
Jeje tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan ibu kandungnya. Wanita paruh baya bernama Mirna itu sedang berdiri santai didepan pintu apartemen Kenzo. Dengan menggunakan kacamata hitam, dan dress mewah sebatas lutut, juga riasan di wajahnya, wanita paruh baya itu terlihat jauh lebih muda dari usianya. Cantik memang, bentuk hidung dan bibir Jeje bahkan sangat mirip dengan Mirna. Sayangnya wanita usah sudah membuat kekacauan di masa lalu hanya karena obsesinya yang terbilang kejam.
Jeje berdiri mematung dari kejauhan. Dia sudah menghentikan langkahnya sejak menyadari bahwa wanita yang berdiri di sana adalah adalah ibu kandungnya. Perasaannya kembali berkecambuk. Namun tetap saja perasaan marah dan kecewa yang lebih besar dia rasakan.
Bukan maksud untuk menjadi anak yang tidak tau diri karena enggan menerima kehadiran wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya. Namun kehadiran Mirna hanya membuat Jeje terluka dan hancur. Dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan dari rahim wanita seperti Mirna. Wanita yang hanya memiliki obsesi besar pada harta.
Wanita yang mampu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya, termasuk berusaha untuk merebut suami sahabatnya sendiri.
"Jeni,,,!"
Seruan Mirna membuat Jeje tidak jadi beranjak dari sana. Padahal dia hampir saja melangkah pergi dari apartemen agar bisa menghindari Mirna.
Jeje hanya menunjukan wajah datar dan pandangan mata yang kosong saat Mirna berjalan menghampirinya. Rasanya menyakitkan berada di posisinya saat ini. Dia sangat membenci apa yang sudah Mirna lakukan di masa lalu, namun dia tetap harus berterima kasih pada wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini sampai akhirnya dia hidup bahagia bersama Kenzo dan keluarganya.
"Jeni, kamu tidak mau memeluk mama.?" Mirna merentangkan kedua tangannya tepat di depan Jeje.
Dari suaranya terdengar jika wanita paruh baya itu sedang menahan tangis. Tidak ada reaksi apapun yang ditunjukan oleh Jeje, dia masih saja diam membisu dengan segala perasaan yang berkecambuk.
Jika boleh memilih, dia ingin memilih untuk dilahirkan dari rahim mama Rissa. Bukan dari rahim wanita kejam seperti Mirna.
"Apa pelukanku berharga.?" Jeje menekankan kalimatnya dengan nada sindiran. Jeje tau jika uang jauh lebih berharga untuk Mirna ketimbang dirinya. Wanita itu tidak mungkin rela menukar Jeje dengan perusahaan jika memang Jeje berharga untuknya.
Jika Mirna benar - benar menganggap Jeje berharga, dia pasti akan tetap mempertahankannya. Seperti yang dilakukan oleh Mama Grace, yang lebih memilih untuk tetap mempertahankan Fely meski rumah tangganya harus hancur.
"Jeni,, kenapa kamu bicara seperti itu.? Tentu saja sangat berharga, kamu satu - satunya keluarga yang mama miliki, kamu berarti untuk mama,,,"
Mirna meraih tangan Jeje, dia sempat menggenggamnya namun segera ditepis pelan oleh Jeje.
"Jika aku berharga, pasti sejak dulu kita akan hidup bersama.!" Meski Jeje mengatakannya dengan suara lantang dan tegas, namun matanya berkaca - kaca menahan tangis. Rasanya sangat menyakitkan menjalani kehidupan yang pilu karena di campakkan oleh wanita yang sudah melahirkannya. Jeje merasa tidak ada artinya sama sekali dimata Mirna. Dia merasa hanya menjadi alat yang digunakan oleh Mirna untuk mendapatkan kekayaan.
"Jeni,,, kamu pasti salah paham,,," Mirna berusaha untuk menyangkalnya. Mencoba meyakinkan Jeje jika apa yang dipikirkan Jeje tentangnya tidak benar.
"Mama yang mengandung dan melahirkan kamu, bahkan sempat merawat kamu selama 1 tahun. Bagaimana mungkin kamu tidak berharga untuk mama,," Mirna mulai meneteskan air matanya. Namun Jeje tidak yakin jika air mata itu bentuk dari sebuah penyesalan. Mungkin jika Mirna menyingkirkan kaca mata hitam itu, Jeje bisa melihat kebohongan di matanya.
"Aku sangat berterima kasih karena Anda sudah bersedia mengandung dan melahirkanku. Setidaknya aku bisa merasakan kebahagiaan bersama keluarga yang tulus menyayangiku."
Jeje memberikan tatapan tajamnya. Dia terlihat berusaha untuk tetap tegar meski hatinya sedang dihancurkan.
"17 tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana Anda bisa bertahan selama itu untuk tidak menemui darah daging Anda sendiri.?" Nada bicara Jeje terdengar sinis, juga penuh dengan rasa kecewa yang mendalam.
"Bagaimana aku bisa percaya jika aku berharga untuk Anda.?!" Serunya. Suara Jeje sudah bergetar karena menahan tangis. Meski dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat lemah di depan Miran, namun rasa sakit yang menghujam di hatinya terlalu perih.
"Mama Rissa, beliau bukan orang tua yang melahirkanku tapi beliau masih memiliki hati untuk merawat anak dari wanita yang berusaha menghancurkan rumah tangganya.!" Suara Jeje semakin meninggi, namun air mata juga mulai menetes dari peluk matanya. Ini saat - saat yang dia tunggu, saat dimana dia bisa mengungkapkan isi hatinya yang ingin dia ungkapkan pada wanita yang telah melahirkannya.
