
Aku pulang lebih dulu dengan menggunakan taksi. Bahkan aku tidak sempat mencari mama untuk bilang padanya lebih dulu. Aku hanya menghampiri supir pribadi papa, menitipkan pesan padanya kalau aku akan pulang.
Rasanya tidak sanggup lagi berlama - lama di tempat menyakitkan itu.
Aku tidak menyangka akan seperti ini akhirnya.
Kebahagiaan yang aku rasakan selama ini lenyap begitu saja dan harus di ganti dengan rasa sakit yang amat dalam.
Setelah lebih dari 1 jam menunggu di ruang keluarga, akhirnya mama dan papa datang.
Aku berniat untuk meminta pada mereka agar aku bisa pindah kuliah di New York. Lebih baik memang aku harus menjauh dan benar - benar pergi dari kehidupan Kenzo. Aku ingin memulai kehidupan dari awal di sana, tanpa perlu memikirkan om Kenzo lagi.
"Kenapa pulang duluan Je.? Kamu yang minta ikut, malah kami di tinggal pulang,,," Ujar mama setelah duduk di sampingku.
"Udah nggak betah mah, rame banget tadi,,," Alasan yang tidak masuk akal, tapi mama tidak memberikan komentar apapun.
"Mah, pah,,," Panggil ku lirih,,
"Hemm,,," Papa sibuk melepas jas dan dasinya.
"Jeje mau pindah kuliah di New York aja,," Lagi - lagi aku hanya bisa berbicara pelan. Aku takut papa akan marah, karna dulu aku sendiri yang sudah menolak saat papa mendaftarkan ku di New York.
"Pindah.?" Ujar mama. Dia kaget mendengarnya.
"Kenapa tiba - tiba ingin pindah.? Lagipula kuliah kamu juga baru mulai sayang,,,"
Aku tau, pasti akan sulit mendapat ijin dari mereka. Apa lagi keputusanku ini dibuat mendadak.
"Kamu mau main - main sama papa Je.? Jangan jadi seperti Nicho yang plin - plan dengan pilihannya sendiri.!"
"Kamu yang sudah menolak untuk kuliah di sana. Jadi selesaikan dulu kuliah kamu disini, paling tidak sampai 1 semester,,," Ujar papa dengan nada kekecewaan.
Aku tau, aku sudah membuatnya kecewa sejak aku menolak permintaannya waktu itu.
Tapi tidak mungkin aku akan tetap disini selama 6 bulan ke depan. Aku akan semakin sakit melihat pernikahan om Kenzo yang akan di gelar 1 bulan lagi. Di tambah om Kenzo yang mungkin akan terus memaksaku untuk tetap di sampingnya.
"Tapi pah,, belum terlambat kalau Jeje pindah sekarang. Jeje mohon, boleh ya pah pindah ke New York saja,,"
Aku memasang wajah memelas, berharap papa akan luluh dan mau menuruti keinginanku.
Entah bagaimana aku bisa menghindar dari om Kenzo jika aku tidak pergi ke New York.
Om Kenzo pasti akan terus mendesak ku untuk bertemu, dan kembali menjadikanku pemuasnya saja.
"Kenapa mendadak.? Beri papa alasan yang logis, kenapa kamu mau pindah. Apa kamu punya masalah di kampus,?"
Papa mulai bicara serius. Menatapku lebih intens dan membuatku gugup. Kau bingung harus menjawab apa..
"Apa yang pernah papa bilang memang benar, universitas di sana sepertinya jauh lebih baik. Jeje akui itu. Jadi Jeje mutusin buat pindah aja pah."
Setelah diam cukup lama, akhirnya aku punya alasan sesuai apa yang pernah papa bilang padaku.
Semoga saja papa bisa menerima alasanku, dan mau mengurus kepindahan ku ke New York.
"Sejak awal papa sudah bilang seperti itu, tapi kamu sendiri yang memaksa untuk tetap kuliah disini." Aku hanya bisa menunduk lesu. Papa mulai menyalahkan keputusan yang sudah aku ambil beberapa bulan lalu.
