
Aku tidak menyangka om Kenzo akan bertindak sejauh itu. Ternyata satu hari setelah keberangkatan ku ke New York, om Kenzo datang ke rumahku. Dia datang menemui papa dan mama, secara terang - terangan menceritakan hubungan kami. Om Kenzo bahkan memohon pada papa agar papa membatalkan permintaanku yang ingin pindah kuliah.
Aku benar - benar di buat syok dengan penuturan papa saat aku menelfonnya.
Dan sesuai yang di bilang oleh om Kenzo, minggu ini kami pulang ke Indonesia.
"Jagain adik gue baik - baik.! Awas aja kalau sampai bikin dia nangis lagi.! Jangan harap bisa balik lagi sama Jeje,,"
Ancam kak Nicho.
"Gue nggak bakal ngelakuin kesalahan untuk kedua kalinya Nich." Sahutnya sambil melirik arahku.
"Bagus kalau gitu."
Kini kak Nicho beralih padaku.
"Baik - baik disana, kakak pasti akan sering pulang buat ketemu kamu,," Ujarnya.
Aku langsung memeluk kak Nicho. Sampai saat ini papa masih bersikeras dengan keputusannya. Dia belum memaafkan kak Nicho. Papa bahkan tidak menanyakan kabar kak Nicho saat aku menelfonnya.
"Harusnya Jeje yang bilang seperti itu."
"Kakak baik - baik disini, jangan lupa selalu kasih kabar pada kak Fely. Jangan sampai kak Fely pindah ke lain hati,,,"
"Itu tidak akan terjadi. Dia pasti akan menunggu kakak,,," Sahutnya.
Aku bernafas lega, setidaknya kak Nicho bisa mendapatkan cinta pertamanya lagi. Hubungan mereka juga sepertinya semakin membaik. Aku sering melihat kak Nicho melakukan panggilan vidio dengan kak Fely.
...*****...
Perjalanan yang menguras waktu dan tenaga karna harus transif cukup lama. Aku benar - benar sangat lelah dan mengantuk.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 24 jam, kami sampai di bandara hampir pukul 12 malam. Aku yang sudah mengantuk, berjalan gontai mengikuti langkah om Kenzo. Dia bahkan yang membawakan koperku.
Rupanya om Kenzo sudah menyuruh orang untuk menjemput kami. Setelah masuk ke dalam mobil, aku langsung bersender pada jok dan langsung terlelap.
Aku terbangun saat merasa tubuhku seperti melayang.
"Om..!" Pekikku kaget. Aku bangun dalam keadaan sedang di angkat oleh om Kenzo. Segera ku kalungkan tangan pada lehernya karna takut terjauh.
"Turunin om, biar aku jalan sendiri,,,"
Ujarku sambil melihat ke sekeliling yang ternyata saat ini kami sedang berada di gedung apartemen.
"Sudah diam saja. Tidur lagi kalau masih ngantuk,," Sahutnya datar sambil terus melangkahkan kakinya.
"Kenapa ke apartemen om,,?"
"Mau kemana lagi.? Ini sudah malam Je, besok saja aku antar kamu pulang,,"
Aku menurut. Kasian juga penjaga rumah kalau aku datang tengah malam seperti ini.
saat kami masuk ke apartemen om Kenzo, rupanya orang yang mengantar kami sudah ada di dalam. Dia baru saja membawakan koper milikku dan om Kenzo. Aku langsung menyembunyikan wajahku di dada bidang om Kenzo. Malu sekali rasanya.
"Saya pulang dulu tuan,,,"
"Ya, tolong tutup pintunya,,,"
"Baik tuan,,,"
Setelah merasa aman, aku langsung menyuruh om Kenzo untuk menurunkan ku.
"Sudah om, aku mau turun,,,"
"Tanggung Je, sebentar lagi sampai di kamar."
Om Kenzo membawaku masuk ke kamarnya, membaringkanku disana dengan hati - hati.
"Tidur lagi,, besok pagi kita kerumah kamu,,," Ucapnya lalu pergi ke kamar mandi.
Aku menurut, ku tarik selimut dan kembali memejamkan mata.
Ranjang ini masih terasa nyaman, sama seperti saat pertama kali aku dibawa keranjang ini oleh om Kenzo.
Tapi entah kenapa perasaanku pada om Kenzo tidak lagi seperti dulu. Meski saat ini tidak ada lagi rasa benci dalam hatiku untuknya, tetap saja terasa sulit untuk kembali mencintainya seperti saat itu.
Aku langsung membuka mata saat menyadari ucapanku dalam hati, kenapa aku harus kembali mencintainya.? Apa itu artinya aku memberikan kesempatan pada om Kenzo untuk kembali mengisi hatiku.?
"Kenapa nggak tidur lagi.?"
Suara om Kenzo membuatku langsung menoleh padanya, saat itu juga om Kenzo merebahkan diri disampingku dan melingkarkan tangan di perutku.
"Aku mencintai mu Je,,," Ucapnya lirih penuh ketulusan dan kesungguhan.
Aku yang sejak tadi diam menatapnya, segera mengalihkan pandangan ke posisi semula.
Jantung ini, kenapa mulai berdebar lagi.?
Ucapan om Kenzo seakan memberikan getaran di hatiku.
