
Karin hanya mengerutkan kening melihat Reynald yang sedang berbicara dengan ART dia pintu kamar. Jarak yang jauh membuatnya tidak bisa mendengar apa mereka obrolkan. Wajah keduanya yang terlihat serius mengundang rasa penasaran Karin hingga akhirnya dia memutuskan untuk turun dari ranjang dan menghampiri mereka. Tapi sayangnya saat baru jalan beberapa langkah, Reynald sudah lebih dulu pergi dengan buru.
"Kak Reynald mau kemana mbak.?" Tanya Karin. Dia mencegah ART yang juga akan beranjak dari sana.
"Pagi non,,," Sapanya ramah.
"Itu tadi ada teman Tuan datang kisini." Jawabnya setelah diam beberapa saat dengan wajah yang nampak berfikir keras. Karin jadi penasaran, siapa yang datang sepagi ini ke apartemen untuk menemui suaminya.
"Teman.?" Tanya Karin memastikan. ART itu mengangguk cepat.
"Euumm,,," Karin terlihat ragu untuk bicara.
"Laki - laki atau perempuan mbak.?"
"Laki - laki non."
"Maaf saya permisi ke dapur dulu non, mau lanjut masak,," Karin hanya mengangguk.
Dia bernafas lega setelah tau yang datang menemui suaminya sepagi ini adalah laki - laki. Dia sempat berfikir jika seorang wanita di masalalu Reynald yang datang ke sini. Wanita yang dia temui di restoran kemarin saja sudah membuatnya berfikir macam - macam dan takut Reynald berhubungan dengan wanita itu lagi. Entah ada berapa banyak wanita yang pernah hadir dalam kehidupan Reynald.
Dan Karin merasa khawatir jika nantinya ada wanita yang datang lalu membawa kabar buruk untuknya seperti Angel waktu itu.
Karin berharap tidak ada wanita lagi yang datang dan mengakui memiliki anak dari Reynald.
Dia sudah terlalu sakit mendapati kenyataan bahwa laki - laki yang sudah membuatnya hamil, ternyata pernah menghamili wanita di masa lalunya.
Rasanya belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan itu. Ada anak dari wanita lain yang juga harus mendapatkan perhatian dari suaminya.
Karin menghembuskan nafas berat. Bisa ataupun tidak, dia harus belajar untuk bisa menerima semua ini. Harus bisa mengerti bahwa perhatian dan tanggung jawab Reynald tidak hanya akan diberikan kepadanya dan calon anaknya, tapi juga akan diberikan untuk Alisha.
Karin menutup pintu kamar, selain ingin menyegarkan badan, dia juga ingin menyegarkan hati dan pikirannya. Mandi dibawah guyuran shower akan membuatnya jauh lebih baik.
Terlalu memikirkan sifat dan masa lalu Reynald hanya membuatnya stres dan terbebani. Rasanya ingin membiarkannya berjalan begitu saja seperti air yang mengalir, tapi terlalu banyak hal yang menghambatnya hingga tidak bisa mengikuti arus dengan mudah.
Tidak menyangka jika menikah dengan Reynald akan sesulit ini. Mendapatkan hati dan perhatian Reynald tak semudah saat mengkhayal.
Sudah berusaha untuk memahami sifatnya, berushanya untuk mengimbanginya, sudah pernah menurut sampai akhrinya Reynald semakin berbuat seenaknya. Sudah pernah melawan dan tidak ada berubahan yang berarti. Sesulit itu bertahan di samping Reynald. Cinta dan perhatiannya terlalu mahal sampai tidak mau di bagi meski untuk istrinya sendiri.
Kini setelah mengikuti ide gila Jeje dengan mengerjai Reynald, Karin bisa merasakan perubahan yang berarti dalam diri Reynald. Dan perubahan dalam memperlakukan dirinya meski masih sering bersikap ketus padanya.
Karin jadi berfikir, Reynald bisa berubah karna merasa takut. Takut terjadi sesuatu pada dirinya dan calon anak mereka. Hingga membuat Reynald bisa menyadari bahwa Karin dan calon anaknya berarti untuknya.
Mungkin jika Karin kembali mengerjai Reynald, bisa membuat sikapnya berubah 180 derajat. Tapi Karin tidak mau mengambil resiko. Reynald pasti akan marah besar kalau tau dia membohonginya. Sudah cukup 1 kali dia membohongi Reynald.
Karin sadar, hubungan yang disertai dengan kebohongan hanya akan menimbulkan masalah dikemudian hari.
"Karin,,,!" Teriakan dan gedoran pintu kamar mandi membuat Karin mengakhiri lamunannya.
"Iya kenapa kak.?!!" Sahutnya cepat.
"Sedang apa di dalam.?!"
"Mandi.! Ada apa.?!."
"Kakak mau mandi juga.?!" Karin langsung bergegas untuk menyelesaikan mandinya karna berfikir Reynald akan menggunakan kamar mandi.
"Tidak.!"
"Buka sebentar pintunya, aku mau bicara.!"
"Ya, sebentar.!"
Karin tidak langsung membuka pintu, dia baru membuka pintu setelah selesai mandi dan memakai handuk.
Karin menyengir kuda saat melihat wajah datar Reynald di depan pintu. Soroti matanya tajam seperti biasa.
