
Aku tersenyum tipis pada pantulan cermin. Duduk mematung, menatap diriku yang terlihat semakin cantik dengan riasan make up dan tatanan rambut yang bagus. Juga gaun berwarna putih yang sangat elegant, melekat sempurna di tubuhku. Aku bak putri dalam negeri dongeng yang akan menikah dengan seorang pangeran berkuda. Pangeran berwajah rupawan yang memiliki banyak kelebihan.
Hari ini, aku akan menyerahkan seluruh hidupku padanya. Mempercayakan kebahagiaanku pada laki - laki yang akan menikahiku. Aku akan kembali menggantungkan harapanku, meski tidak sepenuhnya aku berharap padanya.
Aku belajar dari pengalaman, bagaimana aku begitu terluka karna sepenuhnya menggantungkan harapanku padanya.
Mungkin hati ini belum sepenuhnya kembali padanya, namun aku akan menerimanya sepenuh hati sebagai pendamping hidupku.
Aku paham sakralnya hubungan yang sudah terikat oleh janji suci pernikahan. Itu sebabnya aku akan memulainya dengan cara yang baik dan ketulusan hati, berharap pernikahan ini akan berjalan baik sesuai dengan niat awalku untuk menikah.
"Kamu selalu cantik,,," Bisik om Kenzo di telingaku. Dia berdiri di belakangku, dengan kedua tangan yang diletakan pada bahuku.
Aku tersenyum padanya, entah sejak kapan dia datang ke ruanganku. Penata rambut dan MUA bahkan sudah tidak ada di ruangan ini.
"Sejak lahir om,," Sahutku.
"Sebentar lagi aku akan jadi suamimu. Sampai kapan kamu akan memanggilku om.?" Protesnya sembari membalik perlahan badanku hingga kami saling berhadapan.
"Ganti dengan panggilan lain yang lebih romantis. Aku suamimu, bukan om kamu,," Ujarnya lagi.
Om Kenzo semakin dalam menatap kedua manik mataku. Jantungku dibuat bergetar olehnya.
"I,,iya,, nanti aku pikirkan."
"Sekarang minggir, kita harus keluar,," Aku mendorong pelan dada om Kenzo agar menjauh. Tapi om Kenzo justru semakin mendekatkan wajahnya.
"Untuk apa dipikirkan lama - lama."
"Sekarang saja, beri aku panggilan yang romantis,," Ucapnya setengah berbisik.
"Tapi aku belum tau om harus panggil apa, jadi nanti saja aku pikirkan setelah acara kita selesai,," Aku sedikit memundurkan wajahku dari hadapan om Kenzo. Harum parfum maskulin yang menguar dari tubuhnya, membuat seluruh tubuhku meremang.
"Baiklah, tapi cium aku dulu,," Pintanya. Om Kenzo sudah bersiap untuk mencium ku. Hanya bisa pasrah dengan debaran jantung yang semakin berpacu.
"Ya ampun..!!"
Teriakan mama membuat aku dan om Kenzo tersentak. Aku langsung menunduk malu, lagi - lagi mama memergoki kami sedang berbuat mesum.
"Ken.!! Apa kamu tidak bisa menahannya sebentar lagi.? 30 menit lagi kalian sudah resmi sebagai suami istri. Kenapa masih empat - sempatnya mencuri ciuman.!" Geram mama.
Aku melirik om Kenzo yang tidak berani menjawab apapun. Dia juga terlihat malu sepertiku.
"Sudah.! Ayo cepetan keluar, semua tamu sudah datang,," Perintah mama.
Om Kenzo menggandengku, kami berjalan di tengah - tengah para tamu yang sudah duduk rapi disana.
Papa, mama dan om Andreas, berjalan di belakang kami. Suara riuh tepuk tangan membuat suasana semakin ramai. Aku menjadi gugup karna semua mata tertuju padaku dan om Kenzo.
Jantungku semakin berdegub kencang, masih tidak menyangka hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku.
Pernikahan yang sering aku impi - impikan sejak dulu, ternyata datang lebih awal dari yang aku inginkan.
Kita memang tidak pernah tau akan takdir.
Acara pernikahan berlangsung lancar, hari ini aku dan om Kenzo sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Kecupan lembut di keningku, menghadirkan suara riuh tepuk tangan.
Om Kenzo membawaku kedalam dekapannya.
"I love you,,," Bisiknya lembut.
Om Kenzo melepaskan pelukannya saat satu persatu tamu undangan mulai menghampiri kami untuk memberikan ucapan selamat.
Kedatangan asisten pribadi om Kenzo, membuatku terus menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya. Aku jadi kembali memikirkan nasib Karin di tangan laki - laki yang menurut om Kenzo pemburu wanita itu.
"Parah lu,, diem - diem udah punya cadangan. Pantes ngebet pengen cepet - cepet batalin pernikahan sama Nadine. Nggak taunya udah dapet daun muda. Terus si Clara gimana nasibnya,,?"
Seketika itu wajahnya berubah pucat, entah apa yang di lakukan oleh om Kenzo padanya. Aku tidak bisa melihatnya karna posisiku sedikit dibelakang om Kenzo. Tapi bisa aku tebak, kalau om Kenzo sedang menatap tajam padanya.
