My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 75. Akan berjuang



Kenzo Pov


Saat dulu aku kecewa karna Nadine mengkhianati ku, rasanya tidak sehancur dan sesakit saat Jeje memilih untuk tetap pergi dariku. Dia bukan hanya membawa hatiku, tapi juga membawa separuh jiwa dan ragaku. Hanya kehampaan yang aku rasakan saat ini. Kebahagiaanku seakan sirna dalam sekejap. Semua ini memang salahku, aku terlalu menggampangkan keadaan. Aku terlalu percaya kalau Jeje akan tetap berada di sampingku, menungguku sampai aku bisa menyelesaikan masalah ini.


Aku tidak menyangka dia akan berjalan melewati ku begitu saja. Sebenci itukah dia padaku.? Apa tidak ada lagi secuil rasa dihatinya untukku.?


Aku menahan tangannya, berdiri di depannya dan segera ku peluk wanita cantik yang beberapa bulan ini sudah mengisi relung hatiku. Selalu memberikan kebahagiaan dan semangat yang dulu sempat pudar.


"Bagaimana aku bisa menjalani hidup tanpamu. Lalu untuk apa aku berusaha mencari bukti agar bisa membatalkan pernikahan ku dan Nadine,njika pada akhirnya kamu akan tetap pergi."


"Hari ini aku membiarkan mu pergi, tapi jangan menahanku saat aku menjemputmu untuk kembali,,"


"Maaf sudah mengecewakanmu. Satu hal yang harus kamu tau, aku sangat mencintaimu."


Rasanya tidak ingin aku lepaskan dia dari dekapanku. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan sumber kebahagiaanku pergi dari sisiku.


Dia mendorong pelan dadaku, perlahan dekapanku terlepas. Kedua manik matanya terlihat sendu menatapku, ada luka mendalam dari sorot matanya.


Aku begitu tersayat, menyakitinya sama saja menyakiti diriku sendiri.


"Jangan mendramatisir keadaan. Lupakan aku saja, begitu juga aku yang akan melupakan om. Tidak perlu menjemput ku, karna hati ini tidak akan mampu untuk kembali,,"


"Permisi,,,"


Saat itu juga seluruh duniaku seakan digenggam dan dibawa pergi olehnya. Hanya kekosongan yang aku rasakan, juga ketakutan yang luar biasa dalam hatiku akan kehilangannya. Aku memang akan terus berjuang, tapi jika dia tidak lagi memiliki cinta untukku, apa mungkin dia akan tetap kembali.?


Aku sudah menggoreskan luka yang begitu dalam pada hatinya, hingga membuatnya tidak mampu kembali padaku.


Ku tatap kepergiannya dengan segenap hati yang terasa terus tersayat. Aku merasa tidak berdaya karna tak mampu mencegahnya untuk tetap tinggal. Entah bagaimana aku bisa menjalani hari tanpa keceriaan yang biasa dia tunjukan padaku.


Aku tersadar saat tante Rissa menepuk pelan pundak ku. Dia berdiri di sampingku.


"Biarkan Jeje pergi. Selama ini kami tidak pernah memberikan kebahagiaan untukku hanya karna kesalahan yang diperbuat oleh ibu kandungnya."


"Biarkan dia mencari kebahagiaannya."


Perlahan tante Rissa mulai melangkahkan kakinya.


"Aku sangat mencintainya, tante,,," Ucap ku tegas. Tante Rissa menghentikan langkah dan berbalik badan.


"Jangan mengatakan cinta pada seseorang, jika ada perempuan lain di sisimu. Kamu hanya memberikan harapan palsu yang pada akhirnya membuat dia terluka."


"Anak tante tidak pernah sehancur ini sebelumnya, jadi biarkan saja dia pergi, tidak perlu lagi menunggunya,,"


Ucapan tante Rissa berhasil membuatku kehabisan kata - kata. Aku menyadari akan hal itu, tidak menyangka aku akan melakukan kesalahan sebesar ini dengan menyakiti orang yang sangat aku cintai.


"Maafkan saya tante. Tapi saya akan tetap memperjuangkan cinta saya dan menunggu Jeje kembali,," Ucap ku tanpa keraguan, karna aku tidak akan pernah melepaskannya untuk orang lain.


"Kalau begitu selesaikan dulu masalah kamu, jangan libatkan Jeje dalam hubungan kalian berdua,"


Kini aku tidak lagi mencegah saat tante Rissa menjauh dari hadapanku.


Ucapnya sudah membuatku bisa bernafas lega, aku merasa memiliki sedikit harapan untuk bisa memperjuangkan cintaku. Aku rasa tante Rissa tidak keberatan jika aku dan Jeje tetap menjalin hubungan nantinya.


...***...


Dulu 2 minggu tanpanya tidak terasa begitu lama, karna aku masih bisa bertemu lagi dengannya. Tapi saat ini, 2 minggu berlalu seperti tanpa ada ujungnya. Terasa sangat lama dan berat menjalaninya. Karna aku tidak tau kapan aku bisa bertemu dengannya lagi.


Menyusulnya saat ini hanya akan memperburuk keadaan, karna sampai saat ini aku belum memutuskan hubungan dengan Nadine.


Entah sedang apa wanitaku disana. Aku sangat merindukannya, setiap hari rindu ini bahkan semakin bertambah. Aku begitu rindu dengan senyumnya, rindu dengan kecerewetannya yang membuat suasana hidup dan ramai.


