
Kenzo Pov
Dari kejauhan gadis cantik itu terlihat tersenyum. Terus menatap ke arah mobilku yang kian mendekat. Wajah cantiknya semakin terlihat jelas begitu aku menghentikan mobil tepat di depannya. Aku membuka pintu mobil untuknya dari dalam, saat itu juga dia langsung mendekat dengan senyum yang makin merekah. Senyum yang terlihat tulus tanpa beban, bahkan sering membuatku ikut tersenyum hanya karna melihat senyumnya.
"Haii om,,," Sapanya dengan wajah yang begitu ceria. Dia memang selalu seperti itu setiap kali menyapaku. Keceriaan yang dia pancarkan mampu memberikan energi positif yang membuat mood ku kembali membaik.
Karna terkadang pekerjaan kantor dan masalah yang aku hadapi, selalu merusak mood ku.
Aku mengulas senyum tipis ke arahnya.
"Masuk Je,,"
Tanpa menunggu lama, dia masuk kedalam mobil dan segera menutup pintu. Memasang seatbelt dengan cepat sembari melihat ke arahku.
"Kita mau makan dimana om.? Jangan di resto yang rame ya om,," Suara khas remajanya selalu terdengar lucu dan menggemaskan. Campuran antara manja, cerewet namun tetap lembut.
Tas LV gendongnya di dekap dalam pangkuan, lalu mulai duduk dengan tenang selesai memakai seatbelt.
"Emangnya kenapa kalo rame,,?"
Aku melajukan mobil, pandangan mulai fokus pada jalanan.
"Nggak suka aja om. Gimana kalo makan siangnya di apartemen om aja,,? Biar aku yang masak,," Serunya penuh semangat.
Dia mencondongkan badannya ke arahku, terlihat serius menatapku untuk mendengarkan jawabanku.
"Kamu tau sendiri aku baru pulang. Nggak ada persediaan bahan makanan di rumah,"
Setiap akan pergi ke luar negeri dengan waktu yang cukup lama, aku selalu meminta pada asisten yang mengurus apartemenku untuk mengosongkan isi kulkas. Lalu mengisinya kembali setelah aku pulang. Harusnya siang ini dia tadang, namun karna masih banyak perkerjaan di rumah papa, dia menundanya sore nanti.
"Tinggal belanja aja om, apa susahnya,," Sahutnya enteng.
"Mau kan om,,?" Ujarnya memohon.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala, ini bocah kenapa jadi dia yang sering ngatur - ngatur.
Sepertinya dia juga lebih senang jika berada di apartemenku. Tidak terlalu suka keramaian. Atau mungkin hanya akal - akalannya saja agar bisa berduaan. Aku tersenyum geli, gadis itu memang sangat mesum.
"Iihh om Ken,," Rengeknya sembari menggoncang lenganku.
"Bukannya jawab malah senyum - senyum nggak jelas." Protesnya dengan bibir yang mencebik. Aku semakin melebarkan senyum karna melihatnya begitu lucu.
Memang sangat menghibur berada di samping bocah polos ini. Sikapnya terkadang seperti anak kecil, namun kadang terlihat dewasa.
"Iya terserah kamu aja,," Jawabku datar.
Dia terlihat sangat senang, matanya bahkan berbinar.
"Yeayy,, makasih om,," Serunya, kemudian mendekap lenganku. Begitu aku melirik ke arahnya, dia langsung melepaskan tanganku dan tersenyum kaku. sepertinya dia reflek memeluk lenganku.
"Hehe,, maaf om nggak sengaja,,"
Aku hanya mengangguk, lalu kembali fokus menyetir.
"Langsung ke supermarket ya om,," Pintanya.
"Iya.! Dasar burung beo,,!" Cibirku tanpa menatap ke arahnya. Saat ini raut wajahnya pasti sangat lucu mendengar cibiran ku. Dia mendengus kesal namun tidak berkata apapun.
Aku sempat heran dengannya yang terus memaksaku untuk menjadikan dirinya sebagai sugar babyku. Karna yang aku lihat saat itu, dia seperti anak orang berada dengan barang - barang branded yang melekat di tubuhnya. Biasanya, orang menawarkan diri sebagai sugar baby karna terdesak kebutuhan ekonomi atau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tinggi namun tidak menyesuaikan kemampuan. Sampai akhirnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kemewahan.
