
Kenzo keluar dari ruang kerjanya. Selama 1 jam dia berada di dalam sana untuk menghubungi Reynald dan beberapa orang kepercayaannya untuk mengambil alih perusahaan Mirna yang hampir gulung tikar itu.
Dengan alasan ingin menyelesaikan pekerjaan kantor, Kenzo menyuruh Jeje untuk pergi ke kamar lebih dulu setelah mereka menghabiskan makan malam bersama.
Menghancurkan Mirna dengan cara mengambil alih perusahaannya adalah satu - satunya cara untuk membalas perbuatan keji Mirna terhadap Jeje. Setidaknya dengan membuat Mirna kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya, Kenzo berharap wanita itu bisa menyadari kesalah besar yang sudah dia lakukan pada Jeje.
Kesalahan Mirna yang hampir membuat Kenzo kehilangan calon anak dan menyakiti istrinya.
Tidak peduli dengan hubungan darah di antara Mirna dan istrinya. Siapapun yang sudah berani mengusik istrinya, dia tidak akan tinggal diam.
Kenzo tersenyum melihat Jeje yang terlihat fokus membaca majalah di dalam kamar. Dia duduk di atas ranjang, menyenderkan punggungnya disana dan memegang majalah dengan kedua tangannya. Majalah yang tentu saja sangat Kenzo kenali. Itu adalah salah satu malah bisnis miliknya yang selalu di baca sebelum tidur.
Rupanya Jeje juga tertarik untuk membacanya.
Kenzo mendekat, deru langkahnya mampu membuat Jeje seketika menatap kearahnya. Senyumnya seketika mengembang, orang yang di tunggu - tunggu akhirnya muncul juga di hadapannya. Setelah sejak kemarin di rawat oleh Kenzo dan hampir 24 jam Kenzo berada di sampingnya, kini 1 jam tanpa Kenzo seperti melewati berjam - jam tanpanya.
"Kamu minat terjun ke dunia bisnis.?" Tanya Kenzo lembut. Dia duduk menyamping di sisi ranjang.
"Aku cuma baca saja by. Habisnya bosen,,"
Jeje meletakan kembali majalah itu ke tempatnya. Dia juga merubah posisi duduknya dengan di sisi ranjang, bersebelahan dengan Kenzo.
Kenzo mengelempar senyum tipis.
"Nggak malasah kalau kamu ingin menjalani bisnis nantinya, aku akan memberi kamu kebesan untuk melalukan apa yang kamu suka selama tidak memberikan dampak negatif untuk kamu dan rumah tangga kita."
"Tapi harus kuliah lagi setelah melahirkan nanti,,"
Jeje langsung mernggambur ke pelukan Kenzo, memeluk tubuh laki - laki itu dari samping.
Definisi suami sempurna bagi Jeje adalah Kenzo.
Mungkin karna usianya yang cukup, membuat cara berfikir Kenzo sangat dewasa dan matang.
Tak hanya suami yang sempurna, tapi juga patner hidup yang menyenangkan.
"Tentu saja aku mau kuliah lagi by. Aku akan menjadi seorang ibu, dan akan menjadi guru pertama untuk anak kita. Aku harus punya cukup ilmu dan pengetahuan untuk mendidiknya nanti,,"
Jeje berbicara sembari bergelayut manja di tubuh Kenzo, wajahnya menengadah, menatap lekat wajah Kenzo dari jarak yang sangat dekat.
"Tapi aku nggak mau terjun ke dunia bisnis, apalagi kalau sampai harus menjadi CEO seperti mama Rissa yang sangat sibuk sampai jarang punya waktu untuk kak Nicho dan aku."
"Dulu aku sempat berfikir kalau mama Rissa bukan orang tua yang baik karna terlalu sibuk dan mengabaikan aku."
Jeje menarik nafas dalam. Fakta bahwa mama Rissa bukanlah orang tua kandungnya, nyatanya masih menjadi hal yang menyakitkan setiap kali mengingatnya. Meski dulu dia akui mama Rissa tidak cukup baik menjadi seorang ibu, namun tidak pernah terfikir dalam benakna jika mama Rissa bukan ibu kandung nya.