"Jeni.!!" Bentak Mirna. Dia tidak menyangka anak kandungnya akan berbicara buruk tentangnya, meski apa yang di katakan Jeje adalah kebenaran.
"Aku bukan anak kecil.! Aku bisa menilai siapa yang tulus padaku dan siapa yang hanya berpura - pura.!"
"Berhenti bersandiwara dan katakan saja apa yang Anda inginkan.!"
"Aku sudah hidup bahagia, tolong jangan hancurkan kebahagiaanku.!"
Tangis Jeje semakin pecah. Meski dia sangat benci dengan perbuatan Mirna, namun dalam hati kecilnya masih ada perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata - kata. Perasaan yang membuatnya sakit saat dia berkata kasar pada Mirna. Karna sejahat apapun Mirna, dia tetaplah ibu kandungnya. Ada ikatan batin yang sangat kuat di antara mereka.
"Pasti Rissa yang sudah mencuci otak kamu agar membenci mama, kamu tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapannya. Dia sangat membenci mama, tidak mungkin dia tulus menyayangi kamu."
"Ingat Jeni, tidak ada kasih sayang yang lebih besar dari kasih sayang seorang ibu pada anaknya."
Jeje tersenyum sinis mendengarnya. Kali ini dia tau seperti apa Mirna yang sebenarnya. Wanita yang telah melahirkannya itu rupanya jauh lebih buruk dari yang dia pikirkan sebelumnya.
"Berhenti bicara omong kosong.!"
"Meski mama Rissa tidak melahirkanku, setidaknya beliau jauh lebih baik dari orang yang sudah melahirkanku."
"Jangan mencari kambing hitam untuk menyembunyikan kesalahan.!" Jeje terlihat sangat geram. Dia sangat kecewa dengan sikap Mirna. Jeje sempat berfikir jika Mirna sudah berubah dan akan menemuinya untuk meminta maaf. Namun kehadiran Mirna justru semakin membuat Jeje terluka.
"Kamu tidak tau siapa Rissa. Mama yakin dia tidak benar - benar tulus menerima kamu,,, percaya sama mama Jeni,,," Mirna tampak memelas, dia meraih tangan Jeje dan memegangnya erat.
"Aku sangat tau siapa mama Rissa. 17 tahun hidup bersamanya, beliau menyayangiku melebihi ibu kandungku sendiri."
Suara Jeje semakin lirih, dia menahan rasa sakit pada perutnya.
"Jeni,,,
"Pergi dari sini sebelum saya berbuat kasar.!!" Jeje berbalik badan setelah mendengar teriakan Kenzo. Laki - laki itu berjalan cepat ke arahnya dengan tatapan tajam yang ditujukan oleh Mirna. Wajah Kenzo bahkan sudah memerah, dia semakin emosi karena melihat Jeje menangis.
"Kamu.?! Apa kamu lupa siapa saya.?!" Mirna nampak tidak terima karena di usir oleh Kenzo.
Kenzo tersenyum sinis, dia merangkul Jeje dan menjauh dari hadapan Mirna.
"Nyonya Mirna Alberto yang tega menukar anak kandungnya sendiri demi perusahaan.!" Sahut Kenzo lantang.
"Saya bisa menghancurkan perusahaan Anda sampai tak tersisa, sangat mudah menghancurkan perusahaan yang sedang krisis,,," Kenzo tersenyum kecut. Dia sudah tau tujuan Mirna datang ke Indonesia. Wanita itu sedang mengalami kesulitan, perusahaannya sedang berada di ambang kehancuran.
Mirna tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Dia tidak mengira jika suami dari anaknya itu akan bertindak sampai sejauh ini.
"Jeni,,, mama akan menemuimu lagi nanti. Jaga diri kamu baik - baik,,"
Mirna mendekat, dia sempat menyentuh pipi Jeje namun tidak mendapatkan respon apapun dari Jeje.
Hingga wanita itu berjalan menjauh, Jeje masih diam dengan sorot mata yang dipenuhi kekecewaan.
"Sayang,,, kamu baik - baik saja.?" Kenzo mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Jeje karena tubuh Jeje semakin bersender padanya.
"Hubby perutku,,," Keluh Jeje dengan raut wajah menahan sakit. Kedua tangannya memegangi perutnya yang terasa di remas kuat.
"Jeje,,!" Kenzo sangat panik begitu mendapati Jeje tidak sadarkan diri. Dia langsung mengangkat tubuh Jeje dan membawanya masuk kedalam apartemen.
Wajah Kenzo dipenuhi keringat, laki - laki itu terlihat sangat panik dan cemas.
Dia membawa Jeje kedalam kamar dan membaringkannya di ranjang.
"Jangan membuatku takut,," Kenzo mengusap - usap pipi Jeje, berharap istrinya akan membuka mata. Tidak mau membuang waktu, Kenzo langsung merogoh ponselnya dan menghubungi dokter. Karna terlalu khawatir dengan kondisi Jeje, Kenzo sampai membentak dan mengancam dokter itu agar cepat datang ke apartemennya.
Sambil menunggu dokter datang, Kenzo berusaha untuk membangunkan Jeje. Dia terus menggosok telapak tangan Jeje, sesekali mencium keningnya dan berbisik di telinga Jeje, memintanya untuk membuka mata.
Untung saja dia datang tepat waktu. Saat masih di kantor, Kenzo sempat melihat rekaman CCTV didepan apartemennya. Begitu mendapati Mirna berada di sana, Kenzo langsung bergegas untuk pulang karena khawatir dengan kondisi Jeje jika mereka bertemu. Rupanya apa yang ditakutkan Kenzo benar - benar terjadi.
...*****...
Jangan lupa tinggalin likenya☺