"Nanti papa suruh orang buat mengurus kepindahan kamu. Tapi butuh waktu Je, tidak bisa mendadak seperti ini,,,"
Mataku langsung berbinar, tidak menyangka papa akan menuruti keinginanku meski aku sudah pernah menentang keputusannya.
"Makasih pah, mah. Jeje janji akan kuliah dengan baik dan nggak akan mengecewakan mama sama papa,,"
"Mama percaya, kamu anak baik dan nggak akan mengecewakan kami,,"
Aku tersenyum lebar pada mama dan langsung memeluknya. Sebenarnya ada sesal dalam hatiku. Aku sudah memberikan kesucianku pada laki - laki yang tidak bertanggung jawab, yang pergi menggelar pertunangan bersama wanita lain.
Mama dan papa pasti akan sangat kecewa padaku kalau mereka sampai tau hal ini. Aku memang bodoh, tapi percuma saja aku terpuruk dalam penyesalan. Hal itu tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang.
Ini akibat yang harus aku tanggung atas kesalahan besar yang aku lakukan. Aku terlalu gegabah, memberikan hal paling berharga yang seharusnya hanya aku berikan kepada laki - laki yang sudah resmi menjadi suamiku.
Entah bagaimana nasibku setelah ini. Tapi yang jelas, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Akan ku tata kembali hati dan hidupku, menjalani kehidupan yang sehat seperti dulu. Dan melupakan om Kenzo pastinya.
"Jeje ke kamar dulu mah, pah,,"
Setelah pamit papa mama dan papa, aku bergegas pergi ke kamarku.
Aku yakin saat ini om Kenzo pasti sedang berusaha untuk menghubungiku. Aku sudah membuang ponsel sekaligus nomor yang ada didalamnya.
Ponsel yang hancur itu ibarat nasib diriku saat ini.
Sudah rusak, dibuang, dan ganti yang baru. Menyedihkan dan menyayat hati.
Aku sudah meminta ijin pada mama dan papa untuk pergi ke New York besok pukul 11 lewat 15 siang. Tentu saja aku berjuang keras untuk membujuk mereka agar menyetujuinya.
Semakin cepat aku pergi, maka akan semakin baik.
Pertemuan ku dan om Kenzo tidak akan terjadi kalau aku pergi besok.
Aku bukan wanita yang kuat, tapi aku juga tidak ini terlihat lemah. Apa lagi di depan om Kenzo. Terlihat lemah saat kita di khianati oleh pasangan, hanya akan membuat kita semakin terlihat bodoh di matanya.
Aku pun mulai ragu jika om Kenzo benar - benar mencintaiku. Jika memang dia mencintaiku, tidak mungkin dia menyembunyikan fakta besar ini dariku. Jika dia mencintaiku, pasti tidak akan membiarkan pertunangan itu terjadi dan lebih memilihku.
Lalu apa gunanya dia memintaku untuk tetap bertahan disisinya.? Sedangkan hari pernikahan mereka akan semakin dekat nantinya.
...***...
Aku sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Hanya mama saja yang bisa mengantarku, karna papa harus menghadiri rapat yang tidak bisa di tunda.
Proses kepindahan kuliahku memang masih lama, tapi aku harus cepat - cepat pergi untuk menghindar dari om Kenzo.
"Nanti berikan ini pada kakakmu,, dia pasti sudah kehabisan uang karna papa sudah memblokir semua kartunya,,," Mama menyodorkan kartu kredit padaku.
Tapi pagi saat sarapan bersama, papa memang sudah memberiku pesan agar nanti aku tidak membantu kak Nicho. Papa bahkan mengancam ku akan memulangkan ku jika aku kedapatan memberikan uang padanya. Setegas dan sekejam itu papa pada kak Nicho.
"Apa menurut mama, papa nggak terlalu keras pada kak Nicho.? Aku kasihan padanya."
