My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 52. Datang lagi



Satu bulan berlalu sejak kejadian di apartemen itu. Sampai saat ini aku hanya bisa menduga duga apa yang menyebabkan om Kenzo sampai berbuat kasar padaku. Pasalnya om Kenzo tidak menceritakan apapun, dia hanya meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan padaku. Tanpa memberikan alasan kenapa dia bersikap seperti itu.


Mungkin memang benar ada masalah yang sendang om Kenzo hadapi. Dan tidak mungkin om Kenzo marah padaku karna dia cemburu aku berkomunikasi dengan kak Gerald. Alasan yang sangat tidak masuk akal.


Sore ini aku dibuat cemas, karna ternyata mama dan papa kembali mengundang om Kenzo dan papanya untuk makan malam di rumah kami. Sekaligus untuk mengenalkan kak Nicho dengan om Kenzo. Karna mereka sudah mempunyai rencana untuk membuat keduanya bekerjasama dalam pembuatan proyek baru beberapa tahun mendatang. Tepatnya setelah kak Nicho lulus dan menjabat di perusahaan papa.


Papa ingin kak Nicho lebih dulu mengenal om Kenzo, dan belajar darinya yang berhasil menjadi pemimpin hebat di usianya yang masih terbilang muda.


Sejak tadi aku hanya bisa mondar - mandir di dalam kamar. Aku bingung harus menggunakan alasan apa untuk tidak ikut bergabung makan malam dengan mereka. Aku takut hubungan terlarang kami akan tercium oleh mereka. Aku bukan orang yang pandai berpura - pura atau menyembunyikan sesuatu didepan orang lain. Bagaimana jika nanti aku kelepasan memangil om Kenzo, atau terus mencuri pandang dengannya. Mereka bisa curiga nanti. Dan aku pasti akan gugup nantinya.


Aku menjatuhkan kasar tubuhku di atas ranjang, menatap langit - langit kamar untuk berusaha lagi mencari jalan keluar. Namun yang ada, bayang wajah om Kenzo yang sedang tersenyum muncul disana. Sejujurnya aku sudah rindu padanya selama hampir 2 minggu lebih kami tidak bertemu. Aku sibuk mengurus pendaftaran kuliahku, sedangkan om Kenzo sangat sibuk dengan pekerjaannya.


1 minggu yang lalu dia mengabariku saat sedang berada di Paris. Sepertinya om Kenzo hampir setiap bulan ke sana. Entah apa saja yang om Kenzo lakukan disana.


Setelah berhasil mencari alasan yang tepat, aku bergegas keluar kamar untuk berbicara pada mama. Semoga saja mama menyetujuinya, agar aku tidak perlu makan malam bersama mereka.


Aku menghampiri mama yang sedang berada di dapur. Mama selalu memantau para pelayan dan chef dalam membuat jamuan makan malam untuk tamunya.


"Steaknya dibuat medium saja,,," Kata mama pada chef. Mama langsung menoleh begitu melihat kehadiranku.


"Ada apa sayang,,?" Tanyanya sambil berjalan mendekat ke arahku.


"Mama lagi sibuk ya,,?"


"Nggak, cuma lagi ngecek aja. Pasti ada yang mau kamu bicarain yah.? Tentang pacar kamu,,?" Ujar mama dengan candaan.


"Apaan sih mah, siapa juga yang punya pacar,," Sejujurnya aku sangat cemas saat ini. Mama benar - benar bisa menebak kalau aku sedang jatuh cinta. Dia mengira kalau aku punya pacar.


Padahal aku menjadi simpanan om - om. Mama pasti akan kecewa kalau sampai tau.


"Oh,, jadi belum pacaran.? Baru pedekate ya.?" Godanya lagi. Mama terlihat senang menggodaku, dan itu membuatku tersipu malu.


"Ya ampun, nggak dua - duanya mah. Bukannya mama nggak ngebolehin aku pacaran, kak Nicho juga begitu. Lagipula aku belum tertarik menjalin hubungan dengan siapapun,," Elakku. Tapi aku tidak berani menatap mama, karna mama pasti akan tau kalau aku sedang berbohong.


"Mama nggak akan ngelarang kalau suatu saat kamu memutuskan untuk memiliki hubungan dengan seseorang. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, dalam suatu hubungan tidak melulu berjalan mulus sesuai yang kita harapkan."


