
Kalau Reynald bilang kegiatan seperti itu mampu membuat dirinya segar, Karin justru merasakan hal sebaliknya. Tubuhnya malah terasa lemas dan lelah.
Bahkan hanya sekedar untuk beranjak ke kamar mandi saja terasa malas. Reynald memang tidak akan berhenti kalau baru melakukannya 1 kali. Dia terus saja melanjutkan aksinya sampai merasa cukup. Ya, hanya sekedar cukup karena Reynald tidak akan pernah merasa puas jika soal melalukan olah raga di atas ranjang.
Jam sudah menunjukan pukul setengah 7 pagi, entah berapa lama Karin dan Reynald merengkuh kenikmatan yang sebelumnya sempat di tolak oleh Karin. Pada akhirnya dia terlihat sangat pasrah saat Reynald mulai menyentuh dan menyesap daerah sensitifnya. Meski dia masih memiliki keraguan yang besar pada Reynald, tapi entah kenapa dia selalu luluh dan menurut pada laki - laki itu.
Terkadang hanya pikirannya yang menolak, namun tidak dengan hatinya yang justru berharap lebih.
Tubuh polos keduanya berada di dalam selimut yang sama. Reynald memeluk erat tubuh Karin dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Karin dan sesekali dia sengaja meniup leher Karin yang membuat buluk kuduk Karin meremang.
"Jangan begitu kak, geli ihh.!" Protes Karin tak suka. Ini sudah ke 3 kalinya dia menegur ulah jahil Reynald, tapi sepertinya tidak di hiraukan olehnya.
"Kenapa harus tiup - tiup.!" Ujarnya lagi. Karin terlihat kesal karna Reynald tidak mau berhenti.
Reynald terkekeh kecil, dia terlihat senang karna sudah membuat Karin kesal.
"Jaga kandungan kamu baik - baik, jangan sampai terjadi sesuatu pada calon anak kita." Karin jadi berfikir macam - macam karna Reynald tiba - tiba berbicara serius dengannya. Suaminya ini seolah hanya mencemaskan calon anaknya saja. Karin jadi bertanya pada dirinya sendiri, apa dia berarti baginya.?
"Wanita hamil nggak boleh banyak pikiran, ternyata bisa berdampak buruk buat kandungan." Tutur Reynald serius. Dia bicara sembari mengingat ucapan Jeje dan mengingat kondisi kehamilan Jeje yang bermasalah akibat terlalu banyak pikiran yang membuatnya tertekan dan stres.
"Maaf,," Ujarnya lirih. Reynald semakin erat mendekap tubuh Karin, namun terasa lembut dan hangat.
"Aku sudah membuat kamu tertekan tanpa aku sadari." Reynald mulai mengakui jika sikapnya selama ini sudah membuat Karin tidak nyaman.
"Aku dan Angel sudah menjalin hubungan sejak kuliah semester 2 dan lanjut sampai kita melanjutkan magister." Reynald menjelaskan dengan rinci dan suara yang terdengar tenang.
"Sudah banyak yang kita lalui besama selama itu, begitu juga dengan perasaan yang mungkin sudah melekat di hati."
"Rasanya sangat menyakitkan saat dia memilih pergi tanpa kejelasan dan memilih untuk menikah dengan laki - laki lain."
"Aku bukan hanya terpuruk, tapi merasa duniaku hancur saat itu."
"Aku merasa tidak berarti dan tidak ada harga dirinya sebagai laki - laki, di campakkan begitu saja setelah 7 tahun bersama."
Reynald terdiam, kenangan buruk di masa lalunya kembali terlintas. Dia seperti raga tanpa jiwa saat di tinggalkan Angel. Mungkin jika saat itu dia tidak mendapat dukungan dan motivasi dari Kenzo, hidupnya tidak akan lebih baik dari yang dia jalani sekarang ini.
Karin menarik nafas dalam. Meski dia tidak pernah mengenal Angel sebelumnya, tetap saja ada rasa cemburu saat Reynald menceritakan masa lalunya.
