
Reynald mematikan laptopnya setelah hampir 2 jam berkutat dengan pekerjaannya yang belum selesai kemarin.
Sudah pukul 3 pagi, terlihat jelas jika laki - laki itu sangat mengantuk dan kelelahan. Belum lagi dengan permasalahan yang sedang dia hadapi saat ini, yang memaksanya terus memikirkan tentang Alisha dan Karin.
Kehadiran Alisha akan membuatnya sering berhubungan atau bertemu dengan Angel. Hal itu sedikit menganggu pikiran dan perasaannya.
Cinta yang sudah bertahun - tahun melekat dalam hati, tidak mampu pudar dan hilang begitu saja.
Setiap kali melihat Angel, saat itu juga kenangan indah yang pernah mereka lalui terlintas kembali dalam benaknya.
Reynald sadar, dia dan Angel tidak akan mungkin kembali bersama meski dengan hadirnya Alisha.
Baik dia dan Angel, keduanya sudah memiliki kehidupan masing - masing. Angel bahkan terlihat sangat bahagia hidup bersama Dion.
Reynald juga sadar jika saat ini dia sudah memiliki seseorang yang tidak mungkin dia tinggalkan meski tidak ada cinta di hatinya.
Karin dan calon anaknya adalah tanggung jawab terbesarnya saat ini. Setidaknya dia enggan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.
Reynald membawa laptop dan jas miliknya kedalam kamar Karin. Sambil berjalan mendekat ke arah ranjang, Reynald memperhatikan Karin yang sudah terlelap dalam posisi menyamping. Tatapan matanya sulit di artikan, namun terlihat sangat dalam.
Dia meletakkan laptop dan jas di atas nakas, kemudian duduk disisi ranjang dengan wajah yang menghadap Karin.
Sejak dia merasa cintanya dikhianati oleh Angel, pernikahan tidak ada lagi dalam daftar tujuan hidupnya. Dia bahkan hidup tanpa tujuan dan hanya memikirkan kesenangan semata meski dengan cara apapun.
Ditinggal menikah oleh orang yang sangat dia cintai adalah pukulan terberat bagi hidupnya. Dia terpuruk bukan karena saat itu kehilangan harta yang dia miliki, tapi terpuruk karena Angel meninggalkannya tanpa kejelasan dan menikah dengan pria lain.
Kini setelah mendapati fakta tentang Alisha, bukan membuat bangkit dari keterpurukan, Reynald justru semakin merasa hancur.
Andai saja, andai saja dan andai saja.! Reynald hanya bisa berandai - andai jika saja dia bisa memutar waktu dan mengetahui kehadiran Alisha lebih awal. Mungkin tidak akan seperti ini jalan hidupnya.
Nasi sudah menjadi bubur. Takdir adalah suatu ketetapan yang pasti. Mungkin memang dia dan Angel tidak ditakdirkan untuk bersama meski ada Alisha sebagai buah cinta keduanya beberapa tahun silam. Kenangan hanya tinggal kenangan. Seindah apapun kenangan itu, tidak akan bisa terulang kembali. Kini keadaan memaksanya untuk sadar. Sadar jika saat ini dia sudah memiliki kehidupan yang baru.
Reynald merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Karin. Wajah cantik itu terlihat sendu meski sedang tertidur. Memang salahnya karena sudah membuat wanita cantik itu mengalami kesulitan dalam hidupnya.
Jika saja saat itu dia bisa mengontrol dirinya untuk tidak meniduri Karin, mungkin saat ini masa depan Karin masih secerah dan seindah wajahnya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Wanita lembut di hadapannya harus menjalani kehidupan yang berat karenanya.
"Aku tidak bisa berjanji untuk mencintaimu, tapi aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian,,"
Reynald mengusap perlahan perut Karin, sambil terus memandang wajahnya.
Cinta memang tidak bisa di paksakan. Juga tidak bisa diminta kapan dia akan hadir. Namun satu hal yang pasti, cinta bisa hadir karna terbiasa.
Reynald naik ke atas ranjang, dia memposisikan diri dibelakang Karin kemudian memeluknya.
Baru saja memejamkan mata, Reynald sudah terlelap. Laki - laki itu memang sangat kelelahan.
