My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 36. Ingin memiliki



Hari ini aku mengantar kak Nicho ke bandara. Aku tau dia menyimpan luka yang besar dalam hatinya. Tapi sepertinya dia enggan menunjukannya lagi padaku. Penjelasan ku waktu itu, berhasil membuat kak Nicho tidak mampu berkata - kata. Meskipun dia tidak memberikan tanggapan apapun saat aku menceritakan tentang kak Fely padanya, namun terlihat jelas kalau kak Nicho menahan amarah dan sakit hatinya.


Mungkinkah kak Nicho benar - benar akan kehilangan cinta pertamanya.?


Wanita yang pertama kali hadir dalam hatinya, yang dulu memberikan warna, canda dan tawa untuknya.


Aku bisa merasakan seperih apa hati kak Nicho saat ini. Aku pun pasti akan hancur jika suatu saat kehilangan orang yang aku cintai.


Meski aku sendiri belum pernah merasakannya. Namun mencintai seseorang dalam hidup, layaknya membagi separuh hati dan jiwa untuknya. Bisa dibayangkan bagaimana kita kehilangan separuh hati dan jiwa. Hancur pastinya.!


Aku terus bersender pada pundak kak Nicho, lengan besarnya aku dekap erat. Aku sangat sedih harus melepaskan kak Nicho kembali ke New York dalam keadaan hati yang sedang rapuh. Bagaimana jika nanti kak Nicho sakit disana.? Siapa yang akan memperhatikannya nanti.


"Satu bulan lagi aku wisuda kak,, kakak pulang kan.?" Aku mendongak menatap kak Nicho. Namun sepertinya kak Nicho tidak mendengar ucapanku. Dia sedang melamun. Pandangan matanya lurus kedepan dan terlihat kosong. Pasti dia sedang memikirkan kak Fely.


Kenapa tragis sekali nasib kakak ku yang tampan ini. Laki - laki sebaik dirinya harusnya terluka karna cinta.


"Kak.! Lupakan saja kak Fely.! Masih banyak wanita diluar sana yang memperebutkan kakak. Jangan siksa diri sendiri hanya karna satu wanita,,"


Aku mulai kesal. Aku sudah tidak tahan lagi melihat kesedihan dimata kak Nicho. Tidak sepantasnya laki - laki sebaik kak Nicho ditinggalkan begitu saja tanpa alasan yang logis.


Kak Nicho terlihat kaget, mungkin dia heran melihatku bicara dengan nada yang meninggi.


"Kakak baik - baik aja Je, nggak usah khawatir. Kamu harus kuliah yang bener ya nanti. Ingat pesan kakak, jangan pacaran dulu,,"


Kak Nicho masih saja mengelak, dia bahkan mengalihkan pembicaraanku.


"Iya, kakak tenang aja. Kakak harus dateng di wisudaku satu bulan lagi,,"


"Tentu. Mana mungkin kakak nggak dateng di hari bersejarah kamu,,"


Kak Nicho mengacak gemas rambutku.


Aku jadi teringat pada om Kenzo. Dia juga sangat suka mengacak - acak atau mengusap rambutku.


Lama sekali rasanya menunggu dia kembali.


...***...


Dua minggu setelah kepergian om Kenzo ke Paris.


Aku yang memang sudah tidak berangkat sekolah lagi, hanya berdiam diri saja di rumah. Sebenarnya hari ini aku ada janji untuk hangout bersama kedua sahabat girangku yang makin kesini semakin menjadi. Namun aku harus membatalkan janji karna om Kenzo akan menjemput ku sore nanti.


Padahal aku bisa saja hangout bareng Natasha dan Celina, Karna kami akan pergi jam 11 siang.


Tapi saat aku bilang akan pergi dengan mereka, om Kenzo melarang ku. Dia mengancam ku, tidak akan menemuiku jika aku tetap pergi bersama mereka.


Aku menurut padanya begitu saja. Entah kenapa aku selalu mematuhi apa yang diperintahkan om Kenzo padaku.


Saat ini om Kenzo sedang ada di kantornya, dia sempat mengabariku saat jam makan siang tadi.


Dia benar - benar pebisnis muda yang sibuk. Baru saja kemarin pulang dari Paris, tapi sudah berangkat lagi ke kantor.


Tapi sesibuk - sibuknya om Kenzo, dia masih bisa menghabiskan waktu denganku.


Tunggu,,? Lalu bagaimana dengan wanitanya.? Kapan om Kenzo menghabiskan waktu dengan sang pemilik cincin yang melingkar di jarinya.?


Mungkinkah hubungan mereka sudah bermasalah sejak om Kenzo memutuskan untuk mencari sugar baby.?


Entahlah, aku pusing memikirkannya. Wanitanya yang manapun aku tidak tau.


Aku terlalu bersemangat karna akan bertemu dengan om Kenzo. Aku bahkan sampai memoles wajahku dengan make up lengkap namun tetap natural.


Om Kenzo menghadirkan kebahagiaan tersendiri untukku. Namun aku tetap harus sadar diri, bahwa kebahagiaan ini akan segera berlalu cepat atau lambat. Karna bisa saja om Kenzo memutuskan kontrak sebelum waktunya tiba.


