
Kenzo terlihat menahan amarahnya. Wajahnya sudah memerah dengan satu tangan yang mengepal kuat. Dia tidak menyangka Mirna akan bertindak sejauh itu dengan mendatangi apartemen mereka. Padahal papa Alex sudah memperingatkan Mirna untuk tidak lagi muncul di hadapan Jeje, tapi sepertinya Mirna enggan pergi dari Indonesia sebelum tujuannya tercapai. Wanita itu berusaha untuk mendekati Jeje agar bisa mendapatkan bantuan dari papa Alex, karena perusahaan miliknya sudah berada di ujung tanduk.
Wanita yang sudah meninggalkan anaknya selama belasan tahun itu sama sekali tidak tau malu.
Selama ini dia tidak pernah menemui Jeje, tapi kini dia datang menemui Jeje demi keuntungannya sendiri.
Kenzo segera menatap Jeje saat Jeje menggerakkan tangannya yang berada di genggaman Kenzo.
"Hubby,,," Ucapnya lirih, terdengar sangat lemas dengan wajah yang pucat. Pandangan matanya terlihat nanar. Gurat kekecewaan terlihat jelas diwajahnya.
"Sayang,,," Kenzo mendekatkan wajahnya, menatap cemas wajah pucat istrinya.
"Are you oke.? Apa perutnya masih sakit.?" Meski suara Kenzo terdengar lembut, namun sangat jelas jika dia cemas dan panik.
Jeje menganggukkan kepala sembari memejamkan mata perlahan. Buliran bening menetes dari sudut matanya. Bukan hanya perutnya saja yang terasa sakit, namun hatinya jauh lebih sakit.
Selama ini dia sudah salah menduga, ternyata ibu kandungnya jauh lebih buruk dari yang dia kira.
Terlebih saat Mirna menjelekkan wanita yang selama belasan tahun rela merawat Jeje meski bukan anak kandungnya sendiri.
Jeje merasa tidak terima ibu kandungnya berkata buruk tentang mama Rissa. Wanita yang sudah pasti memiliki hati nurani karena mau menerima Jeje dan merawatnya dengan baik.
Tidak seperti Mirna yang justru tega melepaskan Jeje demi harta.
"Jangan pikirkan apapun, ingat kamu sedang hamil muda. Jangan banyak pikiran." Pinta Kenzo lembut.
"Aku sudah menghubungi dokter,," Kenzo menghapus air mata Jeje, dia juga mendaratkan kecupan di keningnya.
Dia tau saat ini suasana hati istrinya sedang buruk. Bahkan Jeje terlihat sangat terluka. Melihat hal itu hanya membuat Kenzo semakin kesal pada Mirna.
Dia tidak akan mengampuni siapapun yang sudah membuat istrinya terluka.
"Tunggu sebentar, aku ambil minum dulu,," Kenzo beranjak dari duduknya. Jeje mengangguk pelan dan berusaha tersenyum tipis pada laki - laki yang menjadi kekuatannya disaat kecewa seperti ini.
"Tetap di tempat tidur,,!" Pinta Kenzo tegas, kemudian keluar dari kamar.
Jeje kembali meneteskan air matanya begitu Kenzo keluar. Rasa kecewanya pada Mirna terlalu besar hingga sulit di ungkapkan dengan kata - kata.
Jeje menatap perutnya, dia mengusapnya dengan gerakan lembut penuh cinta.
Jeje sangat bahagia dengan kehamilannya,rasa cinta dan sayang bahkan sudah tumbuh untuk calon anaknya.
Jeje tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang ibu yang sudah mengandung dan melahirkan anaknya tega meninggalkan anaknya selama belasan tahun. Yang membuatnya tidak habis pikir, selama itu Mirna tidak pernah berusaha untuk menemuinya.
Bagaimana bisa wanita seperti itu pantas disebut sebagai ibu.? Rasanya hewan saja tidak setega itu untuk meninggalkan anaknya.
Jeje menghapus air matanya begitu mendengar suara Kenzo.
"Tolong periksa istriku. Dia sedang hamil dan mengeluh perutnya sakit." Suara Kenzo masih saja terdengar panik.
