
"Terus butuhnya apa om.?" Tanyaku.
Pikiranku sudah mengarah pada adegan panas yang sering kami lakukan. Bukankah laki - laki memang butuh kepuasan.? Buktinya banyak om - om beristri yang memelihara sugar baby hanya untuk mendapatkan kepuasan.
"Kamu yakin mau tau jawabannya.?"
Aku langsung mengangguk cepat.
"Aku akan menunjukannya langsung, tanpa menjawabnya,,"
Om Kenzo tersenyum licik dan sedikit meledek.
Dia langsung membuka kancing kemejanya satu - persatu hingga semuanya terbuka. Kemeja itu dilepas dan dilempar ke sembarang arah.
Aku hanya bisa menelan ludah ku, menatap badan berotot milik om Kenzo tanpa berkedip.
Om Kenzo berdiri, kini dia melepaskan celananya hingga menyisakan celana da*am saja.
Om Kenzo mengangkat tubuhku, membawaku ketengah ranjang dan merebahkannya. Aku begitu pasrah, diam tanpa melakukan apapun.
Bahkan saat om Kenzo mengungkung tubuhku.
Om Kenzo mendekatkan wajahnya, aku reflek menutup mata untuk menyambutnya yang pasti akan mencium ku.
"Aku hanya butuh cintamu, dan butuh kamu yang akan selalu berada disisiku apapun yang terjadi."
"Dan percayalah padaku, hanya padaku saja."
Bisik om Kenzo dengan lembut dan penuh permohonan. Hatiku tersentuh mendengarnya.
Aku membuka mata, saat itu mata kami saling bertemu. Aku bisa melihat cinta dan kesungguhan dalam sorot matanya.
"Berjanjilah kamu tidak akan pergi,,"
"Aku nggak akan pernah pergi om, aku akan tetap bersama dengan cintaku,," Ucapku yakin.
Aku langsung memeluk erat tubuh om Kenzo.
Berada di pelukannya terasa begitu nyaman dan menenangkan. Terlebih aroma parfum maskulin yang khas dari tubuhnya, membuat indera penciuman ini begitu dimanjakan.
"Apa aku boleh melakukannya.?" Tanya om Kenzo sembari mendorong benda miliknya hingga menempel pada area intiku yang masih tertutup dress. Baru seperti itu saja sudah membuat seluruh badanku terasa panas. Jantungku berdetak kencang. Bahkan milikku terasa berdenyut.
Aku berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan om Kenzo.
"Bukankah kita akan menikah.? Aku mau melakukannya setelah menikah." Jawabku yakin
Entah kenapa aku jadi berubah pikiran. Ada sesuatu yang membuatku merasa yakin untuk tidak melakukannya sebelum om Kenzo menikahi ku. Tapi aku tidak bisa menjelaskan alasannya.
"Kenapa berubah pikiran.? Dulu kamu selalu membahas tentang hal ini."
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Entah, aku juga tidak tau kenapa akhirnya aku berubah pikiran.
"Om nggak keberatan kan kalo aku nggak mau ngelakuin itu sekarang.?" Tanyaku hati - hati.
Sejujurnya aku sedikit takut karna sudah menolak permintaannya. Aku takut om Kenzo kecewa dan marah padaku.
Om Kenzo diam, dia terlihat memikirkan sesuatu yang terlihat serius.
"Ya, terserah kamu saja."
Dia menyerahkan sepenuhnya padaku, tapi aku bisa melihat kegelisahan dimatanya.
Apa mungkin om Kenzo sangat ingin melakukannya.? Apa hanya dengan cara yang aku lakukan tidak membuatnya puas.?
"Biar aku ganti dengan cara lain om,,," Ujarku. Aku berinisiatif untuk memulai. Aku menarik tengkuknya agar wajah om Kenzo semakin mendekat.
Aku menciumnya dengan sedikit kasar.
Aku bisa merasakan om Kenzo sedang tersenyum, lalu membalas ciumanku hingga semakin panas.
Kain yang menutupi tubuhku sudah terlepas seluruhnya dan berserakan di lantai.
Aku duduk di pangkuan om Kenzo dengan posisi berhadapan. Kedua kakiku bahkan melingkar di pinggangnya.
Aku meremas kuat rambut om Kenzo, mulutnya sedang asik menyesap aset kembarku bergantian.
Daerah intiku terus berdenyut dibawah sana, terlebih milik om Kenzo yang mengeras dibalik celana da*amnya, terasa memenuhi bagian luar milikku.
Sejujurnya hal itu membuatku semakin kacau. Aku kesulitan mengontrol diriku. Tanpa sadar, aku bergerak naik turun hanya untuk merasakan gesekan milik om Kenzo pada bagian luar milikku.