Tapi aku tidak melihat semua itu dalam dirinya. Dan setelah aku menyelidiki tentangnya, memang benar dugaanku. Dia bahkan putri seorang pengusaha besar yang di kenal se asia. Yang tak lain adalah anak dari Alexander William, begitu terkenal karna memiliki banyak perusahaan di beberapa negara.
Entah apa alasannya kenapa Jeje mutuskan untuk menjadi sugar baby. Secara materil, dia tidak kekurangan apapun. Kalau di bilang salah pergaulan, pasti saat ini dia sudah tidak virgin lagi. Nyatanya dia saja baru pertama kali berciuman. Sudah di pastikan kalau dia tidak kelewat batas dalam bergaul.
...**...
Bocah cerewet itu terlihat antusias memilih bahan makanan. Memasukan beberapa sayur, daging dan ayam ke dalam troli yang sedang aku dorong. Aku hanya diam saja mengikuti langkahnya.
Dia sangat cekatan mengambil keperluan yang aku butuhkan. Usianya memang masih sangat muda, tapi soal mengurus keperluan dapur dan rumah, sepertinya tidak perlu di ragukan lagi. Masakannya pun terbilang enak.
Pantas saja beberapa hari yang lalu dia bilang kalau ingin menikah muda. Sebenarnya aku geli sendiri dengan keinginannya. Di usianya yang baru 18 tahun, sudah membahas soal pernikahan.
"Udah semua nih om,," Ucapnya memberi tau. Aku memperhatikan troli yang lumayan penuh terisi dengan bahan makan.
"Yaudah bayar sana, ,!" Ketusku. Sengaja aku ingin melihatnya kesal. Lihat saja, sebentar lagi dia pasti akan menyerocos.
"Iihhh,, kok aku yang bayar sih om.! Ini kan belanjaan buat ngisi apartemen om, masa aku yang disuruh bayar." Jawabnya cepat.
"Emang om nggak bawa dompet.? Eh,, bisa aja bawa dompet tapi nggak ada uangnya ya.?" Aku masih diam memperhatikan dia yang terus berbicara.
"Tapi tas aku juga di mobil om, lagian om nggak bilang kalau nggak bawa uang. Gimana dong ini,,? Masa harus ke parkiran dulu,,,"
Ujarnya lemas dengan dengan wajah yang lesu.
Aku terkekeh geli, lalu mengacak gemas rambutnya hingga membuatnya mencebik kesal. Lucu sekali bocah ini, lumayan membuatku terhibur.
...**...
Aku membawa 3 kantong belanjaan berukuran besar ke dapur. Jeje mengikuti dari belakang setelah tadi mengunci pintu lebih dulu.
"Om duduk aja, bair aku yang beresin belanjaannya,," Ujarnya setelah aku meletakan belanjaan di atas meja.
Sedangkan bocah itu menurut, langsung mengambil beberapa bahan makanan yang akan dia masak.
Aku duduk setelah membereskan semua belanjaan itu, lalu meneguk minuman kaleng hanya dalam satu tegukan. Ternyata melelahkan sekali belanja perluan tadi, di tambah harus membereskan semua belanjaan itu.
Aku memperhatikan Jeje yang terlihat masih bersemangat memasak. Sepertinya anak itu tidak ada lelahnya. Wajahnya bahkan masih terlihat ceria.
Aku pergi ke kamar untuk mengganti baju. Sudah rapi memakai celana jeans dan kemeja lengan pendek karna akan makan siang di luar, ternyata harus batal karna permintaan si burung beo yang ingin makan di apartemen saja.
"Om,, lagi ngapain.?" Teriaknya sembari mengetuk pintu.
"Udah mateng nih, ayo makan,," Ujarnya lagi dengan suara yang lebih kencang.
"Iya cerewet.!" Ketusku begitu membuka pintu, aku mendorong keningnya dengan jari telunjuk agar dia mundur dan tidak menghalangi jalanku.
Seperti biasa, dia hanya mencebikan bibirnya.
Kami duduk berhadapan, dia menyendokan makanan ke piringku. Aku hanya diam saja sembari memperhatikan gerak - ngeriknya. Dia sudah seperti istriku saja.
