My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 42. Tidak penting



Deburan ombak yang beraturan semakin membuat hati ini terasa jauh lebih tenang. Hembusan angin bertiup kencang, begitu sejuk untuk dirasakan.


Terlebih hadirnya seseorang yang kini ikut duduk di sampingku. Menambah keteduhan dan ketentraman dalam jiwa. Aku tersenyum padanya saat dia menyodorkan satu buah kelapa muda padaku. Tangan ini terasa ringan mengambilnya.


Seulas senyum di kembangkan dari wajah tampannya. Semakin hari, aku merasa laki - laki baik ini terlihat semakin tampan dan mempesona. Apa seperti ini rasanya jatuh cinta.? Kenapa dia terlihat begitu sempurna. Tidak ada celah sedikitpun untuk bisa melihat kekurangannya.


Fisiknya, sikapnya yang begitu perhatian dan lembut, membuat hati ini bertambah menggilainya.


Ya Tuhan,,, sanggupkah aku mengambil hatinya.


Atau sanggupkah aku jika kehilangannya.


Aku mengalihkan pandangan, tidak mampu rasanya berlama - lama menatap wajah tampan itu. Karna jantungku terus berdetak kencang dan hanya membuatku jadi gerogi.


"Om,,," Aku memanggilnya dengan suara lirih, mataku terus lurus menatap hamparan air laut yang terus menggulung.


"Kamu boleh tanya apapun,,"


Aku langsung menatap om Kenzo. Dia membuatku heran karna dia seperti bisa menebak apa yang ada di dalam pikiranku. Aku memang berniat untuk menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi padanya. Namun aku ragu. Setelah mendengar ucapakan om Kenzo, keraguanku hilang begitu saja.


"Beneran om.? Aku boleh tanya apapun.?" Ujarku antusias. Om Kenzo mengangguk sembari tersenyum kecil. Aku semakin semangat saja untuk bertanya padanya.


"Cincin itu,,," Aku menunjuk cincin di jari manis om Kenzo. Aku lihat kedua matanya juga menatap ke jarinya.


"Om udah nikah atau baru tunangan.?"


Pertanyaanku membuat om Kenzo beralih menatap ku.


"Cincin ini nggak penting,," Ujarnya datar. Om Kenzo tidak lagi bicara.


Jawaban macam apa itu.? Yang aku tanyakan, dia sudah menikah atau tunangan. Kenapa hanya menjawab seperti itu.?


Kalau tidak penting, kenapa terus di pakai.!


Aku sedikit kesal, namun merasa senang juga karna om Kenzo menganggap cincin itu tidak penting. Apa artinya dia menganggap jika hubungannya dengan kak Fely tidak berarti?


Aku bersorak dalam hati. Semoga aku bisa secepatnya merebut om Kenzo.


"Bukan itu om pertanyaanku. Om udah nikah apa baru tunangan.?" Aku kembali bertanya untuk mendapatkan kejelasan. Karna jawaban om Kenzo belum sepenuhnya membuatku puas.


"Kamu boleh tanya apapun, tapi aku nggak harus menjawabnya,," Katanya dengan santai.


Aku langsung mencubit pinggang om Kenzo.


"Iihh,, ngeselin banget sih om.! Itu sih sama aja bohong. Percuma dong aku tanya kalau nggak dijawab." Keluhku dengan bibir yang mencebik seperti moncong bebek.


Om Kenzo tertawa melihat ekspresi wajahku yang mungkin sangat lucu di matanya.


"Tambah jelek kalo kaya gini,,," Om Kenzo menarik hidungku sambil terus terkekeh.


"Tambah jelek apa tambah gemesin om.?" Kataku lalu menyengir kuda.


"Mulai kepedean.!" Tangan om Kenzo mengacak bebas rambutku. Aku balas menggelitik pinggangnya tanpa henti. Badan om Kenzo bergerak ke kanan dan kiri sembari tertawa karna menahan geli.


"Awas kamu.!" Ujarnya sembari mengunci kedua tanganku. Aku mulai panik menatap nya.


"Ampun om, jangan gelitikin pleaseee. Nggak kuat aku, nanti kalo aku pipis gimana.?" Ucapku dengan wajah memelas.


"Tinggal ganti nanti,," Aku melotot menatapnya.


"Iihh jangan gitu om, aku serius. Nggak lucu kalo aku ngompol disini,,!" Rengekku sambil terus berusaha melepaskan tangan dari genggaman om Kenzo.


"Omm,,," Aku masih saja merengek.


Cupp,,,


Satu kecupan singkat mendarat di bibirku. Saat itu juga tubuhku berubah menjadi patung. Terus diam membisu sambil terus menatap om Kenzo tanpa kedip.


Ya ampun,,, manis sekali dia.


Aku yang meleleh oleh perlakuannya, langsung menghambur kepelukan om Kenzo. Membenamkan wajahku di dadanya. Mungkin om Kenzo akan tau jika aku memiliki perasaan padanya. Tapi aku tidak peduli. Biarkan saja dia tau, aku justru berharap om Kenzo akan membalas perasaan ku.


Om Kenzo tidak keberatan saat aku memeluknya, dia justru mendekap tubuhku dan mengusap lembut punggung ku.