"Meskipun diantara kalian saling mencintai, dan saling setia satu sama lain, terkadang ujian itu datang dari orang terdekat yang sengaja ingin merusak kebahagiaan kita. Karna merasa iri dengan semua yang kita miliki,,,"


"Mungkin yang kamu lihat saat ini, hubungan mama dan papa baik saja. Tapi tidak dengan 19 tahun yang lalu, saat dimana kami bahkan hampir berpisah karna ambisi seseorang yang iri terhadap mama,,,"


Di akhir kalimat, mama meneteskan air matanya. Dia begitu terpukul dengan masa lalunya. Aku bahkan baru mengetahuinya. Selama ini mama tidak pernah bercerita apapun tentang masa lalunya.


"Mah,,," Aku menggenggam tangan mama, menetap mama dengan sendu. Aku bisa melihat kekecewaan dan kemarahan yang terpendam dari sorot matanya. Sepertinya luka itu sangat membekas di hati dan ingatannya.


"Mama jangan sedih, yang terpenting saat ini mama dan papa selalu bahagia. Kita semua akan selalu bahagia untuk selamanya,," Aku memeluk mama. Pada akhirnya aku mengurungkan niatku yang akan menolak makan malam bersama.


Melihat mama yang begitu sedih, aku tidak tega untuk membahas hal lain.


"Mama baik - baik aja sayang. Hanya saja mama belum bisa melupakan kejadian menyakitkan itu." Mama mengulas senyum, dia berusaha tegar di depanku.


"Kamu mau bicara apa tadi.? Malah jadi mama yang curhat,," Katanya sambil tersenyum kecil.


"Emm,, itu Jeje cari kak Nicho mah, kok nggak ada di kamarnya.?" Pada akhirnya aku pura - pura menanyakan kak Nicho.


"Apa kamu lupa.? 3 jam yang lalu kakakmu pergi untuk bertemu Sherly. Jangan ganggu mereka, biarkan mereka mengenal lebih dekat. Mungkin sebentar lagi dia pulang,," Jelas mama.


Sebenarnya aku sudah tau kalau kak Nicho sedang pergi, tapi aku tidak tau kalau ternyata dia sedang bertemu dengan kak Sherly yang kecentilan itu.!


Aku kesal sendiri kalau ingat bagaimana centilnya kak Sherly pada kak Nicho beberapa hari yang lalu.


Aku heran dengan kak Nicho, kenapa tiba - tiba dia menerima perjodohan yang sudah lama tutup buku itu. Padahal kak Sherly bukan typenya. Aku bahkan tidak sudi punya kakak ipar secentil itu.


Aku hanya mengangguk saja, lalu pamit pada mama untuk kembali ke kamar.


Saat ini aku justru jadi kepikiran dengan masa lalu mama yang baru saja dia ceritakan padaku. Ternyata mama memiliki masalalu yang menyedihkan. Sulit dipercaya jika mama dan papa hampir bercerai. Padahal hubungan mereka selama ini begitu harmonis. Terkadang aku bahkan sampai iri dengan mereka. Di usia pernikahannya yang sudah lebih dari seperempat abad, mereka masih terlihat saling mencintai. Entah apa yang menyebabkan masalah di antara mereka saat itu. Sejujurnya aku penasaran, tapi tidak tega untuk bertanya pada mama.


Aku takut hanya akan membuat luka di hati mama terbuka kembali.


...***...


Aku sudah rapi dengan memakai dress warna peach lengan pendek. Dress polos dengan panjang selutut, terdapat pita simpul kecil dibagian tengah.


Rambut panjangku dibiarkan begitu saja, berdengger di kedua bahuku.


Gugup sekali rasanya, aku merasa makan malam ini seperti acara makan malam untuk menyatukan dua keluarga. Andai saja om Kenzo tidak memiliki hubungan dengan siapapun, apa mungkin akan terjadi makan malam untuk menyatukan dua keluarga.? Yang membahas tentang hubunganku dan om Kenzo.


Aku hanya bisa tersenyum miris. Menertawakan kebodohanku yang selalu berkhayal terlalu tinggi.


Rasanya ragu untuk keluar kamar dan turun ke bawah. Entah bagaimana reaksi om Kenzo jika melihatku ikut makan malam bersama mereka. Aku yakin om Kenzo belum tau kalau aku juga akan bergabung dengan mereka. Karna makan malam itu untuk membahas soal bisnis.


"Je,,! Buruan turun,,!!" Teriak kak Nicho dari luar kamarku, tak lupa dia mengetuk pintu.


Aku beranjak dari meja rias, lalu bergegas untuk membukakan pintu.


"Emang tamunya udah dateng kak.?" Tanyaku begitu baru membuka pintu.


"Tadi sih masih didepan. Buruan turun, jangan sampe jadi mereka yang nunggu kamu,," Ujarnya.