"Sudah larut Je, sebaiknya tidur. Apa kamu mau melakukan sesuatu sebelum tidur.? Mungkin setelah melakukannya, kamu akan cepat tidur,,,"
"Om.!" Tegur ku sembari mencubit tangannya yang melingkar di perutku.
"Aku hanya bercanda. Kita akan melakukannya lagi setelah menikah nanti,,"
Pukul 7 pagi, aku sudah bersiap untuk pulang kerumah. Aku tidak mau membuat mama dan papa khawatir dan berfikir macam - macam pada kami. Mereka tau aku dan om Kenzo pulang tadi malam, tadi sudah sepagi ini aku belum sampai di rumah.
"Kita nggak sarapan dulu,,?" Tanya om Kenzo yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Nanti saja di rumahku om. Ayo buruan,,,"
Pintaku sembari keluar dari kamar.
Sepanjang perjalanan aku banyak diam. Aku sibuk dengan pikiranku yang sejak tadi malam terus memikirkan perasaanku pada om Kenzo.
Saat aku baru turun dari mobil, papa dan mama sudah berdiri di depan pintu. Dilihat dari tatapannya, aku yakin mereka akan mengintrogasi kami.
"Jangan takut, aku yang akan bicara pada om Alex,," Uajr om Kenzo. Dia membuka bagasi dan mengeluarkan koper milikku.
"Ayo,,," Ujarnya sembari menyeret koper.
Aku mengikuti langkahnya.
"Apa - apaan kamu Ken.! Jangan mentang saya merestui hubungan kalian, kamu memulangkan anak saya seenaknya.!" Ketus papa sambil. berkacak pinggang.
Aku justru fokus pada ucapan papa yang mengatakan merestui hubungan kami. Sepertinya om Kenzo sudah terlalu jauh membicarakan hubungan kami pada papa.
"Maafkan saya om, semalam kita sampai hampir jam 12. Jeje juga sudah tidur karna kelelahan, jadi saya membawanya ke apartemen,,"
Papa semakin mendelik menatap om Kenzo.
"Kita nggak ngapa - ngapain pah, lagipula aku tidur di kamar tamu,," Aku mencoba memberikan pembelaan, setelah itu aku menghampiri mama dan memeluknya. Rindu sekali rasanya pada mama. Aku senang karna saat ini mama. sudah lebih tulus menyayangiku. Aku bahkan tidak ingin tau tentang ibu kandungku.
"Mama lebih tenang kalau kamu disini."
"Ternyata sepi tidak ada kamu dan Nicho,," Ucapnya.
Aku mengangguk sambil terus memeluk mama.
Sedangkan papa masih saja menasehati om Kenzo.
"Sudah pa, papa dengar sendiri apa yang Jeje bilang. Tidak akan terjadi sesuatu pada mereka."
"Sebaiknya kita masuk, papa juga harus bersiap ke kantor. Kita sarapan bersama setelah ini,,,"
Ucapan mama berhasil menghentikan kericuhan di antara papa dan om Kenzo.
Kami masuk kedalam.
"Jeje masukin koper dulu mah, pah,,,"
Aku hendak mengambil koper dari tangan om Kenzo, tapi dia menahannya.
"Berat Je. Biar aku yang bawa. Dimana kamar kamu,,?"
Aku melotot mendengarnya, om Kenzo mulai ber akting lagi. Padahal dia sudah pernah masuk kedalam kamarku.
"Di atas om,,"
"Saya ke atas dulu om, tante,," Pamitnya pada mama dan papa.
"Jangan lama - lama, langsung turun setelah ini.!" Ujar papa memperingatkan. Kami mengangguk bersamaan.
"Wanginya masih sama,," Gumam om Kenzo setelah masuk kedalam kamarku.
"Sini om," Aku menarik koper dari tangannya untuk di bawa ke walk in closet.
Tapi om Kenzo malah menarik tanganku, membawaku kedalam dekapannya.
Aku langsung memberontak.
"Om jangan gila, nanti papa sama mama melihat kita,," Aku terus memukul dadanya sambil terus menatap ke arah pintu yang terbuka lebar, aku takut mama atau papa datang ke kamarku.
"Sakit Je,,," Om Kenzo melepaskan dekapannya, namun dia menahan pinggangku dengan kedua tangannya. Kami saling pandang untuk beberapa saat, sampai akhirnya om Kenzo mendekat dan m3lum*t bibirku tanpa jeda.
"Asataga.!!! Apa yang kalian lakukan.!!" Teriak mama.
Aku dan om Kenzo langsung menjauh. Jantungku serasa akan lepas dari tempatnya. Aku tidak berani menatap mama yang berjalan ke arah kami.
"Ada apa ma.? Bikin kaget saja."
Papa masuk ke kamarku hanya mengenakan handuk, sepertinya papa baru saja akan mandi.
"Pa,, sepertinya mereka harus segera di nikahkan. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan,,,"
"Apa.??!!" Pekikku dan papa bersamaan.
Sedangkan om Kenzo terlihat santai, bahkan terkesan sedang mengulum senyum.
...****...
Makasih buat vote dan hadiahnya yang masih terus mengalir๐๐
Buat yang mau mampir di novel othor yang udah end, ada di akun Ratna Wullandarrie.
Disana levelnya udah 10 semua, lumayan kalo pada mampir ๐๐