
Saat ini Reynald dan Karin sedang bersiap untuk tidur. Laki - laki itu begitu erat memeluk Karin dari belakang. Karin terlihat pasrah saja tanpa bergerak sedikitpun.
Pandangan matanya menerawang jauh, dia masih saja mengkhawatirkan rumah tangganya yang tidak ada kemajuan. Reynald masih bersikap cuek, sedikitpun tidak bisa memperlakukannya dengan lembut. Nada bicaranya selalu saja ketus dan terkadang mengiris hatinya.
Karin tidak tau, kapan Reynald bisa mencintainya dan memperlakukannya sebagaimana mestinya sorang suami terhadap istri.
Hubungan keduanya masih saja seperti orang asing yang tidak memiliki ikatan namun tinggal 1 rumah.
"Kak,,," Panggil Karin lirih. Dia bermaksud memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Reynald.
"Hemm,,," Hanya suara deheman yang terdengar.
"A,,aku,,,"
Karin terlihat gugup, lidahnya terasa kaku untuk melontarkan pertanyaan pada Reynald. Wanita itu juga merasa takut, takut jika jawaban yang dia dapatkan akan melukai perasaannya.
"Aku apa.?!" Ketus Reynald.
Karin menarik nafas dalam, sepertinya dia harus menguatkan hati untuk bertanya, daripada harus dihantui rasa penasaran setiap harinya.
"Aku ingin tau perasaan kakak saat ini,,," Ujar Karin cepat. Dia bahkan memejamkan matanya rapat - rapat. Perasaannya saat ini bercampur aduk.
"Perasaan apa.?" Suara Reynald terdengar cuek.
Laki - laki itu sebenarnya sudah tau maksud dari pertanyaan Karin, namun dia sendiri tidak tau akan perasaannya saat ini. Tapi yang jelas, saat ini Karin membuatnya candu dan membuatnya ingin selalu berada didekatnya.
Entah karena cinta, atau karena efek dari kehamilan Karin.
"Kak,, dalam menjalani pernikahan itu harus ada rasa cinta. Jika kakak tidak bisa mencintaiku, sebaiknya setelah anak ini lahir kita akhiri,,,
"Jangan pernah berfikir untuk mengakhirinya.!"
"Aku bersedia tanggung jawab karena tidak mau anakku hidup terpisah dengan salah satu orang tuanya." Tuturnya tegas.
"Tapi hanya akan menyiksa perasaan kita kak. Pikirkan perkembangan anak jika hidup dengan kedua orang tua yang tidak saling mencintai,,,"
Karin menyingkirkan tangan Reynald dari pinggangnya. Wanita itu juga bergeser menjauh. Apa yang keluar dari mulut Reynald sudah cukup menjelaskan perasaannya. Tidak ada rasa cinta, melainkan hanya rasa tanggung jawab semata.
Reynald menghela nafas kasar. Laki - laki itu turun dari ranjang, mengambil rokok dan pergi ke balkon kamar.
Karin yang merasakan pergerakan di ranjang, hanya menoleh sekilas. Dan mendapati Reynald yang sudah berada di balkon.
Suara bel membuat Karin terpaksa beranjak dari ranjang. Dia juga tidak mungkin menyuruh Reynald untuk membukakan pintu.
Sudah semalam ini, entah siapa yang datang ke apartemen mereka.
Sampainya di depan pintu, Karin melirik layar kecil di sisi pintu. Terlihat seorang wanita cantik berdiri di sana dengan wajah yang terlihat cemas. Di sebelah wanita itu ada laki - laki yang merangkulnya erat.
Tanpa berfikir lama, Karin segera membukakan pintu.
"Ada yang,,,
"Rey,, dimana Reynald,,?" Wanita itu langsung memotong ucapan Karin. Dalam jarak yang begitu dekat, Karin bisa melihat jelas kepanikan dari raut wajah wanita itu.
"Sabar sayang, kita tanya dulu. Belum tentu ini benar apartemennya,," Seru laki - laki itu sembari menenangkannya.
"Kami sedang mencari Reynald. Apa benar Reynald tinggal disini.?" Tanyanya lembut.
Karin mengangguk pelan.
"Silakan masuk. Saya panggil dulu kak Reynald nya,,," Dengan sopan, Karin menyuruh kedua orang itu untuk menunggu di dalam.
"Tolong panggil dia, kami tidak punya banyak waktu,,," Seru wanita itu dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
Karin kembali mengangguk dan masuk kedalam.
Dia menghampiri Reynald yang masih duduk santai di balkon dengan sebatang rokok di tangannya.
"Kak, ada tamu yang mencari kakak,,,"
Reynald menoleh, menatap Karin yang berdiri di samping kursinya.
"Ini sudah malam, kenapa kamu bukakan pintu.?!" Geram Reynald.
"Suruh pulang saja,,," Ucapnya cuek.