Aku tersenyum miris, andai saja aku bisa membuat papa mengakhiri perjanjian kami. Mungkin aku bisa menentukan pilihan yang terbaik untukku.
Selesai makan, kami duduk di ruang tv. Dia terlihat santai bersender pada sofa sembari memainkan ponselnya.
Aku memilih menyalan laptop untuk mengecek laporan yang masuk lewat email. Selama berada di Singapur, pekerjaan kantor aku serahkan pada asisten pribadiku. Kini aku harus mengecek laporan dan beberapa berkas.
"Ya hallo,,," Aku melirik Jeje yang saat ini sedang menerima telfon. Merasa mendapat lirikan tajam dariku, dia menyengir kuda dan langsung beranjak.
"Bentar ya om, aku angkat telfon dulu,," Ucapnya berbisik sembari menjauhkan ponsel dari wajahnya.
Aku mengangguk pelan.
Entah kenapa aku jadi penasaran, ingin tau siapa yang menelfonnya.
Aku memilih untuk mengikutinya yang berhenti di balkon.
"Jadi nomor ponsel kakak di blokir.? Aku pikir hanya di hapus saja. Pantas saja kakak nggak nelfon lagi."
Aku terus menyimak ucapannya. Entah telfon dari siapa.
"What..?!! Suami.?! Suami dari mana,, hahaha,,,"
"Ya ampun kak Gerald lucu banget. Dia cuma om ku,,"
Rupanya laki - laki itu lagi yang menelfon. Aku langsung menghampirinya, merebut ponsel dan mematikan sambungan telfonnya.
Jeje berbalik badan dengan raut wajah yang kaget.
"Om balikin.! Kebiasaan banget suka rebut kalo aku lagi nelfon.!" Ketusnya tak suka.
"Berapa kali aku harus bilang.! Jangan menjalin hubungan dengan laki - laki lain, sekalipun hanya bicara lewat telfon.!" Aku langsung mengembalikan ponselnya.
"Tunggu sampai kontrak kita berakhir.! Setelah itu kamu bebas berhubungan dengan laki - lakin mana pun.!" Bentakku.
Aku paling tidak suka jika ada yang melanggar aturanku atau membantah ucapanku.
"Maaf om,," Ucapnya lirih, dia menundukan kepalanya. Tidak berani menatap ke arahku.
Aku menghela nafas berat, berusaha mengatur emosiku yang tiba - tiba naik.
"Kalau kamu merasa keberatan, kamu bisa akhiri kontraknya sekarang." Ucapku. Mungkin memang sebaiknya mengakhiri kontrak, dari pada harus membuat orang lain merasa terbebani dan tertekan.
Aku meninggalkan Jeje yang hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata. Aku membiarkan dia untuk memikirkan baik - baik ucapanku.
Tak berselang lama, Jeje datang dengan raut wajah yang terlihat sendu. Aku merasa bersalah karna sudah membentaknya.
"Maaf, aku nggak bermaksud bentak - bentak kamu. Aku nggak suka di bantah, kamu tau itu kan. Jadi,,,
"Aku minta maaf om." Ujarnya memotong ucapanku.
Dia mengambil tas miliknya di atas sofa.
"Mau kemana,,?" Aku menahan tangannya. Aku yakin dia akan pergi dari apartemenku.
"Aku mau pulang om. Makasih buat kebaikan om selama ini. Aku udah mutusin buat mengakhiri kontrak kita."
Meski dia menunduk, aku tau saat ini dia sedang mencoba untuk menghapus air matanya. Aku semakin merasa bersalah, sudah keterlaluan padanya.
Keputusan yang papa ambil beberapa hari lalu, membuatku merasa kesal namun aku tidak bisa melakukan apapun. Kemarahanku pada Jeje mungkin karna aku sudah memendam kekesalan itu sampai akhirnya aku melampiaskan kekesalanku padanya.
...****...
Anak orang maen bentak - bentak aja kau om😁
Di bikin baper pula,,
Ayo tambahin lagi votenya😁
Yang masih belum bisa vote / hanya bisa pake poin, bisa di update dulu aplikasinya🥰
Sekarang vote nggak perlu pake poin lagi, 😊