My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 43. Drama makan malam



Aku lebih banyak diam. Hanya bicara saat om Kenzo bertanya padaku.


Berusaha bersikap normal untuk saat ini nyatanya sangat sulit. Aku terus membayangkan hubungan om Kenzo dan kak Fely. Terlebih mereka akan pergi bersama ke Singapur besok. Dada ini terasa sesak membayangkan mereka pergi berdua.


Om Kenzo selalu bersikap manis padaku, bisa saja dia juga memperlakukan kak Fely sama sepertiku.


Apa aku salah jika tidak menyukai hubungan mereka.?


Bukan tanpa alasan aku tidak menyukai hubungan mereka. Karna aku memiliki perasaan pada om Kenzo. Dan hubungan keduanya membuatku cemburu.


Egois memang, tapi aku sudah terlanjur mencintai om Kenzo. Aku terlalu ambisius untuk memilikinya.


Selagi belum ada ikatan pernikahan di antara mereka, aku akan berusaha merebutnya.


Makanan ini terasa hambar di mulutku. Tidak ada selera untuk melahapnya dengan cepat. Aku hanya makan beberapa suap, lalu hanya mengaduk - aduk saja yang masih terisa di piring. Om Kenzo mungkin sejak tadi memperhatikan ku. Dia yang duduk tepat di depanku, pasti melihat semua yang aku lakukan.


Namun sampai saat ini om Kenzo belum memberikan komentar apapun. Dia masih fokus menghabiskan makanannya, meski aku tidak sepenuhnya melihat om Kenzo. Aku hanya melirik sesekali. Lebih banyak membuang pandangan ke arah lain.


"Jangan di mainin kalo nggak mau di makan,," Ucapnya datar.


Rupanya om Kenzo berniat menghabiskan makanannya lebih dulu sebelum menegurku.


Aku meliriknya sekilas, kemudian meletakan sendok dan garpu yang ada di tanganku. Jus alpukat di depan mata terasa menggoda. Ternyata melamun bisa membuat tenggorokan terasa kering. Aku meraihnya, meminum sedikit jus yang belum aku sentuh sejak tadi.


"Tunggu disini,," Om Kenzo berdiri dari duduknya.


Aku mengangguk patuh padanya. Sebelum pergi, dia sempat mengusap lembut kepalaku. Aku tersenyum, namun hanya dalam hati. Siapa yang tidak jatuh hati dengan laki - laki selembut om Kenzo. Sebagai wanita yang memang membutuhkan perhatian, tentu saja perlakuan om Kenzo mampu mengaduk - aduk perasaanku.


Om kenzo belum kembali sejak dia pergi 15 menit yang lalu. Tempat duduk kami berada di luar restoran, sedangkan om Kenzo masuk kedalam.


Aku merogoh tas dan mengambil ponsel. Bosan juga berdiam diri menunggu om Kenzo kembali. Memainkan ponsel bisa sedikit mengusir rasa bosan ku.


"Jeje,,?"


Aku langsung menoleh saat mendengar namaku di sebut. Selama beberapa detik aku menatapnya bingung.


"Kak Gerald,,?" Kataku dengan menunjukan jari ke arahnya.


Dia kak kelasku dulu, terpaut dua tahun di atasku.


Dulu kak Gerald tidak ada bosannya menungguku di parkiran hanya sekedar untuk mengantarku ke kelas. Dia memang terang - terangan mendekatiku, sama halnya dengan kakak kelas yang lain. Namun kak Gerald yang paling dekat denganku.


Obrolan kita yang nyambung, membuatku betah saja dekat dengannya. Tapi aku hanya menganggapnya sebatas kakak, tidak lebih dari itu.


Kak Gerald pun paham. Karna aku selalu mengatakan padanya berulang kali.


Dia tersenyum lalu duduk di depanku, duduk di kursi yang tadi di tempati oleh om Kenzo.


"Kirain udah lupa." Katanya.


"Gimana kabar kamu.? Lama nggak ketemu, kamu masih cantik aja kayak dulu. Nggak luntur - luntur cantiknya,,," Pujinya.