Karin menatap tangan besar Reynald yang melingkar di perutnya. Hatinya terasa perih, ucapan Reynald seakan telah menggores hatinya dan meninggalkan luka disana.
Perlahan buliran bening menetes dari pelupuk matanya.
Sejak Reynald duduk disisi ranjang, Karin memang terbangun namun dia tidak berani membuka matanya. Terlebih saat tangan Reynald menyentuh wajahnya untuk membenarkan rambutnya. Saat itu hati berdebar, ada secerca harapan jika mungkin saja Reynald bisa membuka hatinya.
Namun justru kenyataan pahit yang harus Karin dengar.
Jika Reynald tidak bisa berjanji untuk mencintainya, lantas kenapa Reynald harus menahannya untuk tetap tinggal.?
Apa arti sebuah hubungan tanpa cinta.? Bagaimana pernikahan mereka akan bahagia tanpa adanya cinta.? Bagaimana pernikahan itu akan bertahan lama jika hanya 1 orang saja berjuang dengan cinta.
'Aku sudah mengambil keputusan yang salah. Ternyata menikah bukan bentuk tanggung jawab yang tepat.'
Karin memejamkan rapat matanya. Bersamaan itu air matanya tumpah, dengan sakit di dada yang terasa sesak.
Pada akhirnya dia paham, bentuk tanggung jawab bagi orang yang hamil diluar nikah bukan melulu dengan cara disatukan dengan ikatan pernikahan.
Ada cara yang jauh lebih baik dari pada harus terluka seperti ini.
...****...
"Bangun kak,,," Karin menggoncang tangan Reynald yang masih melingkar di perutnya. Laki - laki itu sedikitpun tidak melepaskan pelukannya saat tertidur. Dia terlihat sangat nyaman tidur dalam posisi seperti itu.
"Emmm,,," Reynald hanya bergumam tanpa bergerak sedikitpun. Kedua matanya bahkan masih rapat terpejam. Dia hanya tidur beberapa jam saja dan tidak bisa menghilangkan rasa kantuknya.
"Udah jam 7, nanti kaka terlambat ke kantor,," Karin kembali menggoncang tangan Reynald. Dia juga tidak bisa bergerak karena tubuhnya di kunci oleh tangan dan kaki besar milik Reynald.
"Kenzo sialan.!!" Geram Reynald sembari bangun. Dia mengacak kesal rambutnya dengan kedua tangan. Dia sangat geram dengan Kenzo karna memberikan setumpuk pekerjaan padanya, hingga dia harus pulang malam dan waktu tidurnya pun berkurang.
Karin hanya menghembuskan nafas pelan mendengar umpatan Reynald. Dia turun dari ranjang tanpa berbicara apapun pada Reynald yang masih duduk di atas ranjang.
"Mau ngapain.?"
Karin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, dia berbalik badan untuk menatap Reynald.
"Mau buat sarapan,,"
Jawaban Karin membuat Reynald menatapnya tajam.
"Ada ibu kamu. Biar ibu kamu yang buat sarapan."
Ucap Reynald tegas.
"Kamu itu susah banget di kasih tau.!" Geram Reynald kesal. Dia turun dari ranjang dan menghampiri Karin.
"Kamu tidur larut semalam, kamu bisa kelelahan kalau harus memasak sekarang."
"Diam disini saja.! Ibu kamu juga pasti mengerti.!" Ujarnya penuh penekanan.
Reynald mengunci pintu, lalu mencabut kunci itu dan memasukannya kedalam saku celananya.
Dia berlalu dari hadapan Karin, kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Karin terlihat melongo, dia tidak bisa berkata apapun. Terlebih tatapan mata Reynald terlihat sangat menakutkan, membuatnya tidak berani untuk membantah lagi.
Reynald keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Karin sempat melirik sekilas, tapi kemudian menundukkan pandangannya. Dia terlihat gugup melihat Reynald yang bertelanjang dada dengan rambutnya yang masih basah.
Dalam keadaan seperti itu Karin mengakui kalau Reynald sangat tampan dan menggoda, bahkan mampu menggetarkan hatinya.
