My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
76. Season2



Karin mengikuti langkah Reynald ke dalam kamar. Sejak keluar dari rumah sakit sampai saat ini, pikirannya terus tertuju pada laki - laki yang penuh kejutan itu. Sikapnya tidak pernah bisa untuk di tebak. Terkadang cuek, marah - marah, dan terkadang membuatnya tidak bisa berkata - kata dengan tindakannya yang mampu membuatnya terharu hingga menggetarkan hati.


"Aku harus ikut ke Singapur, hanya sebentar untuk menyelesaikan administrasi dan keperluan mereka selama berada di sana,," Jelas Reynald. Dia tau kalau saat ini Karin masih mengekorinya di belakang.


Reynald membuka jeket lalu meletakannya di sofa, dia juga membuka bajunya. Tindakan yang sontak membuat mata Karin terbelalak karna melihat pahatan otot yang tercetak sempurna di punggung dan lengan Reynald.


"Kakak mau apa.?" Tanya Karin gugup. Terlebih saat ini Reynald juga sedang membuka celana.


"Mandi.!" Sahut Reynald cepat.


"Memangnya kamu masih punya tenaga untuk memuaskanku.?" Ujarnya sembari berbalik badan untuk menatap Karin.


Karin membuang pandangannya, dia takut pipinya yang merona akan di lihat oleh Reynald.


"Tidak,,," Jawab Karin dengan gelengan kepala pelan.


"Tidak masalah kalau kamu mau memuaskanku sebelum aku berangkat. Masih ada waktu 1 jam," Jelas Reynald sembari melirik jam dinding.


"Aku bisa memesankan taksi untuk Radit agar langsung ke rumah sakit tanpa perlu menjemput mereka." Penuturan Reynald membuat Karin keringat dingin. Dia menundukan kepalanya, tidak tau harus menjawab apa.


Reynald berjalan mendekat, dia mengangkat dagu Karin.


"Bagaimana.?" Tanyanya dengan tatapan mata yang membuat bulu kuduk meremang. Tatapan tajamnya mampu menembus hati.


Karin langsung menggeleng cepat. Tidak mungkin dia bergulat dengan Reynald dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan seperti ini.


"Jangan sekarang, nanti saja,," Jawab Karin lirih. Dia tidak berani menatap Reynald karna malu.


"Oke.! Kumpulkan tenaga mulai dari sekarang.!" Reynald melepaskan tangannya dari dagu Karin. Dia beranjak dari sana dan masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Karin yang mematung di tempat akibat ucapannya.


Reynald menyuruhnya untuk mengumpulkan tenaga mulai dari sekarang. Pikiran Karin jadi melayang kemana - mana. Dia membayangkan pergulatan yang mungkin saja akan membuatnya kewalahan karna Reynald sampai menyuruhnya untuk mengumpulkan tenaga. Apa mungkin Reynald akan melakukannya seperti waktu itu.?


Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk meremang. Tapi Karin yakin Reynald tidak akan berbuat lebih padanya karna saat ini dia sedang hamil.


Memilih untuk menyudahi lamunannya, Karin mengambil jaket dan baju milik Reynald yang diletakkan begitu saja di sofa. Dia menaruhnya di keranjang baju kotor, lalu pergi ke walk in closet untuk menyiapkan baju ganti Reynald.


Bayangan sikap Reynald dan kepeduliannya pada keluarga, terus terlintas dalam benaknya. Perlahan Karin mulai yakin bahwa hubungannya dengan Reynald akan berjalan normal layaknya suami - istri pada umumnya. Itu yang sejak awal Karin harapkan dari Reynald. Setidaknya dia menunjukan tindakan yang bisa membuatnya yakin pada pernikahan ini.


Tidak masalah kalau Reynald masih dingin dan kaku, asal sesekali menunjukan bukti keseriusannya dalam hubungan ini.


Reynald keluar dari kamar mandi, dia melirik Karin yang sedang duduk di sofa dengan pandangan mata yang terlihat menerawang.


"Mandi.! Sebelum aku berangkat,,," Ucapan Reynald membuat Karin menoleh ke arahnya. Dia hanya mendengar sekilas ucapan Reynald di akhir kalimat, hal itu membuat Karin bengong.


"Tunggu apa lagi.? Cepetan mandi. Atau mau aku mandiin.?" Ujar Reynald lagi. Yang di ajak bicara langsung berdiri tegap dan beranjak ke kamar mandi dengan wajah yang panik.


"Aku bisa mandi sendiri,,," Sahut Karin sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Reynald hanya menggeleng saja melihat tingkah Karin.


"Kak,,,!" Seru Karin, dia menjulurkan kepalanya dari dalam kamar mandi.


Reynald yang akan beranjak ke walk in closet, berbalik menatap Karin.