Sekarang aku tidak yakin dengan ucapanku sendiri. Aku merasa tidak sanggup untuk menahannya. Bayangan milik om Kenzo yang panjang dan besar itu, seakan sedang mengaduk - aduk milikku. Aku benar - benar sudah kehilangan akal sehat.
Aku terus mengeluarkan desahan yang tertahan, sambil terus menikmati apa yang om Kenzo lakukan padaku.
"Berhenti Je. Kamu nggak mau ngelakuin itu, tapi kamu sendiri yang memulai,," Ujarnya sambil menahan tubuhku agar tidak bergerak lagi di atas pangkuannya.
"Aku bisa kelepasan kalau kamu terus bergerak seperti ini,," Tambahnya lagi.
Aku langsung diam seribu bahasa. Rasanya malu bercampur aduk. Pada akhirnya aku memilih memeluk om Kenzo dan menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya.
Gedoran pintu mengagetkan kami.
"Je,,,! Kamu di dalem.?!!" Teriak kak Nicho masih dengan menggedor pintu kamar.
"Dasar pengganggu.!" Geram om Kenzo kesal. Namun dia masih diam dalam posisinya, tanpa menunjukan kepanikan sedikitpun. Berbeda denganku yang hampir turun dari pangkuan om Kenzo, namun tangan om Kenzo menahan tubuhku.
"Ya ampun, gimana ini om.? Aku takut om,," Ucapku panik.
"Kamu tinggal jawab saja, dan bilang sudah mau tidur,," Ujar om Kenzo.
Kami berbicara dengan suara yang sangat pelan, takut kak Nicho akan mendengarnya. Meskipun aku rasa kak Nicho tidak akan mendengarnya. Karna kamar ini cukup luas, dan posisi ranjang lumayan jauh dari pintu.
Akhirnya aku menuruti ucapan om Kenzo.
"Ya,, aku disini kak.!! Aku tidur duluan ya,,! Ngantuk banget nih,,!!" Teriakku masih dalam pangkuan om Kenzo.
"Ya sudah.! Aku pikir kamu masih di luar."
Sahut kak Nicho. Sepertinya dia langsung pergi dari depan pintu kamar ini, karna suaranya sudah tidak terdengar lagi.
Aku menghembuskan nafas, lega sekali rasanya. Aku pikir kak Nicho akan meminta masuk ke kamarku.
"Apa selama ini Nicho bersikap baik sama kamu.?"
Pertanyaan om Kenzo membuatku heran. Memangnya apa yang sudah membuat om Kenzo sampai bertanya seperti itu. Kak Nicho kakakku, bagaimana dia tidak bersikap baik padaku.
"Om nggak punya pertanyaan lain.?"
"Kakak Nicho itu kakakku, mana mungkin dia tidak berbaik padaku. Justru kak Nicho yang selalu memberikan perhatian padaku disaat mama dan papa sibuk dengan dunianya sendiri."
Om Kenzo hanya menyimak saja ucapanku, lalu mengangguk saat aku selesai bicara
"Kamu juga punya aku sekarang. Aku yang akan memberikan perhatian untukmu dan menjamin kebahagiaanmu,,,"
Om Kenzo meraih bibirku dan memagutnya dengan gerakan lembut.
Aku hampir saja meneteskan air mata. Ucapan om Kenzo membuatku terharu. Bagaimana mungkin aku tidak percaya padanya, saat dia saja berjanji akan menjamin kebahagiaanku.
Aku hanya akan percaya padanya, seperti yang dia minta padaku untuk percaya padanya.
Kegiatan panas kami terus berlanjut.
Om Kenzo berada di atas tubuhku dengan posisi kepala berada tepat didepan milikku.
Badanku mulai menegang saat lidahnya mulai bermain disana.
Desahanku tertahan oleh milik om Kenzo yang memenuhi mulutku.
Erangan panjang keluar dari mulut kami. Untuk pertama kalinya om Kenzo mencapai puncak, sedangkan aku sudah ketiga kalinya.
Seluruh badanku melemas, aku hanya diam tanpa bergerak sedikit pun sambil mengatur nafasku agar kembali normal.
Om Kenzo sudah merebahkan dirinya disampingku setelah tadi menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kami.
Om Kenzo memiringkan tubuhnya, terus menatapku sembari tersenyum dan merapikan anak rambutku yang berantakan.
Perlakuan dan tatapan penuh cinta itu membuat jantungku berdetak kencang. Aku benar - bener sudah dibuat gila olehnya. Rasanya tidak sabar untuk hidup bersama dengan om Kenzo. Aku pasti akan jadi wanita yang paling bahagia karna memiliki pendamping yang sempurna sepertinya.
"Kenapa senyum - senyum.?" Tegur om Kenzo sambil menarik sebelah pipiku.
Aku langsung mencebikkan bibir. Om Kenzo merusak khayalanku saja.
"Resep banget sih om.! Nggak bisa liat orang seneng dikit,," Protes ku.
