
Kepulanganku dan kak Nicho, disambut oleh amarah papa yang meluap.
Ternyata kak Sherly langsung mengadukan perbuatan kak Nicho pada orang tuanya. Merasa tidak terima anaknya di abaikan oleh kak Nicho, papa kak Sherly langsung menegur papa.
"Apa begitu cara kamu memperlakukan calon istri kamu.?! Sherly sudah jauh - jauh menyusul ke Bali, tapi kamu malah sengaja pulang.!"
Bentak papa.
Kak Nicho hanya diam, namun dia memendam amarahnya.
"Jangan buat kesabaran papa habis Nich.!" Serunya lagi.
"Dulu kamu menolak perjodohan itu, menentang papa dan lebih memilih kekasih kamu. Tapi saat papa sudah mau menerimanya, apa yang kamu dapat.? Dia meninggalkan kamu kan.?!!"
"Sekarang kamu sendiri yang bersedia menerima kembali perjodohan itu.! Jadi jangan buat papa kecewa.!" Tukasnya lagi.
"Kenapa papa bawa - bawa Fely.?!" Geram kak Nicho .
Dia tidak bisa disinggung sedikitpun tentang kak Fely. Kak Nicho akan maju jadi yang terdepan.
"Harusnya papa senang karna Fely sudah pergi dari kehidupan ku. Itu kan yang papa mau.?!"
Nada bicara kak Nicho semakin tinggi.
"Nicho.!! Lagi - lagi kamu melawan papa karna perempuan tidak tau diri itu.!"
"Dia sudah mencampakkan kamu, tapi masih saja kamu bela.!!"
Suana diruang keluarga begitu mencekam. Api peperangan semakin berkobar. Wajah kak Nicho merah padam, menatap papa dengan penuh kebencian. Begitu pula papa, yang menatap kak Nicho dengan kekecewaan.
Aku hanya bisa diam sambil memeluk mama. Aku dan mama tidak bisa berkata apapun. Karna papa paling tidak suka kalau ada yang ikut campur.
"Siapa yang papa sebut tidak tau diri.? Perempuan baik yang sudah papa hina, sampai dia meninggalkan aku.!"
"Semua itu karna papa.!!" Teriaknya.
Papa terlihat terkejut dengan pengakuan kak Nicho.
"Jangan papa pikir aku tidak tau apa yang papa perbuat pada Fely.!!"
"Kenapa papa tega menghinanya.?!! Apa hanya karna keluarga Fely tidak seperti Sherly.? Yang bisa memberikan keuntungan untuk perusahaan papa.?!"
"Itu kan yang papa mau.?! Mementingkan keuntungan perusahaan dan mengobarkan kebahagiaanku.!!"
"Nicho.!! Kamu berani melawan papa lagi demi perempuan itu.?!!"
Kedua tangan kak Nicho mengepal kuat.
"Aku sudah muak dengan sikap papa.!!" Bentaknya.
Kak Nicho berdiri sembari melayangkan tinjuan pada meja kaca didepannya.
Aku dan mama hanya bisa menjerit saat melihat meja itu pecah dan menimbulkan suara yang cukup kencang. Serpihan kaca berhamburan di lantai.
Darah segar mengalir di punggung tangan kak Nicho. Setelah itu, kak Nicho memilih pergi dari hadapan papa.
"Nicho,,,!!!" Teriak papa, namun kak Nicho tidak menghiraukannya dan terus berjalan untuk naik ke kamarnya.
"Kamu lihat.! Anak kita jadi pembangkang seperti itu. Perempuan itu sudah meracuni otaknya.!!" Geram papa.
Dia masih saja menyalahkan kak Fely, tanpa mau berkaca pada kesalahannya sendiri. Atas perlakuan buruknya terhadap kak Fely.
"Pah, mama mohon jangan terlalu keras sama Nicho. Jangan sampai papa menyesal nantinya. Dia sudah dewasa, biarkan saja dia memilih jalan hidupnya sendiri,,,"
"Nicho harapan papa mah,,! Dia yang akan meneruskan perusahaan kita. Apa salahnya papa ikut andil dalam menentukan masa depannya kelak. Yang papa lakukan juga demi kebaikan dia,,!!"
"Kebaikan papa.! Bukan kebaikanku.!" Sanggah kak Nicho dengan suara tegas. Dia menuruni tangga dengan membawa koper besar miliknya.
"Apa yang papa lakukan semata - mata untuk membuat perusahaan kalian semakin besar. Bukan untuk masa depanku.!"
"Aku sudah dewasa,,! Bukan lagi anak kecil yang bisa seenaknya papa atur - atur,,,!!" Geramnya.
