
Bagaimana bisa Jeje memanggilnya ibu jika selama belas tahun dia tidak pernah muncul di hadapannya.
Wanita paruh baya itu hanya sibuk dengan dunianya tanpa memperdulikan Jeje yang telah ia tukar dengan harta.
Jika dia benar - benar menyayangi dan menganggap Jeje sebagai putrinya, tidak mungkin selama itu dia sanggup berpisah dengan Jeje tanpa menemuinya sekalipun.
Mirna berdiri kikuk didekat bangsal. Dia menatap Jeje dengan tatapan iba meski tidak terlihat tulus.
Kedatangan Mirna pagi itu hanya membuat suasana hati Jeje kembali memburuk. Meski dia bilang ingin menemui Mirna, tapi Jeje belum siap jika harus melihat dan bicara dengannya sekarang. Karna dia masih menyimpan kekesalan pada ibu kandungnya itu.
Entah darimana Mirna tau kalau Jeje sedang di rawat di rumah sakit. Kenzo sempat menyuruh Mirna untuk pergi saat dia membuka pintu dan mendapati wanita paruh baya itu yang datang. Namun Mirna bersikeras untuk menemui Jeje hingga memohon pada Kenzo, bahkan hampir bersimpuh dikakinya. Pada akhirnya Kenzo terpaksa mengijinkan Mirna menemui Jeje meski dia menaruh dendam pada wanita paruh baya itu. Karna Mirna sudah membuat keselamatan Istri dan calon anaknya terancam.
"Waktu anda hanya 5 menit.!" Tegas Kenzo.
"Katakan apa yang ingin katakan dan segera keluar dari sini. Jangan membuat kondisi Istri saya memburuk.!"
Tatapan tajam Kenzo terlihat menakutkan, ada kemarahan dan dendam yang tersimpan di sana. Meski tau bahwa wanita itu yang sudah melahirkan istrinya, namun Kenzo tidak akan melepaskan siapapun yang sudah menyakiti istrinya dan membuat istrinya sampai harus di rawat seperti ini.
"Saya ibu kandung dari istri kamu, bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu pada ibu mertua kamu sendiri." Suara yang terdengar tenang dan halus namun dengan nada sindiran.
Mirna berjalan mendekati bangsal yang di tempati oleh Jeje, namun Jeje langsung membuang wajahnya ke arah lain. Mata Jeje berkaca - kaca, baginya terasa menyakitkan dan berat dalam posisi seperti itu. Andai saja dia terlahir dari rahim mama Rissa, pasti dia tidak akan merasakan sakit hati karena di tinggalkan oleh ibu kandungnya.
Meski hanya di jadikan sebagai umpan untuk meraih kekayaan, tapi tidak seharusnya Mirna mencampakkannya setelah mendapatkan apa yang Mirna inginkan.
"Tidak ada seorang ibu yang tega menukar anaknya demi uang.!" Ucapan Kenzo berhasil menyulut emosi Mirna. Kedua tangannya mengepal kuat tanpa dia sadari, namun Mirna berusaha menunjukan ekspresi setenang mungkin.
"Setelah apa yang anda lakukan pada istri saya, harusnya anda malu untuk muncul di hadapannya lagi.!" Wajah Kenzo memerah. Jika tidak mengingat bahwa wanita paruh baya itu yang sudah melahirkan Jeje, mungkin dia akan langsung menyeret Mirna keluar dari sana.
Kenzo masih memiliki rasa hormat dan merasa berterima kasih pada Mirna karna sudah melahirkan putri cantik yang berhati malaikat.
Seorang wanita yang mampu merubah hidupnya, mampu memberikan kebahagiaan yang tak ternilai untuknya.
"Hubby,,," Panggil Jeje lirih. Dia menggenggam lembut tangan Kenzo yang baru saja mengepal karna semakin emosi.
Setelah Kenzo menatapnya, Jeje langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia meminta Kenzo untuk tidak terbawa emosi dan tidak menanggapi ucapan Mirna.
