My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 66. Hanya sandiwara



Kenzo Pov


Aku menjemput Nadine di rumahnya. Tanpa mau masuk kedalam, aku hanya menunggu di dalam mobilku yang terparkir di halaman rumah.


Setelah menunggu 15 menit, wanita berparas cantik itu menghampiri mobilku. Nadine memang selalu tampil sempurna, hingga tidak ada celah sedikitpun untuk mengkritik penampilannya.


Dia masuk ke dalam mobil tanpa aku lihat ke arahnya. Aroma parfumnya tetap sama seperti dulu, wangi memabukkan. Dulu aku begitu mendambanya, begitu tergila - gila padanya. Namun tidak lagi kali ini. Melihatnya hanya membuatku muak dan kesal. Teringat kembali bagaimana dia menginjak - injak harga diriku sebagai tunangannya dengan bermain dengan laki - laki lain.


Sedangkan selama itu aku tidak pernah menyentuhnya diluar batas.


"Kamu terlihat semakin tampan Ken, ,," Pujinya. Aku hanya diam saja tidak memberikan respon apapun.


"Hemm, kamu masih dingin saja. Ayolah Ken, jangan seperti ini. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah,,," Suara seksi itu terdengar lembut. Suara yang dulu ingin selalu aku dengar setiap hari.


Aku melajukan mobil, bergerak menjauh dari kediaman Nadine. Rasanya malas sekali hanya untuk berbicara dengannya.


Kebencian ku padanya membuatku tidak lagi tertarik sedikitpun. Meski di mataku dia masih tetap cantik dan sempurna seperti dulu, tapi tidak dengan hati dan perasaanku. Bagiku dia hanyalah wanita murahan yang menjijikan.


"Lupakan saja perjanjian yang sudah aku buat. Kita mulai lagi dari awal. Aku minta ma,,,


" Aku tidak ingin membahasnya. Hubungan kita akan tetap seperti ini sekalipun sudah menikah nantinya.!" Tegasku.


Perjanjian yang dia buat denganku, akan terus aku ingat. Aku pun tidak akan mengubah pendirian ku.


Perjanjian itu yang sudah membuatku semakin terlihat bodoh dan terlihat begitu memujanya hingga dia bisa berbuat seenaknya padaku.


"Ken,,, aku serius. Aku benar - benar minta maaf dan ingin memulainya dari awal,,,"


Nadine memegang pergelangan tanganku. Segera ku tepis tangan yang dulu terasa begitu hangat.


"Jangan kelewat batas.! Sudah berapa kali aku peringatkan, jangan menyentuhku.!" Geram ku.


Sejak tadi aku tidak menatap kearahnya sedikitpun. Entah seperti apa reaksinya, aku tidak peduli.


"Ken,, bagaimana kalau saat aku sudah jatuh cinta padamu. Apa kamu mau memulainya lagi.?"


Ujarnya lembut.


Aku tertawa sinis mendengarnya. Aku tidak yakin wanita sepertinya punya cinta yang tulus.


"Cinta.?!" Tanyaku sinis, kali ini aku meliriknya dengan tatapan tajam.


"Apa orang sepertimu punya cinta.?! Jangan membodohi ku untuk kedua kalinya.! Aku tidak akan pernah mengubah keputusanku.!"


"Hubungan kita hanya sebatas perjanjian.! Tidak ada kontak fisik, apa lagi memiliki perasaan.! Jadi buang saja rasa cintamu itu."


"kenapa kamu keras kepala sekali.! Aku serius Ken.!"


Nada bicara Nadine mulai naik.


"Apa yang kamu Terima sekarang, semua itu karna perlakuanmu padaku dulu.! Jadi bukan aku yang keras kepala.!"


"Jadi berhenti membahas hubungan palsu kita.!"


Entah bagaimana aku bisa mengakhiri semua ini. Aku harap Nadine akan membatalkan pernikahan kami sebelum terlambat.


Aku tidak ingin membuat Jeje terluka, aku enggan melihatnya hancur kerena ku.