"Itu salah satu alasan kenapa dulu aku memutuskan untuk mencari sugar daddy. Aku merasa hampa meski hidup serba ada, bahkan bisa memiliki apa yang aku inginkan."
"Aku tidak bahagia by, juga merasa tidak di anggap keberaannya."
"Aku sudah mencoba untuk tetap dalam pendirian agar tidak terjurumus dalam pergaulan yang bebas, tapi tidak bisa bertahan selama itu. Sampai akhirnya aku merasa sangat muak dan memilih untuk mencari kebahagiaan yang menurutku sudah sepantasnya aku dapatkan."
Jeje menundudukan kepalanya. Meski bersyukur telah dipertemukan dengan Kenzo, namun dia menyimpan penyesalan atas apa yang sudah dia perbuat dulu.
"Aku tidak mau hal buruk itu juga terjadi pada anakku by."
"Aku ingin menjadi ibu yang baik, memiliki banyak waktu bersama mereka, dan menjadi teman serta pendengar yang baik agar anak - anak kita tidak berfikir untuk mencari kebahagiaan di luar sana. Seperti yang aku lakukan waktu itu."
"Aku menyesal, tapi aku juga bersyukur karna bertemu dengan hubby kala itu. Kalau aku di. pertemukan dengan sugar daddy yang sudah memiliki istri, mungkin aku tidak akan bahagia seperti sekarang,,"
Kenzo mendaratkan kecupan di pucuk kepala Jeje. Merasa bangga dan terharu dengan cara berfikir istrinya yang sangat luas dan dewasa meski usianya masih sangat muda.
"Kamu memang terbaik,,," Puji Kenzo bangga.
"Aku percayakan sepenuhnya padamu untuk mengurus dan mendidik anak - anak kita nantinya. Aku yakin kamu akan menjadi ibu terbaik untuk mereka."
Kenzo semakin erat memeluk Jeje. Kedewasaan dan cara berpikir Jeje patut untuk di acungi jempol.
"Hu'um,, aku akan terus berlajar untuk menjadi ibu yang baik by."
Jeje melepaskan pelukannya.
"Besok kak Rey sama Karin mau datang ke sini,," Ujar Jeje memberi tahu. Tadi setelah makan malam, Jeje sempat membuka ponsel dan membaca pesan dari Karin.
Kenzo mengerutkan keningnya.
"Mau apa baj*ngan itu kesini.?" Tanyanya tak suka.
"Hubby.! Jangan seperti itu," Tegur Jeje.
"Karin ingin bertemu denganku, tidak mungkin dia datang sendiri untuk menemuiku. Kalau bukan sama kak Reynald, lalu sama siapa lagi,,"
"Hemm,,,," Kenzo hanya berdehem.
Jeje menggelengkan kepalanya. Kenzo dan Reynald sudah seperti tom and Jerry saja kalau di luar urusan kantor.
Karin bangun lebih awal. Semalam dia mendapat pesan dari ART kalau tidak bisa datang hari ini karna ada urusan yang harus di selesaikan.
Karin sengaja tidak memberitahu Reynald, agar dia bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Selama ini Reynald selalu melarangnya melakukan apapun. Padahal Karin merasa masih mampu melakukan aktivitas, meski hanya memasak atau membersihkan apartemen.
Masih pukul 6 pagi, Reynald akan bangun lebih siang jika weekend. Itu artinya Karin masih punya banyak waktu untuk membersihkan apartemen dan membuat sarapan.
Karin menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dia hanya memakai hotpants, dengan tubuh bagian atas yang polos tanpa sehelai kain.
Wajahnya tiba - tiba memerah, mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam sebelum mereka tidur.
Reynald memaksa Karin untuk melepas semua kain yang melekat di tubuhnya, bukan untuk melakukan ritual suami istri, melaikan hanya ingin tidur sambil memeluk tubuh polos Karin.
Permintaan Reynald tentu saja mendapat penolakan keras dari Karin. Dia enggan melakukannya, namun Reynald tetap bersikeras bahkan mengancam Karin 1akan merobek paksa baju miliknya.
Setelah melewati negosiasi yang cukup panjang dengan perdebatan kecil, akhirnya Karin mau membuka baju asal masih di perbolehkan memakai hotpants.