"Kamu lebih mirip kayak orang str*s, senyum - senyum nggak jelas." Ledek ya.
"Ini orangnya yang udah bikin akun kayak orang str"s.!" Aku langsung menggelitik pinggang om Kenzo.
"Hentikan Je.! Kamu bisa membangunkannya lagi." Katanya sembari menahan kedua tanganku, lalu bergeser sedikit menjauh.
Kau baru sadar kalau aku masih dalam keadaan tanpa busana. Menggelitiki om Kenzo membuat selimut yang menutupi tubuh bagian atasku tersingkap. Pantas saja ekspresi wajah om Kenzo langsung tegang, dia bahkan sampai membuat jarak.
"Hee,, maaf om. Bilangin biar nggak bangun lagi om aku udah nggak mau nidurin lagi. Cape om,,"
Om Kenzo terkekeh geli.
"Sebaiknya tidur, jangan sampe dia bangun lagi,," Ancamnya.
Aku menutup rapat tubuh bagian atasku dengan selimut, lalu mendekat pada om Kenzo. Aku membenamkan wajah sambil memeluknya dengan sebelah tangan.
Bahagia sekali bisa kembali tidur satu ranjang bersama om Kenzo.
...***...
Badanku terasa sangat segar dan seakan memiliki energi positif yang besar.
Mungkin karna semalam aku sangat nyenyak tidur didalam pelukan om Kenzo. Sayangnya dia sudah kembali ke kamarnya sebelum aku bangun.
Entah jam berapa om Kenzo keluar dari kamar ini.
Setelah mandi, aku bergegas keluar kamar untuk menemui kak Nicho. Secepatnya aku harus memberitahu kak Nicho agar dia tidak salah paham lagi dengan kak Fely.
Ternyata kak Nicho sudah rapi, dia sedang duduk di ruang tengah sembari memainkan ponselnya.
"Pagi kak,," Sapaku, aku ikut duduk di sebelahnya.
"Buka mata kamu Je. Ini udah jam 10," Ujar kak Nicho tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Jam 10 juga masuknya masih pagi kak," Sahutku enteng.
"10 menit lagi aku mau jemput Sherly di bandara. Kamu mau ikut.?"
"Apa.?!!" Aku melongo. Antara kaget dan kesal.
Bisa kacau rencanaku untuk membuat kak Nicho kembali lagi dengan kak Fely. Ternyata perempuan kecentilan itu nekat menyusul kami meski dia tau kalau aku sudah mengerjainya.
"Aku kira dia nggak jadi kesini. Kenapa nggak kakak larang aja sih.! Aku nggak mau yah kalau sampai kak Sherly tinggal 1 resort bareng kita.!" Ketusku.
"Kak Nicho juga harus jaga perasaan kak Fely dong.! Dia pasti akan sakit hati kalau tau kakak akan tunangan dengan kak Sherly."
"Kamu tuh kebiasaan, kenapa bahas dia mulu.! Dia itu udah nikah Je.!"
"Kakak percaya.? Emangnya kakak nggak bisa liat kalau kak Fely masih mencintai kakak.? Kalau aja kakak tau apa yang sudah membuat kak Fely pergi, aku yakin kakak akan menyesal. Terlebih kakak sudah menerima perjodohan dengan kak Sherly."
Aku bicara panjang lebar, rasanya kesabaranku sudah sampai di ubun - ubun.
"Maksud kamu apa.?" Tanyanya bingung.
Aku menarik nafas lebih dulu, sejujurnya agak berat mengatakan semua ini. Aku juga takut kak Nicho akan mengibarkan bendera peperangan pada papa, setelah mendengar kenyataan ini.
"Asal kakak tau,, kak Fely pergi bukan karna dia akan menikah.! Bahkan sampai sekarang kak Fely belum menikah."
"Papa yang sudah membuat kak Fely pergi. Papa sudah menghina kak Fely sampai akhirnya kak Fely memutuskan untuk meninggalkan kaka meskipun sebenarnya dia masih sangat mencintai kakak,,"
"Jangan bercanda Je.! Papa nggak mungkin menghina Fely,," Sanggahnya.
"Apa menurut kakak kak Fely bohong.? Kakak yang lebih tau seperti apa kak Fely."
Setelah mendengarkan ucapanku, kakak Nicho langsung bergegas pergi dengan terburu - buru.
Aku yakin dia pasti akan menemui kak Fely.
Semoga saja hubungan mereka bisa kembali seperti dulu.
...****...
Eling om,, jangan ngamar mulu, nanti khilafnya kebablasan. 🤣
Jangan sampai lupa tinggalkan like setelah baca🥰
Makasih untuk vote dan hadiahnya.
Othor lagi usahain nih biar bisa up 2 bab setiap hari.
Semoga bisa terlaksana.