
Kondisi Jeje sudah membaik, dia tidak lagi merasakan kram di bagian perutnya yang terasa sangat nyeri hingga membuatnya sampai harus di larikan ke rumah sakit.
Sepasang pengantin baru itu masih beruntung karena Jeje di tangani tepat waktu. Calon anak mereka masih bisa bertahan dalam rahim Jeje dengan keadaan baik.
Memiliki suami seperti Kenzo yang sigap dan selalu ada untuk istrinya adalah salah 1 impian terbesar setiap wanita.
"Tidur,, sudah malam,,," Tegur Kenzo lirih. Sejak tadi dia mengusap - usap pucuk kepala Jeje, berharap wanita cantik itu akan segera tertidur. Namun yang ada Jeje justru terus menatap Kenzo. Suaminya itu tidak pernah beranjak dari sisinya sejak siang tadi.
Bahkan Kenzo ikut masuk ke dalam kamar mandi saat Jeje akan buang air kecil.
Wajar saja jika Kenzo sangat menjaga Jeje, dia tentu saja tidak ingin terjadi hal - hal yang bisa membahayakan istri dan calon anaknya lagi.
Mendapati Jeje pingsan dan kandungannya lemah saja sudah membuatnya panik dan takut setengah mati. Laki - laki itu bahkan berjanji pada dirinya sendiri akan menghancurkan Mirna jika terjadi sesuatu pada Jeje dan calon anaknya.
"Hubby naik saja di sini,,," Jeje menepuk bangsalnya, meminta Kenzo untuk tidur di sampingnya.
"Aku nggak bisa tidur kalau nggak peluk hubby,,," Ujarnya sedikit merengek.
Dalam suasana hati yang belum sepenuhnya membaik setelah bertemu dan berdebat dengan ibu kandungnya, memeluk Kenzo adalah salah satu cara untuk membuatnya tenang dan memperbaiki suasana hatinya yang sempat memburuk.
Kenzo mengembangkan senyum lembut.
"Sempit Je, yang ada kamu nggak nyaman." Kenzo menolaknya secara halus. Dia hanya ingin Jeje bisa beristirahat dengan baik dan nyaman. Bangsalnya terlalu kecil jika harus ditempati oleh 2 orang sekaligus, terlebih Kenzo memiliki postur tubuh yang lumayan besar. Jeje pasti akan merasa sesak jika harus tidur berdua seperti itu.
"Jangan khawatir, aku nggak akan kemana - mana." Ujarnya lagi. Kenzo terus memberikan tatapan teduh pada Jeje.
"Peluk tanganku saja kalau mau,," Kenzo menjulurkan tangannya. Meski Jeje terlihat kecewa karna Kenzo tidak mau tidur di bangsalnya, tapi pada akhirnya Jeje memilih mengikuti permintaan Kenzo. Dia langsung menarik tangan Kenzo ke dalam dekapannya dan memeluknya erat. Perlahan Jeje mulai memejamkan matanya meski tidak tertidur.
"Apa aku sudah keterlaluan padanya.?" Gumam Jeje lirih, matanya masih terpejam rapat. Kenzo langsung paham maksud ucapan Jeje. Tentu saja dia sedang membahas sikapnya terhadap Mirna siang tadi.
"Bagaimana menurut kamu.?" Kenzo justru balik bertanya, dia meminta pendapat Jeje tentang hal itu.
Jeje menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Sepertinya pertemuan dan perdebatan yang terjadi siang tadi cukup mengganggu psikisnya, Beban yang di rasakan Jeje terasa amat berat jika dilihat dari kondisi Jeje yang jadi banyak melamun.
"Aku jahat, aku memperlakukannya dengan buruk. Aku anak yang tidak tau terima kasih." Jeje menjawabnya dengan cepat tanpa ragu.
"Aku akan menjadi seorang ibu, aku jadi membayangkan jika nanti aku diperlakukan seperti itu oleh anakku sendiri. Rasanya sangat sakit,," Jeje meletakan telapak tangannya di atas dada. Dia merasakan sakit karna membayangkan hal itu.
Ternyata sangat sulit dan berat berada di posisi Mirna yang harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari anak kandungnya sendiri.
