My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
45. Season2



Reynald menghentikan langkahnya, ditatapnya Karin yang juga ikut berhenti. Wajah cantik Karin diselimuti kekesalan sejak Reynald membuang ponselnya. Dia juga enggan berbicara, bahkan enggan menanggapi Reynald yang sedang sejak tadi mengajaknya bicara.


Bayangkan saja siapa yang tidak akan kesal pada Reynald. Laki - laki itu sudah membuang ponsel yang sangat berharga bagi Karin.


Ponsel seharga 3 juta itu adalah ponsel termahal yang pernah Karin miliki. Ponsel yang dia beli dengan penuh perjuangan saat masih sekolah dulu.


Reynald memang akan menggantinya dengan ponsel yang berkali - kali lipat lebih mahal dari ponsel miliknya itu, namun Karin sangat kecewa karena Reynald tidak berusaha untuk mengerti seberapa besar pengorbanannya untuk memiliki ponsel yang baru saja di buang oleh Reynald di tempat sampah.


"Kamu itu, kesal karna kehilangan ponsel atau kesal karna nggak bisa berkomunikasi lagi sama laki - laki itu.?" Sindir Reynald ketus. Dia juga memasang wajah kesal. Membaca pesan di ponsel Karin sudah cukup merusak moodnya, di tambah dengan Karin yang seakan tidak terima ponselnya di buang. Reynald jadi berfikir kalau Karin kesal karena tidak bisa berhubungan lagi dengan Edwin.


"Apa hubungannya kak Edwin sama ponselku.?! Aku kan udah bilang kalau aku menabung selama 1 tahun untuk beli ponsel itu, dan butuh perjuangan karna harus bekerja paruh waktu saat masih sekolah. Tapi kakak buang gitu aja ke tempat sampah.!"


"Lagipula aku nggak pernah minta untuk dibelikan ponsel.! Kak Rey itu egois dan seenaknya sendiri.!" Karin meneteskan air mata.


Rasanya berat sekali berjuang untuk mendapatkan hati Reynald. Hubungannya justru semakin rumit saja karena sikap Reynald yang semakin menjadi - jadi.


Reynald terdiam, lagi - lagi dia hanya bisa menyesali apa yang baru saja dia lakukan pada Karin. Dia sudah membuang ponsel Karin tanpa memberinya alasan. Bukan tidak mau memberinya alasan, namun dia tidak berani memberitahunya.


"Ok,, ok,,! Aku ambil lagi ponsel kamu. Tunggu disini,,," Reynald hendak mendatangi tempat dimana dia membuang ponsel milik Karin, namun wanita itu langsung mencegahnya.


"Nggak usah, aku bisa ambil sendiri."


"Kakak temui saja Alisha dan perempuan itu. Aku mau pulang,,," Karin berjalan cepat meninggalkan Reynald. Dia tidak peduli saat Reynald meneriakinya untuk berhenti. Untuk apa menuruti perkataan Reynald, laki - laki yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan selalu membuatnya dalam kesulitan.


Karin menundukkan kepalanya, mengintip kedalam lubang sampah untuk mencari ponsel miliknya.


Laki - laki yang sudah dia jadikan sebagai suami memang tidak punya hati. Bagaimana bisa dia membuang barang milik orang lain begitu saja tanpa mau tau jika barang itu adalah sesuatu yang berharga.


"Nggak mungkin salah, tadi kak Rey buang disini,,," Gumam Karin sambil mempertajam penglihatannya, memastikan kalau tidak ada ponsel di dalam tempat sampah itu.


"Kamu nyari ini.?" Karin menatap tangan seseorang yang menyodorkan ponsel miliknya. Karin sudah tau siapa orang itu.


"Kok bisa ponselnya ada sama kakak.?" Tanya Karin, dia mengambil ponsel miliknya dari tangan Edwin.


Karin langsung mengecek ponselnya, memastikan jika tidak ada kerusakan pada ponsel berharganya itu.


"Tenang aja, nggak rusak kok." Edwin seolah mengerti kekhawatiran yang sedang di rasakan oleh Karin.


"Laki - laki tadi pacar kamu.? Pasti dia cemburu karna tau aku sering mengirim pesan." Edwin tersenyum. Senyum yang terlihat menawan.


Karin mendengarkan pendapat Edwin sembari tertawa miris dalam hati. Entah dari mana Edwin bisa menyimpulkan jika Reynald cemburu padanya.


Laki - laki yang tidak punya hati itu tidak mungkin memiliki rasa cemburu. Bagaimana dia akan cemburu kalau tidak ada rasa cinta di hatinya.