Aku terkekeh mendengarnya. Pujian kak Gerald memang selalu lucu di telingaku.


"Apaan sih kak. Baru juga ketemu, udah ngegombal aja. Emang kalo udah hobby ngegombal susah ya ilangnya,," Ledek ku.


"Itu kan dulu Je, sekarang udah nggak hobby ngegombal lagi. Udah nggak ada yang bisa di gombalin,," Aku mengangguk saja mendengarnya.


"Kamu sama siapa kesini.?"


"Samaa,,,


Aku tidak meneruskan ucapanku karna melihat om Kenzo yang berdiri tak jauh dari tempatku. Dia bersender pada dinding sambil terus menatap ke arahku. Tatapan yang sulit di artikan dengan ekspresi wajah yang datar.


Sepertinya om Kenzo sudah lama berdiri disana. Tapi kenapa dia tidak menghampiri kami.? Malah memperhatikan kami dari sana.


Merasa mendapat tatapan intimidasi, aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dengan kak Gerald.


"Maaf kak, aku balik dulu yah. Udah di tungguin,,,"


Aku beranjak, namun kak Gerald ikut berdiri dan menahan tanganku.


"Sebentar Je,," Aku langsung menatapnya.


"Aku minta nomor hape kamu dulu. Kamu ganti nomor bukannya ngasih tau, malah diem - diem aja,,"


Protesnya.


"Hapeku hilang kak, gimana mau ngasih tau. Mana hape kakak,,," Aku menyodorkan tangan, meminta ponsel miliknya untuk memasukan nomorku.


Kak Gerald tersenyum lebar, dia langsung mengambil ponsel dari saku celananya dan menyodorkannya padaku.


Baru saja akan menerima ponsel itu, seseorang lebih dulu merebutnya dari tangan kak Gerald.


"Om,,,!" Aku bengong menatapnya. Begitu juga dengan Gerald. Dia berusaha mengambil ponselnya, namun om Kenzo menghindar sambil terus menggerakkan jarinya pada benda pipih itu.


Tanpa bicara apapun, om Kenzo memberikan ponsel itu pada kak Gerald setelah mengetik sesuatu disana.


"Ayo,,," Om Kenzo menarik tanganku, membawa ku menjauh dari sana.


"Kak,, aku duluan,,," Ucapku setengah berteriak.


Kak Gerald hanya diam mematung sambil terus menatap kepergian kami. Dia masih saja terlihat kaget dan bingung.


"Om tadi ngetik apaan.? Kak Gerald sampai kaget gitu ngeliatnya,,"


Kami sudah jauh dari area resto, namun om Kenzo masih terus menggandeng tanganku.


"Sesuai yang dia minta,," Jawabnya datar. Dia bahkan tidak melihat ke arahku.


"Kak Gerald minta nomor hapeku. Mana ada ngeliat nomor hape ekspresinya sampai kaget begitu. Jangan - jangan om Ken ngetik angka nol sampai sepuluh ya,,?" Tanyaku penasaran yang tinggi. Namun om Kenzo hanya menarik sudut bibirnya. Terlihat menahan tawa yang lucu. Aku jadi makin penasaran saja.


"Om,, kok nggak jawab sih.? Apa yang om ketik tadi.? Jangan bikin penasaran deh om.! Cukup kehidupan pribadi,,,


Aku langsung mengatupkan rapat - rapat bibirku. Hampir saja mulut ini kelepasan. Bagaimana reaksi om Kenzo kalau tau aku sangat penasaran dengan kehidupan pribadinya.


"Kenapa nggak di terusin.?"


"Males ngomong.!" Jawabku dengan nada yang sengaja aku buat cuek. Biar saja om Kenzo berfikir kalau aku kesal padanya. Itu lebih baik dari pada nanti dia terus mendesak untuk meneruskan ucapanku.


akhirnya kami saling diam hingga sampai ke resort. Aku membuntuti om Kenzo yang berjalan ke arah dapur. Aku baru menyadari ternyata om Kenzo membawa sesuatu ditangan kirinya.