Bahkan Jeje merasa tidak sanggup jika itu terjadi padanya. Membayangkan anaknya tidak mau bertemu dan berharap tidak lagi bertemu dengannya, serasa mengiris hati.
"Kamu akan jadi seorang ibu, apa kamu akan tega jika harus meninggalkan anak kamu dalam waktu yang cukup lama selama bertahun - tahun tanpa pernah menemuinya.?" Tanya Kenzo tegas. Jeje langsung membuka matanya, dia menggeleng cepat.
"Apa hubby gila.? Mana mungkin aku tega meninggalkan darah dagingku sendiri." Jeje langsung mengusap perutnya. Dia tidak ingin hal itu terjadi, apapun alasannya.
"Calon anak kita bahkan belum berbentuk, tapi hatiku sangat sakit dan hancur saat tau kandunganku lemah."
"Bagaimana mungkin aku sanggup jauhnya."
Mata Jeje langsung berkaca - kaca. Meski baru pertama kali hamil dan belum merasakan seperti apa rasanya punya anak, namun bagi Jeje anak adalah segalanya. Dia bahkan jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini.
"Jadi siapa yang jahat dan buruk.? Dia atau kamu.?" Pertanyaan Kenzo langsung menancap di hati dan pikiran Jeje. Jeje langsung terdiam, ternyata selama ini dia memang tidak salah menganggap jika ibu kandungnya tidak punya hati dan tidak peduli padanya.
"Kamu seorang anak sekaligus calon ibu yang luar biasa, apa yang kamu lakukan padanya pasti dilakukan juga oleh anak - anak lain yang mengalami hal serupa seperti kamu."
"Perbuatannya memang jauh dari kata nalar, bahkan tidak pantas untuk di sebut sebagai seorang ibu. Kamu tidak perlu merasa bersalah dan merasa buruk. Kamu sudah melakukan yang terbaik,,"
Kenzo tidak punya niatan untuk membuat Jeje tetap membenci ibu kandungnya, hanya saja dia ingin menyadarkan Jeje jika apa yang dia lakukan pada ibu kandungnya bukan suatu kesalahan. Bahkan tidak jahat dan buruk seperti yang Jeje katakan tadi.
Karna bukan hal yang mudah berada di posisi Jeje. Dia dilahirkan hanya untuk tujuan tertentu oleh Mirna, dijadikan sebagai umpan untuk merusak rumah tangga sahabatnya sendiri agar bisa memiliki semua kemewahan yang dimiliki oleh Rissa.
"Aku ingin menemuinya by, aku ingin dia menjelaskan sendiri kenapa tega meninggalkanku dan lebih memilih perusahaan milik papa."
Entah alasan apa yang akan diberikan oleh Mirna jika Jeje meminta penjelasan padanya. Meski Jeje sudah tau kebenarannya, dia tetap ingin mendengarkan penjelasan dari Mirna.
"Kamu sudah tau semuanya, apa lagi yang ingin kamu dengar darinya.?"
"Kejujurannya by. Aku hanya ingin dia berkata jujur, bukan malah menyudutkan mama Rissa yang jelas - jelas sudah dia sakiti." Jeje terlihat meradang. Dia menahan amarahnya saat Mirna menjelekan mama Rissa.
"Aku temani kamu nanti."
"Sebaiknya kamu tidur sekarang, sudah malam. Ibu hamil nggak boleh tidur terlalu malam." Kenzo melirik arlojinya yang sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Tapi hubby jangan kemana - mana, aku takut sendirian,," Jeje semakin erta memeluk tangan Kenzo. Dia menempelkan wajahnya di lengan besar Kenzo.
"Hemm,, cepat tidur." Kenzo mengusap mata Jeje agar dia memejamkan matanya.
...****...
Karin membuka matanya, semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan cemas karna memikirkan masa lalu Reynald yang rumit, melainkan bingung dan merasa aneh atas perubahan sikap Reynald yang drastis. Sikapnya berubah 180 derajat dari biasanya.