"Makasih banyak kak udah ngambilin ponselku,," Ucap Karin tulus. Dia lebih memilih untuk tidak membahas tentang Reynald. Rasanya sudah lelah membicarakan laki - laki menyebalkan itu.


"Kak Edwin sedang apa disini.? Siapa yang sakit.?"


Karin langsung mengalihkan pembicaraan.


"Keponakanku, dia dirawat disini beberapa hari yang lalu."


Karin mengangguk dia kali setelah mendengar jawaban Edwin.


"Sakit apa.? Bagaimana kondisinya sekarang.?"


"Ikut aku,,," Tiba - tiba Reynald datang dan menggandeng tangan Karin.


"Kamu itu sudah menjadi istri, jangan seenaknya bicara dan berduaan dengan laki - laki lain.!" Tegur Reynald tak suka. Dia menatap sengit laki - laki yang terus menatap Karin. Tatapan yang Reynald tau ada perasaan lebih di dalamnya.


"Apa maksud kakak.? Siapa yang berduaan.? Aku mau mengambil ponselku yang sudah kakak buang.!" Karin menjawabnya ketus.


"Kak Edwin sudah mengambilkan ponselku, bisa saja ada orang lain yang mengambilnya kalau kak Edwin nggak ngambil lebih dulu.!"


Karin sengaja menjelaskannya pada Reynald. Agar dia tau kalau mereka tidak sengaja berduaan, justru Karin harus berterima kasih pada Edwin.


"Aku udah bilang kan, aku akan belikan ponsel baru setelah ini,,," Wajah Reynald memerah. Kalau saja dia tidak ingat resiko membentak dan memarahi Karin, mungkin Reynald akan meluapkan kekesalannya saat itu juga.


"Dan harus berapa kali aku bilang kalau ponsel ini berharga.! Aku harus berjuang untuk mendapatkan ponsel ini.!"


"Silahkan kalau kakak mau membelikan ponsel baru untukku.! Tapi nggak harus membuang ponsel lamaku.!" Nada bicara Karin meninggi, dia tidak peduli dengan tatapan orang - orang yang melihat ke arah mereka. Rasa kesalnya pada Reynald sudah sampai di ubun - ubun.


"Kamu ini kenapa keras kepala sekali.?!" Reynald terlihat frustasi. Dia tidak suka Karin memegang ponsel lamanya lagi. Ponsel yang terdapat banyak pesan dari laki - laki di dalamnya.


"Kenapa harus kasar seperti itu.?" Ucap Edwin tak suka. Dia mulai bersuara setelah menyimak keributan di antara mereka.


Reynald terlihat tidak terima mendapat teguran dari Edwin, terlebih laki - laki itu sudah menyebutnya kasar.


"Apa masalahmu.?! Jangan ikut campur masalah rumah tangga orang lain."


Reynald menunjuk Edwin dengan telunjuknya, juga memberikan tatapan tajam yang mengerikan.


"Kau.!" Bentak Reynald.


"Berhenti mendekati dan menghubungi istriku.!" Ketusnya penuh penekanan.


Edwin mengembangkan senyum mengejek. Peringatan Reynald sama sekali tidak berpengaruh untuknya.


"Sayang sekali kamu menikah dengan laki - laki kasar." Sindir Edwin.


"Kau.!!" Reynald mendorong bahu Edwin hingga laki - laki itu mundur beberapa langkah.


"Kak Rey.! Apa yang kakak lakukan.?!" Karin menjauhkan Reynald dari Edwin. Bara peperangan sudah mulai menyala, Reynald seolah tidak peduli pada Karin yang berusaha melerainya.


"Kenapa harus menikah dengannya.?" Edwin seolah sengaja membuat Reynald semakin kesal. Dia terus saja menyinggung Reynald yang terlihat arogan dimatanya.


Reynald mengangkat tangannya, dia hampir saja meninju Edwin karna sudah dibuat naik pitam olehnya.


"Sudah kak.!" Cegah Karin sembari menahan tangan Reynald.


"Kak Edwin, aku duluan. Makasih,,," Karin pamit sopan, dia langsung menarik tangan Reynald untuk menjauh dari sana.


"Urusan kita belum selesai.!" Pekik Reynald. Dia bahkan mengacungkan jari tengah pada Edwin, namun hanya dibalas senyum sinis.


Karin melepaskan tangan Reynald di tempat yang sepi dan tidak ada orang lewat di sana.


"Kenapa.?" Tanya Karin dengan suara bergetar. Dia melepaskan tangan Reynald dan menatapnya sendu.