"Kehilangan orang yang dia cintai saja sudah cukup menghancurkan hatinya, tapi papa masih saja mengatur hidup kak Nicho."
Mama menggenggam tanganku, menatap ku dengan teduh.
"Kamu nggak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kemarahan papa pada Nicho nggak akan bertahan lama. Papa hanya kecewa saja karna Nicho sudah mengecewakannya,,"
Aku hanya mengangguk saja, tanpa ada niatan untuk menanggapinya lebih jauh.
Saat ini pikiranku masih saja terbagi pada laki - laki itu. Aku masih tidak habis pikir, kenapa om Kenzo tega menghancurkan hatiku setelah seluruh cintaku hanya aku berikan padanya.
Aku benar - benar tulus mencintainya, bahkan sangat mempercayainya hingga aku berani menggantungkan harapanku padanya.
Mobil yang kami tumpangi sudah berhenti di bandara. Aku turun dengan langkah yang sedikit ragu. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, sudah tepatkah langkah yang aku ambil untuk mengakhiri hubunganku dengan om Kenzo.?
Meski aku mulai membencinya, tapi bagaimanpun hati ini pernah mencintainya. Ada sedikit keraguan untuk pergi jauh darinya, namun pada akhirnya rasa sakit hatiku mampu mengalahkan keraguan itu.
Aku menepis keraguan itu, dan mulai meyakinkan diriku bahwa aku sudah tetap dalam mengambil keputusan.
Mama menemaniku hingga ke ruang tunggu.
"Sejak kapan kamu menyukai nak Kenzo.?"
Pertanyaan mama membuat syok. Aku hanya bisa melongo menatapnya. Bagaimana mama bisa tau kalau aku menyukai om Kenzo.?
"Rupanya banyak rahasia yang disembunyikan anak mama,," Mama tersenyum padaku. Aku tetap saja masih diam, tidak bisa berkata apapun.
"Saat di acara pertunangan itu, mama tidak sengaja lihat nak Kenzo mengejar kamu. Mama hendak mengikuti kalian, tapi kehilangan jejak."
"Dari situ mama mulai curiga dan mengaitkannya dengan reaksi kamu saat melihat undangan itu. Mama bisa melihat ada kehancuran dimata kamu,,"
"Jadi kamu pergi untuk menghindarinya.?"
Aku semakin melongo di buatnya, tidak percaya mama mengetahui hal itu. Tapi kenapa mama baru mengatakannya setelah aku sudah berada di bandara. Kenapa tidak bicara saat aku masih di rumah.
"Mah,," Ucapku lirih.
Mataku teras perih, ingin rasanya aku menangis di pelukan mama, tapi aku tidak ingin membuat mama sedih. Aku harus terlihat kuat, dan menunjukan jika aku baik - baik saja.
"Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Lebih baik pergi daripada berharap pada laki - laki yang sudah memiliki pasangan. Jangan sampai hubungan mereka hancur karena kamu, karna akan banyak orang yang tidak menyukai kamu nantinya."
Mama menggenggam tanganku, menatapku dengan penuh kasih sayang.
"Kamu masih sangat muda sayang, jalan hidup kamu masih panjang. Mama yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu,,"
Aku langsung memeluk mama, dan terus berusaha untuk tidak menangis.
Apa yang mama katakan mampu membuatku semakin sadar. Mampu membuatku semakin yakin untuk benar - benar melupakan om Kenzo.
Aku akan fokus pada kuliahku, dan mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.
...****...
Semoga keputusan yang Jeje ambil bisa membuat Jeje menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Semangat move on Je .
Om Ken biar othor yang ngurus. 🤣
Nggak bosen kan buat dukung karya othor.?
Jangan lupa vote yah bagi yang belum.
Makasih buat yang masih stay disini.
Dan buat yang nyinyir tapi masih lanjut baca, othor udah maafin kesadisan komentar kalian ko'.
Kurang baik apa lagi ya kan.? 🤣
Padahal di kasih hiburan gratis, tapi masih tega menghina kerja keras orang lain.