My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 98. Malam kedua tiba



Kalau masih puasa, tolong di skip dulu.!


Adegan hareudang.! Baca setelah buka puasa ya.


Jeje keluar dari walk in closet dalam keadaan seksi dan menggairahkan. Laki - laki yang melihatnya seperti itu pasti akan menelan liurnya berkali - kali.


Tubuh putih Jeje sangat kontras dengan lingeri warna maroon yang menempel di tubuhnya.


Dia berjalan cepat menuju ranjang, lalu mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur yang redup.


Jeje juga menurunkan suhu ruangan pada suhu terendah, dia sudah memprediksi akan terjadi pergulatan panas yang bisa membuatnya bercucuran keringat.


Setelah mengatur semuanya dengan baik, Jeje duduk di ujung ranjang. Siluet dirinya yang membelakangi lampu tidur terlihat begitu seksi.


Sudah bisa di pastikan kalau Kenzo tidak akan sanggup untuk melihat pemandangan yang menggiurkan itu.


Jeje memainkan jari - jarinya. Dia sangat gugup menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


Meski dia sudah pernah melakukannya, tapi kegugupan tetap menyelimutinya.


Suara pintu yang terbuka, membuat kedua manik matanya menatap ke arah pintu kamar mandi.


Meski redup, Jeje masih bisa melihat suaminya yang keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Jantung Jeje semakin berdetak kencang. Tinggal beberapa saat lagi, mereka akan mengulangi kegiatan penuh cinta dan nafsu itu.


"Sayang kenapa lampunya,,,,"


Kenzo tidak meneruskan ucapannya. Bayangan wanita seksi yang duduk di ujung ranjang, membuatnya menelan saliva dengan susah payah.


Kaki panjangnya mulai menapak, mendekat ke arah ranjang.


Sementara itu, Jeje sudah bersiap untuk membangkitkan gairah suaminya.


Saat Kenzo semakin mendekat, saat itu juga sesuatu dibalik handuknya mulai mengeras.


Laki - laki itu bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh seksi istrinya yang membuat birahinya naik seketika.


"Sayang,,," Panggil Kenzo dengan suara beratnya. Jelas sekali kalau laki - laki itu sudah dikuasai oleh nafsu.


"Aku sudah selesai,," Ujarnya.


"Malam ini aku akan memuaskanmu, by,,,"


Jeje bangun dari duduknya, dia mendekat pada Kenzo. Mengalungkan kedua tangannya di leher Kenzo, membuat tidak ada jarak di antar mereka.


Jeje langsung melu**t bibir Kenzo, yang langsung di balas olehnya dengan penuh nafsu.


Tubuh Jeje bahkan sudah menegang, terlebih dia bisa merasakan milik suaminya yang sudah tebak dengan kokoh dibawah sana.


Kedua tangan Jeje menyusuri punggung lolos suaminya, semakin turun kebawah hingga berhasil melepaskan handuk yang melilit di tubuh Kenzo.


Tanpa malu, Jeje memegang milik Kenzo.


Laki - laki itu bahkan mengerang nikmat, namun tidak sedikitpun melepaskan ciumannya.


Tangannya bahkan bergerak liar, menggerayangi tubuh bagian belakang istrinya.


Kenzo menggiring Jeje ke ranjang, dia merebahkan istrinya dengan hati - hati.


"I love you,,," Bisiknya di telinga Jeje.


"I love you to my hubby,,," Jeje meraih tengkuk Kenzo, dia kembali mencium bibir Kenzo dengan rakus. Dia membuang rasa malunya hanya untuk memuaskan suaminya. Jeje ingin suaminya itu akan terus mengingat malam indah ini.


Kedua bukit kembar Jeje menjadi sasaran tangan besar Kenzo, dia meremasnya kasar. Namun hal itu justru membuat Jeje semakin bernafsu.


Kenzo yang sudah tidak sabar, langsung merobek lingeri Jeje dia bagian depan. Kedua aset kembar istrinya langsung menyembul keluar. Dia langsung melahapnya bergantian, membuat desahan keluar dari mulut mungil istrinya.


Saat tangan Kenzo menyusup di balik celana d*lam Jeje, tubuh remaja cantik itu menegang. Dia mencengkram rambut Kenzo, namun hal itu membuat Kenzo semakin kuat menyesap bukit Kembarnya.


Jeje sudah kehilangan akal sehatnya akibat kenikmatan yang diberikan oleh Kenzo, desahan yang keluar dari mulutnya semakin kencang. Terlebih saat ini jari Kenzo sedang bermain di bawah sana.


