My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
87. Season2



Kenzo benar - benar menepati ucapannya. Setelah mematikan sambungan telfon dengan Jeje, dia bergegas meninggalkan kantor. Pekerjaan yang seharusnya masih dia kerjakan, dia tinggalkan begitu saja. Kenzo juga menyuruh sekretaris nya untuk pulang. Beruntung dia masih ingat dengan sekretaris nya yang tadi dia suruh untuk kembali ke ruang kerjanya. Kalau Kenzo sampai lupa, mungkin sekretaris itu akan tetap berada di sana seorang diri.


Mobil mewah Kenzo melaju kencang. Jelas sekali kalau Kenzo sudah tidak sabar untuk bertemu dan tinggal dengan istrinya lagi. Padahal tadi siang dia baru saja mengunjunginya. Rasa cintanya yang besar membuat Kenzo sulit untuk jauh dari Jeje dan calon anak mereka tentunya.


Satu hari tanpa melihat keceriaan Jeje rasanya sangat hampa.


Kenzo memarkirkan mobilnya di garasi tamu. Baru pukul 8 malam tapi garasi utama sudah di tutup.


Turun dari mobil, langkah Kenzo begitu cepat memasuki rumah. Saat ini dia hanya ingin memeluk Jeje dan mencium calon anaknya.


"Hubby,,,," Jeje menyambut Kenzo di ruang tamu. Dia memang sengaja menunggu suaminya setelah tau bahwa suaminya itu akan datang.


"Rindu padamu,,," Ujar Kenzo. Dia merentangkan kedua tangan untuk memeluk Jeje dan menghujamkan beberapa kecupan di pucuk kepala Jeje.


"Aku lebih rindu,,," Balas Jeje. Dia mempererat pelukannya dan membenamkan wajah di dada bidang Kenzo.


"Hubby,,!" Peliknya cemas. Kedua tangannya mendorong pelan dada Kenzo.


"Hubby sakit.? Kenapa panas banget.?" Jeje langsung menyentuh kening Kenzo. Dan dugaannya benar, keningnya jauh lebih panas dari hawa panas yang dia rasakan saat memeluk tubuh Kenzo.


"Tidak apa, hanya kecapean dan kurang tidur,,," Kenzo mengembangkan senyum pada Jeje, seolah ingin menunjukan bahwa dia baik - baik saja.


"Bagaimana anak kita.? dia baik - baik saja.?" Kenzo mengusap perut Jeje. Dia menunduk dan mencium perut buncit Jeje berulang kali.


Kenzo terlihat santai meski badannya terasa panas, berbeda dengan Jeje yang nampak khawatir.


"Dia baik by, dan ada terus baik sampai waktunya lahir nanti,,," Sahut Jeje dengan segenap harapan baik untuk calon anaknya.


"Hubby sudah makan.? Sebaiknya langsung minum obat penurun panas kalau sudah makan,,,"


"Aku sudah makan. Jangan khawatir, aku hanya butuh istirahat dan setelah itu akan sembuh,,,"


"Ayo ke kamar,,," Kenzo merangkul pinggang Jeje. Keduanya bergegas pergi ke kamar.


"Papa dan Mama sudah tidur.?"


Kenzo mengarahkan pandangan kesemua sudut rumah. Kedua mertuanya memang tidak terlihat di sana.


"Belum, seperti biasa ada di ruang kerja mereka."


"Hubby mandi dulu ya, aku siapin air hangat. Setelah itu minum obat, baru deh ketemu Papa sama Mama." Ujar Jeje dengan penuh perhatian.


Kenzo tersenyum lembut. Keduanya langsung pergi ke kamar.


"Minum obatnya dulu by,,," Jeje menghampiri Kenzo yang baru selesai memakai baju. Dia menyodorkan obat penurun panas dan segelas air padanya.


"Makasih sayang,,," Satu kecupan mendarat di kening Jeje setelah Kenzo meminum obat.


