My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
55. Season2



Karin melihat dan mendengarnya sendiri bagaimana Reynald bersikap dan berbicara pada Angel di telfon tadi. Memang tidak ada hal yang mencurigakan, tidak ada sesuatu yang harus ia duga tentang perasaan di antara keduanya, namun tetap saja ada rasa cemburu yang menyelimutinya selama dia melakukan panggilan vidio bersama Angel dan Reynald. Karna bayangan masa lalu Angel dan Reynald yang menjalin hubungan diluar batas, sempat terlintas dalam kepalanya.


Membayangkan bagaimana akhirnya keduanya memiliki Alisha, rasanya sangat menyakitkan meski itu terjadi jauh sebelum ia bertemu dengan Reynald.


"Mau kemana.?" Pertanyaan yang umum namun terdengar sedang mengintimidasi karna nada bicara dan menekankan kalimatnya.


Karin menatap bingung dengan dahi yang mengkerut.


"Siapa.? Aku.?" Karin menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan.! Itu wanita rambut panjang yang ada di belakang kamu.!" Seru Reynald ketus. Karin langsung menengok ke belakang.


"Jangan bercanda. Nggak ada orang lain di kamar.!" Raut wajah Karin seperti menahan takut. Reynald membuatnya berfikir jika ada makhluk tak kasat mata di belakangnya.


"Lalu kenapa harus tanya siapa.?! Tentu saja aku tanya sama kamu." Reynald terlihat kesal. Terlebih melihat dandanan Karin yang mencolok dengan warna blush on dan lipstik yang terang.


"Mau kemana dandan seperti ondel - ondel kayak gitu.?" Komentar Reynald kecut.


Karin hanya bisa melongo dengan mata yang membulat sempurna. Rasa kesal dan malu bercampur jadi satu. Meski tidak merasa dandannya seperti ondel - ondel, tapi tetap saja dia malu karna Reynald yang mengomentarinya.


"Pergi kemana.?! Bukannya aku sedang dikurung.?!" Karin balik bertanya dengan suara ketus. Baru make up sedikit saja sudah di curigai akan keluar dari apartemen. Bagaimana kalau tadi dia memakai baju rapi.


"Lalu apa gunanya memakai make up.?" Reynald masih saja mengintrogasi Karin. Laki - laki itu terlihat tidak suka melihat wajah Karin yang dilapisi make up sedikit mencolok.


"Apa semua wanita tidur menggunakan make up.?!"


Tanyanya ketus. Sebelum melakukan panggilan vidio, Reynald memang sudah menyuruh Karin untuk istirahat. Tapi rupanya saat menelfon istrinya itu, dia dibuat kesal dengan melihat riasan di wajahnya.


Karin mendengus kesal, bibirnya sedikit mencebik. Suaminya itu selalu menguji kesabarannya. Mungkin Reynald pikir dia tidak bisa marah padanya hingga berbuat seenaknya. Selalu berbicara dan berbuat tanpa memikirkan perasaannya.


"Kalau begitu jangan menyediakan make up di meja rias.! Aku cuma ingin mencobanya saja.!" Sahut Karin tersungut - sungut. Kalau tidak memikirkan perasaan Reynald dan harga make up yang mahal, mungkin semua make up di tas meja sudah berhamburan di lantai saat ini juga.


Karin tak habis pikir, lalu untuk apa laki - laki itu menyediakan make up lengkap di dalam kamar mereka. Make up yang sebelumnya tidak ada di sana saat dia memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Kalau bukan untuk dirinya, lalu untuk siapa Reynald menyediakan peralatan beserta make up dengan brand ternama itu.


"Apa semua make up ini untuk wanita lain.? Kenapa tidak bilang padaku."


"Kalau aku tau semua make up ini untuk orang lain, aku tidak akan menyentuhnya." Ujarnya lagi, wajah Karin sudah berubah sendu.


