My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 39. Fakta baru



"Kamu darimana sayang,,?" Aku menghentikan langkah setelah mendengar suara mama.


Rupanya mama dan papa tengah duduk di ruang keluarga. Aku terlalu buru - buru sampai tidak memperhatikan sekeliling. Saat ini aku ingin cepat - cepat merebahkan diri di ranjang.


"Jalan sama Celina mah,,,"


"Sini duduk, udah lama kita nggak ngobrol bertiga."


Mama melambaikan tangan padaku. Sepertinya sudah mulai ada perubahan pada mama dan papa sejak kepulangan kak Nicho saat itu. Mereka jadi lebih sering bertanya padaku.


Aku jalan untuk sedikit mendekat pada mereka.


"Jeje cape banget mah, pengen istirahat."


Sejujurnya aku ingin sekali berkumpul bersama mereka, namun saat ini suasana hatiku sedang tidak baik. Aku butuh waktu untuk sendiri.


"Ya sudah, istirahat saja."


"Jangan terlalu sering keluar malam Je. Langsung minum vitamin terus tidur,," Papa ikut menimpali.


"Iya pah. Jeje ke kamar dulu mah, pah,,,"


Aku duduk di depan cermin. Liontin bentuk hati yang bertengger di leherku nampak berkilau. Sangat indah dan cantik menang. Pantas saja om Kenzo bilang jika liontin ini cantik aku pakai.


Namun hatiku terasa sakit melihat keindahannya.


Aku menghembuskan nafas berat, sebelum akhirnya memutuskan untuk melepaskan liontin yang baru saja dipasangkan oleh om Kenzo.


Apa tujuan om Kenzo memberikan liontin ini.? Apa dia tidak berfikir lebih dulu sebelum memberikannya padaku.? Harus om Kenzo tau, liontin berbentuk hati ini tidak bisa sembarangan diberikan kepada orang lain. Harusnya liontin ini diberikan untuk orang yang spesial. Tapi kenapa om Kenzo begitu mudah memberikannya padaku. Tanpa berfikir akan seperti apa perasaanku setelah menerima liontin ini.


Dia sendiri yang membuat perjanjian untuk tidak menggunakan perasaan dalam hubungan kontrak ini. Tapi justru sikapnya yang sudah membuatku jadi memiliki perasaan padanya. Aku sudah menahannya, sekuat yang aku mampu. Tapi pertahananku runtuh seiring dengan sikap manis om Kenzo padaku.


Awalnya aku masih yakin kalau perasaan yang aku miliki untuknya, sama seperti perasaanku pada kak Nicho. Tapi sekarang, aku meyakini apa yang aku rasakan saat ini adalah rasa cinta.


Ya, aku mencintainya. Itu artinya aku akan terluka seperti kak Nicho suatu saat ini.


Bisakah aku sanggup untuk berpisah darinya.? Apa aku juga akan merasakan kehancuran yang serupa dengan kak Nicho.?


Aku bahkan tidak sanggup untuk sekedar membayangkan nya. Rasanya terlalu menyakitkan.


...****...


Kejadian semalam membuatku terus mengurung diri di kamar, sampai aku terus - terusan memikirkannya dan hanya membuat hatiku semakin sakit saja. Ternyata sangat menyiksa, diperhatikan oleh orang lain tapi tidak memiliki status yang jelas.


Karna hubungan kami hanya sebatas saling membutuhkan.


Siang ini aku memilih untuk mengajak Natasha dan Celina makan siang di resto.


Lebih baik aku berkumpul dengan mereka, dari pada aku terus memikirkan om Kenzo.


Aku mengendarai mobil ku untuk menjemput mereka satu persatu. Dengan alasan malas menyetir, mereka enggan pergi jika aku tidak menjemputnya. Dua gadis itu terkadang memang menyebalkan, tapi cuma mereka yang selalu ada untukku.


Mobilku masuk ke halaman rumah Celina, aku sengaja terus memencet klakson untuk memancingnya agar cepat keluar. Biar saja dia kesal.


Aku tertawa melihat Celina yang setengah berlari menghampiri mobilku. Dengan ekspresi wajah yang sudah pasti kesal karna ulah jahil ku.


Celina menggedor kaca mobil, aku langsung menurunkan kacanya.


"Dasar nggak punya akhlak kamu ya.! Dirumah ada kakak sepupu ku, hampir aja dia ngamuk,,," Keluhnya tersungut - sungut.


"Hahaha,, sorry Cel. Mana aku tau. Biasanya kan rumah kamu sepi." Jawabku tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku justru senang melihat kekesalan Celina. Lumayan bisa sedikit menghiburku.


"Tau tuh, kakak sepupu ku tiba - tiba aja dateng."


Celina masuk kedalam mobil dengan duduk di sebelahku. Aku segera melajukan mobil untuk menjemput gadis girang satu lagi.


"Kakak sepupu yang di Amrik,,?" Tanyaku.


"Siapa lagi memangnya. Kan aku cuma punya satu kakak sepupu,," Sahutnya kesal.