Karin menggelkan cepat kepalanya, kemudian menutup mukanya sendiri karna malu.
Bayangan saat Reynald memeluknya dari belakang, dan terus memainkan dua aset miliknya, membut wajahnya semakin merona.
Karin langsung turun dari ranjang, mengambil baju yang di semalam di lempar oleh Reynald ke lantai.
Setelah memakainya, dia bergegas keluar dari kamar dan mulai membersihkan apartemen.
Karin tergesa - gesa saat membereskan dan membersihkan ruang tamu. Takut Reynald akan bangun dan memergokinya. Laki - laki itu pasti akan memarahinya kalau melihatnya mengerjakan semua itu.
Sesekali Karin melirik ke arah pintu kamar, hal itu membuatnya tidak fokus sampai akhirnya menyenggol guci di atas meja. Guci itu jatuh di samping kakinya, pecahannya bahkan sedikit mengenai kaki Karin sampai meninggalkan goresan kecil dan mengeluarkan sedikit darah.
"Awww,,,," Karin teriak, tapi dia langsung menutup mulutnya agar tidak membangunkan Reynald.
"Gimana ini,,," Gumam Karin dengan wajah yang pucat. Pucat karna baru saja memecahkan guci yang harganya tidak murah.
Karin berjongkok untuk membersihkan pecahan guci itu.
"Kamu sedang apa.?!" Suara itu yang sejak tadi Karin takutkan. Reynald benar - benar bangun dan memergokinya, namun memergokinya memecahkan barang mahal itu.
"Ma,,maaf a,aku,,," Karin berdiri, menghadap Reynald tapi tidak berani menunjukan wajahnya. Dia terus menundukan kepalanya.
Reynald baru bisa melihat dengan jelas pecahan guci yang berserakan di lantai setelah Karin berdiri.
Matanya seketika membulat sempurna. Dia langsung mendekati Karin.
"Apa yang kamu lakukan.!" Seru Reynald kesal.
Karin terlihat pasrah, dia sudah siap melihat kemarahan Reynald.
"Liat.! Kaki kamu sampai luka.!"
Reynald langsung mengangkat tubuh Karin, menjauhkan Karin dari sana dan membawanya ke ruang keluarga.
Karin sampat memaku dalam dekapan Reynald, dia pikir Reynald akan memarahainya Karna memecahkan barang mahal miliknya.
"Kamu ini ceroboh sekali.?! Kenapa bisa sampai menjatuhkan guci itu.?! Kamu sedang apa.?!" Reynald mencecarnya dengan banyak pertanyaan setelah menurunkannya di sofa.
Karin hanya bisa melongo, bingung harus menjawab apa. Dia juga bingung dengan reaksi Reynald yang terlihat sangat panik.
"Aku sudah bilang, tidak perlu mengerjakan apapun.! Kenapa tidak mau menurut.!" Serunya frustasi.
"Diam disini.!" Reynald beranjak dari hadapan Karin.
Kemarahan Reynald membuat Karin ketakutan, juga merasa bersalah.
Reynald kembali dengan membawa kotak p3k, berjongkok di depan kaki Karin.
"Guci itu berat, bagaimana kalau menimpa kaki kamu.?!" Reynald masih saja memarahi Karin.
Rasanya belum puas untuk meluapkan kekesalannya.
"Maaf kak,, aku ngak sengaja,,,
"Bukan masalah sengaja atau tidak.! Kaki kamu bisa terluka lebih parah dari kalau menimpa kaki.!" Potong Reynald cepat.
Reynald membersihkan darah di kaki Karin, kemudian meneteskan betadine dan membalutnya dengan hansaplas. Beruntung hanya goresan kecil, kalau sampai kaki Karin terluka parah, entah akan seperti apa reaksi kemarahan Reynald padanya.
Karin sedikit tersentuh dengan perlakuan Reynald. Dia terlihat hati - hati dan tulus saat mengobati luka di kakinya. Dan kepanikan di wajah Reynald membuat Karin terus betanya - tanya saat ini.
"Duduk saja disini. Aku bereskan dulu pecahannya." Ujar Reynald.
Karin mengangguk patuh.