"Ada ap,,,
"Aku harus pergi sebentar, ada urusan pekerjaan yang mendesak."
"Tetap di sini dan jangan coba - coba untuk keluar dari apartemen sebelum aku pulang.!" Pinta Reynald dengan ancaman.
Karin langsung terdiam. Merasa kesal pada Reynald karna melarangnya keluar. Padahal Reynald tau kalau pagi ini dia akan pergi ke rumah sakit untuk menemui Bapaknya.
"Tapi kak, aku mau ke rumah sakit. Aku pengen ketemu Bapak." Seru Karin. Dadanya sudah mulai sesak membayangkan tidak bisa keluar dari apartemen ini. Padahal sejak tadi malam dia tidak bisa tidur karna terus memikirkan Bapaknya dan ingin cepat bertemu dengannya lagi.
"Aku akan antar kamu, tapi tidak sekarang."
"Pokoknya jangan keluar sebelum aku pulang.!" Tegas Reynald. Dia bergegas dari hadapan Karin.
Laki - laki itu sudah rapi dengan celana dan kemeja lengan pendek.
"Aku akan tetap pergi kak.!" Teriak Karin. Hal itu langsung menghentikan langkah Reynald. Dia berbalik badan, menatap Karin dengan tatapan kesal karna tidak mau mendengarkan perkataannya.
"Aku tau jika seorang istri harus menuruti perkataan suami.! Aku tau seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa ijin, dan aku pernah melakukannya. Aku minta maaf untuk itu,," Suara Karin perlahan mulai lirih dan bergetar. Buliran bening menetes dari pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak, saat ini dia hanya ingin menemui orang tuanya. Hanya ingin memastikan jika kondisi orang tuanya baik - baik saja. Tapi Reynald justru tidak menginginkannya untuk pergi.
"Aku mohon kali ini saja biarkan aku pergi," Pinta Karin memohon. Air matanya semakin mengalir deras.
"Aku akan hati - hati, aku akan menjaga diri dan kandunganku baik - baik. Kakak tidak perlu khawatir,," Ujarnya sungguh - sungguh untuk meyakinkan Reynald agar mau mengijinkannya pergi.
Reynald menghela nafas. Dia berjalan menghampiri Karin dan langsung membawa Karin ke dalam pelukannya. Di usapnya lembut punggung Karin untuk memberikan ketenangan. Reynald membiarkan Karin terisak tanpa berkata apapun, hanya terus mendekapnya dan mengusap punggungnya.
"Kenapa sesulit ini berada di posisiku.?!"
Seru Karin. Rasanya ingin mengeluarkan semua isi hatinya dan ingin mengungkapkan kekhawatiran yang dia rasakan saat ini.
"Mungkin aku bisa tahan dengan sikap kakak yang selalu dingin padaku.! Tapi aku tidak bisa menuruti perintah kakak untuk saat ini.! Aku benar - benar ingin melihat Bapak, aku khawatir padanya.!"
Karin mendorong dada Reynald untuk melepaskan diri dari dekapanya. Karin sempat menatap Reynald dengan sorot mata benci karna kecewa. Dia langsung bergegas masuk ke ruang ganti dan mengunci pintunya.
Reynald mematung di tempat. Dia berada di posisi yang serba salah. Melarang Karin untuk tidak pergi memang bukan hal yang baik, tapi mengijinkannya pergi juga bukan solusi yang tepat.
"Aku pergi dulu. Aku janji akan mengantarmu ke rumah sakit setelah ini.!" Teriak Reynald di depan pintu ruang ganti. Saat akan pergi dari sana, dia mendengar Karin yang masih menangis.
"Berhenti menangis, tidak baik untuk kondisi anak kita." Ujar Reynald mengingatkan.
"Aku tidak akan lama, jadi tetap di sini sampai aku pulang." Reynald sengaja melembutkan suaranya agar Karin mau berhenti menangis. Namun suatmra tangis Karin masih saja terdengar.
"Kalau masih menangis, aku benar - benar tidak akan mengijinkan kamu pergi.!" Ancamnya. Dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Karin, tapi setelah beberapa saat, tidak terdengar lagi suara tangisnya.
"Good girl.!" Puji Reynald lalu bergegas keluar dari kamar. Sebelum meninggalkan apartemen, Reynald berpesan pada ART untuk tidak mengijinkan Karin. keluar. Reynald juga menyurunya untuk menelfon jika Karin memaksa untuk pergi.
Karin keluar dari ruang ganti dengan mata sembab. Entah kenapa Reynald harus membuatnya menangis seperti ini. Kenapa sulit sekali hanya untuk mengijinkannya pergi.
Karin mengambil ponselnya, dia langsung mencari kotak Radit dan menelfonnya untuk menanyakan kabar Bapaknya. Namun saat mulai tersambung, Radit justru menolak panggilan telfonnya.
Karin kembali menghubungi Radit dan kembali di tolak sampai akhirnya ada chat masuk dari Radit.
"Aa lagi di jalan dek, jadi nggak bisa angkat telfon dulu.
Mau nanyain Bapak ya.?. Bapak baik - baik aja, kamu nggak usah khawatir."
Karin tersenyum lega membacanya, meski masih ada rasa khawatir yang mengganjal hatinya.
...****...