Papa hanya bisa diam dengan menahan amarahnya. Menatap gerak - gerik kak Nicho.
"Nicho,,, kamu mau kemana sayang,,,?" Tanya mama dengan suara yang bergetar.
Kak Nicho menghampiri aku dan mama.
"Aku mau balik ke New York mah, Setidaknya sampai kuliahku selesai, aku tidak akan pulang kesini,,"
"Nicho,,!"
"Kak,,!"
Seruku dan mama. Mata kami sudah berkaca kaca, mama bahkan sudah meneteskan air matanya.
"Jangan seperti itu nak, mama mohon,,,"
"Mama jaga diri baik - baik. Kamu juga,,," Kak Nicho tersenyum padaku, mengacak pelan pucuk kepalaku.
Aku langsung memeluk kak Nicho, menangis dalam dekapannya.
"Jangan pergi kak,,, aku nggak bisa bertahun tahun tanpa kakak,,," Ujarku disela tangis yang mulai pecah.
"Cuma dua tahun Je, nggak akan lama,,"
Kak Nicho melepaskan pelukanku. Kini dia beralih memeluk mama.
"Nicho pamit mah. Jangan terlalu sibuk, luangkan sedikit waktu untuk Jeje,,," Ucapnya, lalu melepaskan pelukannya.
"Nggak sayang, kamu nggak boleh pergi selama itu. Kamu harus kembali lagi nanti,,," Ucap mama memohon.
"Sudah mah.!! Biarkan saja dia pergi. Dia sudah tidak menghargai kita sebagai orang tua.!!" Bentak papa.
"Apa menurut papa, sikap papa selama ini sebagai orang tua sudah benar.? Kenapa aku harus menghargai orang yang tidak bisa menghargai orang lain.!"
Satu tamparan mendarat di pipi kak Nicho.
Aku dan mama hanya bisa berteriak tanpa sempat mencegahnya.
Mama bangun untuk menjauhkan papa,, sedangkan aku membawa kak Nicho untuk menjauh.
"Papa sudah kelewatan.! Kenapa harus menggunakan kekerasan.!" Ujar mama.
"Kakak nggak papa.?" Tanyaku cemas.
Pipi kak Nicho memerah.
Kak Nicho berlalu, mama berusaha menahannya, sedangkan aku hanya bisa menangis.
Entah keluarga macam apa ini.? Tidak ada ketenangan dan kenyamanan didalamnya.
"Kalau kamu berani keluar dari rumah ini,, papa akan mencabut semua fasilitas kamu di New York, termasuk memblokir semua kartu atm dan kartu kredit.!"
"Lakukan saja.! Aku tidak peduli. Papa pikir aku tidak bisa hidup tanpa uang dari papa.?!!"
Aku yang tidak sanggup lagi, memilih untuk pergi ke kamarku.
Lalu bagaimana denganku kalau kak Nicho tidak kembali lagi. Siapa yang akan menasehati mama dan papa untuk meluangkan waktunya untukku. Siapa yang akan menjagaku.?
Aku muak dengan papa. Dia bahkan tidak menyesal sedikitpun sudah membuat kak Nicho memilih untuk pergi. Kepergian kak Nicho bahkan tidak membuatnya sedih.
Apa kak Nicho tidak berarti untukku.? Kenapa papa sekejam itu.!
...****...
Pagi ini aku mendapat kabar dari kak Nicho, dia bilang akan sering pulang seperti biasa, hanya untuk menemuiku saja. Aku sedikit lega mendengarnya.
Semoga keputusan yang diambil kak Nicho adalah keputusan yang tepat. Memang sebaiknya dia pergi, dari pada harus mengorbankan kebahagiaannya demi ambisi papa yang tak ada habisnya.
Meskipun aku sedih, namun aku mendukung keputusan kak Nicho.
Semoga setelah ini dia akan kembali bahagia dengan cintanya.
Aku sedang bersiap untuk pergi ke apartemen om Kenzo. Padahal baru kemarin aku menghabiskan waktu dengannya, tapi entah kenapa rindu ini justru semakin besar saja.
Semakin lama aku banyak menghabiskan waktu bersama om Kenzo, aku merasa semakin berat untuk berpisah dengannya walaupun hanya sebentar saja.
Bagaimana jika takdir tidak berpihak padaku dan mengharuskan aku untuk berpisah dengannya.
Apa aku sanggup.? Tentu saja aku tidak akan sanggup.
Tapi aku percaya pada om Kenzo, aku yakin dengan janjinya, aku yakin kita akan selalu bersama.
