My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 46. Buket bunga



Om Kenzo tidak pernah mengabariku selama dia berada di Singapur. Bahkan sampai hari ini, hari dimana aku akan wisuda, om Kenzo belum juga ada tanda - tanda akan pulang. Aku sudah banyak berharap padanya, menunggunya pulang seperti yang dia janjikan satu minggu yang lalu. Bahwa dia akan kembali sebelum hari wisudaku.


Aku makin seperti orang bodoh saja. Mudah percaya dengan ucapan om Kenzo, dan mudah terbawa perasaan padanya.


Entah sudah berapa kali aku terus berusaha mengingatkan diriku untuk sadar diri akan posisiku. Namun hati ini seolah tidak tau diri. Terus saja berharap dan berharap.


Papa, mama, beserta kak Nicho, mereka semua ikut datang ke acara kelulusanku yang di adakan di salah satu ballroom hotel.


Kak Nicho baru saja datang dari New York tadi malam. Dia menepati janjinya untuk datang di ke acara kelulusan ku. Memiliki kakak sebaik kak Nicho adalah anugerah luar biasa yang Tuhan berikan padaku.


Ditengah kurangnya perhatian dari mama dan papa, adanya kak Nicho membuatku sedikit melupakan sikap acuh dari kedua orang tua kami.


Sejatinya mereka bukanlah orang tua yang buruk. Karna mereka selalu memberikan yang terbaik untukku dan kak Nicho. Hanya saja ambisi mereka pada bisnis dan perusahaan membuat mereka mengabaikan kami.


"Kamu nggak berubah pikiran Je.? Papa menyayangkan nilai kamu yang selalu bagus di tiap semesternya. Universitas yang sama dengan kakakmu sangat cocok buat kamu,,"


Lagi - lagi papa mencoba untuk menggoyahkan pendirianku. Sudah beberapa kali papa bicara seperti itu padaku. Dia seolah ingin cepat - cepat mengirimku ke New York bersama kak Nicho. Aku tau apa yang papa lakukan untuk kebaikanku sendiri, juga untuk perusahaannya. Ternyata papa juga menaruh sedikit harapan padaku untuk menjalankan perusahaan mereka.


Aku melirik kak Nicho yang enggan ikut berkomentar, dia fokus menyetir. Padahal aku berharap kak Nicho akan kembali memberikan pembelaan padaku. Agar papa tidak terus - terusan membahas soal kuliah di luar negeri.


Dengan menghela nafas berat, aku menatap papa dari kaca spion.


"Keputusan Jeje sudah bulat pah. Tolong biarkan Jeje tetap tinggal bersama mama dan papa dengan kuliah disini." Ujarku pelan.


"Seperti yang pernah kak Nicho bilang, mungkin aku bisa kuliah disana untuk melanjutkan magister." Jelas ku dengan hati - hati.


Papa hanya mengangguk dua kali.


"Ya sudah terserah kamu saja, yang menurut kamu baik untuk diri sendiri."


Aku merasa lega karna papa tidak lagi memaksaku. Papa memang sudah mulai berubah, tidak lagi keras seperti dulu. Atau mungkin dia takut pada ancaman kak Nicho, takut kalau kak Nicho tidak mau mengurus perusahaannya jika papa masih memaksakan kehendaknya.


"Makasih pah,,"


Mama yang duduk di sampingku, mengusap lembut bahuku.


"Nggak kerasa, anak mama sudah besar. Sebentar lagi akan kuliah,,"


"Mama terlalu sibuk bekerja, sampai melewatkan tumbuh kembang Jeje. Dia sudah dewasa sekarang,," Kak Nicho menyela ucapan mama dengan nada menyindir.


"Kak,,!" Aku menegurnya, ucapan kak Nicho pasti melukai perasaan mama. Meski memang seperti itu kenyataannya, dan sejujurnya aku pun kecewa dengan sikap mama. Tapi aku juga tidak tega membuatnya terluka.


"Mama bekerja juga demi kita,," Aku tersenyum pada mama, sembari menggenggam tangannya.


"Kakak kamu benar sayang. Selama ini mama memang sibuk bekerja dan tidak pernah memperhatikan kalian."


"Mama bangga sama kalian, kalian tumbuh dengan baik dan pintar,,"


Mata mama mulai berkaca - kaca, aku segera memeluknya.


"Ini hari yang membahagiakan mah, jadi jangan membicarakan yang sedih - sedih,," Kataku seraya mengusap punggung mama.


Baik papa dan kak Nicho, tidak memberikan komentar apapun. Mereka hanya melirik kami sekilas.


Aku berharap hubungan keluarga kami akan semakin dekat. Berharap mama dan papa bisa lebih perhatian padaku dan juga kak Nicho. Tidak melulu sibuk dengan perusahaannya.


Aku sangat bahagia di hari kelulusanku, meskipun ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Membuatku tidak terlalu fokus pada acara bersejarah ini. Sesekali aku teringat pada om Kenzo. Serindu itu aku padanya, sampai terus memikirkan dirinya yang tak kunjung memberikan kabar padaku.


Aku terlalu yakin pada hubungan kami yang hanya berlandaskan perjanjian. Itu sebabnya aku begitu percaya diri mencintai seseorang yang sudah memiliki ikatan dengan wanita lain.


"Congratulations Jeje,,,,!!" Teriak Celina dan Natasha yang duduk sisi kanan dan kiriku. Keduanya kompak memelukku dari samping.


Mereka memberikanku selamat atas prestasiku yang mendapat predikat lulusan terbaik.