"Jeni,, mama Minta maaf sudah membuat kamu seperti ini. Mama tidak tau kalau kamu sedang mengandung cucu ma,,,
"Langsung saja pada intinya." Tegas Jeje. Dia sengaja memotong ucapan Mirna karna tidak suka saat Mirna menyebut calon anaknya dengan sebutan cucu. Entah bagaimana bisa tanpa rasa malu Mirna menyebut calon anak Jeje sebagai cucunya, sedangkan dia bahkan tidak peduli dengan anak kandungnya sendiri.
"Kebohongan apa lagi yang ingin anda sampaikan.?" Kali ini Jeje memberanikan diri untuk menatap Mirna. Meski terlihat tegar, tapi sebenarnya Jeje sedang menahan rasa sakit yang berkecambuk di hatinya.
Ternyata sangat menyedihkan karna tidak diharapkan oleh orang tua kandungnya sendiri. Dilahirkan hanya untuk tujuan pribadinya.
"Kenapa bicara seperti itu Jeni.? Mama tidak pernah membohongi kamu." Mirna meraih tangan Jeje. Merasa tidak mendapat penolakan, membuat Mirna tersenyum senang.
"Mama hanya ingin meminta maaf karna tidak pernah menemui kamu selama ini. Meski mama memiliki alasan besar untuk itu, tetap saja mama sangat menyesal dan terus dihantui rasa bersalah selama ini."
"Mama mohon maafkan mama dan ijinkan mama untuk menebus semua kesalahan yang sudah mama perbuat."
"Mama ingin menghabiskan masa tua mama bersama kamu dan cucu mama,,,"
Jeje tersenyum kecut, dia menarik tangannya dari genggaman Mirna. Menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan nanar yang terlihat menyakitkan.
"Setelah 17 tahun lebih,?" Tanya Jeje dengan suara bergetar. Dia semakin tidak habis pikir, bagaimana bisa baru kembali setelah 17 tahun merasa bersalah dan menyesal.
"Aku bukan anak kecil, aku bahkan akan menjadi seorang ibu. Meski anakku belum terlahir ke dunia ini, tapi naluri sebagai seorang ibu sudah ada dalam diriku." Jeje menajamkan tatapan matanya.
"Bagaimana seorang ibu masih bisa menikmati hidup setelah berpisah dengan darah dagingnya, meninggalkannya begitu saja tanpa kabar."
Perkataan Jeje menjadi tamparan keras bagi Mirna. Dia terdiam dan tidak mampu memberikan pembelaan.
Suara ketukan pintu membuat suasana tegang di ruangan itu berakhir.
"Masuk.!" Seru Kenzo dengan suara kencang.
Dokter Shela muncul dari balik pintu, dia berjalan masuk sembari mengulas senyum pada semua orang yang ada di sana.
"Aku harus memeriksa kondisi istri dan calon anak kamu sebelum kalian pulang Ken,,," Ujarnya ramah.
"Pastikan istri dan anakku baik - baik saja." Ujar Kenzo. Shela mengangguk samar dengan seulas senyum. Dia masih tidak percaya sifat dan sikap Kenzo berubah drastis. Kenzo idola di sekolah tidak lagi dingin dan ketus.
"Waktu anda sudah habis, bisa keluar dari ruangan ini.?" Kenzo menekankan kalimatnya sembari memberikan tatapan datar namun terlihat menakutkan. Mirna terlihat kesal dengan sikap Kenzo, namun dia tidak berani membantah.
"Jeni,, mama pergi dulu."
"Mama akan menemuimu lagi nanti." Mirna mengusap pucuk kepala Jeje.
"Jaga kesehatan kamu,,,"
Dia langsung bernafas lega setelah Mirna keluar dari ruangannya.
"Kamu baik - baik saja.?" Tanya Shela lembut. Dia melihat raut wajah Jeje yang terlihat tertekan sejak masuk ke kamar itu.
Jeje mengangguk pelan.
"I'm fine." Sahutnya, kemudian mengulas senyum yang sedikit di paksakan karna suasana hatinya belum sepenuhnya membaik.
"Pastikan tetap happy dan jangan terlalu stres, fokus pada kehamilan kamu." Tutur Shela, kemudian dia melirik Kenzo.
"Apa seberat itu menjalani pernikahan dengan Kenzo.?" Ujarnya dengan candaan.
Kenzo terlihat acuh, namun memberikan tatapan tajam pada Shela.
"Hanya berat saat dia menindihku,,," Sahut Jeje dengan eskpresi datar.