Mungkin aku bisa membatalkan pernikahan ku dan Nadine, tapi aku sedikit ragu untuk mendapatkan cinta Jeje kembali.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan yang menyedihkan ini.


"Masuk,,!!" Seru ku.


"Heran gue sama lu,, mau kawin bukannya senang malah keliatan sengsara begitu. Muka elu kayak yang mengenaskan gitu,, nggak enak banget di liat,"


Ledek Reynald. Dia duduk di depanku, menyodorkan berkas di tangannya.


Kehadiran Reynald membuat moodku semakin kacau saja. Dia sudah tau seperti apa hubunganku dengan Nadine, tapi masih saja meledekku.


"Nggak usah banyak bacot. Inget kamu lagi di kantor.!" Ketus ku. Ku tarik berkas yang tadi dia sodorkan, aku mulai membuka lembar demi lembar untuk aku cek dan tanda tangani.


"Haha,, sorry bos.!"


"Tolong berkasnya di tanda tangani Bapak Kenzo yang terhormat,," Selorohnya. Segera ku lirik tajam laki - laki pemburu kepuasan itu.


"Semua kerjaan gue udah beres. Gue pulang duluan ya, ada urusan penting nih,,"


"Sejak kapan bercinta lu bilang urusan penting.!"


"Weesss,, lu tau aja. Bisa baca pikiran gue ya.? Haha,," Reynald tertawa geli. Aku hanya meliriknya malas.


"Ini nggak cuma sekedar bercinta bro, ada cewe virgin yang masuk perangkap. Kapan lagi bisa maen sama yang masih segelan,,"


Aku hanya diam mendengarkan Reynald bicara. Ucapannya membuatku teringat pada Jeje. Aku sangat menyesal sudah membuatnya kehilangan sesuatu yang berharga. Jika bukan karna ambisiku yang tidak ingin kehilangannya, pasti dia tidak akan terluka lebih dalam seperti ini.


"Gimana perkembangan Nadine dan Alex.? Apa orang suruhan kita sudah dapat bukti baru,,?"


Tanyaku.


"Ah gue sampai lupa.!"


"Mata - mata kita baru aja ngirim foto. Mereka berdua datang lagi ke rumah sakit yang sama."


Aku menghela nafas.


"Kenapa nggak ada perkembangan.! Bayar saja kepala rumah sakit itu,,! Berikan berapa saja yang dia mau, asal mau membocorkan privasi pasiennya.!"


"Lu pikir rumah sakit disana bisa semudah itu di suap.?!"


"Kalo pengen cepet, suruh aja si Nadine pulang kesini. Bawa dia ke rumah sakit. Gitu aja kok repot,,!"


Aku mendelik kesal padanya. Tapi ucapan Reynald ada benarnya juga. Dengan begitu aku bisa tau apa yang sedang Nadine sembunyikan dariku.


"Tapi gimana kalau dugaan kita salah.? Dan ternyata dia cuma sakit biasa,,"


"Ya itu sih derita lu. Berarti emang udah nasibnya lu harus nikah sama gitar spanyol bekas itu." Celetuknya.


Segera ku lempar bolpoin di wajahnya.


"Sialan.! Buruan pergi dari sini, bikin orang makin emosi,,!"


"Dasar sensi.!"


Reynald beranjak dan keluar dari ruangan ku.


Jika terus seperti ini, aku akan kesulitan untuk mendapatkan bukti. Sepertinya aku harus mengikuti saran dari Reynald. Dengan membawa Nadine ke rumah sakit, aku bisa membuktikan kecurigaan ku terhadapnya.


Aku merogoh ponsel di saku jas, saat ini juga aku harus menyuruh Nadine untuk pulang.


Aku mengirimkan pesan padanya. Tidak mungkin aku menelfonnya saat ini, disana masih pukul 5 pagi. Wanita itu pasti masih tidur.


Tapi rupanya dia langsung membaca pesan dariku, tak berselang lama dia menelfon.


"Hallo Ken,, apa kamu rindu padaku,,?"


Seru Nadine begitu sambungan telfon kami tersambung. Suara seksi yang buat manja itu membuatku semakin kesal saja padanya.


"Ya,, Kamu bisa pulang sekarang.? Datang ke apartemen ku kalau sudah sampai,,"


"Are you seriously.?"


"Ya. Pulanglah, sebelum aku berubah pikiran."


"Oke honey,, siang ini aku berangkat."


"Aku pasti akan memuaskanmu,,," Ucapnya dengan suara seraknya. Aku tersenyum sinis, wanita itu tetap saja tidak punya rasa malu setelah apa yang sudah dia lakukan padaku.


"Baiklah, aku tunggu." Segera ku matikan sambungan telfonnya.


Aku harap dugaanku benar, ini akan menjadi alasan kuat untuk membatalkan pernikahan kami.


Om Bastian pasti tidak akan mengusik perusahaan papa karna anaknya sendiri yang sudah melakukan kesalahan.


Aku membuka galery foto. Ku tatap lekat wajah cantik nanti menggemaskan itu. Aku mengambil foto ini saat Jeje sedang menonton kartun favoritnya dengan serius. Tidak menyangka wanita yang sering aku sebut bayi ini, ternyata bisa mengambil keputusan yang mampu membuatku tidak bisa menjalani hari dengan tenang.


Dia tidak selemah yang aku pikirkan.


...****...


Buru om batalin pernikahannya, nanti keburu Jeje di ambil orang ✌


Makasih untuk votenya yang luar biasa 🥰. Semoga kedepannya tetep kenceng votenya 😁