
Kita tidak bisa memilih kepada siapa cinta yang kita miliki akan berlabuh. Karena cinta itu hadir dengan sendirinya, tanpa paksaan ataupun hanya karena keadaan.
Meski sudah ada darah dagingnya di rahim Karin, tak lantas membuat Reynald memiliki perasaan pada wanita itu. Apa yang dia rasakan saat di tidur dengan karin, sama dengan yang dia rasakan saat tidur dengan wanita - wanita lain di luar sana. Tidak ada yang spesial, tidak ada perasaan lebih. Hanya sebatas nafsu belaka.
Namun bukan berarti Reynald tidak peduli pada darah dagingnya. Tidak bisa di pungkiri, gelayar kebahagiaan mampu dia rasakan setiap kali mengingat ada calon anaknya di dalam rahim Karin.
Mungkin terdengar egois, karena laki - laki itu hanya memiliki perasaan pada calon anaknya, tanpa memiliki rasa sedikitpun pada istri dan ibu dari anaknya.
Pagi itu Reynald bangun lebih awal, dia bahkan sudah rapi dengan memakai kaos dan celana panjang. Laki - laki itu harus pulang ke apartemennya untuk bersiap ke kantor.
Karena ulahnya yang sudah mengetuk kepala Jeje, Kenzo tidak jadi memberikan Reynald cuti. Hingga membuatnya harus berangkat ke kantor sehari setelah acara pernikahannya.
"Karin,,," Laki - laki itu mengguncang pelan lengan istrinya. Wanita hamil itu terlihat damai dalam tidurnya. Reynald berhasil membuatnya kelelahan hingga tidurnya sangat pulas.
"Bangun,,!" Ucap Reynald sekali lagi. Dia mengeraskan suaranya, juga menggoncang lengan Karin semakin kencang.
Karin mulai mengerjapkan mata, perlahan mata cantiknya terbuka sempurna. Dia terlihat terkejut mendapati Reyndal berdiri di samping tempat tidurnya.
"Kak.!! Ngapain disini.?!!" Pekik Karin. Dia memberingsut menjauh, membuat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap.
"Sial.!!" Umpat Reynald. Laki - laki itu langsung mengalihkan pandangannya dari tubuh polos Karin yang seolah sedang menggodanya untuk mendekat.
"Tutup dada kamu.!" Perintah Reynald ketus.
Karin semakin kaget mendapati tubuhnya tidak memakai baju sehelai pun. Rupanya wanita itu melupakan hari bersejarahnya kemarin sore. Dia tidak ingat kalau Reynald sudah menjadi suaminya.
"Kenapa kakak di kam,,,
"Nggak usah banyak tanya, cepat bangun dan pake baju kamu.!" Tegasnya.
"Aku mau ke kantor, jangan sampe orang tua kamu masuk ke kamar dan liat kamu nggak pake baju,,"
Suara Reynald sedikitpun tidak ada halus - halusnya. Terdengar ketus dan menyebalkan.
Sambil membalut tubuhnya dengan selimut, Karin mulai ingat kalau laki - laki menyebalkan itu sudah menjadi suaminya. Dia bahkan kembali mengingat kegiatan panas yang dilakukan oleh Reynald tadi malam. Membayangkan permainan kedua Reynald yang lembut, membuat bulu kuduk Karin meremang.
Rasanya sisa - sisa kenikmatan masih terasa di bawah sana.
Reynald berdecak kesal begitu mendapati Karin yang justru melamun.
"Lama sekali.!" Ketus Reynald sembari mendekat pada Karin dan langsung mengangkat tubuh wanita itu.
"Ya ampun kak.!!" Teriak Karin, dia langsung berpegangan pada pundak Reynald.
"Turunin kak.!" Pintanya ketus.
Namun Reynald tidak menggubrisnya, laki - laki itu terus menggendong Karin dan membawanya ke kamar mandi.
"Tunggu disini.! Aku ambilin baju kamu,," Titahnya. Reynald keluar kamar mandi dan mengambil baju ganti Karin di lemari.
Karin hanya bisa membulatkan matanya, laki - laki itu pasti akan memegang pakaian dalamnya.
Reynald kembali dengan membawa baju ganti lengkap, lalu menyodorkannya pada Karin yang masih berdiri di dekat pintu.
"Ini,,,!" Ketus Reynald.
Saat Karin akan mengambilnya, tiba - tiba saja perutnya terasa mual. Tangan yang tadinya akan mengambil baju, dia gunakan untuk menutup mulutnya.
"Hueekkk,,,," Karin langsung berbalik badan, berjalan cepat menuju closet.
"Karin,,," Seru Reynald. Dia meletakan baju ganti Karin di atas nakas, lalu masuk kedalam kamar mandi untuk menghampiri istrinya.
Karin terus mengeluarkan isi perutnya. Meski Reynald terlihat jijik melihatnya, namun dia tidak beranjak dari sana. Laki - laki itu justru memijat tengkuk Karin dengan lembut.
"Sudah kak, aku nggak papa,,," Karin menyingkirkan pelan tangan Reynald.
"Kak boleh keluar, aku mau mandi dulu,," Pintanya
Tanpa memberikan jawaban, Reynald langsung meninggalkan Karin dengan ekspresi wajahnya yang selalu datar.
Karin hanya bisa menghela nafas pelan, laki - laki itu sama sekali tidak memiliki perasaan sedikitpun padanya. Karin bisa melihatnya dari sorot mata Reynald yang tidak menghadirkan rasa apapun.