"Kalo bicara jangan asal.! Dia kan santapan lu, kenapa tanya ke gue.!" Geram om Kenzo.
Asisten pribadinya hanya tersenyum kikuk.
"Selamat bro, semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia. Di tunggu ponakannya,,"
Ujarnya, kemudian beralih padaku.
"Hati - hati, dia galak,,," Ucapnya setengah berbisik.
Aku hanya mengulas senyum tipis.
Om Kenzo langsung meninjunya di bagian lengan, membuat laki - laki itu meringis kesakitan.
"Sorry bro, gue cuma bercanda."
Om Kenzo masih menatap tajam pada asistennya, meskipun laki - laki itu sudah pergi dari hadapannya.
"Asisten om udah nikah.?"
Pertanyaanku membuat om Kenzo langsung menoleh.
"Dia cuma butuh kesenangan diluar, mana berfikir sejauh itu." Jawabnya datar.
Penuturan om Kenzo hanya membuatku semakin cemas saja akan nasib Karin di tangan laki - laki itu.
Aku harus mendesak Karin untuk menceritakan apa yang terjadi, agar aku bisa membantunya lepas dari laki - laki itu. Dia sangat takut pada om Kenzo, aku bisa meminta bantuan om Kenzo untuk menyelesaikan permasalahan Karin.
Sebagian tamu undangan sudah mulai meninggalkan tempat acara. Aki memilih untuk duduk dan bersender pada kursi.
"Cape,,?" Tanyanya. Aku mengangguk pelan.
"Nanti aku pijitin kalau semua tamu sudah pulang,," Ujarnya dengan seringai licik.
Semua tamu sudah pulang, Kini giliran papa, mama dan om Andreas yang menghampiri kami dan kembali memberikan nasehat untukku dan om Kenzo. Berkali - kali mereka terus memperingatkan kami untuk menunda memiliki anak.
Om Andreas bahkan memberikan alat pengaman pada om Kenzo.
"Pakai ini,,!" Ujarnya tegas.
"Jangan buat menantu papa yang masih remaja ini harus menggendong anak,,"
Om Kenzo menerimanya dengan malu - malu. Terlebih ada mama dan papa yang terlihat menggelengkan kepalanya, mereka pasti heran dengan ulah om Andreas.
"Papa pikir aku anak kecil yang harus pakai pelindung.! Aku punya seribu satu cara untuk tidak membuat Jeje hamil dalam waktu dekat."
"Ya,, ya,, papa percaya." Om Andreas menepuk bahu om Kenzo.
"Bilang sama papa kalau Ken menyakitimu,," Ujarnya padaku.
"Iya om,,"
"Loh,, kok masih manggil om. Panggil papa dong,,"
Protesnya. Aku tersenyum kaku, lalu menyebutnya papa.
Mama menghampiriku, lalu memelukku erat.
"Kamu sudah menjadi seorang istri sekarang. Jadilah istri yang baik untuk suamimu, dan tetap bahagia,," Aku mengangguk, tanpa terasa meneteskan air mata karna terharu dengan kebaikan mama selama ini. Untuk ukuran ibu tiri, mama memperlakukan ku cukup baik. Meskipun aku anak dari wanita yang hampir merusak rumah tangganya.
Selesai makan siang bersama, aku dan om Kenzo pamit untuk mengganti baju lebih dulu. Aku sudah tidak nyaman dengan gaun yang berat ini.
Om Kenzo berjalan mengekoriku sampai ke dalam kamarku. Dia langsung menutup pintu dan menguncinya. Aku yang buru - buru ingin mengganti baju, tidak menghiraukan apa yang dilakukan om Kenzo. Aku segera masuk ke walk in closet.
Aku mengganti baju, kemudian membongkar tatanan rambutku dan memilih untuk menggulungnya.
Saat aku keluar dari walk in closet, om Kenzo juga baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut bagian depan yang sedikit basah. Dia juga sudah melepaskan jasnya. Pandangan mata kita saling bertemu.
Di tatap om Kenzo seperti itu, membuatku jadi gerogi.
"Mau langsung apa nanti.?" Tanya om Kenzo. Aku mendelik dibuatnya.
"Hah,,?"
"A,,apanya om.?" Kau jadi gugup, terlebih om Kenzo berjalan mendekat ke arahku. Perlahan senyum mesumnya semakin terlihat jelas, seiring dengan jarak kami yang semakin dekat.
"Memangnya apa lagi,,?" Om Kenzo berhasil meraih pinggangku dan menariknya hingga tubuh kami saling menempel.
"Ja,jangan bercanda om,, ini masih siang,," Aku semakin gugup. Sudah berusaha untuk melepaskan diri, namun om Kenzo justru mendekapku semakin erat.
...****...
Selamat menempuh hidup baru om Ken dan Jeje. Semoga makin hot ya,, ehhh😁
Kira - kira Jeje harus ganti panggil om Ken dengan sebutan apa ya.?
Kasih saran di bawah ☺