Dadanya terasa sesak karna Reynald mengakui perasaannya terhadap Angel dulu. Sangat jelas jika dulu Reynald begitu mencintai Angel. Dan mungkin saja perasaan itu masih ada sampai saat ini.
Karin hanya mengucap sabar dalam hatinya, jika memang perasaan Reynald terhadap Angel masih sama seperti dulu, mungkin dia tidak akan punya harapan untuk membuat Reynald mencintainya.
"Sepertinya kak Rey masih mengharapkan kak Angel,," Ujar Karin lirih. Terdengar acuh namun sebenarnya mampu menyakiti perasaannya sendiri.
Siapa yang tidak sakit hati jika suaminya masih mengharapkan mantan kekasihnya, meski Karin sadar kalau kelanjutan hubungan dia dan Reynald masih abu - abu.
Reynald tersenyum tipis, entah apa arti dari senyum itu. Padahal Karin tidak bisa melihatnya karna posisinya membelakangi Reynald.
"Dia sudah bahagia, untuk apa aku mengharapkan."
"Kalau ada seseorang yang mampu merubah keadaan, kenapa harus terjebak dengan masa lalu."
Karin tersenyum penuh arti mendengar penuturan Reynald. Dia merasa gede rasa karena yakin seseorang yang di maksud Reynald adalah dirinya.
Itu artinya dia punya kesempatan untuk membuat Reynald mencintainya dan bisa menjalani kehidupan rumah tangga sebagaimana mestinya.
"Aku harus bersiap ke kantor." Reynald beranjak dari ranjang. Dia turun dari ranjang dalam keadaan polos tanpa memakai apapun. Karin langsung menutup kedua matanya, melihat tubuh polos Reynald yang berotot hanya akan memberikan gelayar aneh pada tubuhnya.
"Kamu tidur lagi aja. Ada ART yang akan memasak dan menyiapkan sarapan untuk kita."
Reynald berdiri di depan Karin, dia menunduk dan mengecup perut Karin sembari mengusapnya lembut. Karin bisa merasakan kecupan dan sentuhan tangan Reynald meski tubuhnya terbalut selimut.
"Nanti aku bawakan sarapan ke sini."
Reynald berlalu dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Karin membuka matanya, dia terlihat bengong setelah mendapat perlakuan lembut dan hangat dari Reynald.
"Aku harap ini bukan mimpi dan bukan sementara." Gumam Karin penuh harap.
Meski Reynald sudah menunjukan kasih sayang dan perhatiannya secara nyata, tapi Karin tidak ingin besar hati dan menaruh harapan besar pada laki - laki itu. Dia hanya berusaha untuk menjaga hatinya agar dia tidak terluka terlalu dalam saat harapannya tidak sesuai.
Reynald sudah mandi dan rapi dengan baju kerjanya. Dia menghampiri Karin yang masih setia berbaring di tempat tidur. Wanita itu terlihat lemas meski sekedar untuk beranjak dari ranjang.
"Mau mandi sekarang.? Biar aku gendong ke kamar mandi." Tawarnya pada Karin. Karin. menggeleng cepat, rasanya sangat malu kalau sampai harus di gendong oleh Reynald.
"Nanti saja." Tolak Karin halus.
"Ya sudah, aku ke dapur dulu,,,"
Karin hanya menganggukkan kepalanya. Dia terus memperhatikan Reynald hingga laki - laki itu keluar dari kamar. Begitu Reynald menutup pintu, Karin langsung turun dari ranjang dan bergegas untuk mandi.
Karin keluar dari kamar mandi, dia terlihat segar setelah tadi wajahnya terlihat lesu.
Handuk kecil melilit di kepalanya, dia berjalan santai ke arah walk in closet tanpa menyadari kalau Reynald sudah kembali ke kamar dan saat ini sedang memandangi tubuh putih Karin yang hanya berbalut selembar handuk di atas lutut.