"Hubbyyy,,," Desah Jeje dengan suara tercekat.


"Akuu,,,


"Keluarkan saja sayang,,," Kenzo semakin mempercepat gerakan tangannya, dia juga kembali menyesap benda kenyal favoritnya.


"Kamu sangat seksi."


"Siapa yang mengajarimu memakai baju itu,,?"


Bisik Kenzo, dia masih diam di atas tubuh Jeje. Membiarkan istrinya yang masih erat memeluknya.


"Aku bisa gila kalau melihatmu terus memakai baju seksi itu,," Lanjutnya lagi. Jeje mengulas senyum.


"Aku harus memuaskan suamiku,," Ujarnya.


"Aku mau di atas by,,," Bisik Jeje dengan suara seksinya. Kenzo sempat terkejut mendengarnya, rupanya istrinya itu sudah tau tentang gaya bercinta yang bisa membuatnya nikmat.


Kenzo sudah siap dalam posisinya, dia setengah duduk dengan menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang.


Jeje memposisikan dirinya, dia lebih dulu duduk di pangkuan Kenzo. Bibir mungilnya kembali melu**t bibir Kenzo. Ciuman panas itu terjadi berulang kali.


"Sekarang sayang,,," Pinta Kenzo. Dia menatap Jeje, kedua manik matanya sudah berkabut gairah yang tinggi.


Keduanya mulai melakukan penyatuan, tapi tidak semudah yang mereka bayangkan.


Mereka pikir akan mudah karna sudah pernah melakukan penyatuan sebelumnya. Tapi milik Jeje yang terlalu sempit, atau mungkin milik Kenzo yang terlalu besar, membuat penyatuan itu terlihat sulit.


Jeje hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat Kenzo terus berusaha mendorong miliknya.


Desahan keluar dari mulut Kenzo, saat seluruh miliknya masuk dan terasa menggigit.


Sambil menahan sakit, Jeje mulai bergerak naik turun dengan tempo yang pelan untuk membuat miliknya nyaman lebih dulu.


Perlahan gerakannya semakin cepat. Desahan keduanya saling bersahutan, memenuhi kamar yang terasa panas meski memasang suhu terendah.


Kenzo tidak menyia - nyiakan kedua aset kembar Jeje yang bergerak bebas di depannya, mulutnya dengan sigap melahap bergantian.


Sudah cukup lama Jeje terus bergerak di atas pangkuan Kenzo, miliknya sudah terasa berdenyut.


Sesuatu di dalam sana terasa akan meledak.


"By,,, aku mau,,,


"Tahan sayang, sebentar lagi,,," Kenzo juga ikut menghujamkan miliknya dengan tempo yang semakin cepat.


Erangan panjang dari keduanya mengakhiri pergulatan panas malam ini.


Untuk kedua kalinya Jeje mencapai puncak, tubuhnya ambruk dalam pelukan Kenzo.


Deru nafas keduanya masih memburu.


"Kamu luar biasa,,," Bisik Kenzo. Jeje semakin erat memeluk suami, dia lebih memilih untuk membenamkan wajahnya karena malu.


Jeje sudah turun dari atas tubuh Kenzo. Keduanya sudah berbaring di atas ranjang dan saling berhadapan. Selimut putih menutupi tubuh polos keduanya.


"By,, bagaimana kalau nanti aku hamil,,?" Tanya Jeje cemas.


"Kamu punya suami, kenapa harus takut hamil,," Jawab Kenzo santai.


"Tapi by, kata mama umurku masih terlalu muda,,"


Akhirnya Jeje mengungkapkan kecemasannya.


Selain takut pada peringatan kedua orang tuanya, Jeje juga takut pada kondisinya jika harus hamil di usia yang masih terbilang sangat muda.


"Apa bahaya untuk kesehatan kamu dan calon anak kita nanti.?" Tanya Kenzo serius. Jeje yang tidak tau, hanya menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya bersihkan sekarang di kamar mandi."


"Kalau kehamilan itu bisa membahayakan kalian, kita akan tunda sampai usia kamu cukup,,"


Kenzo bangun, dia langsung mengangkat tubuh Jeje.


Wajah Jeje merona seketika. Dia sangat malu karna tubuh keduanya sama - sama polos.


"Aku bisa jalan sendiri by,," Ujar Jeje agar Kenzo menurunkannya.


"Kamu baru saja bekerja keras, pasti susah kalau harus jalan sendiri,,,"


Pada akhirnya Jeje menurut. Kenzo membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.