"Aku sudah bilang sama Mama dan Papa kalau hubby datang dan belum bisa menemui mereka karna sedang demam. Jadi hubby istirahat saja sekarang, besok baru bicara sama mereka,,,"


Jeje mengambil gelas dari tangan Kenzo dan menaruhnya di atas meja, kemudian beranjak ke tempat tidur.


"Hubby.!!" Jeje memanggil Kenzo yang saat ini masih mematung di tempat. Tatapan matanya terlihat kosong dan terus mengarah padanya.


"Hubby.?!!" Sekali lagi Jeje memanggilnya. Kali ini Kenzo terlihat baru menyadari kalau Jeje memanggilnya. Dia tersenyum, lalu bergegas menyusul Jeje.


Kenzo merebahkan diri di samping Jeje, lalu memeluknya dari belakang.


"I love you more,,," Bisik Kenzo. Suaranya begitu lembut namun terasa menyentuh hati, bahkan membuat Jeje berkaca - kaca. Ada sesuatu yang membuatnya gundah dan sedih tapi tidak tau alasannya.


Jeje hanya diam, lidahnya terasa kelu untuk membalas ungkapan cinta dari Kenzo. Ungkapan cinta yang hampir setiap hari di ucapkan oleh Kenzo, namun terasa berbeda kali ini.


"Kamu sudah punya nama untuk anak kita,,,?"


Jeje berbalik badan setelah mendengar pertanyaan Kenzo. Mereka memang belum pernah membahas tentang ini sebelumnya, dan ini pertama kalinya Kenzo menanyakan hal itu.


"Kita kan belum tau jenis kelaminnya by, nanti saja kita siapkan nama kalau sudah tau anak kita laki - laki atau perempuan,,,"


Jeje menjawabnya dengan wajah yang berseri. Dia selalu merasa bahagia setiap kali membicarakan kehamilan dan calon anaknya.


"Kamu bisa menyiapkan 2 nama sayang,,," Ujar Kenzo sambil mencubit gemas pipi Jeje yang semakin cubby.


"Eumm benar juga, aku tidak memikirkan itu sebelumnya." Jeje nampak menyetujui saran dari Kenzo.


"Apa hubby punya ide untuk nama anak kita.? Bagaimana kalau hubby menyiapkan nama laki -laki dan aku yang menyiapkan nama perempuan.?" Ujarnya memberi saran. Kenzo nampak setuju dengan saran dari Jeje.


...*****...


"Tidak usah memasak, aku sudah pesan makanan,,,"


Tadi malam dia mendapat telfon dari ART, yang memberitahunya kalau pagi ini tidak bisa datang. Itu sebabnya Karin sudah berada di dapur pukul 6 pagi dan sebelum Reynald terbangun. Tapi kenyataannya laki - laki itu justru terbangun saat dia baru saja masuk ke dapur.


"Ya sudah,,, aku siapin air dulu buat kakak mandi,,,"


Karin hendak beranjak dari dapur, namun Reynald menahannya.


"Kamu lupa tadi malam aku bilang apa.?" Tanya Reynald. Satu tangannya memegang lengan karin, dan satu lagi merangkul pinggangnya. Karin terlihat gugup, dia bahkan sampai menelan ludahnya dengan susah payah. Reynald terus mendorong mundur tubuhnya dan menatapnya dengan sorot mata yang mulai berkabut gairah.


Karin ingat betul apa yang di katakan Reynald tadi malam. Dia minta untuk melakukan kegiatan panas di atas meja makan. Membayangkan tadi malam saat Reynald membuka kedua pahanya dan seolah sudah siap - siap mengarahkan miliknya, reflek membuat Karin menggelengkan kepalanya.


"Tidak,,," Serunya cepat.


"Memangnya bilang apa.?" Karin pura - pura tidak mengingatnya. Dia berharap Reynald tidak jadi melakukan aksi gilanya itu.


"Yakin tidak ingat.?" Tanya Reynald lagi, seringai mesum sudah muncul di wajahnya.


Karin semakin gugup saat tubuhnya tidak bisa mundur lagi karna terhalang meja makan.