"Mana kuncinya kak, aku mau keluar,," Karin berkata tanpa menatap Reynald.
Reynald mendekat, dia menyodorkan kunci pada Karin yang tengah duduk disisi ranjang dengan kepala yang tertunduk.
"Aku nggak bawa baju ganti. Ambilkan baju dan celana kakak kamu, sekalian celana d'lamnya."
Karin mengangguk sembari mengambil kunci dari tangan Reynald.
"Jangan yang bekas.!" Seru Reynald saat Karin beranjak dari duduknya.
"Iya kalau ada.!" Sahut Karin kesal. Dia berjalan cepat keluar dari kamar dan langsung mencari Radit.
"A,, pinjem baju sama celana. Sekalian sama daleman buat kak Reynald."
"Dia nggak mau yang bekas.!" Karin sedikit mencebikan bibirnya.
"Baju sama celana mah nggak ada yang baru de. Ada daleman doang ya baru, itu juga kayaknya kekecilan. Badan dia kan lebih gede dari aa,,"
"Paling nanti burungnya kejepit,,"
Karin melotot mendengarnya. Dia tidak menyangka kakaknya berani membahas tentang perburungan padanya. Padahal selama ini kakaknya tidak pernah mengatakan hal seperti itu.
"Nggak usah kaget gitu de. Udah nikah, udah hamil juga. Denger aa ngomong burung aja langsung melotot,,"
Radit melengos, dia masuk kedalam kamarnya dan mengambilkan baju untuk Reynald.
"Nih,,!" Radit memberikan baju pada Karin.
"Bilangin sama suami kamu, nggak usah dibalikin tapi di ganti aja sama yang baru,," Radit mengembangkan senyum puas.
"Apaan sih a.! Timbang pinjem baju aja minta di ganti sama yang baru." Karin berlalu, enggan menanggapi ocehan Radit lebih jauh.
"Muat nggak kak.?"
Karin langsung bertanya begitu Reynald keluar dari kamar mandi. Laki - kaki itu baru saja selesai memakai baju.
Reynald melirik kesal, saat itu juga Karin bisa melihat dengan jelas kalau baju dan celana yang dipakai Reynald sangat melekat erat di badannya.
"Burungku bisa mengkerut kalau seperti ini.!" Serunya kesal. Dia sedikit menggerakan kedua kakinya, membenarkan posisi miliknya yang sangat tidak nyaman.
"Kakak kan tau sendiri badan A Radit kecil, wajar kalau nggak muat. Apa lagi punya,,,"
Karin tidak meneruskan ucapannya, dia langsung mengatupkan rapat mulutnya karna hampir keceplosan. Dia hampir saja mengatakan kalau milik Reynald besar.
Reynald hanya menghembuskan nafas berat.
"Aku langsung pulang saja." Ujar Reynald sembari mengemas baju dan laptop miliknya.
"Kamu mau disini atau ikut pulang.?" Reynald menatap Karin, cukup lama dia menunggu jawaban dari mulut Karin. Namun wanita itu belum juga mengeluarkan suara.
"Ya sudah kamu disini saja. Aku juga masih banyak pekerjaan, mungkin akan pulang malam lagi,,"
"Jangan lupa sarapan dan minum obatnya,,"
Reynald bergegas untuk keluar dari kamar.
"Tunggu kak,," Karin berjalan cepat, dia menghadang langkah Reynald dan berdiri didepannya. Diraihnya tangan Reynald, Karin mencium pelan punggung tangan suaminya. Dia langsung melepaskan tangan Reynald dan bergeser ke samping.
Bukannya keluar dari kamar, Reynald justru mendekat. Dia menahan tengkuk Karin dan melu**t sekilas bibir Karin dengan lembut.
"Aku pergi dulu,," Satu kecupan mendarat di kening Karin. Reynald segera keluar dari kamar, meninggalkan Karin yang mematung menatap kepergiannya.
Sikap Reynald sangat sulit di mengerti, terkadang dingin dan ketus, tapi terkadang juga lembut seperti tadi.
...***...
Yang heboh Karin Reynald Karin Reynald, udah vote belum nih.?
Awas ya kalo nggak vote 😂 nanti othor pisahin mereka, biar bang Reynald sama othor aja.