
Om Kenzo sedang fokus membuka email di laptopnya. Aku yang tidak mau mengganggu, memilih untuk diam sembari memainkan ponselku. Tak berselang lama, ada chat masuk dari kak Gerald.
Baru saja akan membalas chatnya, kak Gerald sudah lebih dulu menelfonku.
"Hallo Je,,," Sapanya dari sebrang sana.
"Ya hallo,,," Sahutku. Namun ternyata suaraku sudah mengusik om Kenzo. Dia melirikku dengan tatapan yang tajam, aku sampai merinding melihatnya.
Aku memaksakan senyum, lalu beranjak dari sana. Meminta izin pada om Kenzo untuk mengangkat telfon.
"Kenapa kamu blokir nomorku Je.?"
Aku terkejut mendengar pertanyaan kak Gerald yang mengeluh karna nomor ponselnya di blokir. Sekarang aku tau kenapa kak Gerald tidak lagi menghubungiku setelah menelfonku waktu itu.
"Jadi nomor ponsel kakak di blokir.? Aku pikir hanya di hapus saja. Pantas saja kakak nggak nelfon lagi." Seruku sedikit kesal. Kesal pada om Kenzo karna sudah memblokir nomor kak Gerald tanpa seizinku. .
"Apa suami kamu yang ngeblokir.? Jadi bener yang kemarin itu suami kamu Je,,?" Aku dibuat semakin terkejut. Entah dari mana kak Gerald menyimpulkan kalau om Kenzo adalah suamiku.
"What..?!! Suami.?! Suami dari mana,, hahaha,,," Meskipun kaget, namun aku tertawa karna sangat lucu mendengar ucapannya.
"Ya ampun kak Gerald lucu banget. Dia cuma om ku,," Ujarku beralasan. Tidak mungkin kan kalau aku bilang om Kenzo adalah sugar daddy ku, mau di taruh di mana mukaku ini. Sebelumnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, sekalinya menjalin hubungan malah statusnya menjadi sugar baby.
Tiba - tiba saja ponselku di rebut, aku berbalik badan dan menatap om Kenzo tak suka. Ini sudah kedua kalinya om Kenzo merebut ponselku saat aku sedang menelfon. Bahkan menelfon dengan orang yang sama.
Lagi - lagi dia beralasan tentang surat kontrak di antara kami. Dia mengingatkanku kembali untuk tidak berhubungan dengan laki - laki lain selama kontrak berlangsung.
Dan yang membuatku kecewa, om Kenzo bahkan sampai membentakku.
"Berapa kali aku harus bilang.! Dilarang menjalin hubungan dengan laki - laki lain, sekalipun hanya bicara lewat telfon.!" Ucapnya dengan nada tinggi. Om Kenzo meraih tanganku meletakan ponsel di tanganku dengan kasar.
"Tunggu sampai kontrak kita berakhir.! Setelah itu kamu bebas berhubungan dengan laki - laki mana pun.!" Bentaknya.
Sesuatu yang tajam terasa menusuk hatiku. Sakit sekali rasanya. Bukan karna om Kenzo membentakku, tapi karna ucapannya yang mampu menyadarkanku bahwa hubungan kami sudah pasti akan berakhir. Lalu bagaimana dengan perasaanku padanya.? Tidak bisakah perasaan ini bersambut.? Benarkah om Kenzo tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku setelah apa yang sudah kami lalui bersama.?
Mungkin memang benar, om Kenzo tidak pernah menaruh sedikitpun perasaan padaku.
"Maaf om,," Ucapku lirih. Sejak tadi aku terus menundukan kepala, tidak sanggup rasanya menatap laki - laki yang sudah membuat ku jatuh cinta, namun berulang kali membuatku terluka.
"Kalau kamu merasa keberatan, kamu bisa akhiri kontraknya sekarang." Ucapnya lagi. Suaranya memang tidak sekasar dan sekencang tadi, tapi mampu membuat hati ini hancur. Dengan mudahnya om Kenzo menyuruhku untuk mengakhiri kontrak setelah seluruh hati ini dimiliki olehnya.
Meskipun menunduk, aku masih bisa melihat langkah kakinya yang menjauh. Dia meninggalkanku tanpa berkata apapun lagi padaku. Hati ini semakin tercabik olehnya. Tidak.! Tapi aku sendiri yang sudah memberikan hatiku secara sukarela untuk di hancurkan olehnya.