"Bajunya sudah aku siapin, ada di meja,," Ujarnya memberitahu, lalu kembali menutup pintu sebelum Reynald menjawabnya. Reynald kembali menggelengkan kepalanya, tapi kali ini di sertai dengan seulas senyum tipis.


"Pilihan yang bagus,,," Gumam Reynald. Dia mengambil kemeja lengan pendek waran biru muda, dan celana jean warna hitam yang di siapkan oleh Karin. Lengkap beserta pakaian da lam dan sepatu.


"Aku berangkat dulu, tidak usah menunggu." Reynald melihat arloji di pergelangan tangannya.


"Sepertinya akan pulang larut malam,," Ucapnya memberi tahu. Perjalanan pulang pergi dari Jakarta - Singapur memakan waktu kurang lebih 4 jam, di sana Reynald juga harus mengurus keperluan keluarga Karin lebih dulu. Jadi bisa dipastikan dia akan sampai di apartemen larut malam.


"Kalau butuh apa - apa, panggil mbaknya saja.! Jangan melakukannya sendiri,,,"


"Langsung hubungi aku kalau ada sesuatu.!"


Deretan pesan dan peringatan di sampaikan Reynald dengan nada datar dan tegas. Romantis.? Tidak sama sekali, justru terkesan kaku. Tapi Karin bisa melihat kepedulian yang besar dalam setiap ucapan yang keluar dari mulut laki - laki tampan itu.


Karin mengangguk patuh. Lidahnya terasa kaku untuk menjawabnya dengan suara.


"Aku pergi dulu,,,"


Karin meraih tangan Reynald dan menciumnya. Reynald hanya mengulas senyum tipis, lalu beranjak untuk membuka pintu.


"Kak,,,!" Panggil Karin ragu. Reynald berbalik badan sebelum dia sempat membuka pintu.


Dilihatnya mata Karin yang saat ini sudah berkaca - kaca. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Reynald menghela nafas, wanita itu mudah sekali membuang - buang air matanya.


"Kenapa lagi.?!" Geram Reynald kesal. Bukannya dia tidak kasihan melihat Karin akan menangis, Reynald hanya khawatir saja setiap Karin mengeluarkan air matanya.


Karin berjalan cepat ke arahnya, lalu menghibur ke pelukan Reynald. Memeluk tubuh besar itu dengan erat. Reynald terlihat kebingungan, juga muncul kecemasan dari raut wajahnya.


"Jangan membuatku takut.! Kamu kenapa.?!" Seru Reynald karna tangis Karin mulai pecah. Reynald berusaha melepaskan pelukan Karin, tapii Karin justru semakin tidak mau lepas.


"Maaf,,," Permintaan maaf Karin terdengar tulus dan penuh penyesalan.


"Maaf sudah membuat kakak khawatir karna aku membahayakan kandunganku,," Suara Karin terbata. Dia merasa bersalah karna tidak mau mendengarkan ucapan Reynald yang berkali - kali sudah memperingatkannya untuk menjaga dan lebih mementingkan kandungannya. Sampai akhirnya dia harus pingsan dan membuat Reynald semakin kesulitan karna harus mengurusnya dan mengurus Bapak dalam waktu yang bersamaan.


Karin tau kalau Reynald pasti kelelahan, baik secara fisik dan pikiran yang harus menyelesaikan semuanya.


Reynald hanya menarik nafas dalam, dia membiarkan Karin terus memeluknya dan menangis di sana.


"Maaf kami sudah merepotkan kakak,, aku,,," Karin seperti tidak sanggup untuk berbicara lagi. Banyak penyesalan dan rasa berterimakasih yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata - kata. Reynald sedang banyak berkorban untuk keluarganya saat ini.


"Terima kasih sudah memberikan yang terbaik untuk kesembuhan Bapak,,," Suara Karin tercekat. Memang tidak ada kata yang bisa membalas semua kebaikan Reynald pada keluarganya. Apa yang di lakukan oleh Reynald adalah bukti bahwa dia tidak hanya bertanggung jawab untuk kehamilannya, tapi dia tulus menikahinya dan menganggap keluarganya seperti keluarganya sendiri.


"Berhenti menangis atau aku tidak akan berangkat. Bapak harus secepatnya di pindahkan,,," Tidak ada ucapan manis untuk menenangkan Karin, tapi satu ancaman itu langsung membuat Karin berhenti menangis dan perlahan melepaskan pelukannya.


"Kita bicara lagi nanti,," Ujar Reynald. Dia mengusap air mata Karin, lalu memberikan kecupan singkat di bibir Karin.


"Jangan berfikir macam, dan jangan coba - coba menangis lagi seperti ini.!" Tegas Reynald. Karin mengangguk patuh.


Dia mengantar Reynald sampai di depan pintu.


"Hati - hati di jalan kak,,,"


Reynald mengangguk dan beranjak dari sana.


...*****...