Tawa Shela langsung pecah. Dia merasa terhibur dengan jawaban Jeje yang di anggap terlalu polos.
"Hahahaha,,, Gimana batu es nggak cair kalau pasangannya kayak gini." Shela terlihat heboh dengan tawanya.
"Je.!" Tegur Kenzo dengan mata yang mendelik.
"Aku hanya bercanda by,,," Ujarnya sembari menyengir kuda. Dia hanya ingin mencairkan suasa dan mengalihkan pikirannya yang sempat kacau karna kedatangan Mirna.
Setelah terlihat candaan dan obrolan ringan, Shela mulai memeriksa kondisi Jeje dan kandungannya. Dia sudah memastikan kalau kondisi Jeje dan calon anak mereka baik - baik saja dan di perbolehkan pulang saat itu juga.
...*****...
Kenzo dan Jeje sedang duduk di ruang keluarga, beberapa buah - buahan yang sudah dipotong tertata rapi di sana. Tak lupa dengan susu hamil yang di buatkan langsung oleh Kenzo.
Jeje terlihat lahap memasukan satu persatu buah kedalam mulutnya.
"Makan yang banyak dan jangan memikirkan apapun." Ujar Kenzo penuh kasih sayang.
Tangannya mengusap lembut pucuk kepala Jeje, menatap wanita cantik itu dengan tatapan yang mendamba. Saat ini kebahagiaannya ada pada Jeje dan calon anak mereka.
"Tapi aku selalu memikirkan hubby,," Goda Jeje dengan manja. Dia bahkan mengedipkan sebelah matanya pada Kenzo.
Kenzo menggelengkan kepalanya, istrinya itu sedang menguji kesabarannya.
"Jangan coba - coba menggodaku. Aku tidak mungkin menindihmu karna kondisi kamu masih lemah, kecuali kalau kamu mau menindihku. Dengan senang hati aku akan mengabulkannya,,"
Kedua tangan Kenzo merayap ke bagian pinggang belakang dan perut Jeje, kemudian memeluk erat tubuh Jeje yang sudah mulai mengembang.
"Hubby lepasin,,! Aku cuma bercanda. Aku masih lemas,,," Jeje menggoyangkan badannya agar Kenzo mau melepaskan pelukannya.
"Tanggung sudah on, bagian atasnya saja juga tidak masalah." Kenzo membuka paksa kancing kemeja yang melekat di tubuh Jeje, dengan sigap mengeluarkan benda favoritnya dari tempatnya.
"Hubby iihhh,,,," Jeje berusaha mendorong pelan wajah Kenzo yang sudah berada di depan dadanya.
"Cuma sebentar,,"
"Kenapa jadi semakin besar.? Kelihatan seksi dan menggoda." Puji Kenzo sebelum akhirnya menyesap salah satu bukit kembar itu.
"Hubby emm,,," Jeje menahan desahan, tangannya dia gunakan untuk mencengkram rambut Kenzo. Sepertinya dia kembali bertenaga setelah mendapat gelayar nikmat pada seluruh tubuhnya.
Dering ponsel membuat aksi panas Kenzo terhenti. Satu tangannya mengambil ponsel di atas meja, dan satu lagi membenarkan baju Jeje.
"Ya,, kenapa mah.?"
Wajah Kenzo seketika terlihat panik dan terkejut.
"Ken akan ke sana sekarang.!" Kenzo mematikan sambungan telfonnya.
"Sayang, aku harus ke apartemen mama. Fely sakit dan sekarang dia pingsan." Ujar Kenzo panik. Dia beranjak dari duduknya, menyambar dompet dan kunci mobil di atas meja dengan gerakan secepat kilat.
"Hubby aku ikut,,,!" Jeje menahan langkah Kenzo.
"Kamu masih harus istirahat. Aku akan segera kembali setelah memanggilkan dokter untuknya."
Tolak Kenzo halus.
"Nggak mau by, pokoknya aku mau ikut. Aku pengen lihat keadaan kak Fely." Pinta Jeje memaksa, dia langsung mengikuti langkah Kenzo.
Tanpa bisa melarang lagi, akhirnya Kenzo membiarkan Jeje ikut bersamanya.
...*****...