"Duduk, makan dulu,," Ujarnya.


Dia meletakan kantong plastik di atas meja makan, lalu mengeluarkan kotak berisi makanan.


"Aku kan udah makan om, masa disuruh makan lagi.?"


"Tadi bukan makan, tapi mainin makanan." Sahutnya cepat. Dia menarik kursi. Tangannya menunjuk kursi sambil menatap ke arahku.


Aku langsung menurut begitu saja.


Om Kenzo mengambil sendok, lalu duduk disebelahku.


Aku pikir dia akan memberikan sendok itu padaku, tapi ternyata dia menyendok makanan itu dan menyodorkan nya padaku.


"Buka mulutnya,,"


"Om,,, aku bisa makan sendiri,,," Aku mencoba meminta sendok itu, namun om Kenzo menatapku tajam.


"Aku tidak suka di bantah.!" Tegasnya.


Aku pasrah saja di suapi oleh om Kenzo. Jujur saja awalnya canggung dan tidak nyaman karna malu.


Tapi setelah beberapa suap, aku justru menikmatinya.


Om Kenzo paling bisa menaburkan bunga bermekaran di hatiku.


Dia semakin perhatian saja. Ternyata dia pergi untuk memesankan makanan ini. Om Kenzo seolah tidak ingin membiarkanku kelaparan. Dia memang terus memperhatikan ku di resto tadi yang hanya makan beberapa suap saja.


Seperhatian ini om Kenzo memperlakukanku yang hanya sebagai sugar babynya. Lalu bagaimana om Kenzo memperlakukan kak Fely.? Pasti lebih dari ini.!


Dadaku tiba - tiba sesak membayangkannya.


Kami sudah berada di kamar, om Kenzo sedang duduk sambil terus menatap layar ponselnya. Dia terlihat serius membaca email yang masuk. Sesekali menghubungi asistennya jika ada sesuatu yang penting.


Sejujurnya sejak masuk kedalam kamar, jantungku sudah bergemuruh. Pikiranku sudah terbang kemana - kemana. Membuatku semakin tidak karuan saja.


Tidak karuan karna sangat penasaran dengan apa yang akan om Kenzo lakukan padaku nanti.


Aku makin gelisah saja. Sedangkan om Kenzo masih fokus pada ponselnya.


"Kalau udah ngantuk tidur duluan aja Je,," Katanya sambil melirikku sekilas.


"Iya om, aku duluan ya,," Akhirnya aku memutuskan untuk tidur lebih dulu. Sepertinya om Kenzo juga teguh pada pendiriannya. Dia tidak berbuat macam - macam padaku. Aku saja yang terlalu mesum, selalu menginginkan om Kenzo berbuat macam - macam.


Ternyata sangat sulit memejamkan mata dengan pikiran yang gelisah. Sejak tadi aku hanya membolak - balikan badan ke kanan dan kiri, berusaha mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tapi tetap saja mata ini enggan terpejam.


"Kenapa.?" Aku langsung berbalik badan, ternyata om Kenzo akan naik ke atas ranjang.


"Nggak bisa tidur om,,"


"Sini,,," Om Kenzo sudah membaringkan tubuhnya, dia menyuruhku untuk mendekat.


Mungkin aku gelisah karna menunggu om Kenzo, buktinya tanpa berfikir lebih dulu aku langsung mendekat padanya.


Om Kenzo langsung membawa ku kedalam dekapannya. Tanpa malu, aku memeluk om Kenzo dan membenamkan wajah di dadanya. Detak jantung om Kenzo bahkan terdengar jelas di telingaku. Sangat beraturan, tidak seperti jantungku yang bergemuruh.


Aroma khas dari tubuh om Kenzo, memberikan ketenangan dan kenyamanan tersendiri untukku. Aku yang tadinya gelisah, perlahan mulai tenang.


Mataku mulai terpejam dan masuk ke alam mimpi.