"Ya ampun.!!" Karin berteriak saat melihat Reynald yang duduk santai di sofa menghadap ke arahnya. Kedua tangan Karin reflek menutupi dadanya.
"Kenapa nggak bilang mau ke kamar lagi.?" Karin terlihat menahan malu. Meski sudah berkali - kali memperlihatkan tubuh polosnya di depan Reynald, tetap saja dia merasa malu karna masih canggung pada Reynald.
"Bilang sama siapa.? Ini kamarku." Sahut Reynald acuh.
"Cepat pakai baju dan langsung sarapan." Reynald melirik makanan yang tadi dia bawakan dari dapur. Sarapan dan buah sudah ada di atas meja, air putih dan susu hamil juga sudah tersedia di sana.
Karin mengembangkan senyum bahagia, namun tidak lidahnya terasa kelu hanya sekedar untuk berterima kasih pada Reynald yang sudah menyiapkan sarapan untuknya.
Dia bergegas masuk ke walk in closet untuk memakai baju.
Karin kembali dan ikut duduk di samping Reynald. Keduanya saling terdiam beberapa saat.
Sikap Reynald sudah berubah 180 derajat, namun kelembutan yang di tunjukan oleh Reynald justru membuat Karin semakin canggung dan malu berdekatan dengannya.
"Habiskan, aku berangkat 30 menit lagi." Ujar Reynald sembari mengecek ponselnya.
Karin hanya berdehem sembari menganggukan kepalanya.
"Hari ini aku pulang malam, kamu jangan coba - coba keluar apartemen sendirian. Ada orang di sini, kamu bisa minta tolong dia untuk mengantar."
"Jangan sampai keluar tanpa memberitahuku lebih dulu,,," Reynald memberikan deretan pesan pada Karin sebelum berangkat ke kantor. Laki - laki itu terlihat takut Karin akan mengulangi perbuatannya seperti kemarin. Pergi dari apartemen tanpa meminta ijin darinya dan tanpa di temani oleh siapapun.
"Kenapa jadi sering pulang malam.? Padahal dulu selalu pulang sore." Tiba - tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Karin. Dia ingat saat dulu mereka masih berhubungan tanpa status. Reynald selalu mengajaknya bertemu setelah pulang dari kantor. Dan itu selalu sore hari, lalu akan mengantar Karin pulang saat malam harinya.
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Karin justru menimbulkan persepsi lain bagi Reynald. Dia mengira kalau Karin memiliki kecurigaan terhadapnya.
"Kenapa.? Kamu curiga padaku.?" Tanyanya percaya diri.
Karin menoleh dengan dahi yang mengkerut.
"Curiga kenapa.? Aku cuma tanya saja."
"Apa sedang banyak pekerjaan.?" Karin bertanya dengan raut wajah santai. Dia bahkan asik menyantap sarapannya.
Reynald terlihat kecewa, dia pikir Karin mencurigainya karna merasa cemburu padanya.
"Kenzo tidak masuk lagi hari ini. Dia sedang menjaga istrinya di rumah sakit."
Karin hampir saja tersedak makanan, dia langsung mengambil minum dan meneguknya.
"Jeje sakit.? Sakit apa.? Kenapa Kak Rey nggak bilang kalau Jeje di rawat.? Bagaimana keadaannya.?" Reynald langsung bengong mendengar rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Karin.
"Apa tidak bisa tanya satu - satu.?" Keluhan Reynald.
"Kandungannya lemah, tapi baik - baik saja sekarang."
"Ya ampun, kenapa bisa seperti itu.? Selama ini Jeje terlihat baik - baik saja."
"Aku ingin menjenguknya, boleh kan.?"
"Tidak hari ini, lagi pula mereka akan keluar dari rumah sakit jam 10 nanti."
"Besok saja aku antar kamu ke apartemennya."
Karin mengangguk patuh. Setidaknya dia bisa bernafas lega karna kondisi Jeje baik -baik saja.
...****...