Ya, aku sendiri yang sudah menjadi penyebab rasa sakit hati ini. Kalau saja aku bisa menahan diri, kalau saja aku tidak menggunakan perasaan dalam menjalani kerja sama ini, pasti aku tidak akan terluka seperti ini.
Aku terus diam sepeninggalan om Kenzo dari hadapanku. Aku mencoba menguasai hatiku yang mungkin sudah hancur tak tersisa, berusaha untuk kuat mesti sangat sulit.
Ini yang dinamakan patah hati, bukan hanya menghancurkan perasaanku, namun merenggut semua kebahagiaan yang pernah aku rasakan sebelumnya. Membuatku tidak mampu lagi merasakan kebahagiaan yang pernah om Kenzo berikan padaku. Kini hanya lara yang tersisa.
Setelah merasa cukup tenang, aku meninggalkan balkon dan menghampiri om Kenzo. Aku menundukan pandangan saat dia menatap ke arahku dengan tatapan sendu. Mungkin dia merasa bersalah karna sudah bicara kasar padaku, tanpa tau bahwa aku lebih terluka.
"Maaf, aku nggak bermaksud bentak - bentak kamu. Aku nggak suka di bantah, kamu tau itu kan. Jadi,,,
"Aku minta maaf om." Aku memotong ucapan om Kenzo. Tidak sanggup rasanya jika harus mendengarkan penjelasan darinya.
Aku langsung mengambil tas milikku yang berada di atas sofa.
"Mau kemana,,?" Om Kenzo menahan tanganku, dia mendongak dan terus mentapku. Aku menunduk, menghindari kontak mata dengannya agar tidak semakin sakit.
"Aku mau pulang om. Makasih buat kebaikan om selama ini. Aku udah mutusin buat mengakhiri kontrak kita." Aku memang berusaha tegar, berbicara normal seolah aku baik - baik saja. Tapi jika di tanya bagaimana perasaanku, aku merasa ada ribuan benda tajam yang silih berganti menusuk hatiku. Mengakhiri kontrak bukanlah keinginanku, tapi keadaan yang akhirnya memaksaku untuk sadar diri pada hubungan berlandaskan kertas ini.
Rasa sakit yang terus menghujani hatiku, membuatku tidak mampu membendung air mata yang sejak tadi memaksa untuk keluar. Aku segera menghapusnya sebelum air mata ini membasahi pipiku.
"Aku minta maaf, sini duduk. Kamu nggak bisa mengakhiri kontrak secara sepihak,," Om Kenzo menarik tanganku dengan lembut, menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
Entah apa yang di inginkan oleh om Kenzo. Setelah tadi menyuruhku untuk mengakhiri kontrak, kini dia bilang aku tidak bisa mengakhiri kontrak secara sepihak.
Aku memberanikan diri menatap om Kenzo, setelah memastikan tidak ada lagi air mata di pelupuk mataku.
"Om sendiri yang udah ngasih tawaran untuk mengakhiri kontrak. Aku mohon akhiri saja kontak kita dan biarkan aku pergi,," Aku menarik tangan dari genggaman om Kenzo.
"Sudah cukup om Ken membuatku salah paham selama ini. Aku benar - benar ingin mengakhiri kontrak, aku berharap kita tidak bertemu lagi,,"
"Sekali lagi makasih untuk perhatian dan kebaikan om selama ini. Aku pamit, permisi om,,"
Aku memang terlihat kuat, namun sejujurnya aku sangat rapuh. Rasanya aku ingin bersimpuh di lantai, kaki ini begitu lemah untuk melangkah. Rasa sakit di hatiku semakin menjalar, bukan hanya terasa di dada, namun terasa hingga keseluruh tubuhku.
"Berhenti Je.!" Teriaknya untuk menahanku, namun aku tidak memperdulikannya dan terus menjauh.
"Aku bilang berhenti.!! Kontrak ini akan tetap berlanjut sesuai waktu yang tertera disana.!!!" Teriakan om Kenzo semakin kencang, membuatku sedikit tersentak.
Sejujurnya aku juga tidak ingin mengakhiri kontrak ini, aku bahkan berharap kontrak ini tidak akan berakhir untuk selamanya. Namun aku tidak mau merasakan sakit lebih dalam lagi. Aku tidak sanggup jika suatu saat melihat om Kenzo dan kak Fely menikah.