Reynald menghela nafas pelan saat melihat Karin menghapus make up menggunakan tisu basah dengan gerakan kasar. Karin juga mengarahkan ponselnya kesamping, membuat hanya sebagian wajahnya saja yang terlihat di layar ponsel Reynald.


"Bukan begitu maksudku,,"


"Jangan khawatir, aku tidak akan memakai make up itu lagi,," Karin langsung memotong ucapan Reynald.


"Aku mau tidur,,"


"Kar,,,in,,,,


Reynald menghembuskan nafas berat karna Karin memutuskan sambungan telfonnya.


"Kenapa jadi dia yang marah.?" Gumam Reynald sembari menatap layar ponselnya. Dia sama sekali tidak peka kenapa Karin bisa marah padanya.


Reynald hanya bertanya, tapi Karin justru menyimpulkan sesuatu yang belum tentu di lakukan oleh Reynald.


...*****...


Sementara itu selesai menghapus make up yang baru saja di poleskan pada wajahnya, Karin hanya bisa menatap jengkel deretan alat make up di depan matanya. Sejak pulang ke apartemen, dia sudah melihat deretan make up tertata rapi di sana. Namun Reynald tidak mengatakan apapun padanya mengenai make up itu, Karin pun enggan untuk bertanya. Tapi meski begitu, Karin menduga kalau semua make up yang disediakan oleh Reynald tentu saja di siapkan untuknya.


"Apa cuma wanita itu saja yang boleh memakai make up.?!" Gumamnya menggerutu.


Mengingat Angel yang sangat pandai mengaplikasikan make up di wajahnya, membuat Karin berfikir jika Reynald menyukai wanita yang selalu tampil cantik dengan riasan make up.


Hal itu mendorong Karin untuk belajar merias wajahnya agar terlihat lebih sempurna.


Bisa dibilang Karin tidak mau merasa berada jauh di bawah Angel dari segi kecantikan wajah dan penampilan.


Mungkin bisa dibilang Karin tidak yakin pada dirinya sendiri. Tidak yakin kalau akan Reynald mencintai dirinya apa adanya. Melihat Angel yang terlalu sempurna di mata Karin, dibanding dengan dirinya.


Bahkan rasa cemburu itu mampu memberikan kekhawatiran dalam dirinya. Khawatir jika Reynald tidak bisa mencintainya dalam waktu dekat. Bahkan yang paling di khawatirkan olehnya, Reynald tidak melihat dirinya sebagai Karin, melainkan melihat dirinya sebagai Angel.


Kekhawatiran yang dirasakan oleh Karin, juga tidak mau penampilannya tertinggal jauh dari Angel, semata - mata karna perasaan cintanya terhadap Reynald yang masih saja melekat kuat dalam hatinya.


Bisa di bilang Karin terlalu naif, berulang kali dia meyakinkan diri untuk menghapus lebih dulu perasaan cintanya terhadap Reynald, namun berkurang pun tidak. Bahkan nyatanya perasaan cintanya terhadap semakin tumbuh dalam hatinya.


Pada akhirnya bukan cinta Reynald yang dia dapatkan, melainkan rasa cemas dan kekhawatiran yang selalu dia rasakan setiap harinya.


"Jatuh cinta pada seseorang tanpa di cintai juga olehnya, nyatanya menyakitkan."


Setetes air mata yang keluar dari peluk matanya, menjadi bukti bahwa apa yang dia rasakan dan dia hadapi saat ini tidaklah mudah.


satu tetes air mata yang keluar, mewakilkan beribu luka yang dia rasakan.


Karin beranjak dari duduknya, menatap dirinya dari pantulan cermin. Tidak ada yang kurang dalam penampilan fisiknya, tidak ada yang salah dalam dirinya.


Tapi satu hal yang mampu membuat Karin akhirnya rela untuk berjuang, bahwa pada kenyataannya cinta tidak bisa di paksakan, namun cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu dan usaha yang sudah dia lakukan. Selalu ada harapan dalam hatinya bahwa ada hari dimana Reynald akan mengungkapkan cinta padanya.


