
Bang Nicho yang hareudang mau lewat.
Fely menatap wajah tampan Nicho yang masih damai dalam tidurnya. Laki - laki keras dan pemaksa itu yang selama 5 tahun terakhir mengisi relung hatinya.
Nicho tidak pernah berbuat sejauh ini sebelumnya, gaya pacarnya dulu terbilang masih dalam batas aman karena hanya melakukan kissing saja.
Namun setelah 1 tahun mereka terpisah, Nicho semakin menjadi - jadi. Dia lebih berani untuk menyentuhnya. Bahkan setiap datang ke apartemen, Nicho selalu memaksa Fely untuk tidur satu ranjang meski tidak melakukan hubungan diluar batas.
Nicho seakan takut kehilangan Fely untuk kedua kalinya. Dia melakukan cara itu agar Fely tidak mudah lepas darinya, agar hanya ada dia yang bersarang di hati dan pikiran wanita cantik itu.
1 tahun bukan waktu yang sebentar bagi Nicho merasakan hatinya tersiksa karena rindu pada Fely.
Sudut bibir Fely terangkat, membentuk gurat kekaguman pada sosok laki - laki tampan yang tidur sambil memeluknya.
Fely adalah salah satu wanita dari ribuan wanita di luar sana yang paling beruntung karena dicintai oleh laki - laki yang hampir sempurna dalam segala hal.
Meski Nicho terlahir dari keluarga terpandang dan berpengaruh dalam dunia bisnis, tapi Nicho mau menjalani hubungan serius dengan wanita sederhana sepertinya. Dengan perbedaan status yang sangat jauh. Bagaikan bumi dan langit.
Tidak heran kalau papa Alex meminta Fely untuk meninggal Nicho kala itu. Bahkan secara gamblang menyadarkan Fely siapa dirinya dan siapa Nicho.
Hinaan yang keluar dari mulut papa Alex memang sangat menggores hatinya, meski memang yang dikatakan adalah kebenaran. Bahkan kata - kata kejam itu masih terngiang - ngiang di benakna.
Kata - kata hinaan yang pada akhirnya membuat kondisi mama Grace menurun. Beruntung beberapa hari setelah itu, Kenzo menemukan keberadaan mereka.
"Aku bahkan tidak pantas hanya sekedar berkhayal untuk menikah denganmu."
"Aku hanya wanita rendahan yang bermimpi menjadi seorang putri. Om Alex memang benar,," Gumam Fely lirih. Suaranya begitu tercekat, menahan sesak di dada dan air mata yang hampir tumpah. Dia mengulang kembali ucapan Papa Alex saat datang menemuinya kala itu.
Fely tersentak saat melihat Nicho membuka mata. Laki - laki itu menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Jadi papa bilang seperti itu.?!!" Geramnya dengan nada penuh kekesalan.
Fely melepaskan diri dari pelukan Nicho. Rasa gugup dan takut langsung menyelimutinya.
Fely beranjak dari ranjang, berusaha untuk mengalihkan perhatian Nicho.
"Udah sore Nich, kamu mandi dulu saja. Aku siapin makan malam." Ujarnya tanpa berani menatap Nicho.
"Jawab dulu pertanyaanku.!!" Tegas Nicho sembari bangun dan mencekal tangan Fely. Dia menarik tangan Fely hingga wanita itu terjerembab di atas pangkuannya.
"Ayo jawab.!!" Bentaknya kesal, karena Fely tak kunjung membuka mulutnya.
"A,,,aku,,,
Suara Fely bergetar, matanya sudah berkabut dengan rasa perih yang luar biasa. Tak berselang lama, kabut itu bertumpuk hingga menjadi tetesan air mata yang mengalir di pipi putihnya.
Nicho mengepalkan kedua tangannya, tatapan matanya semakin tajam penuh amarah.
Laki - laki itu tidak menyangka sang papa akan mengeluarkan hinaan yang menyakitkan pada wanita yang paling dia cintai.
Diturunkannya pelan tubuh Fely dari pangkuannya. Laki - laki itu beranjak dengan kedua tangan yang mengepal erat.
"Nicho,,," Panggil Fely sembari menahan tangan Nicho.
"Aku baik - baik saja,," Ujar Fely untuk meyakinkan Nicho. Fely sudah bisa menebak jika saat ini Nicho akan pergi menemui papa Alex.
"Baik - baik saja kamu bilang.?!" Geram Nicho tak habis pikir.
"Lalu kenapa kamu menangis.?!" Serunya.
Fely langsung menghambur kepelukan Nicho. Memeluk laki - laki bertubuh tinggi itu dengan erat.
"Aku hanya takut kehilangan kamu Nich,," Ucapnya tegas. Fely berusaha meyakinkan Nicho jika dia baik - baik saja, agar laki - laki itu tidak pergi. Fely tidak mau mendengar ada keributan lagi antara papa dan anak. Terlebih hubungan Nicho dan sang papa belum membaik hingga saat ini. Jika saat Nicho datang menemui sang papa, bisa dipastikan papa Alex akan semakin marah pada Nicho, juga padanya.
