My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
27. Season2



Reynald tidak bisa membendung air matanya saat melihat putri kecilnya terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU. Wajah putrinya sangat mirip dengannya.


Ada kekecewaan yang begitu besar terhadap Angel. Dia tidak mengerti kenapa Angel menyembunyikan kehamilannya dan justru menikah dengan laki - laki lain. Kenapa wanita itu tidak meminta pertanggung jawabannya.? Kenapa justru memilih pergi dengan membawa rahasia besar ini.


"Bapak yang akan donor darah,,?" Tanya suster yang menghampiri Reynald. Laki - laki itu mengangguk lemah.


"Mari ikut saya Pak,,"


Reynald berdiri, berjalan gontai mengikuti suster.


"Rey,,," Panggil Angel dengan rasa bersalah yang begitu besar. Sedikitpun tidak ada maksud untuk menyembunyikan Alisha darinya, namun Angel tidak punya pilihan lain demi untuk mempertahankan kehamilannya saat itu.


Reynald menoleh, menatap penuh kecewa pada Angel. Namun dia tidak berkata apapun dan berjalan melewati Angel begitu saja.


"Sudah, jangan merasa bersalah lagi,,," Dion membawa Angel kedalam pelukannya. Mengusap punggung Angel dengan lembut untuk menenangkannya.


"Kamu bisa selesaikan masalah kalian setelah ini." Ujar Dion lembut.


Sejak dia setuju untuk menikahi Angel, dia sudah siap menerima anak yang ada didalam kandungan Angel saat itu. Dion bahkan dengan sabarnya menunggu selama 1 tahun hingga Angel akhirnya bisa mencintainya dan melupakan Reynald.


Duda beranak 1 itu tidak pernah mempermasalahkan masa lalu Angel, juga tidak pernah mengungkit dari mana Alisha berasal. Dion sudah menganggap Alisha sebagai putri kandungannya sendiri.


"Makasih mas,,," Angel semakin terisak, dia memeluk Dion dengan erat.


Rasa bersalah selalu menghantui Angel terhadap laki - laki yang sudah sangat sabar menghadapinya.


Dion sudah mau menerima dia apa adanya, namun balasan Angel selalu menyakitkan. Dia bersikap dingin dan tidak mau tidur satu kamar dengan Dion selama hampir 1 tahun pernikahan.


Pada akhirnya sikap sabar dan tulus yang ditunjukan oleh Dion, membuat Angel perlahan mencintainya dan bisa melupakan Reynald.


...***...


Reynald baru selesai melakukan pengambilan darah. Laki - laki itu duduk tertunduk didepan ruang ICU. Dia masih tidak percaya dengan kenyataan yang dia terima saat ini. 4 tahun berlalu, Angel kembali dengan membawa kabar yang mengejutkan.


Melihat hal itu, Dion menyuruh Angel untuk menjelaskan pada Reynald. Meminta istrinya itu untuk menyelesaikan permasalahannya di masa lalu.


"Aku percaya sama kamu,,," Ujar Dion sembari mengusap tangan Angel. Wanita itu menatap Dion dengan mata yang berkaca - kaca. Tidak ada laki - laki sedewasa dan sesabar Dion, bahkan Reynald sekalipun yang dulu sangat dia cintai, tidak


sedewasa dan sesabar suaminya.


Angel mengangguk pelan, dia beranjak dari duduknya dan menghampiri Reynald.


Wanita itu sedikit ragu untuk duduk di sebelah Reynald. Namun saat dia melirik Dion, laki - laki itu mengangguk pelan. Mengijinkan Angel untuk duduk bersebelahan dengan matan kekasihnya.


"Maaf,,," Hanya itu kata pertama yang keluar dari mulut Angel. Dia tidak tau lagi harus berkata apa.


Angel sadar, dia salah karena sudah menyembunyikan fakta besar ini dari Reynald. Laki - laki itu adalah ayah biologis putrinya, tapi Reynald bahkan tidak tau dengan kehamilannya dulu.


"Kamu pikir kata maaf bisa mengembalikan semua yang sudah hilang.?!" Geram Reynald.


"Aku kehilangan kebahagiaan saat itu, dan kamu membawa pergi darah dagingku.!!"


"Kenapa.? Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku.?!" Reynald mencengkram kuat lengan Angel. Wanita itu bahkan meringis kesakitan.


"Lepas Rey, kamu menyakitiku." Pinta Angel dengan suara lirih.


"Ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku.!" Seakan tidak puas melihat Angel yang merintih, Reynald semakin kuat mencengkram lengan Angel.


"Kamu tidak tau penderitaan yang aku alami karena memilih mempertahankan Alisha." Ujar Angel dengan suara yang bergetar.


"Bukan tanpa alasan aku meninggalkan kamu dan menikah dengan mas Dion.!" Nada bicara Angel semakin meninggi, meski masih bergetar menahan tangis.


"Saat aku akan memberitahukan kehamilan itu padamu, mama dan papa lebih dulu mengetahuinya. Mereka tau saat itu perusahaan kalian sedang hancur."


"Hanya ada dua pilihan yang mereka berikan padaku. Menikah dengan mas Dion, atau menggugurkan kandunganku."


"Jika aku tidak meninggalkanmu, maka Alisha tidak akan terlahir ke dunia ini.!" Tegas Angel. Buliran bening lolos dari pelupuk matanya.


Perlahan cengkraman tangan Reynald mulai mengendur. Laki - kaki itu memaku dengan segala pikiran yang berkecambuk dalam benaknya.


"Semuanya sudah berlalu Rey. Aku dan mas Dion sudah bahagia bersama keluarga kecil kami."