Di tutupnya pintu kamar mandi setelah dia mengambil baju gantinya di atas nakas. Karin mulai mengguyur tubuhnya. Dinginnya air membuat pikirannya jauh lebih segar dan tenang.
Karin keluar kamar mandi dengan memakai pakaian lengkap. Wajahnya terlihat sangat segar, dengan rambut panjangnya yang masih setengah basah.
"Minum dulu,,," Suara besar Reynald membuat Karin tersentak. Di tatapnya Reynald yang sudah berdiri didepannya sembari menyodorkan air minum.
Karin mengambilnya, dia meneguk air hangat yang diberikan oleh Reynald. Setidaknya Reynald perhatian dan punya hati nurani meskipun hanya untuk calon anaknya saja.
"Aku pergi dulu,,," Reynald melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar.
"Tunggu kak,,," Seru Karin, dia berjalan mendekati Reynald yang berhenti di depan pintu.
"Kakak nggak sarapan dulu,,?"
Reynald hanya menggelengkan kepalanya. Laki - laki itu kembali melangkahkan kaki lagi, namun Karin memegang lengannya.
"Belum salim,,," Ujar Karin. Dia meraih tangan Reynald dan mencium punggung tangannya.
"Hmmm,,," Hanya itu yang keluar dari mulut Reynald, sembari mengangguk pelan. Raut wajahnya pun tetap datar.
"Kak Reynald cuek, kalau aku ikut cuek, lalu akan seperti apa hubungan kami,," Gumam Karin sembari menatap kepergian Reynald.
Dia semakin bingung saja harus bersikap seperti apa pada Reynald.
...****...
"Jangan berangkat om,,," Rengek Jeje sembari mendekap erat lengan besar Kenzo.
Kenzo sudah bersiap untuk pulang ke apartemennya, namun sejak tadi Jeje terus bergelayut padanya.
Laki - laki itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar, karena tidak mau kedua mertuanya melihat Jeje yang terus merengek seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal orang tuanya.
"Ada berkas penting yang harus aku tanda tangani sekarang Je,," Tutur Kenzo lembut.
"Sore nanti aku sudah harus ke Singapur,,,"
Jeje seolah tidak mau tau dengan alasan yang diberikan oleh Kenzo. Wanita itu justru semakin memasang wajah cemberut dan semakin erat memeluk lengan Kenzo. Bahkan menyenderkan kepalanya di pundak Kenzo yang duduk disebelahnya.
"Kan bisa suruh kak Reynald bawa berkasnya ke kesini om,,," Ujar Jeje enteng.
Kenzo menghela nafas pelan.
"Masalahnya bukan cuma untuk tanda tangan saja. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Kamu mau ikut ke kantor.?" Tawar Kenzo. Lebih baik mengajak Jeje ke kantor, dari pada tidak menyelesaikan pekerjaannya.
Jeje langsung mengangkat wajahnya untuk menatap Kenzo. Dia juga mengendurkan dekapannya.
"Memangnya boleh om,,?" Tanyanya antusias.
Kenzo mengangguk dengan seulas senyum.
Dia merasa gemas melihat raut wajah Jeje, juga dengan suara Jeje yang terdengar manja saat memanggilnya om.
Sejak tadi malam istrinya itu terus memanggilnya dengan sebutan om.
"Makasih om,,," Jeje mengecup singkat pipi Kenzo, lalu beranjak dari duduknya.
"Aku siap - siap dulu." Serunya sembari berjalan menuju walk in closet.
Kenzo hanya mengulum senyum menatapnya.
Keduanya keluar dari kamar sembari bergandengan. Lebih tepatnya Jeje yang menggandeng tangan Kenzo.
Mereka menghampiri Papa Alex dan Mama Rissa yang baru selesai sarapan.
"Pagi mah, pah,,," Sapa Jeje dan Kenzo bersamaan.
"Pagi."
Mereka menatap keduanya yang sudah rapi dengan pakaian non formal.
"Kalian mau pulang,,? Tanya mama Rissa.
"Iya mah, saya mau ganti baju karna harus berangkat kekantor,,," Sahut Kenzo cepat.
"Kamu disini saja Je, jangan pulang ke apartemen dulu. Nanti Kenzo bisa jemput kamu setelah pulang dari kantor,," Pinta mama Rissa.
Dia sedikit khawatir jika nantinya Mirna datang ke apartemen yang ditempati oleh Jeje dan Kenzo.
"Jeje mau ikut ke kantor sama om Ken mah,," Ujarnya sedikit merengek.
"Om.? Kenapa manggilnya om.?" Tanya Papa Alex dengan dahi yang mengkerut.
"Soalnya Jeje kangen manggil om, kayak dulu waktu kita masih,,,
"maaf pah, mah, kami harus pergi dulu,," Kenzo memotong ucapan Jeje. Istrinya itu bisa salah bicara kalau dibiarkan begitu saja. Bisa - bisa hubungan keduanya saat masih menjadi sugar baby dan sugar daddy, terbongkar di depan kedua orang tua Jeje.
"Ya sudah, hati - hati di jalan,,,"
Keduanya mengangguk, lalu beranjak meninggalkan ruang makan.
"Jaga bicara kamu Je,," Tegur Kenzo pelan.
"Bagaimana kalau kamu salah bicara.? Papa Alex pasti akan menghajarku kalau tau dulu aku jadiin kamu sugar baby." Keluhnya.
Jeje terlihat santai dengan menyengir kuda.
"Maaf om,," Ucapnya manja sembari mendekap tangan Kenzo.
"Jangan di ulangi lagi,,," Seru Kenzo.
Jeje mengangguk patuh.