"Aku mohon jangan katakan apapun pada om Alex. Hubungan kita sudah rumit Nich, tolong jangan memperumitnya lagi,,"
"Aku baik - baik saja,,"
Terdengar helaan nafas berat dari mulut Nicho, sebelum akhirnya dia membalas pelukan Fely.
"Maaf,,," Ucap Nicho penuh sesal.
"Maaf tidak bisa melindungi kamu saat itu,,"
Fely hanya mengangguk dalam dekapan Nicho.
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Nicho terlihat masih betah di apartemen Fely.
Setelah makan malam bersama, keduanya duduk santai di ruang TV sembari menonton film bergendre romantis.
Nicho selalu bisa memanfaatkan keadaan dan situasi. Dia sengaja menayangkan film romantis agar bisa bermesraan dengan Fely.
"Kita coba sekarang,,," Bisik Nicho sembari mengangkat dagu Fely agar menghadap kearahnya.
"Rileks, jangan kaku.!" Ketus Nicho.
"Padahal cuma ciuman, tapi sekaku ini. Bagaimana kalau bergulat di atas ranjang, mana enak kalau kaku,," Fely langsung membulatkan matanya. Adik sama kakak sama saja.! Bicaranya selalu asal.
"Apa harus sevulgar itu bicaranya.?!" Keluhan Fely kesal.
"Hanya bicara, mana ada yang vulgar.?" Elak Nicho.
"Vulgar itu seperti ini." Nicho langsung menyambar bibir Fely, satu tangannya mulai masuk kedalam kaos longgar Fely. Meremas lembut kedua bongkahan yang selalu menantang.
Fely sempat memberontak beberapa saat, namun wanita itu perlahan mulai pasrah.
"Jangan Nich,,!" Tegur Fely saat tangan Nicho akan masuk kedalam celana pendek miliknya.
"Jangan kelewat batas,," Pinta Fely sembari menyingkirkan tangan Nicho dari atas pahanya.
Nicho langsung menghentikan aktifitasnya yang sedang menyesap salah satu bukit kembar Fely.
"Tanggung,,, sekalian saja,," Ujar Nicho santai.
Fely langsung memukul dada Nicho. Wanita itu membenarkan kaosnya yang tadi tersingkap ke atas.
"Sudah sana pulang.!" Usirnya sembari turun dari pangkuan Nicho. Laki - laki itu justru terkekeh geli. Merasa lucu melihat raut wajah kesal Fely.
"Ayolah,,," Ditariknya tangan Fely, hingga wanita itu kembali jatuh ke pangkuannya.
"Coba saja dulu, ini sangat enak,,," Bisiknya di telinga Fely. Wanita itu langsung bergidik ngeri.
"Jangan macam - macam Nich.!" Ketus Fely.
"Yakin nggak mau.?" Goda Nicho sembari meraba paha Fely. Laki - kaki itu justru semakin senang untuk membuat Fely kesal.
"Iissh..! Menyebalkan.!" Fely bangun dari pangkuan Nicho.
"Sudah sana pulang.! Nanti mama sama kak Kenzo keburu pulang.!" Usirnya lagi.
Nicho beranjak dari duduknya.
"Ok aku pulang."
"Lain kali kamu harus mau mencobanya,," Bisiknya sembari berjalan melewati Fely. Laki - laki itu masuk kedalam kamar untuk mengambil koper miliknya.
Fely hanya bisa mematung dengan perasaan yang bergemuruh. Jantungnya berdetak kencang, dia takut hubungannya dan Nicho akan melewati batas.
Takut jika tidak bisa menahan godaan yang ada didepan matanya. Terlebih cumbuan Nicho selalu membuatnya melayang hingga menyingkirkan akal sehatnya.
"Aku pulang dulu. Besok pagi aku kesini,,"
Nicho mengecup lembut bibir Fely.
"Ada yang harus aku bicarakan dengan mama kamu,,"
Fely mengangguk pelan.
"Kamu mau tidur di hotel.?" Tanya Fely.
"Apartemenku sudah bisa di tempati."
"Syukurlah. Hati - hati di jalan,,,"
Keduanya saling melempar senyum.
Fely mengantar Nicho hingga di depan pintu. Menatap laki - laki itu hingga hilang dari pandangan matanya.
"Aku tidak yakin dengan hubungan ini,,," Gumam Fely lirih. Mengingat papa Alex yang sangat menentang hubungan mereka.
...****...
Maaf nggak up kemaren. Lagi sibuk banget plus kehabisan ide 😁
Semoga hari ini bisa double up.
Jangan lupa votenya yah🥰.
Berapa banyak nih yang masih setia mendukung novel othor. Kita liat nanti berapa jumlah vote sampai hari minggu 😁