
Jeje langsung mendorong dada bidang Kenzo begitu melihat Shela. Dia tersenyum kikuk membalas tatapan tajam dari Shela. Tatapan tajam yang seolah sedang menangkap basah sepasang kekasih yang berbuat mesum di tempat umum.
Jeje mencubit pelan pinggang Kenzo, suaminya itu tidak sabaran menagih imbalan sampai terus menempel padanya sejak keluar dari ruangan. Mendesaknya untuk meminta imbalan pertama. Apa lagi kalau bukan mencium bibir Jeje.
"Astaga.!! Sejak kapan kamu jadi gila seperti ini ken.?!" Seru Shela sembari berkacak pinggang. Ini pertama kalinya Shela melihat Kenzo terlihat sangat bernafsu di samping perempuan. Memang wajar karna Jeje adalah istrinya, Tapi dulu Kenzo tidak pernah tertarik sedikitpun dengan wanita - wanita cantik yang tergila - gila padanya. Apa lagi sampai bernafsu pada mereka.
"Aku bilang juga apa by, pasti akan ada yang melihatnya. Ini tempat umum,," Bisik Jeje sedikit kesal. Untung saja hanya Shela yang memergoki mereka, dia pasti tidak kan berfikir macam - macam karena sudah tau hubungan keduanya.
"Santai saja,," Sahut Kenzo acuh. Jeje langsung menghela nafas kesal.
"Kau itu mengganggu saja.!" Desah Kenzo ketus.
"What.?!!" Shela semakin melotot tajam. Temannya itu benar - benar sudah gila.
"Kau pikir ini tempat mesum.?! Sebaiknya pergi dan lanjut saja di rumah,,!" Usirnya terang - terangan.
"Bawa pulang juga teman kalian. Istrimu itu benar - benar menyusahkan.!"
"Bisa - bisanya menyeretku dalam sandiwara gila ini." Shela tersenyum sinis, namun juga merasa lucu dengan dua pasang suami istri itu. Mereka pasangan yang sangat aneh, pikirnya.
"Kak Shela jangan marah - marah seperti itu. Aku akan mengirimkan tas edisi terbaru untuk kak Shela yang baik hati,,," Ujar Jeje sembari beranjak dari duduknya, dia memasang wajah menggemaskan pada Shela. Dokter itu hanya menggeleng heran.
"Ok.! Kirim tasnya secepatnya dan pergi juga secepatnya dari ini. Aku pusing menghadapi kalian." Keluhnya sembari berlalu dari sana.
"Hubby,,," Panggil Jeje manja.
"Jangan lupa kirimkan tas ke rumah kak Shela,," Ujarnya enteng. Kenzo terperangah mendengarnya. Dia merasa sudah di kelabuhi oleh istrinya. Kalau seperti itu caranya, sama saja dia tidak mendapat imbalan, tapi menukar tas dengan imbalan yang dijanjikan oleh Jeje.
"Kau.! Berani sekali mengelabuhiku.?!" Seru Kenzo ketus. Jeje langsung menyengir kuda sembari menunjukan 2 jarinya pada Kenzo sebagai isyarat untuk berdamai.
"Kamu harus mengganti imbalannya 3 kali lipat.!" Tegas Kenzo. Kini Jeje yang di buat terperangah. Dia akan kuwalahan jika harus memberikan imbalan 3 kali lipat pada Kenzo.
Perdebatan di antara mereka kembali terjadi, Jeje sedang berusaha untuk bernegosiasi pada Kenzo agar mengurangi imbalan yang harus dia berikan. Namun Kenzo bersikeras menolaknya dan tetap meminta imbalan 3 kali lipat.
"Kamu bisa mencicilnya, tidak harus dalam 1 hari. Lagi pula aku tau kamu tidak boleh terlalu sering melakukannya." Jelas Kenzo.
Jeje mendesah pelan, 1 kali imbalan saja sudah membutuhkan tenaga ekstra. Imbalan dalam artian Jeje yang harus lebih aktif, tentu saja sangat berbeda dengan kegiatan yang biasa mereka lakukan.
"Tapi by,,,,
"Setuju atau aku bongkar di depan Reynald.?" Ancaman Kenzo membuat Jeje kalang kabut, terlebih berasaam dengan itu Reynald dan Karin keluar dari ruang pemeriksaan.
"Ok setuju.!" Jawab Jeje cepat. Dia langsung menghampiri Karin agar Kenzo bisa melihat kedatangan Reynald.
"Ya ampun Karin, gimana keadaan kamu sekarang.?" Tanya Jeje sembari menggenggam tangan Karin dan menatapnya intens. Keduanya saling pandang dengan isyarat yang hanya di ketahui oleh mereka.
"Sudah lebih baik,, jangan khawatir aku tidak papa. Mungkin hanya kelelahan."
"Maaf sudah merepotkan kamu,," Ucapan Karin terdengar meyakinkan. Jeje hampir saja tertawa, rupanya akting Karin sangat menjiwai. Terlihat totalitas dari pertama kali dia berpura - pura pingsan.
"Ayo pulang.!" Seru Kenzo dan Reynald bersamaan. Mereka jadi saling pandang.
"Antar aku dulu ke apartemen.!" Tegas Kenzo.
"Kau itu banyak uang, pulang saja pakai taksi.!" Tolak Reynald cepat.
"Sudah by, kita pulang sendiri saja. Karin harus langsung istirahat, kasian kalau kelamaan di jalan."
Ujar Jeje menengahi, selain tidak mau mendengar perdebatan mereka, dia juga berniat untuk mengunjungi Nicho.
