


Menurut Mama Grace, bisa dipastikan kalau saat ini Jeje sedang hamil. Apa yang di alami Kenzo, sama persis seperti yang di alami oleh Papa Andreas saat Mama Grace sedang mengandung Kenzo.


Dia akan muntah - muntah jika mencium aroma parfum atau masakan tertentu.


Terlebih Kenzo menuturkan sendiri bahwa dia tidak pernah muntah - muntah, apalagi hanya karena mencium parfum. Itu yang membuat Mama Grace akhirnya menyuruh Kenzo untuk membeli tespek.


Suara pintu yang terbuka sudah seperti harta karun bagi Kenzo. Dia langsung menoleh dengan mata yang berbinar.


"Bagaimana sayang.?" Tanya Kenzo antusias. Dia memegangi tangan Jeje.


"Eumm,,," Jeje nampak ragu untuk berbicara. Hal itu membuat Kenzo semakin penasaran.


"Kamu hamil kan,,,?" Tanya lagi.


Jeje menggeleng pelan dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Maaf by,,," Ucapnya lirih.


Kenzo langsung memeluk Jeje, mengusap lembut punggungnya.


"Tidak apa sayang,," Ucapnya untuk menenangkan istrinya. Meski sebenarnya dia kecewa karna sudah sangat berharap bahwa Jeje hamil.


"Aku akan bekerja lebih panas lagi,," Ujar Kenzo dengan candaan.


"Apa hubby ingin punya anak secepatnya.?" Tanya Jeje setelah melepaskan pelukannya. Kenzo mengangguk.


"Tentu saja,," Sahutnya sembari mencubit gemas pipi Jeje.


"Yes,,!!" Seru Jeje sembari menunjukan tespek pada Kenzo.


"Aku hamil by,,," Serunya lagi dengan menggerakkan tespek di tangannya. Kenzo memaku, matanya berkaca - kaca. Laki - laki itu hampir saja meneteskan air matanya karena mendengar kabar bahagia itu.


"Apa hubby mau menangis.?" Tanya Jeje meledek.


Dia langsung memeluk Kenzo erat.


"Aku hamil by,," Ucapnya sekali lagi karena Kenzo tak kunjung memberikan respon apapun.


Laki - laki itu masih tidak percaya dengan kehamilan istrinya. Meskipun sejak awal dia sangat yakin kalau Jeje akan hamil, tapi fakta itu tetap saja membuatnya tidak percaya.


"Be,,benarkah,?" Tanyanya lirih dengan suara yang terbata. Kabar kehamilan Jeje membuatnya tidak bisa berkata - kata.


Jeje melepaskan pelukannya, dia terkekeh melihat reaksi Kenzo yang tak terduga.


"Hubby ini bagaimana." Keluhnya masih dengan kekehan.


"Padahal hubby sendiri yang nyuruh aku untuk tes, tapi reaksi hubby malah lebih kaget dari aku,,"


"Lihat ini,,," Jeje memberikan tespek itu pada Kenzo.


Dilihatnya gambar tulisan yang tertera di sana.


Gambar love dengan kata yes di dalamnya. Tentu saja yang artinya jika Jeje sedang hamil saat ini.


Ada Kenzo junior di dalam perut sang istri. Akan ada kehidupan di dalamnya yang akan menjadi keturunan dan penerus mereka kelak.


"Aku sangat bahagia,," Suara Kenzo begitu dalam. Buliran bening menetes di pelupuk matanya.


Laki - laki itu memeluk istrinya dengan penuh haru dan bahagia.


"Makasih sayang,,," Ucapnya tulus. Meski Kenzo tau, kata itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang sudah diberikan Jeje padanya.


"Me too hubby,,,"


Raut kebahagiaan dari wajah keduanya tidak bisa ditutupi. Baik Kenzo maupun Jeje, keduanya merasa sangat beruntung atas kehamilan itu.


Kenzo berlutut di depan Jeje, mensejajarkan dirinya dengan perut istrinya itu. Dia mengusap dan mendekatkan wajahnya di perut Jeje.


"Hallo anak daddy,," Kenzo seolah sedang menyapa calon anaknya yang mungkin masih berbentuk embrio itu.


Jeje tersenyum mendengarnya.


"Aku akan jadi mommy.?" Tanya Jeje.


"Mommy muda,," Sahut Kenzo cepat. Jeje terkekeh bahagia.


"Harusnya mommy muda sama daddy muda. Tapi ini daddy udah nggak muda lagi,,," Ledek Jeje.


"Kau.!" Tegur Kenzo sembari menatap tajam istrinya. Jeje hanya menyengir kuda.


"Kita harus kasih tau mama sama papa by,,," Seru Jeje antusias.


Kenzo berdiri, sebelumnya dia mengecup lembut perut Jeje.


"Nanti saja. Ada masalah yang harus aku selesaikan dulu."


"Kamu telfon Nicho, suruh dia pulang sekarang juga,," Perintah Kenzo dengan suara tegas. Raut wajahnya kini berubah serius.


"Tapi kak Nicho di New York, dia baru akan sampai 2 hari lagi kalau pulang sekarang,,"


"Sudah jangan banyak protes. Nicho sudah di Indo."


Seru Kenzo.


Tanpa banyak bicara lagi, Jeje langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Nicho.


...****...