
Kini aku bisa merasakan enaknya duduk di balkon apartemen om Kenzo pada sore hari seperti ini. Mungkin karena saat ini aku sedang merasakan hal yang sama seperti om Kenzo kala itu.
Kegundahan hati dengan semua perasaan dan dugaan yang terus berkecambuk.
Aku memilih bersandar pada kursi, melihat apa yang ada didepanku sejauh mata memandang.
Mungkinkah aku memiliki perasaan lebih pada om Kenzo.? Apa kebahagiaan dan kenyamanan yang aku rasakan selama ini karna aku sudah mencintainya.? Seperti ini kah cinta.?
Lalu bagaimana jika aku benar - benar jatuh cinta padanya.? Apa aku siap jika nantinya harus terluka seperti kak Nicho.? Karna harus kehilangan orang yang aku cintai.
Seharusnya aku bisa menahan diri, tidak membiarkan perasaan ini terus tumbuh hingga akhirnya berubah menjadi cinta. Namun aku terlalu terbawa perasaan pada perhatian dan kebaikan om Kenzo padaku. Siapa yang tidak hanyut jika mendapatkan perlakuan seperti itu dari laki - laki seperti om Kenzo. Terlebih aku yang memang selama ini membutuhkan perhatian.
"Masuk Je, diluar dingin,,,"
Suara om Kenzo membuyarkan lamunanku. Aku menoleh pada om Kenzo yang saat ini berdiri di sampingku. Dia baru saja selesai mandi, penampilannya terlihat lebih segar. Dengan mengenakan pakai santai, om Kenzo terlihat lebih muda dari usianya. Rambutnya yang masih setengah basah, menambah kesan maskulin dari laki - laki tampan ini. Dia sempurna, bahkan sangat sempurna. Aku tidak bisa berhenti untuk mengagumi dirinya.
"Ngelamunin apa,?" Tangan om Kenzo mengusap kepalaku, kemudian ikut duduk di sampingku.
Aku hanya menggelengkan kepala, sembari tersenyum tipis.
"Gimana kuliah kamu.? Jadi ke New York.?"
Om Kenzo serius sekali bertanya seperti itu padaku. Aku jadi punya ide untuk mengerjainya. Bagaimana kalau aku bilang akan kuliah di New York.? Aku penasaran dengan reaksi om Kenzo.
"Perintah papa nggak bisa di bantah om. Aku bisa apa. Jadi boleh kan om kalau aku mengakhiri kontraknya nanti.?" Aku bicara tanpa keraguan. Om Kenzo pasti percaya dengan ucapanku.
"Jangan coba - coba Je.! Cuma aku yang bisa mengakhiri kontrak perjanjian itu."
Sahutnya tegas. Aku sangat senang mendengarnya. Apapun alasan om Kenzo melarangku mengakhiri kontrak, aku tidak mau tau. Yang pasti, om Kenzo tidak mau hubungan kerja sama kami berakhir. Dan itu cukup membuatku gede rasa.
"Tapi om,, aku harus gimana.? Masa harus nentang papa.? Aku harus kuliah om. Om kan bisa cari sugar baby yang lain nanti. Atau mau aku cariin gantinya,,? "
Aku menahan senyum melihat om Kenzo yang mendelik menatapku. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Sepertinya dia kesal padaku.
Om Kenzo menghela nafas panjang.
"Ya sudah. Pendidikan kamu memang jauh lebih penting. Kamu boleh pergi. Ayo aku anterin kamu pulang,,,"
Iiihh,,, apa - apaan om Kenzo. Tadi melarangku, sekarang pasrah gitu aja.
"Om,,!" Aku menarik tangan om Kenzo saat dia akan beranjak dari duduknya.
"Aku bercanda om. Aku bakal kuliah disini,," Ucapmu santai dengan senyum lebar. Om Kenzo hanya diam saja. Dia terlihat acuh dengan mengangkat kedua bahunya.
"Ayo pulang,," Om Kenzo berlalu dari balkon, aku langsung berdiri untuk mengejar langkahnya.
Kenapa dengan om Kenzo.? Apa dia marah padaku.?
"Om,, aku belum mau pulang. Baru aja nyampe, masa udah di suruh pulang. Om marah ya,,?"
Aku menghadang jalan om Kenzo. Dia menatapku datar, tanpa mengatakan apapun.
Jiwa agresif ku tiba - tiba muncul, aku semakin mendekat pada om Kenzo. Mengalungkan tangan di lehernya. Dengan gerakan cepat, aku mencium lembut bibir om Kenzo.
"Jangan marah ya om. Nanti gantengnya luntur loh,," Godaku. Om Kenzo tidak bisa menahan senyumnya.
"Mau ngerayu ceritanya.? Dasar bayi,,," Kedua tangan om Kenzo menarik pinggangku hingga membuat tubuh kami tanpa jarak. Dalam hitungan detik, om Kenzo memagut bibirku. Ciuman panas tidak bisa di hindari. Suara kecapan bibir kami memenuhi kamar om Kenzo.
Dia menggiringku mendekati ranjang, tanpa melepaskan pagutan bibir kami. Aku pasrah saat om Kenzo merebahkanku di ranjangnya. Tanganku bahkan semakin menekan tengkuk om Kenzo, agar dia memperdalam ciumannya.
Desahanku lolos saat bibir om Kenzo menjelajahi leherku, ciumannya semakin turun kebawah. Tangan om Kenzo menyingkap kain yang menutupi benda favoritnya.