"Karin, aku pulang dulu. Cepat sehat dan jangan banyak pikiran."
"Buat kak Reynald, tolong lembut sedikit sama Karin. Dia itu bukan orang lain, jangan membuatnya merasa asing,,,"
Jeje melambaikan tangan pada Karin sembari menghampiri Kenzo.
"Bye,, sampai ketemu lagi." Serunya. Karin. tersenyum dengan anggukan kepala.
"Kita makan dulu, sudah waktunya makan siang." Ujar Reynald sembari melihat arloji di tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi merangkul mesra pinggang Karin.
"Mau makan dimana.?" Seperti biasa suara Reynald sangat datar, namun tatapan matanya terlihat lembut.
"Di rumah saja, aku ingin istirahat,," Jawabnya lirih. Dia tidak berani menatap Reynald, jantungnya sudah bergemuruh hanya dengan berdiri disamping Reynald dan di rangkul mesra olehnya. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Reynald, juga membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Laki - laki itu memiliki pesona yang mampu membuatnya luluh begitu saja setiap kali berada di dekatnya.
Reynald dan Karin sudah berada di dalam mobil. Keduanya sama - sama tidak bersuara hingga suasana di dalam mobil cukup hening dan dingin.
Baik Reynald dan Karin, keduanya memangtl terlihat sulit untuk mencairkan suasana. Masih ada kecanggungan di antara mereka, terutama Karin. Sikap Reynald selalu membuatnya segan untuk memulai obrolan.
Reynald memarkirkan mobilnya di depan restoran. Dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Karin.
"Ayo. Tunggu di dalam saja biar nggak panas." Ujarnya sembari mengulurkan tangan pada Karin. Karin menyambut ukuran tangan Reynald dan turun dari mobil.
"Nggak usah di bawa pulang kak, makan disini aja." Pinta Karin. Sudah datang ke restoran dan masuk ke dalam, rasanya tanggung kalau hanya memesan makanan dan membawanya pulang.
"Terserah kamu saja." Reynald terlihat pasrah menuruti keinginan Karin. Dia terus saja melangkahkan kakinya tanpa melepaskan gandengan tangannya pada Karin.
Keduanya masuk kedalam, menempati meja dan memesan makanan pada pelayan.
Reynald merogoh ponsel dan langsung terlihat serius menatap layar ponsel. Disaat weekend, dia masih saja disibukkan dengan tugas yang diberikan oleh Kenzo. Dia harus terus memantau perusahaan Mirna yang sebentar lagi akan di ambil alih oleh Kenzo.
"Rey.!" Kedatangan wanita seksi yang menyapa Reynald dengan akrab, membuat Karin tertegun.
Wanita itu dengan santainya ikut duduk di samping Reynald dan terlihat mengabaikan Karin yang ada di depannya.
Reynald mematikan ponsel, melirik tajam wanita yang barus saja duduk disebelahnya dan meletakan tangan di bahunya.
Reynald mengibaskan kasar tangan wanita itu, entah siapa namanya. Tapi yang jelas Reynald sangat mengenali wajah wanita yang dulu sering tidur bersamanya. Terlalu banyak wanita dalam hidupnya, dia sampai tidak bisa mengingat nama perempuan itu.
"Siapa yang menyuruhmu duduk disini.?!" Tanya Reynald ketus dengan sorot mata tak suka.
"Come on baby.!"
"Kamu tidak pernah menghubungiku lagi sekarang."
Ucapnya dengan suara manja dan terdengar menggoda. Menyadari ada wanita di depannya yang hanya diam saja, dia langsung menatap Karin dengan sorot mata tajam.
"Kamu beralih ke gadis belia ini Rey.? Bagaimana dia bisa memuaskanmu,,," Dia tersenyum meremeh. Tak habis pikir dengan selera Reynald yang berubah. Biasanya laki - laki itu akan mencari wanita - wanita yang sudah dewasa dan berpengalaman.
"Tutup mulutmu.!" Bentak Reynald hingga wanita itu tersentak.
"Pergi atau kau akan tau akibatnya.!" Ancamnya. Reynald mencengkram kuat lengan wanita itu hingga terlihat memerah.
"Sakit Rey.!" Ketusnya. Dia menarik tangannya dari cengkraman Reynald.
"Ok aku pergi.!" Dia mendengus kesal dan berlalu dari sana.
Karin masih membeku sejak kedatangan wanita tadi, dia hanya diam dan menyimak obrolan yang terjadi di antara Reynald dan wanita itu.
"Jangan hiraukan wanita itu,,," Ujar Reynald. Dia terlihat mengkhawatirkan Karin yang sejak tadi hanya diam menatapnya.
"Dia pacar kakak.?" Tanya Karin ragu.
Reynald mengerutkan keningnya.
"Kamu ingin aku punya pacar.?" Reynald justru balik bertanya. Karin reflek menggelengkan kepalanya dengan menunjukan ekspresi wajah yang sangat lucu menurut Reynald. Dia bahkan sampai menahan tawa melihatnya.
"Jangan memikirkan hal yang tidak penting. Aku tidak akan memainkan pernikahan.!" Tegas Reynald.
"Dan berhenti berfikir jika aku tidak peduli padamu."
"Jika aku tidak peduli, akan hanya akan mengambil anakku tanpa perlu menikahimu.!"
Karin langsung menundukan pandangannya. Dia semakin yakin kalau Reynald memang menginginkannya dan memiliki perasaan padanya. Namun dia sangat berharap Reynald bisa lebih menghargainya.