
Jeje menatap ke arah pintu begitu mendengar suara pintu terbuka. Di lihatnya Reynald yang masuk bersama Karin di belakangnya. Kali ini wajah Karin tidak sesedih tadi. Jeje berharap Reynald mau bertanggung jawab secepatnya, sebelum kandungan Karin semakin membesar.
"Dimana Kenzo,,?" Reynald duduk santai di depan Jeje. Dia melirik Karin, meminta wanita itu untuk duduk di sebelah nya.
"Lagi beli makanan,," Sahutnya. Mata Jeje tak lepas dari kedua insan itu. Menatapnya bergantian penuh selidik dan penasaran.
"What.?" Reynald nampak terkejut mengetahui bosnya yang sedang membeli makanan.
"Buat siapa.?" Tanyanya lagi.
"Buat istrinya. Memangnya siapa lagi,," Jawab Jeje santai.
Reynald terbahak - bahak. Ini pertama kalinya Reynald melihat Kenzo disuruh seseorang. Apa lagi menyuruhnya untuk membeli makanan.
"Hahaha,,, akhirnya bos itu bisa di suruh juga." Cibir Reynald.
"Dasar bos galak, mau aja di suruh - suruh,," Ujarnya lagi. Reynald seakan tidak puas mencibir bosnya.
Jeje melirik sinis. Dia jadi punya ide untuk mengerjai Reynald juga.
Di ambilnya foto hasil USG dan laporan kehamilan Karin dari dalam tasnya. Jeje menyodorkannya di depan Reynald.
"Ini hasil USG dan laporan kehamilan Karin,," Katanya. Reynald sedikit ragu melihat kertas itu, namun pada akhirnya dia mengambilnya.
Melihat foto USG dan baca kertas di tangannya.
Meski sudah di beri tahu bahwa Karin sedang hamil, tatap saja laki - laki itu masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat di tangannya.
"Jadi kamu benar - benar hamil,,?" Tanyanya pada Karin. Jeje melotot di buatnya. Bagaimana bisa Reynald bertanya seperti itu, padahal dia sudah mengatakannya. Mereka berdua bahkan sudah berbicara 4 mata. Lalu kenapa Reynald masih belum percaya.
"Astaga.! Kakak pikir Karin pura - pura hamil agar dinikahi sama laki - laki seperti kakak.?!" Geram Jeje. Reynald tampak tidak Terima dengan ucapan Jeje.
"Memangnya aku laki - laki seperti apa.?"
"Laki - laki jahat yang memanfaatkan kelemahan orang lain. Merusak masa depan orang lain seenaknya, dan tidak punya perasaan." Ujar Jeje penuh penekanan. Reynald melotot dibuatnya.
"Ingat kak, jangan marah padaku atau aku aduin sama my hubby,," Ucap Jeje dengan senyum meledek. Reynald menghela nafas berat, hampir saja di memarahi istri bosnya.
"Daripada kakak nggak punya kerjaan, mending beliin makan siang juga buat Karin. Kami belum makan siang, dan aku lupa nggak minta hubby buat beliin makanan buat Karin juga."
"What.??!!"
"Enak saja.!" Tolaknya.
"Kak Reynlad mau anak kalian kelaperan didalam perut.? Tadi pagi Karin juga muntah - muntah, sudah di pastikan kalau perutnya kosong saat ini. Kalau sampai terjadi sesuatu pada kandungan Karin, kakak yang harus tanggung jawab. Karna nggak bisa jadi ayah yang baik.!"
Wajah Reynald seketika berubah. Dia terlihat tersentuh setelah mendengar ucapan Jeje. Setelah itu dia beralih menatap Karin yang sejak tadi hanya diam menyimak obrolan mereka.
"Kamu mau makan apa.?" Tawarnya.
"Apa saja,," Sahut Karin.
Tanpa berkata apapun, Reynald beranjak dari duduknya.
"Emm,, aku juga mau rujak buah,," Tambahnya lagi. Karin terlihat malu - malu, dia bahkan tidak berani melihat Reynald.
Laki - laki itu berbalik badan, terlihat mengerutkan keningnya.
"Mungkin itu yang dinamakan mengidam karna hamil. Sudah belikan saja kak,," Seru Jeje.
"Oke,,!! oke,,!!" Geramnya sambil keluar dari ruangan Kenzo.
"Gimana Rin.? Dia mau tanggung jawab kan.?" Tanya Jeje penasaran.
"Dia nggak percaya aku hamil beneran,," Sahut Karin lirih.
Jeje menepuk keningnya.
"Ya ampun, harusnya sejak awal aku tunjukin foto USG dan laporan itu. Aku lupa karna,,," Jeje tidak meneruskan ucapannya. Dia kesal dan cemburu dengan wanita tadi, sampai lupa memberikan bukti kehamilan Karin lebih awal.
"Tapi di sudah percaya sekarang. Aku bakal pastiin dia tanggung jawab Rin. Setelah ini kita ke rumah kamu ya,,"
"Tapi Je,, aku takut. Ibu sama bapak pasti akan marah dan kecewa padaku,," Lirih Karin.
"Nggak akan Rin, aku jamin mereka justru akan marah pada kak Reynald. Kalau perlu, aku suruh bapak kamu buat hajar kak Reynald lebih dulu,,"
Jeje terkekeh geli, dia terlihat puas membayangkan Reynald di pukul habis - habisan oleh orang tua Karin.