"Kakak duluan aja, aku mau pipis dulu sebentar,,"


Karna gugup, aku jadi ingin buang air kecil.


Aku tidak tau harus bersikap seperti apa nantinya. Apa aku bisa berpura - pura tidak mengenal om Kenzo.?


"Dasar miss rempong,,!" Cibir kak Nicho yang hampir mengacak rambutku, aku langsung menahan tangan kak Nicho dan melotot padanya.


"Ya ampun kak.! Rambutku bisa berantakan nanti. Yang ada aku nggak turun - turun karna harus rapiin rambut lagi,," Keluhku kesal.


"Bawel, cerewet.! Buruan pipis sana. Jangan lama - lama,," Kak Nicho pergi dari hadapanku dan langsung turun ke bawah.


Entah sudah berapa kali aku menarik nafas dan membuangnya perlahan, tapi aku masih saja merasa gugup.


Setelah buang air kecil dan memastikan penampilanku masih rapi, aku segera turun ke bawah. Berjalan dengan lambat menuju ruang makan.


Jantungku berdetak kencang saat melihat om Kenzo dari kejauhan. Dia terlihat sangat tampan dan muda dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda. Sedangkan papa om Kenzo rapi dengan setelan jasnya.


Mereka berempat belum menyadari keberadaanku yang sedang menatap kearah mereka.


Aku bisa melihat ke akraban di antara kak Nicho dan om Kenzo. Keduanya terlihat serius mengobrol, entah membicarakan apa. Kak Nicho sampai tertawa. Namun hal itu membuat hatiku tersayat.


Aku yakin kak Nicho tidak akan sewelcome itu dengan om Kenzo kalau dia tau bahwa om Kenzo lah yang memiliki hubungan dengan kak Fely.


Rasanya aku tidak tega melihat kak Nicho mengetahui semua itu.


"Jeje,, ayo kesini sayang,,," Aku terkesiap saat mama menatap ke arahku dan menyuruhku untuk bergabung. Seketika itu semua orang menatap ke arahku, termasuk om Kenzo.


Aku tersenyum kikuk pada mereka, lalu kembali berjalan untuk bergabung dengan mereka.


Aku bisa melihat om Kenzo yang terus saja menatap ke arahku, dia memang sempat terlihat kaget saat baru melihatku.


"Kenalin Je, itu om Andreas sama putranya. Namanya Kenzo,," Terang mama.


Aku mengangguk.


"Selamat malam om, kak,," Sapaku pada mereka. Aku tersenyum canggung dengan membungkukan badanku. Rasanya aneh sekali memanggil om Kenzo dengan sebutan kak. Tapi akan lebih aneh lagi kalau aku menyebut papa dan anak dengan sebutan om. Semua orang bisa tertawa nanti.


Papa om Kenzo tersenyum dengan anggukan kepala.


"Apa dia putrimu Lex.?" Tanyanya pada papa.


"Putri kami Ndre. Jenifer namanya." Sahut mama cepat.


"Ah ya,, tentu saja putri kalian. Dia sangat manis dan cantik,," Puji nya dengan senyum canggung.


"Makasih om,,"


Mama menyuruhku untuk duduk disebelahnya setelah mengenalkanku dengan om Andreas dan om Kenzo. .


Aku dan om Kenzo duduk berhadapan dengan jarak 4 kursi. Posisiku dan om Kenzo sama - sama berada di ujung.


"Ayo makan Ndre, nak Kenzo,," Ujar papa pada mereka.


"Iya om,," Sahut om Kenzo dengan seulas seyum.


Entah kenapa mata ini tidak mau berhenti untuk menatap nya. Semoga saja mama dan papa om Kenzo tidak menyadarinya. Karna posisi mereka yang bisa dengan jelas melihat gerak - gerik ku.


...*****...


Bonus nih up lagi😁, ayo yang belum vote, langsung vote yah.


Buat yang belum tau caranya VOTE, liat contoh****πŸ‘‡πŸ‘‡




Langsung Vote yah,,


...****...


Nih upnya udah panjang kali lebar, votenya harus dikencengin ya. wkwkw


dari 2400 pembaca, belum nyampe 200 vote hari ini. Yang lain pade kemane nih.? 😁


Happy reading.


Makasih untuk semua dukungan dari kalian.


Maaf udah nggak sempet bales komen satu persatu, tapi othor sempetin baca satu satu kokπŸ₯°


Maaf juga karna upnya jadi nggak tentu jamnya. Jangan kecewa ya, yang penting masih bisa up tiap hari. Apa lagi tambah bonus sekarang. wkwk