Aku akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin selama bersama om Kenzo. Belum tentu aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang serupa setelah hubungan kerja sama kami berakhir.


Senyumku terbit bersamaan dengan datangnya mobil om Kenzo. Aku langsung mendekat, saat itu juga om Kenzo membukakan pintu dari dalam.


"Hai om,,," Seperti biasa om Kenzo hanya tersenyum saat aku menyapanya.


Aku masuk dan segera menutup pintu.


"Kamu sehat.?" Tanpa menatapku, om Kenzo bertanya sembari melajukan mobilnya.


Ini yang aku suka dari om Kenzo. Dia terlampau perhatian dengan menanyakan hal - hal kecil yang jarang ditanya oleh kedua orang tuaku.


"Sangat sehat,,," Jawabku penuh semangat.


Rasanya tidak rela jika hubungan ini berakhir. Namun aku harus tetap merelakannya.


"Akun harus memprioritaskan tanggung jawab. Memang seperti ini pekerjaanku."


Om Kenzo melirikku.


"Kenapa tanya - tanya.? Kamu mau pijitin.?"


Godanya dengan seulas senyum.


Sepertinya pipiku langsung merona. Rasanya malu - malu tapi mau.


Aku langsung mengalihkan pandangan, enggan menatapnya lagi.


"Aku nggak bisa mijit om,,"


"Terus bisanya apa.?" Om Kenzo menyahutinya dengan cepat. Namun dari nada bicaranya, dia seolah sedang menggodaku. Aku masih diam, sedikit malu untuk berbicara.


"Jangan bilang kamu bisanya cuma mikirin hal - hal mesum,," Celetuknya. Aku langsung menengok mendelik menatapnya.


"Iihh,,, apaan sih om.! Siapa juga yang mikirin hal mesum,," Protes ku kesal.


"Lagian kan om sendiri yang udah ngajarin aku hal - hal mesum. Itu artinya om sendiri yang justru punya pikiran mesum. Jangan putar balikan fakta ya om,,"


Om Kenzo hanya terkekeh mendengarkan ocehanku.


"Dasar burung beo,,," Cibirnya. Dia masih saja mengulum senyum.


Seperti biasa, om Kenzo membawaku ke apartemennya. Aku terus membuntutinya dari belakang. Dia berhenti tepat di depan pintu kamarnya.


"Mau mandi dulu, kamu mau ikut.?" Ledeknya.


Aku menyengir kuda sembari menggelengkan kepala.


"Mau ikut masuk ke kamar, boleh kan om.? Aku nunggu di balkon ya,,," Pintaku.


Om Kenzo tidak menjawab, namun dia langsung membuka pintu kamarnya. Itu artinya dia membolehkanku untuk masuk kedalam kamarnya.


"Mau kemana kamu,,"


Baru saja akan berjalan menuju pintu balkon, om Kenzo sudah menahan tanganku.


"Ke balkon lah om, emangnya kemana lagi."


"Om,,,!!" Teriakku saat tiba - tiba tubuhku melayang karna om Kenzo mengangkat ku. Kebiasaan sekali dia, selalu membuatku kaget.


Aku menahan senyum dalam gendongannya. Harum parfum maskulin milik om Kenzo membuatku semakin nyaman di dekatnya.


Om Kenzo mendudukanku disisi ranjang. Seketika itu jantungku berpacu dengan cepat. Aku sudah bisa menebak apa yang akan om Kenzo lakukan padaku.


Dia ikut duduk disebelahku, aku terus diam, membiarkan om Kenzo untuk memulainya.


Satu telapak tangan om Kenzo diletakan pada pipiku. Rasa hangat dari tangannya, menghantarkan gelayar hebat pada hatiku. Terlebih kini om Kenzo mengusapnya perlahan, juga tatapan matanya padaku yang selalu dalam.


Nyatanya aku tidak bisa menahan diri. Pada akhirnya kami sama - sama memulai. Pagutan bibir yang lembut, membuatku hanyut. Aku mengalungkan tangan pada leher om Kenzo. Semakin menariknya untuk mendekat.


Seperti yang sudah pernah aku bilang, ciuman om Kenzo berbeda. Aku bisa merasakan hal itu. Jika dulu om Kenzo sangat bernafsu, kini dia seakan menyingkirkan hal itu.


Om Kenzo mengakhiri ciuman kami, namun dia membawaku kedalam dekapannya. Satu tangannya mengusap lembut kepalaku.


"Aku mandi dulu,," Om Kenzo berdiri, dia mengusap pucuk kepalaku sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. Aku terus menatap kepergiannya.


"Jika aku boleh meminta, aku ingin memilikinya."


...*****...


Othor lagi khilaf nih🤣


Pastikan sudah like setelah membaca🥰


1 Like sangat berarti buat othor. Jadi makin semangat ngetiknya kalau banyak yang like, apa lagi kalo banyak yang komen😁.


Like dan Komen sangat membantu untuk menaikan popularitas novel ini. So,,, jangan sungkan - sungkan like dan komen yah🥰


Love u all.