My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
90. Season2



Jeje menggeliat, dia berusaha bangun meski masih mengantuk. Sejak tadi dia merasakan gerakan jari di area bibir, mata dan juga hidupnya. Dan itu yang sudah membuat tidur nyenyaknya terganggu. Mata indahnya perlahan terbuka sempurna. Wajah tampan Kenzo yang pertama kali dia lihat saat membuka mata. Wajah suaminya itu tepat di depan wajahnya, sedang menatap dan mengulas senyum manis dengan lesung pipi di sebelah kanan.


"Hubby,,," Suara Jeje terdengar serak dengan sedikit rengekan. Dia merasa kalau Kenzo sudah mengganggu tidurnya.


Di usapnya wajah Kenzo dengan telapak tangannya, karna lelaki tampan itu terus menatapnya hingga membuatnya salah tingkah. Tatapan Kenzo terasa berbeda, lebih menyentuh dan menggetarkan hati.


"Jangan menatapku seperti itu,,," Protes Jeje. Dia menarik selimut untuk menutupi wajahnya karna Kenzo tak kunjung berhenti menatapnya.


"Memangnya kenapa.?" Kenzo berusaha menarik selimut yang di pegang erat oleh Jeje. Istrinya itu tidak mau menunjukan wajah polosnya yang cantik saat bangun tidur.


"Tidak ada yang salah dengan wajah cantik kamu,," Ujar Kenzo memuji. Jeje menahan senyum di balik selimut. Entah kenapa rasanya semakin malu setelah Kenzo menyebutnya cantik.


"Tapi hubby terlalu dekat menatapku." Bukan hanya dekat, bahkan sangat dekat sampai hembusan nafas hangat Kenzo menyapu permukaan wajahnya.


"Agak menjauh sedikit,," Jeje mendorong pelan wajah Kenzo, setelah itu dia baru membuka selimut yang menutupi wajahnya. Kenzo masih saja mengembangkan senyum padanya.


"Jam berapa by.? Aku masih mengantuk,,," Jeje bertanya pada Kenzo tapi manik matanya melirik ke arah jam dinding.


"Ya ampun, masih petang,,,!" Pekik Jeje begitu mengetahui kalau saat ini masih pukul 05.30.


Jeje lantas langung menatap Kenzo dengan dahi yang mengkerut.


"Hubby bangun jam berapa.?" Kenzo hanya mengangkat kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan Jeje.


"Sepertinya aku belum bangun,,," Ujarnya acuh. Jeje melotot sempurna. Bagaimana bisa Kenzo bilang kalau dirinya belum bangun.


"Jadi hubby tidak tidur semalam.?!" Seru Jeje. Wajahnya terlihat cemas.


"Maybe,," Sahutnya singkat. Kenzo merubah posisi dengan duduk di sisi ranjang.


"Mau ke pantai sekarang,?" Ajak Kenzo.


"Kita belum pernah ke pantai lagi kan sejak di Bali dulu. Itu pun tanpa sengaja bertemu disana,,," Tuturnya, kemudian tersenyum geli. Mengingat bagaimana dulu Jeje salah paham padanya dan juga Fely saat berada di bali.


"Aku lebih sering mengajak kamu ke apartemen dulu,,," Sambungnya lagi.


Masa - masa itu akan selalu menjadi kenangan yang indah sekaligus berkesan karna di awali dengan hubungan antara sugar daddy dan sugar baby.


Jika mengingat hal itu, Kenzo akan tersenyum geli namun dengan perasaan yang bahagia.


"Memangnya hubby tidak ke kantor,,?" Jeje bangun dan bersender di kepala ranjang.


"Kamu lupa aku siapa.?" Seru Kenzo yang ingin mengingatkan Jeje kalau dirinya pemilik perusahaan. Tidak ada yang akan mempermasalahkannya kalau dia tidak datang ke kantor.


"Iya, aku tau Tuan Kenzo yang terhormat,,!" Jeje menangkup kedua pipi Kenzo dengan tangannya dan sedikit ditekan. Senyumnya mengembang saat melihat bibir Kenzo mengerucut akibat ulahnya.


Kenzo memegangi kedua tangan Jeje dan menyingkirkan dari wajahnya.


"Nyonya Kenzo,,," Ucap Kenzo yang terlihat menahan tawa. Dia mendekat dan langsung ******* bibir Jeje beberapa kali.


"Ayo siap - siap, kita berangkat sekarang biar tidak panas di sana,," Kenzo menunduk, dia juga mencium perut Jeje.


"Morning kesayangan daddy,," Serunya dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.