Aku menyenderkan kepala di pundak om Kenzo, sembari melihat matahari yang mulai terbenam. Suasana di tepi pantai mulai gelap.


Om Kenzo mengangkat daguku dengan satu tangannya. Saat itu pandangan mata kami beradu.


Kami terlalu hanyut, sampai tidak menghiraukan keberadaan orang lain yang ada di sekitar kami.


Suasana yang gelap, membuat kami akhirnya acuh.


Om Kenzo tersenyum setelah melepaskan ciumannya, dia juga mengusap sudut bibirku dengan ibu jarinya.


"Udah gelap, balik ke resort aja ya." Aku mengangguk.


Sebagian orang melihat kami saat berjalan menuju resort. Kita memang seperti sepasang kekasih, dengan usia yang terpaut cukup jauh. Terlihat jelas dari wajah om Kenzo yang sudah dewasa dan berwibawa, sedangkan wajahku ini masih sangat imut bak balita. Aku mengulum senyum, geli sendiri dengan pujian ku. Jika om Kenzo mendengarnya, sudah dipastikan dia akan meledekku lagi.


Om Kenzo langsung menghentikan langkahnya saat ponsel di saku celananya berdering. Aku pun refleks berhenti di sampingnya. Jiwa penasaranku kembali datang. Mataku terus menatap tajam saat tangan om Kenzo merogoh ponselnya. Aku harus bisa melihat siapa yang menelfonnya. Nadine kah.? Atau kak Fely.?


Aku dan om Kenzo sama - sama menatap layar ponsel di tangannya. Namun dia tidak menyadari akan hal itu.


"Tunggu disini Je, aku angkat telfon dulu,,"


Ucapan om Kenzo hanya angin lalu bagiku. Lewat begitu saja.


Dadaku sudah mulai sakit, sesak rasanya untuk sekedar mengambil nafas. Meski aku sudah bertekad untuk merebut om Kenzo, tapi tetap saja aku merasa terluka jika melihat om Kenzo berinteraksi dengan kak Fely.


Aku menatap nanar om Kenzo dari kejauhan. Dia nampak tersenyum lebar, terus berbicara pada kak Fely dengan antusias. Entah apa yang mereka bicarakan.


Padahal om Kenzo baru saja bilang kalau cincin yang ada di jari manisnya tidak penting. Tapi lihat sekarang, dia begitu bahagia mengangkat telfon dari kak Fely.


Apa mungkin aku yang sudah salah mengartikan ucapan om Kenzo.?


Mungkin maksud om Kenzo cincin itu tidak penting karna hanya sebuah simbol akan status mereka. Karna yang terpenting adalah hubungan mereka baik - baik saja.


Kenapa hatiku semakin sakit saja.


Apa yang harus aku lakukan.? Rasanya berat sekali untuk sekedar mendapatkan cintanya. Aku terlalu rapuh hanya karna melihat mereka bicara lewat telfon.


Mungkinkah aku harus mengurungkan niatku, untuk tidak merebut om Kenzo dan membiarkan mereka bersama.


"Je,,," Om Kenzo menepuk pelan pundakku.


"Udah selesai om.? Ayo,," Aku bicara tanpa menatapnya. Saat ini pasti mataku sudah berkaca - kaca.


"Kamu kenapa.?" Om Kenzo selalu cemas setiap kali melihatku melamun seperti ini.


"Untuk apa mencemaskanku om.! Kamu membuatku semakin sakit saja,,!"


"Nggak kenapa - kenapa om. Ayo jalan lagi,," Ucapku dengan seulas senyum.


Aku mengandeng tangannya dan berjalan lebih dulu. Berpura-pura memang menyakitkan, tapi akan lebih menyakitkan jika aku terus mengingat hubungan mereka.


Kami baru selesai membersihkan diri. Om Kenzo mengajak kami makan di luar. Sejujurnya aku malas untuk keluar lagi, tapi om Kenzo pasti akan terus bertanya jika aku menolak ajakannya.


"Kita akan pulang besok Je. Lain kali kita liburan lagi kalau ada waktu panjang,,"


Aku langsung diam. Apa mungkin om Kenzo akan pergi bersama kak Fely.?


Karna tiba - tiba saja om Kenzo mempercepat waktu berlibur kami. Harusnya besok malam kita baru pulang.


"Memangnya kenapa om,,? Om mau ke Paris lagi.?"


"Ke Singapur. Ada yang harus aku urus,,,"


Aku langsung membisu. Jadi benar mereka akan pergi bersama. Pasti mereka akan menjenguk ibu Grace di rumah sakit.


Apa mungkin ibu Grace sudah melewati masa Kritisnya.? Pantas saja om Kenzo terlihat senang saat mengangkat telfon dari kak Fely.


Ternyata sudah sedekat itu hubungan mereka.


Apa mungkin mereka sudah menentukan pernikahan setelah ibu Grace sadar dari komanya.?


"Tahan Jeje,, kamu nggak boleh lemah. Sebelum mereka menikah, kamu masih punya kesempatan untuk merebutnya,,"


Aku bicara pada diriku sendiri. Menguatkan hatiku yang sebenarnya sudah tercabik - cabik.


Sakit memang, mencintai namun tidak bisa memiliki.


...****...