Kau hapal betul sikap Celina. Dia pasti akan kesal jika kedatangan kakak sepupunya yang tinggal di Amrik itu. Meskipun tampan, tapi Celina sangat kesal dengan kelakuannya. Dia akan mengajak kencan hampir ke semua teman Celina, lalu merayunya untuk meminta kenikmatan.


"Dia masih suka nyolong kontak di hape kamu,,?" Aku sedikit menahan tawa.


"Masihlah,, nggak tau lagi deh siapa yang bakal jadi korban selanjutnya. Cowok gila emang dia tuh,," Geramnya kesal.


"Hahaha,,, parah banget kakak sepupu kamu Cel. Lu nggak takut sama dia.?"


"Kamu tau nggak,,,?" Ucap Celina dengan antusias.


"Nggak lah.! Kamu aja belum cerita,," Sahutku cepat.


"Sialan kamu Je. Ngeselin banget." Aku hanya tertawa mendengarnya menggerutu.


"Kamu masih inget kan sama Nadine.? Model yang di Amerika itu,,"


"Yang waktu itu fotonya kamu tunjukkin ke aku.?"


"Iya yang itu,,"


"Kenapa emangnya.?" Aku sedikit penasaran. Pasalnya aku jadi teringat dengan Nadine yang ada di kehidupan om Kenzo.


"Dia vidio call an sama kakak sepupu ku.! Gila nggak tuh. Dan yang bikin aku nggak percaya lagi, masa kak Alex bilang kalau mereka kencan,,,"


Ciiiittttt,,,,


"Astaga Jeje...!!!" Celina menabok lenganku. Dia hampir terbentur dashboard karna aku mengerem mendadak.


"Ya ampun,,, untung nggak nabrak. Kamu udah bosen hidup apa.?" Celina terus menggerutu kesal padaku.


"Sorry Cel."


Aku kembali melajukan mobil.


Aku terkejut mendengar penuturan Celina.


Mendengar nama Nadine dan Alex, membuatku teringat pada ucapan om Kenzo saat kedatangan wanita yang bernama Nadine.


"Apa Alex sudah mencampakkan mu.?"


Kata - kata itu terngiang di kepalaku.


Mungkinkah mereka orang yang sama.? Kenapa aku sangat yakin jika memang mereka berdua lah orangnya.


Tidak mungkin hanya kebetulan nama mereka mirip. Jika hanya Nadine saja, mungkin aku bisa percaya kalau itu hanya kebetulan. Tapi kalau dua duanya memiliki nama yang sama, apa masih mungkin kebetulan. Aku rasa tidak.


Pasti mereka adalah Nadine dan Alex yang ada di dalam kehidupan om Kenzo.


Kenapa semakin rumit saja. Sudah banyak fakta yang aku dapatkan tentang om Kenzo. Tapi aku masih belum tau juga wanita mana yang memiliki hubungan dengan om Kenzo.


Nadine berkencan dengan Alex.? Tapi dia memanggil om Kenzo dengan sebutan sayang. Juga meminta untuk menghabiskan waktu bersama, lalu membahas soal perjanjian.


Apa mungkin Nadine adalah mantan pacar om Kenzo yang berselingkuh dengan kakak sepupu Celina.?


Tapi kenapa dia kembali lagi dan menghubungi om Kenzo.?


Aku benar - benar tidak paham. Yang pasti, ada dua wanita dalam kehidupan om Kenzo. Nadine dan Felicia. Tapi aku tidak tau siapa yang memiliki hubungan spesial dengan om Kenzo.


Kami sudah sampai di rumah Natasha. Ternyata dia sudah menunggu di teras rumahnya. Begitu melihatku datang, dia langsung menghampiri mobilku.


"Di belakang Nat,," Seruku.


Dia mengangguk dan langsung masuk kedalam.


"Gila ya Cel.! Kak Alex nggak ada kapok - kapoknya.!" Baru saja duduk, Natasha sudah mengeluh tenang kak Alex.


"Hahaha,,, jangan bilang kamu yang lagi di deketin sama dia." Ujar Celina.


"Bukan di deketin lagi, tapi di teror.! Dari tadi pagi nelfonin aku mulu."


"Udah sih,, Terima aja kencan semalam nya. Katanya kamu pengen sama yang muda, tuh kakak sepupu ku juga masih muda,," Ledekan Celina membuat Natasha menoyor kepalanya dari belakang.


"Ogah yah.! Buaya buntung kaya gitu nggak guna tau,,!"


Aku hanya mengulum senyum geli sembari menggelengkan kepala. Tingkah mereka memang girang - girang lucu. Aku sangat terhibur dengan obrolan receh mereka.


"Eh jangan salah kamu. Walaupun buaya buntung, gitu - gitu kak Alex kencan sama Nadine si model seksi itu,,"


"What.?!!!" Are you seriously.?!! Pekik Natasha dengan ekspresi wajahnya yang kaget.


"Biasa aja kali kagetnya. Tadi gue liat dia lagi vidio call an sama Nadine itu,,"


Mungkin Natasha dan Celina kaget karna kak Alex memiliki hubungan dengan model terkenal. Namun aku kaget karna mereka berdua ada dalam lingkar kehidupan om Kenzo yang rumit.