Sampainya di apartemen om Kenzo, aku bergegas masuk ke dapur untuk membuat makan siang kami.
Sekitar 30 menit lagi om Kenzo akan pulang.
Aku memasak dengan perasaan yang bercampur aduk, tidak sabar rasanya bertemu lagi dengan om Kenzo.
Aku seperti seorang istri yang sedang menyambut kepulangan suaminya.
Terlalu sibuk memasak dan sibuk dengan perasaanku yang bergemuruh, aku sampai tidak menyadari kehadiran om Kenzo.
Hingga suara dehemannya membuatku langsung menoleh ke belakang.
Tidak ada kata selain bahagia saat melihatnya ada di hadapanku. Om Kenzo menatapku dengan seulas senyum dibibirnya. Aku hanya bisa membisu dan diam di tempat.
Melihatku yang hanya diam saja, om Kenzo merentangkan kedua tangannya. Memberiku ruang untuk lari kedalam pelukannya.
Dengan wajah yang bersemu merah, aku berlari kearahnya. Bukannya memeluk, aku justru melompat untuk gendong dan bergelayut di leher om Kenzo. Aku bak bayi koala dalam dekapan induknya.
Tangan om Kenzo menahan tubuhku, satu tangan lagi mengusap punggungku.
"Gimana kabar kamu,,?" Tanyanya sambil melangkah dan terus menggendongku. Ternyata om Kenzo hendak mematikan kompor yang tadi aku tinggal begitu saja.
"Ya ampun,, aku lupa om. Untung nggak gosong,,," Ujarku sambil memastikan masakanku benar - benar terselamatkan.
"Lain kali harus fokus kalau lagi masak,," Uajrnya datar.
Bagaimana aku bisa fokus kalau bayangan wajahnya terus muncul di kepalaku, ditambah dengan kehadirannya yang sudah membuyarkan pikiranku.
"Gimana kabar kamu.? Kamu baik - baik saja kan,,?" Tanyanya sekali lagi.
Se perhatian dan sepeduli itu padaku. Dia hampir menanyakan kabarku setiap kali bertemu.
Aku tidak punya alasan untuk tidak mencintai orang selembut dan sehangat om Kenzo yang begitu peduli padaku.
"Seperti yang om lihat, aku baik - baik saja,," Aku tersenyum lebar padanya. Om Kenzo mengangguk kecil. Dia terus menggendongku, membawaku masuk kedalam kamarnya.
Lalu mendudukanku di sisi ranjang.
"Aku ganti baju dulu,," Katanya dengan mengacak pelan pucuk kepalaku, lalu pergi dari hadapanku.
Aku langsung memegang dadaku yang bedetak kencang. Otakku sempat travelling saat om Kenzo membawaku masuk kekamarnya. Aku pikir dia akan melakukan hal yang sering kita lakukan.
Ternyata dia hanya akan mengganti bajunya saja.
Aku tertawa geli dalam hati. Selalu saja aku berfikir seperti itu.
Om Kenzo keluar dari walk in closet. Dia sudah mengganti bajunya dengan kaos polos dan celana pendek.
"Masaknya udah selesai.? Atau masih lama.?"
Sambil bertanya, om Kenzo kembali mengangkatku, menggendongku lagi seperti tadi. Aku refleks melingkarkan tangan di lehernya.
"Udah selesai kok om. Tadi tinggal dipanasin sebentar lagi buat matengin,"
Om Kenzo hanya diam, tidak memberikan reaksi apapun atas jawabanku. Dia terus melangkah, membawaku menuju dapur, kemudian menurunkanku di depan meja makan.
"Duduk disini,," katanya setelah menarik kursi.
"Tapi masakannya belum mateng om,,,"
"Biar aku saja yang lanjutin,,"
"Tapi om,,,
"Aku nggak suka dibantah Je,," Ucapnya tegas.
Om Kenzo benar - benar meneruskan memasak. Dia bahkan menyiapkan dua piring nasi dan menatanya di meja makan. Aku hanya diam saja, terus memperhatikan om Kenzo tanpa berkomentar apapun.
Hati siapa yang tidak akan luluh jika diperlakukan seperti ini.? Bagaimana mungkin aku tidak mencintainya, sedangkan kami banyak menghabiskan waktu bersama.
Sejujurnya semakin besar rasa cinta ini padanya, rasa takut untuk kehilangannya pun semakin besar juga.
...******...
Makin banyak yang like, makin semangat juga ngetiknya. Jadi jangan lupa tinggalkan like di setiap babnya ya😊.
Terus dukung novel ini,,,
Makasih,,,