"Kenapa apanya.?" Dahi Reynald mengkerut, dia dibuat bingung.


"Kenapa kakak selalu berbicara dan memperlakukanku dengan kasar.? Kesalahan besar apa yang sudah aku perbuat sampai kakak memperlakukan ku seperti ini.? Kenapa terus menyiksaku dan membuatku tertekan seperti ini.?!"


Kali ini Karin berusaha membendung air matannya agar tidak tumpah, dia ingin terlihat tegar di depan Reynald meski hatinya sedang hancur saat ini.


Reynald langsung memeluk Karin dengan erat, dia tidak menyerah meski Karin memberontak dalam dekapannya.


"Maaf sudah membuatmu seperti ini." Reynald mulai berbicara setelah Karin tidak lagi memberinya perlawanan.


"Untuk apa kakak minta maaf kalau nanti seperti itu lagi.?! Aku nggak butuh permintaan maaf tanpa ada niat untuk memperbaiki kesalahan.!"


Entah harus bagaimana menghadapi sikap Reynald.


"Aku akan memperbaikinya,,," Sahut Reynald lirih.


Dia melepaskan pelukannya, raut wajah Reynald sudah terlihat lebih santai.


"Sudah ikut kesini, ayo temui Alisha dulu,,"


Reynald menggandeng tangan Karin, dia membawanya ke ruang VIP rawat inap.


Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Reynald menyelonong masuk. Dia masih menggandeng erat tangan Karin.


Suasana di ruangan itu sangat ramai dengan canda dan tawa. Karin menatap keluarga kecil itu yang terlihat sangat bahagia. Angel terlihat sangat bahagia bersama Dion dan Alisha. Tiba - tiba saja Karin memikirkan perasaan Reynald, dia melirik laki - laki itu yang sedang menatap ketiganya dengan wajah datar. Namun berubah cerah saat melihat Alisha tertawa.


"Aku ingin bertemu dengan Alisha,,," Suara Reynald menghentikan canda tawa mereka. Ketiganya kompak melihat ke arah Karin dan Reynald yang berjalan mendekat.


"Mah, itu siapa.?" Alisha langsung bertanya, menunjuk Reynald dan Karin.


"Halo Alisha cantik,,," Reynald menyapa Alisha dengan senyum mengambang.


"Om dan tante bawa hadiah buat kamu,,," Ujarnya lagi. Masih erat menggandeng tangan Karin, Reynald mendekati bangsal yang ditempati Alisha.


Dia menyodorkan boneka dan paper bag pada Alisha.


"Papah liat, lucu banget bonekanya,," Seru Alisha pada Dion. Reynald langsung terdiam, dadanya tiba - tiba sesak mendengar anak kandungan menyebut Papa pada Dion. Sedangkan dia sebagai ayah biologisnya terpaksa mengenalkan dirinya dengan sebutan om pada Alisha, agar anak kecil itu tidak kebingungan karena memiliki 2 orang ayah.


Alisha juga pasti akan menolak memanggilnya Papa karena selama ini dia hanya tau Dion adalah Papanya.


"Iya sayang, bilang apa sama om dan tante.?" Ujar Dion lembut. Alisha kembali menatap keduanya.


"Makasih om, makasih tante,,, Alisha suka hadiahnya,,," Alisha tersenyum ceria.


Suasana di sana terlihat canggung meski semua orang tersenyum melihat Alisha yang begitu ceria.


"Makasih Rey,,," Ucap Angel tulus. Dia terlihat kasihan pada Reynald. Terlebih saat melihat raut wajah sedih Reynald begitu mendengar Alisha memanggil Dion dengan sebutan Papa.


Reynald hanya mengangguk samar.


"Alisha sudah sehat.?" Reynald bertanya sembari mengusap kepala Alisha. Anak kecil itu mengangguk cepat, namun tangannya fokus memeluk boneka pemberian Reynald.


"Jangan sakit lagi, Alisha harus tetap sehat. Oke,,,?"


Suara lembut Reynald menarik perhatian Karin, laki - laki itu jauh lebih lembut dari yang dia bayangkan sebelumnya, tapi kenapa dia tidak bisa bersikap seperti itu setiap saat.?


"Oke om tampan,,," Puji Alisha. Reynald terkekeh, senyumnya mengembang sempurna.


"Apa tante cantik pacarnya om tampan.?" Tanya Alisha polos.


"No,,, tante cantik istri om,,," Sahut Reynald cepat.


Karin tersenyum mendengarnya.


...****...