...***...
Diletakannya makanan itu di atas meja, Kenzo duduk di sebelah istrinya.
"Dimana Rey,,?"
"Lagi beli makanan buat Karin,," Jeje mengambil gelas cup, menyeruput jus jeruk itu dengan santai.
"Setelah ini anterin kak Reynald ke rumah Karin by. Dia harus menikahi Karin secepatnya,,"
"Makan dulu, nanti baru bahas lagi." Tegur Kenzo.
"Kenapa nggak makan siang dulu sebelum kesini,,"
Kenzo terlihat mencemaskan istrinya. Pasalnya sudah sesiang ini dia belum makan.
"Pulang dari kampus langsung ke rumah sakit by, terus ke sini. Jadi nggak sempet makan,,"
Jeje mengambil jus jeruk dan menyodorkannya pada Karin.
"Minum dulu Rin, kamu juga dari tadi belum minum,," Ujarnya.
Kenzo melongo, dia membeli dua jus jeruk untuk dirinya dan Jeje. Tapi istrinya itu memberikan jus jeruk miliknya pada Karin.
"Makasih Je,," Karin menerimanya, menyeruput jus jeruk itu hingga tinggal setengah. Antara haus dan ngiler melihat jus yang sangat segar itu.
Kenzo hendak mengambil jus milik Jeje, namun sang empunya langsung memberikan protes keras.
"Jangan diminum by, itu punyaku, nanti habis,,!"
Kenzo menghela nafas, diletakan kembali jus itu lalu beranjak dari duduknya. Kenzo mengambil air mineral yang ada di meja kerjanya.
Jeje tertawa dalam hati, dia belum puas juga menjahili suaminya. Rupanya rasa cemburunya belum juga pudar. Namun dia bisa menyembunyikannya di depan Kenzo, hingga suaminya itu tidak tau kalau sejak tadi sudah di kerjai oleh istrinya.
Sudah 30 menit berlalu, Reynald baru kembali keruangan Kenzo. Terlihat keringat yang membasahi pelipisnya. Dia terlihat sangat kelelahan, bahkan wajahnya terlihat lesu tak bergairah.
"Kamu itu kalau minta makanan yang normal - normal aja.! Aku kesulitan cari rujak buah disini.!" Geramnya pada Karin. Dia meletakan kasar makanan di atas meja.
"Maaf,,," Ucap Karin lirih.
"Ngapain minta maaf Rin. Yang kamu minta itu nggak seberapa, di banding dengan apa yang sudah kak Reynald ambil dari kamu.!" Ketus Jeje sembari melirik tajam pada Reynald.
Melihat Jeje yang mulai naik darah, Reynlad hanya bisa menelan kasar ludahnya.
Rupanya bos dan istrinya itu sangat cocok, sama - sama galak dan menyeramkan kalau sedang marah.
"Ah nyonya Kenzo bisa saja,," Ujar Reynald, dia tersenyum kesal pada Jeje. Jeje hanya mendengus.
Suasana nampak hening, hanya Karin yang sibuk menyantap makan siangnya.
"Secepatnya nikahin dia Rey.! Dan jangan berangkat ke kantor sebelum kamu bertanggung jawab.!" Tegas Kenzo.
Reynald menatap Jeje dengan tajam. Dia bisa menebak kalau itu atas perintah Jeje. Pasalnya Jeje sempat membisikan sesuatu pada Kenzo sebelum Kenzo berbicara padanya.
"Astaga Ken,, kamu pikir nikah itu nggak pake persiapan.?" Protesnya.
"Dalam kondisi seperti ini kamu masih mikirin persiapan.?! Kamu mau nunggu sampai anak kamu lahir.?" Tegas Kenzo. Reynald tidak bisa berkutik, dia langsung diam seketika.
"Setelah ini kita akan datang ke rumah Karin." Lanjutnya lagi. Reynald mengangguk pasrah.
Jeje terlihat senang, setidaknya Reynald mau tanggung jawab dan anak Karin akan memiliki orang tua yang utuh.
Berbeda dengan Karin yang masih terlihat ragu, dia sedang memikirkan matang - matang untuk membina rumah tangga dengan laki - laki kasar seperti Reynald. Namun saat ini Karin berusaha menipis pikirnya, dia sedang sibuk menatap rujak buah yang terlihat menggoda. Lalu mulai menyantapnya.
Reynald melirik Karin, entah kenapa rujak buah yang sedang di makan oleh Karin membuat liurnya menetes.
Sialnya dia tidak bisa menahan diri, direbutnya buah yang ada di tangan Karin dan di lahap langsung oleh Reynald.
Ketiga orang itu menatap Reynald bingung.
"Kenapa.? Aku cuma mau cobain,," Jelas Reynald.
"Enak juga ternyata,," Katanya. Kini Reynald mengambil sendiri rujak itu dan memakannya dengan lahap.
Ketiganya terlihat semakin bingung dengan dahi yang mengkerut.
"Haha,, kak Reynald ngidam juga,," Seru Jeje dengan tawa. Dia baru sadar akan hal ini.
"Apa.?!!" Reynald langsung berhenti makan. Dia mencerna baik - baik ucapan Jeje. Perasaannya saat ini bercampur aduk. Ada perasaan aneh yang menyelinap dalam hatinya karna tau dirinya ikut mengalami ngidam yang di rasakan oleh Karin.