Aku sudah memberikan harapan besar padanya. Aku sudah menyuruhnya untuk tetap berada disisiku. Bahkan aku berjanji akan menikahinya.


Saat ini aku hanya takut dia mengetahui pertunangan ku dengan Nadine yang akan di publikasikan.


Bagaimana kalau pada akhirnya dia memilih untuk pergi dan aku tidak bisa membuatnya yakin akan membatalkan pernikahan ini. Karna aku sendiri tidak tau harus dengan cara apa membatalkannya.


Mungkin aku bisa menyebarkan foto Nadine dengan Alex, namun hal itu juga bisa membuat perusahaan papa hancur. Karna om Bastian memiliki pengaruh besar pada perusahaan papa.


"Sikap seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu Ken. Begitu juga dengan perasaanku."


"Mungkin dulu aku menutup mata pada ketulusan cinta yang kamu berikan padaku."


"Kamu tau Ken, aku sangat menyesal. Aku bodoh karna menyia - nyiakan pria sebaik dirimu. Aku,,,


"Begitu juga denganku.! Sikapku sudah berubah, begitu juga dengan perasaanku. Aku bukan lagi Kenzo yang dulu sangat memujamu dan hanya mengagungkan namamu.!"


"Jika ada rasa yang lebih tinggi dari rasa benci, aku akan memberikannya untukmu.!"


"Berhentilah bersikap bodoh didepanku, atau kamu akan menyesal sepertiku.!"


Aku sudah muak berdebat dengannya. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Kalaupun memang dia berkata jujur, aku tidak akan pernah mengubah keputusanku. Bagiku hubungan kami hanya sebuah kepalsuan.


Sebelum Nadine bicara lagi, aku segera memasang aerphone.


Berbicara dengannya hanya membuatku menguras emosi.


Aku masih ingat bagaimana dia mencampakku dan lebih memilih laki - laki lain yang setiap malam bisa menemaninya.


Aku begitu percaya pada Nadine, sedikitpun tidak memiliki kecurigaan padanya.


Dia di Amerika, sedangkan aku disini. Aku tidak pernah berfikir buruk tentangnya. Mungkin karna aku begitu dibutakan oleh cinta.


Baginya, hubungan kami hanyalah sebuah sandiwara didepan keluarga. Nadine pun nyatanya menyetujui perjodohan kami semata - mata agar dia tetap bisa menjadi model. Karna jika dia menolak, om Bastian tidak akan lagi mengijinkannya menjadi model. Mengetahui hal itu hanya membuatku sakit saja. Kau pikir dia menerima perjodohan kami karna memiliki perasaan yang sama sepertiku.


Sampainya di butik, kami hanya melakukan fitting baju saja. Nadine terus berusaha untuk membuat suasana cair dengan terus mengajakku bicara. Namun aku sudah terlanjur benci padanya. Sedikitpun tidak tertarik untuk membuka obrolan ringan.


Diamku adalah cara untuk membuatnya sadar bahwa aku tidak lagi memiliki perasaan padanya.


Selesai melakukan fitting, aku langsung membawa Nadine menuju pusat perbelanjaan untuk membeli cincin sesuatu permintaan papa. Cincin dengan design limited edition dan memiliki harga yang cukup tinggi. Kami disuguhkan 3 pasang cincin terbaik di toko ini. Nadine terlihat antusias melihat ke tiga pasang cincin itu secara bergantian.


"Ken,, coba lihat,," Dia berusaha menarik lenganku agar mendekat, segera ku tepis pelan tangannya.


Nadine diam sejenak, menatapku dengan sendu. Entah dia hanya ber akting atau memang dia benar - benar sedih mendapat perlakukan dingin dariku.


"Menurutmu lebih bagus yang mana.?" Dia mengembangkan seulas senyum. Meski tadi sempat terlihat sedih.


"Pilih saja yang kamu suka. Cincin itu tidak penting untukku,," Jawabku ketus.


"Ayolah Ken, jangan membuat kita terlihat seperti calon pengantin yang tidak bahagia,," Bisiknya. Mungkin dia malu dengan tatapan pelayanan yang ada di hadapannya.