"Akan sia-sia jika aku berhenti disini."


Karin mengusap air matanya. Soroti mata tajamnya menggambarkan semangat yang tidak akan pernah pudar untuk berjuang mendapatkan cinta Reynald.


...****...


Reynald berjalan dengan buru - buru menyusuri lorong di gedung apartemennya.


Dia membawa 2 paperbag besar yang di pegang menggunakan 1 tangannya. Baperbag dengan tulisan brand ternama yang banyak di pakai oleh kalangan menengah ke atas.


Meski wajahnya terlihat datar, namun terpancar aura kebahagiaan dari wajah tampannya.


Begitu sampai di apartemennya, dia membuka pintu dan masuk kedalam begitu saja dengan langkah cepat.


"Tuan sudah pulang.?" Tanya ART saat berpapasan dengan Reynald di ruang keluarga.


Majikannya itu rupanya sudah pulang meski baru pukul setengah 5 sore. Padahal Reynald sudah menelfonnya, menyuruhnya untuk menjaga Karin karna dia akan pulang malam. Dan baru di perbolehkan pulang kalau Reynald sudah sampai di apartemen.


Reynald hanya menganggukkan kepalanya, raut wajahnya bahkan masih tetap datar.


"Kalau begitu saya pulang dulu tuan. Non Karin ada di kamarnya,," ART itu pamit sopan pada Reynald.


"Ya, pulang saja."


Reynald kembali melangkahkan kakinya menuju kamar utama. Dipegangnya ganggang pintu itu, Reynald membukanya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara apapun.


Kepalanya lebih dulu mengintip dari balik pintu yang baru dia buka sedikit.


Kamar itu terlihat kosong, dia tidak mendapati karin berada di sana.


Tiba - tiba saja senyum smirk dengan aura mesum mengembang sempurna di wajahnya.


Reynaldi masuk kedalam, berjalan dengan hati - hati agar sepatunya tidak menimbulkan suara.


Diletakkannya 2 paperbag di atas ranjang.


Reynald melepaskan sepatu, kemudian jasnya, lalu mulai melucuti semua baju yang melekat dan hanya meninggalkan celana pendek di atas lutut.


Dia langsung menuju ke kamar mandi, membuat pintu kamar mandi yang tadi tidak tertutup sempurna.


Istrinya itu sangat ceroboh, meski hanya ada dia dan ART di apartemen, tapi tidak seharusnya masuk ke dalam kamar mandi tanpa menguncinya.


Senyum mesum semakin tercetak di wajah Reynald begitu mendapati Karin tengah berendam di dalam Bathtubh. Dia langsung menghampiri Karin dan memeluknya dari belakang


"Aaaarrrgghhh,,," Karin bertiak sembari memukul tangan besar yang memeluknya.


"Tolong,,, tolong,,,! lepasin,,,! Siapa kamu.?!" Karier. terus memberontak.


"Diam jangan berisik.!" Teguran suara yang sangat dia kenal, membuatnya langsung terdiam.


"Kak Rey ngapain.?!" Peliknya sembari menengok kebelakang.


"Kenapa nggak dilepas br*nya.?" Bukannya menjawab, Reynald malah menanyakan hal yang membuat Karin menjadi melu. Terlebih kedua tangan Reynald kini pindah ke belakang dan sedang berusaha melepaskan kaitan br* itu.


"Kak mau apa.?!" Karin menekan dadanya dengan kedua tangan agar br* miliknya tidak terlepas.


"Memangnya mau apa lagi kalau telanjang bulat berduaan seperti ini.?" Sahut Reynald cuek.


"Tapi kak, aku,,,"


"Kamu nggak mau.?" Tanya Reynald dengan tatapan datar.


"Oke,, oke,,! Hanya mandi saja.!" Dengus Reynald kesal.


...****...