"Kamu nggak bisa pergi gitu aja.!" Om Kenzo mencengkram tanganku saat aku akan membuka pintu.
"Lepasin om.! Aku mohon biarin aku pergi, memang sebaiknya kita akhiri kontrak ini,," Aku berusaha menarik tanganku dari cengkramannya, namun justru om Kenzo semakin kuat mencengkram tanganku. Dia bahkan menatapku dengan tajam.
"Kamu boleh pergi, tapi setelah aku meminta hakku.!" Om Kenzo menyeret ku, menarik tanganku dengan kuat hingga aku terpaksa mengikuti langkahnya.
"Om.! Om mau apa.?!" Aku sangat panik saat om Kenzo membawa ku ke kamarnya.
"Selama ini aku belum pernah meminta hakku. Jadi jangan harap bisa pergi sebelum aku mendapatkannya.!" Serunya dengan suara tegas. Om Kenzo begitu menakutkan di mataku.
"Jangan lakukan itu om, aku mohon,," Om Kenzo melepaskan tanganku, dia mendorong ku hingga aku terjatuh di atas ranjang. Aku memberingsut mundur saat om Kenzo mendekat, dia bahkan melepaskan bajunya dan melemparnya begitu saja.
"Kenapa.? Bukannya kamu juga menginginkannya.?" Om Kenzo berhasil mengungkungku. Kedua tanganku bahkan di cengkram olehnya.
Aku semakin takut. Waktu itu aku memang menginginkannya, tapi sekarang tidak lagi.
Aku takut akan semakin hancur jika om Kenzo mengambil kesucian ku dan pada akhirnya dia akan pergi.
"Aku nggak mau om, tolong biarin aku pergi dari sini." Aku memohon dengan air mata yang sudah mengalir. Om Kenzo seolah tidak peduli, dia menyerang ku dengan melu**t kasar bibirku.
Ciumannya semakin turun kebawah, hingga berhenti di dadaku. Aku terus memberontak dan berteriak, namun tenagaku tidak sebanding dengannya. Tubuh besarnya bahkan sudah menindihku, membuatku tidak bisa bergerak.
"Aku mohon berhenti om.!!!" Teriakku dengan sisa tenaga yang aku miliki. Lagi - lagi om Kenzo tidak mendengarkanku. Dia sudah menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhku dengan cara merobeknya. Om Kenzo sangat mengerikan saat ini.
Kepalaku menggeleng cepat, menatap om Kenzo dengan mengiba dan memohon. Saat ini dia sedang berusaha melakukan penyatuan.
"Lakukan saja om.! Lakukan kalau itu membuat om puas.! Kalau perlu, bun*h aku saja setelah ini.!!!"
Teriakan ku berhasil membuat om Kenzo berhenti, dia menatap lekat wajahku yang sudah banjir dengan air mata.
Om Kenzo mengusap kasar wajahnya.
"Maaf,," Dia beranjak dari atas tubuhku, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhku.
Tanpa berani menatapku, om Kenzo turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dia membanting pintu dengan kencang. Kini aku bahkan mendengar suara tinjuan di pintu berkali - kali.
Aku masih berdiam diri si atas ranjang, dengan air mata yang terus mengalir. Kenapa hubungan kami jadi rumit seperti ini.
Om Kenzo keluar dari kamar mandi, dia masuk ke walk in closet. Setelah memakai baju, kemudian menghampiriku. Mengambil tasku yang terjatuh di lantai dan mengeluarkan bajuku dari dalam tas.
"Pake bajunya, aku antar kamu pulang setelah ini."
Om Kenzo menyodorkan baju itu padaku, namun mataku justru fokus pada tangan om Kenzo yang luka dibagian jari - jarinya. Sebagian luka itu bahkan terus mengeluarkan darah segar. Entah kenapa aku seperti ikut merasakan sakit yang ada di kedua tangannya.
Aku duduk dengan selimut yang membalut tubuhku.
"Tangan om berdarah,,," Bukannya mengambil baju di tangannya, aku justru memegang tangan om Kenzo. Memperhatikan luka di tangannya yang terlihat parah.
...****...
Sakit tapi tidak berdarah 😥
Terus kasih dukungan buat othor ya, biar makin semangat lanjutnya. 🥰
Yang belum kasih vote, yuk vote dulu 😘