"Aku mohon maafkan aku. Aku tidak punya niatan untuk merenggut kebahagiaan kamu."


"Kamu tau betul bagaimana perasaanku padamu waktu itu. Aku tidak akan pergi tanpa alasan."


"Sekarang kamu sudah tau tentang Alisha. Aku tidak akan menyembunyikannya lagi dari kamu. Kamu juga berhak atasnya,,,"


Angel memang tidak ada niatan untuk memberi tahu tentang Alisha pada Reynald. Terlebih dia sudah bahagia dengan Dion yang mau menerima dia apa adanya.


Namun rupanya takdir berkata lain. Dalam kondisi seperti ini, Angel terpaksa mempertemukan Reynald dengan Alisha.


"Berikan Alisha padaku.!" Pinta Reynald dengan suara tegas. Matanya begitu tajam menatap Angel.


"Kamu boleh menemuinya kapan saja, tapi tidak untuk memberikan hak asuh Alisha padamu,," Tolak Angel.


"Kamu sudah tinggal bersama Alisha selama 3 tahun lebih. Jadi biarkan dia bersamaku selama itu."


Tegas Reynald.


Reynald masih saja memendam kekesalan pada Angel. Meski masih ada cinta di hatinya, tapi laki - laki itu berusaha untuk membuat Angel merasakan kehancuran seperti yang dia rasakan dulu.


Mungkin dengan mengambil Alisha dari Angel, Angel bisa merasakan bagaimana kehilangan orang yang sangat berarti dan amat dia cintai itu.


"Kamu tidak pernah berubah Rey. Masih saja kekanakan,,"


"Apa kamu pikir Alisha mau tinggal bersama kamu.? Selama ini dia hanya tau Dion sebagai papanya."


"Dengan kamu mengambil paksa Alisha dariku, bukan hanya aku yang akan menderita, tapi Alisha pun akan menderita karena terpisah dari kami,,"


"Aku membebaskan kamu bertemu Alisha, agar Alisha perlahan bisa mengenal kamu sebagai ayah biologisnya."


"Berikan dia pilihan saat dewasa nanti,,"


Reynald tidak memberikan tanggapan apapun. Dia hanya mencengkram kuat rambutnya.


Hanya karena harta, dia harus kehilangan orang yang dia cintai. Juga terpisah dengan anak kandungannya.


"Aku tau semua ini tidak mudah untuk kamu. Tapi cobalah untuk menerima semua ini. Lupakan masa lalu yang menyakitkan dan mulai dengan kehidupan yang baru untuk menyambut kebahagiaan yang sesungguhnya."


"Lebih baik kamu pulang sekarang, datang lagi saat Alisha sudah sadarkan diri. Aku akan menghubungi kamu nanti,,"


Angel bisa melihat keadaan Reynald yang begitu kacau. Sepertinya laki - laki itu butuh istirahat.


Angel tau, fakta ini justru membuat Reynald semakin kecewa dan terpuruk.


"Aku akan menunggu disini,," Jawab Reynald datar.


"Bagaimana dengan kekasih kamu.? Dia pasti menunggu kamu pulang,,,"


Angel baru ingat dengan wanita yang berada di apartemen Reynald. Dia mengira kalau Karin adalah kekasih Reynald.


Reynald sempat terdiam sesaat. Dia juga tidak ingat dengan Karin.


"Dia istriku,," Ujar Reynald. Dia beranjak dari duduknya.


"Hubungi aku kalau Alisha sudah siuman,,," Pintanya. Kali ini Reynald terlihat jauh lebih tenang, tidak lagi terbawa emosi seperti tadi.


"Ya ampun, dia pasti akan berfikir macam - macam,," Pekik Angel.


"Pulanglah, jelaskan semuanya pada istrimu,,,"


Reynald hanya mengangguk, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.


Reynald melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang. Membelah sepinya jalanan pada pukul dini hari.


Laki - laki itu bahkan tidak yakin kalau Karin belum tertidur.


Entah kenapa dia merasa takut. Takut kalau nantinya Karin akan meninggalkannya seperti Angel yang dulu meninggalkannya dan pada akhirnya dia harus terpisah kembali dengan darah dagingnya.


Sampainya di apartemen, Reynald berjalan cepat menuju kamar. Dia mendapati Karin yang tidur menyamping membelakangi pintu. Perlahan Reynald mendekat untuk memastikan.


Dilihatnya Karin yang sudah pulas tertidur.


Reynald mengulurkan tangan, mengusap lembut kepala Karin, kemudian beralih mengusap perut Karin yang masih rata.


Tidak mau menganggu tidur Karin, Reynald memutuskan untuk keluar dari kamar. Pikirannya masih kacau, dia belum bisa tidur untuk saat ini. Masih butuh waktu untuk menenangkan diri setelah mengetahui kenyataan yang mengejutkan itu.


Begitu terdengar suara pintu yang tertutup, Karin langsung berbalik badan. Ditatapnya pintu itu dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan dan kehancuran.


Wanita itu hanya pura - pura tertidur, dia belum siap mendengarkan kenyataan pahit dari mulut Reynald.


Karin semakin tidak yakin untuk bertahan lebih lama. Masa lalu Reynald terlalu berat untuk dia terima.


Sepertinya bertahan sampai anak yang dia lahirkan akan menjadi keputusan yang tepat.


Dia tidak butuh suami hanya untuk merasakan kebahagiaan, karena sebelum bertemu dengan Reynald pun hidupnya jauh lebih bahagia.


...****...


Sungguh teganya teganya teganya teganya teganya, banyak yang belum masukin ke list favorit 😅