Jeje menatap ke arah pintu. Kenzo baru saja masuk bersama dokter perempuan yang berjalan disampingnya.
"Rupanya kamu bisa panik juga. Jangan khawatir, aku akan memeriksanya,,," Sahutnya cepat.
Jeje nampak diam memperhatikan interaksi keduanya yang sepertinya berhubungan dekat.
"Minum dulu Je,,," Kenzo meletakan gelas di atas nakas, dia membantu Jeje untuk bangun dan memberikan minum padanya. Jeje meminum beberapa teguk saja, kedua tangannya memegangi perut yang masih terasa sakit.
"Apa sangat sakit.?" Suara dokter itu terdengar lembut. Dia meletakan tas di sisi tempat tidur dan mengambil stetoskop didalamnya.
Jeje menganggukkan kepalanya.
"Tolong berbaring lagi,," Pintanya ramah.
Kenzo membantu membaringkan Jeje. Laki - laki itu terlihat tidak sabar menunggu hasilnya. Dia sangat serius melihat Jeje yang sedang diperiksa pada bagian dada kemudian perutnya.
"Bagaimana kondisi istri dan anakku.?!" Kenzo langsung melontarkan pertanyaan begitu Jeje selesai diperiksa.
"Istri kamu baik - baik saja, tapi,,," Dokter itu tidak meneruskan ucapannya.
"Maaf, saya harus mengecek celana dal** kamu,,"
Dokter itu sedikit menyingkap dress Jeje, dia menurunkan celana dal** Jeje.
Kenzo dan Jeje nampak kebingungan, namun keduanya tidak memberikan komentar apapun. Mereka terlihat serius memperhatikan dokter itu.
"Darah.?!" Pekik Kenzo.
"Darah apa itu.? Apa anakku baik - baik saja.?!" Suara Kenzo meninggi. Dia mendekat untuk melihat lebih jelas bercak darah yang ada di ****** ***** Jeje.
"Cepat bawa istri kamu ke rumah sakit.!"
"Aku akan telfon pihak rumah sakit untuk menyiapkan kamar,,"
Dokter itu membenarkan pakaian dalam Jeje. Dia merogoh ponsel dan menghubungi rumah sakit tempatnya bertugas.
Jeje terlihat semakin panik, perasaannya semakin tidak karuan dengan segala pikiran buruk yang terus berputar di kepalanya. Melihat raut wajah panik yang ditunjukan oleh dokter itu, membuat Jeje paham jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada kandungannya.
"Shela.! Bagaimana dengan anakku.?!"
Kenzo mencengkram kuat bahu Shela. Wanita itu sedikit tersentak karena sejak tadi serius berbicara lewat telfon.
"Kandungannya lemah," Tutur Shela sembari memasukan stetoskop kedalam tasnya.
Tanpa pikir panjang, Kenzo langsung mengangkat tubuh Jeje. Dia membopongnya keluar dari apartemen. Shela berjalan cepat mengikuti langkah Kenzo di belakang.
"Hubby,,," Jeje merengek dengan suara yang tercekat. Air matanya semakin deras. Saat ini dia merasa sangat takut, takut jika hal buruk yang dia pikirkan akan terjadi.
"Bagaimana kalau,,,
"Ssstttt,,," Kenzo meminta Jeje untuk tidak berkata hal buruk.
"Semuanya akan baik - baik saja. Jangan menangis, ikut akan memperburuk keadaan kamu."
Kenzo berbicara setenang mungkin untuk membuat Jeje berhenti menangis. Meski sebenarnya perasaanya sedang kacau. Dia juga takut terjadi sesuatu pada kandungan Jeje.
Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit. Jeje juga sudah berada di kamar rawat inap. Jarum infus menancap di tangannya. Kondisi Jeje sangat lemah saat sampai si rumah sakit. Beruntung kondisi janjinya baik - baik saja karena ditangani tepat waktu.
Kenzo tak pernah melepaskan tangan Jeje sedetikpun, dia terus menggenggamnya untuk memberikan kekuatan dan ketenangan pada istrinya itu.
"Maaf by,,," Ucap Jeje dengan rasa bersalah yang mendalam. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada kandungannya.