"Good morning daddy tampan,,," Jeje menyahutinya, suaranya menggemaskan membuat Kenzo terkekeh geli dan memberikan cubitan gemas pada hidung Jeje.


"Hubby,,," Desah Jeje, dia menggigit bibir bawahnya kuat - kuat. Kedua tangannya mencengkram sisi bathtub.


"Jangan di tahan,," Suara Kenzo terdengar serak karna gairah yang menggebu. Pelan tapi pasti, dia memacu dirinya di belakang Jeje. Kedua tangannya tidak bisa diam, bergerak liar pada daerah favoritnya.


Suhu di dalam kamar mandi terasa semakin panas, seiring dengan nafas keduanya yang memburu dan tersenggal. ******* dan erangan membuat kegiatan mereka semakin panas.


Keduanya berendam menggunakan air dingin. Jeje bersender di dada bidang Kenzo dengan posisi membelakanginya. Nafas keduanya terlihat masih memburu, mereka masih berusaha menormalkan nafas dan suhu tubuhnya yang terasa panas.


"Tidak mau panas - panasan di pantai, tapi malah bikin panas disini,,," Katanya menyinggung ucapan Kenzo.


Padahal Kenzo sendiri yang menyuruh untuk langsung siap - siap. Dia mengejar waktu agar nantinya tidak kepanasan di pantai karna sinar matahari yang pasti akan terik jika terlalu siang sampai di sana.


"Jangan disamakan panas terik matahari dengan panas karna kenikmatan,,," Sahut Kenzo.


"Tentu saja jauh berbeda. Aku bahkan rela panas - panasan sepanjang hari kalau seperti ini caranya,," Ucapan Kenzo terdengar seperti sedang menggoda Jeje. Bahkan tangan Kenzo yang awalnya sedang mengusap perut, kini bergerak naik ke atas. Jeje langsung mencekal kedua tangan Kenzo yang sudah menyentuh sedikit bagian aset kembarnya.


"Jangan nakal by, aku tidak mau melakukannya lagi. Ingat baby kita,," Tegur Jeje. Kenzo langsung terkekeh.


"Memangnya siapa yang mau lagi.? Aku cuma mau pegang saja."


"Sepertinya semakin besar,," Kenzo kembali memegang kedua aset milik Jeje. Hal itu membuat Jeje langsung berteriak dan mulai merengek kesal.


...*****...


Hembusan angin pantai di pagi hari terasa sejuk. Suara deburan ombak yang bergemuruh bahkan terasa menenangkan. Hamparan air yang luas sejauh mata memandang terlihat begitu indah dengan warna biru yang menyala. Sinar mentari sudah menampakkan dirinya. Membuat suasana ditepi pantai semakin sempurna. Tak jauh berbeda dengan kesempurnaan kedua sepasang suami istri yang sedang duduk di sana.


Jeje menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo. Sebelah tangannya sedang di genggam erat oleh laki - laki yang amat dia cintai itu. Laki - laki yang mampu mengubah hidupnya, memberikan segenggam kebahagiaan yang dulu tidak pernah dia rasakan.


Laki - laki yang membuatnya akhirnya menyadari bahwa hidup sangat berharga karna berada di sampingnya. Kenzo adalah bentuk kesempurnaan yang di dambakan oleh setiap wanita di dunia ini.


"Tetap di sampingku by, tetap berikan cinta dan kasih sayang yang luar biasa untukku,," Jeje meneteskan air matanya. Dia sangat bahagia memiliki Kenzo sebagai suami dan ayah dari anaknya.


"Aku bahkan tidak akan sanggup untuk sekedar beranjak,," Balas Kenzo. Dia menunduk untuk menatap Jeje. Tangannya reflek mengusap air mata Jeje.


"Kenapa menangis.?" Kenzo terlihat cemas.


"Karna aku bahagia, sangat bahagia."


"Aku ingin semua orang tau kalau aku sangat bahagia memiliki hubby, tapi aku takut hubby akan pergi karna pasti akan banyak wanita di luaran sana yang ingin mendapatkan hubby dengan menghalalkan segala cara. Aku tidak mau itu terjadi.!" Jeje terlihat kesal sendiri.


Kenzo terkekeh geli, dia merasa gemas dengan tingkah istrinya.


"Itu tidak akan terjadi, karna aku tidak tertarik dengan wanita lain,," Kenzo membawa Jeje dalam dekapannya. Kemudian mencium kening Jeje dengan penuh cinta.


Jeje tersenyum lebar, dia merasa senang mendengar jawaban dari Kenzo.


...****...


maaf cuma sedikit. Gak kuat mikir + ngetiknya ๐Ÿ˜… udah cape duluan dari pagi.


Up dikit buat ngobatin rindu๐Ÿ˜