"Omm,,,," Badanku menegang, aku meremas kuat rambutnya. Om Kenzo semakin dalam menyesapnya. Aku dibuat melayang, aku ingin om Kenzo melakukannya lebih dari ini.
Suara bel membuat kegiatan panas kami terhenti.
Aku menatap kecewa pada om Kenzo yang akan beranjak, sampai tanganku terus bergelayut di lehernya.
"Biarin aja om,, jangan di buka,," Ucapku memohon. Lagipula aku juga takut untuk bersembunyi lagi. Aku takut mendapati fakta tentang om Kenzo yang akan membuatku semakin pusing saja. Entah siapa yang datang. Nadine.? atau Felicia.?
"Tunggu disini, itu asisten ku. Ada berkas penting yang dia kirim,,"
Setelah tau siapa yang datang, aku langsung melepaskan om Kenzo. Dia merapikan kembali bajuku sebelum keluar dari kamar.
Meski om Kenzo sudah memberitahuku, tapi aku masih saja penasaran. Aku ingin memastikan jika ucapan om Kenzo benar. Aku langsung berdiri dibalik pintu, berharap bisa mendengarkan percakapan mereka. Namun sialnya aku tidak bisa mendengar apapun. Jarak kamar om Kenzo lumayan jauh dari ruang tamu.
Aku memutuskan untuk keluar kamar dengan mengendap endap, mereka tidak akan melihatku keluar dari kamar karna terhalang oleh ruang tv.
"Berisik banget lu.! Kalo lu mau, samperin aja sana.! "
Asisten om Kenzo semakin terbahak - bahak.
"Bisa di gantung gue sama tuan Andreas, kalo nikung aset perusahaan,,,"
"Bacot lu.!" Ucap om Kenzo ketus.
"Nih,,! Udah gue tanda tangani semua. Buruan cabut.!"
"Yaelah,, emang mau ngapain lu disini sendirian.? Mending gue temenin, maen PS yuk,,,"
"Mau keluar atau gue pecat lu sekarang.!"
"Kenapa sih lu.? Sensi amat hari ini. Lagi tegang ya lu.? Maen solo gih sana,,,"
"Sialan lu,,!"
"Hahaha,,,,"
Sejak tadi aku terus fokus menguping pembicaraan mereka. Kini suasana sudah hening. Sepertinya asisten om Kenzo sudah pergi. Aku langsung keluar dari persembunyian agar om Kenzo tidak curiga.
Aku tidak paham dengan obrolan mereka, namun lagi - lagi aku harus mendengar nama Nadine disebut.
"Om,," Aku langsung menyapanya saat melihat om Kenzo.
"Asisten om udah pulang ya.? Aku mau minum om, haus,," Tanpa di tanya, aku langsung memberi tahu om Kenzo agar dia tidak mencurigai ku yang tiba - tiba sudah ada di luar kamar.
Om Kenzo mengangguk. Aku langsung pergi ke dapur. Ternyata om Kenzo membuntuti ku sampai ke dapur, dia duduk didepan meja makan.
"Om Ken mau minum juga,,?
"Nggak,,,"
Aku menghampiri om Kenzo dengan membawa 1 minuman kaleng di tanganku.
"Sini,,," Om Kenzo menepuk pahanya, memintaku duduk di pangkuannya.
"Aku kan mau minum om,,"
"Emangnya kalo duduk disini nggak bisa sambil minum.?" Sahutnya cepat. Tanpa mau berdebat, aku langsung duduk di pangkuan om Kenzo. Aku minum tanpa menghiraukan om Kenzo yang aku tau dia terus menatapku. Sepertinya om Kenzo kesal karna aku terus meneguk minuman kaleng ini sedikit demi sedikit. Dia langsung merebutnya dari tanganku, lalu meletakkannya di atas meja.
Baru saja aku akan protes, om Kenzo sudah melahap bibirku. Tidak memberikan ku jeda untuk membalasnya. Dia bahkan mendekap tubuhku sangat erat.
"Kamu mau liburan,,?" Tiba - tiba saja om Kenzo bertanya seperti itu setelah melepaskan ciumannya.
"Maksud om,,?" Aku tidak paham maksud om Kenzo. Dia bertanya atau sedang menawariku untuk berlibur.
"Kamu udah nggak sekolah kan.?" Aku mengangguk.
"Sabtu nanti aku jemput, kita pergi ke pantai,,"
Aku melongo mendengarnya. Jadi om Kenzo mengajakku untuk liburan bersama.?
"Om Ken serius.?"
"Kapan aku bercanda. Aku bukan kamu.!" Om Kenzo menarik gemas hidungku. Aku hanya menyengir padanya.
"Jangan lupa bawa baju ganti nanti, kita pulang minggu malam."
Lagi - lagi aku dibuat melongo olehnya. Itu artinya kita akan menginap.? Apa mungkin om Kenzo akan,,,?
Ya ampun,,,! otakku sudah berkelana kemana - kemana.
...****...
Dukung terus novel othor yah😊 Dengan cara VOTE.
Dan tinggalkan like setelah membaca. 1 Like sangat berarti buat othor. Jadi makin semangat ngetik kalau banyak yang like, apa lagi kalo banyak yang komen😁.
Like dan Komen sangat membantu untuk menaikan popularitas novel ini😊
Love u all🥰🥰