"Why,,,?" Kenzo bertanya sembari melemparkan tatapan teduh.
"Aku hampir membuatnya pergi,,," Sahut Jeje. Air matanya kembali menetes.
"Aku nggak bisa menjaganya dengan baik,," Jeje terlihat sangat menyesali apa yang baru saja terjadi. Meski janinnya masih bisa bertahan, namun tetap saja hal itu membuatnya merasa gagal dalam menjaga kehamilannya.
"Sayang,, anak kita sangat kuat dan hebat sepertimu." Kenzo menempelkan telapak tangannya di pipi Jeje. Dia mengembangkan senyum untuk membuat Jeje jauh lebih tenang.
"Dia baik - baik saja, berhenti menyalahkan diri sendiri."
"Sekarang istirahat dan jangan pikirkan apapun,,"
Jeje hanya mengangguk pelan.
"Apa perlu menghubungi mama dan papa.?" Tanya Kenzo. Dalam keadaan seperti ini pasti sosok orang tua sangat penting untuk memberikan dukungan, namun Kenzo berfikir 2 kali saat akan menghubungi kedua orang tua Jeje. Mereka pasti akan cemas dan yang pasti akan memarahinya habis - habisan karena tidak bisa menjaga Jeje dengan baik.
Kabar kehamilan Jeje saja belum sampai di telinga mereka, bagaimana kalau sampai mereka mendapat kabar buruk ini.
"Nggak usah by, mereka pasti akan cemas. Lagi pula 3 jam lagi mereka harus pergi ke Jerman."
Kenzo terlihat lega mendengar jawaban Jeje.
Istrinya itu memang sangat pengertian. Wanita itu pasti memiliki pemikiran yang serupa dengannya.
...****...
Reynald terlihat tidak fokus sejak tadi. Perasaannya jadi tidak tenang setelah mendapat nasehat dari Kenzo. Nasehat yang membuatnya takut dan memikirkannya berulang Kali. Terlebih setelah mendapatkan perlakuan yang berbeda dari Karin.
Reynald jadi merasa jika Karin akan memilih pergi darinya cepat atau lambat.
'Siapa wanita yang akan tahan diperlakukan seperti itu.?'
'Mungkin saat ini Karin masih bertahan, tapi tidak tau setelah anak kalian lahir dan dia merasa bisa hidup bahagia tanpa kamu.'
Lagi - lagi perkataan Kenzo terus muncul dalam kepalanya. Perkataan yang seperti ancaman baginya.
Lamunan Reynald buyar begitu ponselnya berdering. Dia langsung menerima panggilan dari Kenzo.
"Ya ada,,,,
"Terima tawaran kerjasama dari perusahaan Mirna's Group.!" Tegas Kenzo.
"Ajukan syarat agar mereka mau menjual sebagain sahamnya pada kita.!" Tambahnya lagi.
Reynald dibuat melongo. Dia rasanya bosnya sedang tidak waras karena mau menyetujui kerjasama dengan perusahaan yang hampir hancur.
"Kamu nggak waras Ken.? Perusahaan itu hampir bangkrut."
"Jalanan saja perintahku.!"
"Cari tau kelemahan perusahaan mereka. Kalau sudah selesai, bawakan laptopku ke rumah sakit. Kamu bisa pulang setelah itu."
"Aku kirim lokasinya nanti."
"Rumah sakit.?!" Reynald nampak terkejut. Dia berfikir jika Kenzo kecelakaan atau menabrak seseorang, karena saat meninggalkan kantor Kanzo terlihat buru - buru.
"Apa terjadi sesuatu.?"
"Jeje, dia sedang hamil dan kandungannya lemah."
"Lakukan sesuai yang aku minta dan cepat ke sini.!"
Kenzo mematikan sambungan telfonnya.
Reynald tampak terdiam. Mendengar Jeje hamil dan kandungannya lemah, dia kembali teringat pada Karin. Reynald jadi ingin mengetahui kondisi Karin saat ini, meski Karin baru saja mengirimkan pesan 2 jam yang lalu kalau dia baru saja makan siang.
...****...