Aku pun memeluk keduanya, air mataku lolos begitu saja. Aku terlalu melow, mudah menangis hanya karna tersentuh.


Aku sangat menyayangi kedua sabahatku ini. Mereka yang selalu ada untukku. Menjadi tempat curhat dan keluh kesahku selama 3 tahun ini. Bersama mereka aku tertawa, menikmati masa remaja ku yang terasa indah karna keduanya. Rasanya sedih sekali harus berpisah dengan mereka.


Aku mendapat banyak ucapan selamat dari teman seangkatan ku. Begitu juga dari kedua orang tuaku dan kak Nicho. Mereka terlihat sangat bangga pada prestasi ku.


Beberapa adik kelas berebut menghampiriku untuk mengucapkan selamat, banyak juga dari mereka yang jmmemberiku kado ataupun buket bunga. Aku dikerumuni oleh laki - laki yang usianya 1 sampai 2 tahun di bawah ku. Hal itu membuat papa dan mama hanya menggelengkan kepala. Selama ini mereka memang tidak tau kalau aku sangat famous di sekolah. Menjadi bahan rebutan mereka.


Berbeda dengan kak Nicho yang mencoba untuk mengamankanku, merentangkan tangannya untuk menjaga jarak mereka denganku.


Kado dan buket bunga bertumpuk di dekapanku, aku langsung meminta tolong pada kak Nicho untuk memindahkan semua barang ini dari tubuhku. Tangan ini terasa sangat pegal karna terlalu lama mendekap hadiah dari para adik kelas yang menggemariku.


Aku kembali duduk setelah kak Nicho memindahkan semua hadiah milikku.


Tak berselang lama, seorang security datang menghampiriku dengan membawa buket bunga yang sangat cantik.


"Maaf, ini non Jenifer kan,,?" Tanyanya padaku dengan sopan. Aku hanya mengangguk karna masih bengong dengan kehadiran security itu.


"Ini ada titipan bunga buat non Jenifer,," Ucapnya seraya memberikan buket cantik itu padaku. Meskipun bingung dan bertanya - tanya, aku tetap menerimanya.


"Makasih pak,,,".Dia mengangguk sembari tersenyum, lalu segera pergi.


"Dari siapa tuh Je, si om yah,,?" Ucap Natasha setengah berbisik. Mungkin dia enggan membuat kak Nicho dan kedua orang tuaku mendengarnya.


Bisa panjang urusannya kalau mereka sampai mendengar sebutan 'om'.


"Kayaknya bener deh dari si om. Romantis banget sih Je,,," Celina menimpali dengan suara yang juga dibuat pelan.


Aku mengangkat kedua bahu dengan acuh. Karna memang aku tidak tau dan tidak bisa menebak dari siapa buket bunga ini. Tidak ada kartu ucapan apapun di buket ini.


Getar ponsel di tanganku, membuatku segera melihatnya. Aku langsung tersenyum saat melihat nama om Kenzo muncul di layar ponselku. Segera ku buka chat masuk darinya.


"congratulations on your graduation,"


Aku tersenyum lebar membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh om Kenzo. Ternyata tebakan Cenila dan Natasha sangat tepat. Buket bunga yang cantik ini pasti dari om Kenzo.


Romantis sekali dia, aku tidak menyangka om Kenzo akan mengirimkan bunga dan mengirimkan ucapan selamat untukku. Padahal mendapat kabar darinya saja aku pasti akan senang. Karna hampir 1 minggu yang lalu aku terus menunggu kabarnya.


"Makasih om😊".


Jantungku berdetak kencang saat om Kenzo membacanya, saat ini dia bahkan sedang mengetik untuk membalas chat ku. Rasanya tidak sabar untuk melihat balasan darinya.


" Aku menunda kepulangan. Maaf nggak menepati janji. Masih banyak yang harus aku urus disini, sampai jumpa nanti,,"


Baru saja aku dibuat senang dan bahagia olehnya, kini kebahagiaan itu dia ambil kembali hanya dalam hitungan menit saja.


Pikiranku semakin kacau dibuatnya. Entah apa saja yang dilakukan oleh om Kenzo dan kak Fely disana. Rasanya tidak sanggup untuk membayangkan kebersamaan mereka berdua selama berhari - hari.


Mungkinkah mereka juga melakukan kontak fisik sepeti yang sering aku dan om Kenzo lakukan.?


Om Kenzo pun pasti memperlakukan kak Fely dengan sangat baik, lembut dan penuh perhatian. Seperti yang sering dia lakukan padaku. Aku semakin tidak rela saja jika om Kenzo memberikan perhatiannya pada wanita lain.


Kenapa hati ini harus mencintainya.! Pada akhirnya aku hanya akan sering merasakan luka.


"It's ok. Urusan om jauh lebih penting. Makasih bunganya."


Om Kenzo langsung membacanya dan mengetik sesuatu. Aku yang tidak mau semakin kecewa, memilih untuk memasukan ponselku ke dalam tas. Entah balasan apa yang akan dia kirimkan padaku, aku merasa malas untuk membaca lagi balasan chat darinya.


"Nikmati saja kebersamaanmu dengan kak Fely, om. Jangan membuatku semakin berharap pada kebaikan dan perhatian yang selalu om Ken berikan padaku."


Aku hanya bisa bergumam dalam hati dengan rasa yang menusuk.


...****...


Dukung terus karya othor dengan cara vote🥰


Dan pastikan sudah tinggalkan like setelah baca😊


Othor tambah 1 bab lagi nih, biar makin puas🤣