"Aku tidak bisa berpura - pura. Memang seperti itu kenyataannya."


"Cepat pilih saja, aku tidak punya banyak waktu.!!"


Aku bisa mendengar Nadine menghela nafas berat. Dia menurut dan memilih sepasang cincin.


"Kamu coba dulu Ken,,,"


Aku diam saja saat dia meraih tanganku untuk memakaikan cincin. Dia melepas cincin pertunangan kami yang sejak satu tahun lebih berada di jari manisku.


Gelang couple milikku menyembul di balik lengan jaket. Hal itu mampu menarik perhatian Nadine. Dia yang tadinya akan memakainya cincin baru di jariku, kini beralih mengeluarkan gelang di pergelangan tanganku.


"Sejak kapan seleramu rendahan seperti ini Ken.? Kamu gelang seperti ini tidak cocok berada di tanganmu,,," Meskipun nada suaranya pelan, namun perkataan Nadine membuatku geram.


"Sejak dulu seleraku memang rendahan, lebih tepatnya sejak aku menerima perjodohan kita.!"


Ku tarik paksa tanganku dari genggaman Nadine.


"Ken.!!" Nadine terlihat mulai kesal. Sepertinya dia paham maksud dari perkataanku.


"Gelang ini bahkan jauh lebih baik dari cincin yang ada di tanganmu,,!" Kau sudah tidak bisa lagi menahan amarahku. Ku rampas paksa cincin yang ada di tangannya, lalu mencoba sendiri.


Setelah memastikan ukurannya pas, aku kembali melepaskannya dan memberikannya pada pelayanan.


"Aku ambil yang ini,," Kataku.


Aku merogoh dompet, mengeluarkan kartu kredit untuk membayarnya.


Nadine hanya diam, tidak berani lagi berbicara. Bahkan wajahnya tertunduk malu.


Aku menyerahkan paper bag berisi cincin itu pada Nadine, lalu berjalan mendahuluinya.


"Tunggu Ken.!" Teriaknya. Dia berjalan cepat menyusulku.


"Kamu keterlaluan.! Aku sudah berusaha memperbaiki hubungan kita, tapi seperti ini balasan kamu.?"


"Apa menurutku kamu tidak keterlaluan saat mencampakkan ku.?! Apa yang aku lakukan, masih belum sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku.!"


"Jadi berhenti untuk berusaha memperbaiki hubungan kita.! Kaca yang sudah hancur, tidak bisa disatukan lagi.!"


Kalau saja dulu dia lebih memilihku dan mempertahankan hubungan ini, aku pasti akan memaafkan kesalahannya. Dan memulai kembali dari awal.


Namun sejak dia memilih laki - laki lain, aku sadar bahwa ketulusan cintaku tidak ada artinya di mata Nadine.


Terlepas bagaimana dulu aku begitu mencintainya, menjadikannya satu - satunya wanita yang aku cintai selain mama dan Felicia. Kini bagiku Nadine tidak berarti apapun lagi di mataku.


Sekalipun dia bersungguh - sungguh untuk memperbaiki hubungan kami, aku tidak pernah bisa untuk mencintainya lagi.


...*****...


Udah kasih vote hari ini.?


Yuk yang belum vote, langsung vote yah🥰


Makasih banyak untuk dukungan kalian yang luar biasa🥰


Maaf kalau ada yang nggak suka dengan alurnya. Nggapapa bisa di unfav saja😊


Daripada komen dengan tujuan mau ngasih saran, tapi cara penyampaiannya kurang tepat dan jatohnya jadi ngejelekin novel ini + ngehate authornya. Itu malah bikin down dan males lanjut.


Yang udah nggak suka mending di unfav aja. Othor nggak mau cuma gara - gara satu atau dua orang, novel ini nggak lanjut dan malah ngecewain ribuan orang yang udah setia baca dari awal.


Kata pepatah, mati 1 tumbuh seribu.


Ngasih saran dan masukan nggak dilarang Asal gunakan bahasa dan cara penyampaian yang baik agar tidak melukai hati seseorang. 🥰


Happy Reading.


Jangan lupa vote yah,,,