"Kakak mau apa.?" Suara Karin sedikit bergetar.


"Jadi kamu benar - benar lupa.?" Reynald semakin menyeringai. Dia mengangkat tubuh Karin dan mendudukannya di atas meja.


"Biar aku ingatkan lagi,,," Serunya. Kedua tangannya langsung menyusup kedalam dress Karin dan menarik celana dal*mnya hingga turun sampai lutut.


"Kak Rey iiihh,,,!!!" Pekik Karin. Dia mengatupkan pahanya dan menekan dress dengan kedua tangannya.


"Mau pasrah atau di paksa.?!" Geram Reynald dengan suara tegas.


"Semakin kamu pasrah, maka semakin cepat.!" Serunya lagi.


Dengan wajah yang cemberut, Karin mulai menyingkirkan tangan dari pahanya. Dari pada di paksa dan akan membuatnya semakin lama dalam situasi seperti ini, lebih baik dia memilih untuk pasrah.


"Good,," Ujar Reynald puas. Tangannya mulai bergerak liar untuk memberikan rangsangan pada Karin. Dia juga meraih bibir Karin dan melu**tnya lembut. Tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk membuat Karin hanyut dan siap untuk menerima serangan darinya.


"Buka pahanya.!" Seru Reynald. Dia sudah melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya.


Karin terlihat malu - malu membuka pahanya.


"Lebih lebar lagi.!" Reynald terlihat tidak sabaran, pada akhirnya dia yang melebarkan kedua paha Karin.


"Kak,,,!" Teriak Karin, Dia menggigit bibir bawahnya seiring dengan rasa sesak dan penuh di bawah sana.


"Pegang pundakku,,!" Pintar Reynald. Karin langsung menurut dan memegang kedua pundak Reynald.


Pagi itu di awali dengan kegiatan panas yang sebelumnya tidak pernah di lakukan oleh Karin.


Suara ******* yang bersautan menjadi pemanis dalam suasana yang kian panas dan gairah yang semakin menggebu.


Erangan panjang dari mulut keduanya mengakhiri permainan panas itu.


Karin memeluk erat tubuh Reynald dan berusaha mengatur nafasnya yang memburu.


"Mandi dulu,,," Ujar Reynald sembari mengangkat tubuh Karin. Karin semakin mempererat pelukannya dalam gendongan Reynald.


Keduanya mandi bersama, setelah itu menyantap sarapan yang tadi di pesan oleh Reynald.


"Aku berangkat dulu, jangan pergi kemanapun dan jangan melakukan apapun yang akan membuat kamu kelelahan.!" Reynald memberikan pesan dan peringatan pada Karin dengan raut wajahnya yang tegas. Tidak ada yang bisa Karin lakukan selain menuruti Reynald. Laki - laki itu pasti tidak akan suka jika perintahnya di bantah.


"Aku mengerti,,," Karin menjawabnya lirih. Dia mengulurkan tangan untuk meraih tangan Reynald dan mencium punggung tangannya.


"Hati - hati di jalan,,,"


"Hemm,,,"


"Tidak usah memasak nanti siang, aku akan pulang dan bawa makanan." Reynald mendekat, meraih tengkuk Karin dan mendaratkan kecupan lembut si bibir Karin.


"Kunci pintunya.!" Ujar Reynald datar, kemudian pergi begitu saja.


Karin langsung menutup pintu dan menguncinya. Dia bersender pada pintu, lalu memegangi bibirnya yang baru saja di cium oleh Reynald. Entah kenapa pagi ini ciumannya terasa sangat manis, seperti perlakuan Reynald yang mulai manis.


Wajah Karin tiba - tiba merona.


...*****...


NT ngadi - ngadi banget ih, dulu udah di ganti pake cover ini, eh sekarang di ganti lagi. Udah gitu mau di blikin ke cover awal malah gak bisa.


gak semangat banget liat covernya 🤣 Jadi nggak menarik pembaca baru. 😁