Harusnya Karin senang karna Reynald sudah berubah, tidak lagi cuek dan ketus seperti biasanya. Namun perubahan sikap Reynald tentu saja mengganjal pikirannya, pasalnya dia berubah setelah mereka datang ke rumah sakit untuk menemui Alisha.
Entah apa yang sudah membuat Reynald berubah. Namun Karin berharap Reynald akan selalu bersikap lembut padanya seperti tadi malam.
Karin melirik jam dinding, baru pukul 5 pagi tapi matanya sudah membuka sempurna. Padahal tadi malam dia selalu terbangun, dan hanya bisa diam sambil menatap wajah Reynald yang terlelap sambil terus memeluknya.
Karin memutuskan pergi ke balkon kamar untuk menghirup udara segar. Mungkin saja setelah menghirup udara segara pikirannya akan jauh lebih tenang dan tidak lagi pusing memikirkan perubahan sikap Reynald.
Perlahan Karin menyingkirkan tangan Reynald dari perutnya. Laki - laki itu terus saja memeluknya sepanjang malam.
"Mau kemana kamu.?" Suara besar Reynald membuat Karin mengurungkan niatnya untuk beranjak dari ranjang. Dia juga tidak akan bisa turun dari ranjang karna pelukan Reynald semakin erat.
"A,,,aku mau ke balkon." Sahut ya gugup. Nyatanya Karin masih saja merasa gugup jika berinteraksi terlalu dekat dengan Reynald.
Reynald langsung membuka matanya. Dia menatap lekat wajah cantik Karin yang polos tanpa make up. Perlahan sudut bibirnya terangkat, Reynald tersenyum tipis penuh arti.
"Masih pagi, tidur lagi saja." Ujar Reynald setelah melihat jam.
"Memangnya mau apa ke balkon.? Jangan coba - coba untuk loncat dari sana,," Tambahnya lagi.
Mata Karin membulat sempurna. Pemikiran gila macam apa itu. Meski harus menghadapi cobaan terberat sekalipun, dia tidak akan pernah berfikir untuk mengakhiri hidupnya.
"Aku nggak segila itu." Sahut Karin cepat.
"Mau menghirup udara segar, mumpung masih gelap."
Reynald mengulum senyum licik, disertai dengan seringai mesum yang terlihat menggoda.
"Ok, tapi sebelum menghirup udara segar, buat aku jadi segar lebih dulu,," Ucapan Reynald terdengar menggelitik dan penuh arti, namun Karin justru terlihat bengong mendengarnya.
"Maksudnya.?" Tanya Karin polos, dia sama sekali tidak paham maksud Reynald.
"Kau ingin minum susu." Sahut Reynald cepat.
Karin menganggukkan kepalanya dua kali.
"Oh,,, aku kira apaan." Dia terlihat cuek karna belum tau maksud Reynald.
"Lepasin dulu, aku mau ke dapur bikin susu. Mau yang coklat atau putih.?" Tanya Karin serius.
Reynald mengulum senyum, merasa lucu dengan ekspresi wajah Karin yang tidak tau tujuannya.
Bahkan Karin tidak menyadari jika saat ini Reynald terus menatap kedua bukit kembarnya yang terlihat menyembul.
"Susu putih yang pink di ujung." Jawab Reynald santai. Karin mengerutkan keningnya, dia kembali di buat bingung oleh Reynald.
"Susu putih yang pink di ujung.? Maksudnya,,,?" Karin mengulangi ucapan Reynald sembari berfikir keras, dia juga menatap mata Reynald. Dan saat itu dia baru sadar kalau Reynald sedang menatap kedua asetnya.
"Ya ampun,,,!" Pekik Karin sembari menutupi kedua bukitnya.
"Jadi maksud kak Rey ini.? Nggak mau.!" Tolak Karin.
"Nggak ada penolakan.! Cepet buka,,," Reynald menyingkirkan kedua tangan Karin, kemudian tangannya langsung menyusup kedalam baju Karin.
"Jangan kak.! Geli ih.!" Karin memberontak.
Reynald hanya terkekeh mendengarnya, dia tetap melancarkan aksinya dengan menyingkap paksa baju Karin.
Pagi itu mereka lewati dengan kegiatan panas yang lembut namun penuh kenikmatan.
...****...