"Tapi kak, sepertinya mereka butuh bantuan kakak. Wanita itu terus menangis,,,"
Kali ini Reynald menatap Karin dengan dahi yang mengkerut.
"Wanita.?" Tanyanya dengan wajah yang terlihat panik. Laki - laki itu takut jika wanita yang datang adalah salah satu wanita yang pernah ia tiduri.
"Iya,, wanita dan laki - laki,,,"
"Rey,,," Seru wanita itu begitu Reynald datang.
Reynald menghentikan langkahnya. Dia memaku melihat wanita yang dulu sangat dia cintai itu. Wanita yang tega meninggalkannya hanya karna ia jatuh miskin. Luka hatinya seakan terbuka kembali setelah bertahun - tahun lamanya. Ini kali pertama dia melihat wanita itu lagi setelah wanita itu menikah dengan laki - laki yang duduk disampingnya.
Cukup lama Reynald terdiam. Kini sorot matanya begitu tajam menatap Angel dan Dion.
"Aku tidak menerima tamu. Silakan keluar,,," Ketus Reynald sembari mengulurkan tangannya ke arah pintu. Dia tidak sanggup melihat kedua orang itu yang sudah membuatnya terpuruk selama ini.
"Aku minta maaf Rey untuk semua kesalahan yang sudah aku lakukan dulu." Angel beranjak dari duduk, dia menghampiri Reynald dan bersimpuh di kakinya.
"Aku mohon tolong aku kali ini saja. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan nyawa putri kita,,," Tuturnya dengan nafas yang tercekat.
Dion menghampiri Angel.
"Jangan memohon seperti ini,," Dia membangunkan Angel. Tidak tega melihat istrinya harus bersimpuh di kaki Reynald.
"Apa kamu bilang.? Putri kita.?!" Tanya Reynald dengan raut wajah yang bingung.
Angel mengangguk pelan. Dia menunduk, tidak berani menatap Reynald. Selama bertahun - tahun, dia menyembunyikan rahasia besar dari Reynald.
"Berhenti omong kosong.! Cepat keluar,,,!" Bentak Reynald.
"Putri kamu sedang kritis. Dia butuh donor darah, persediaan darah di semua rumah sakit kosong. Kami tidak akan kesini kalau tidak mendesak.!" Seru Dion kesal.
Reynald semakin memaku di tempat. Dia menatap Angel dengan sorot mata dalam dan tajam. Reynald masih saja tidak percaya kalau wanita itu mengandung anaknya dan menyembunyikan fakta itu darinya.
"Aku mohon bantu kami Rey, Alisha butuh kamu. Golongan darah kalian sama,,," Ujar Angel disela tangisnya.
Mata Reynald berkaca - kaca, antara marah, sedih, bahagia bercampur jadi satu.
"Kenapa.?!! Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang ini.?!!" Geram Reynald penuh amarah. Dia bahkan mengguncang keras bahu Angel. Wanita itu semakin histeris. Menangis sejadi - jadinya.
"Cukup Rey.! Kita tidak punya banyak waktu.! Ayo ikut kami ke rumah sakit,," Seru Dion.
"Arrggghhh,,,!!!" Geram Reynald sembari meremas kuat rambutnya. Dia masuk kedalam untuk mengambil kunci mobil.
Karin hanya bisa mematung, menatap Reynald yang berjalan melewatinya begitu saja. Ada rasa sesak dan sakit setelah mendengar kenyataan itu.
Dia tidak menyangka kalau Reynald sudah memiliki anak dengan wanita lain.
"Ayo.!!" Geram Reynald pada Angel dan Dion. Dia berjalan sembari memakai jaket.
Ketiga orang itu berjalan cepat keluar dari apartemen. Meninggalkan Karin seorang diri dengan hati yang semakin tersayat - sayat.
Dia semakin ragu saja untuk menjalani rumah tangga bersama Reynald. Laki - laki itu terlihat masih sangat mencintai Angel.
Bahkan kini dia juga mengabaikan Karin. Pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun.
Karin berjalan gontai ke arah pintu yang masih terbuka lebar.
Baru saja dia mendapatkan jawaban yang menyayat hati dari Reynald, kini dia juga harus menerima kenyataan yang membuat hatinya semakin sakit.
Karin menutup pintu dengan perlahan. Namun belum sempat pintu itu tertutup sempurna, seseorang dari luar mendorongnya. Karin mundur beberapa langkah, hingga pintu itu kembali terbuka.
Rupanya Reynald kembali.
"Aku pergi dulu. Kamu tidur saja, sudah malam."
Reynald mengusap lembut perut Karin. Hal itu membuat senyum dibibir Karin perlahan terbit. Setidaknya Reynald tidak lupa akan keberadaannya.
Karin mengangguk pelan tanpa berkata apapun. Meski bibirnya sudah bisa tersenyum, namun sorot matanya masih dipenuhi dengan kesedihan.
"Kunci pintu,,,"
Reynald sempat melempar senyum pada Karin, lalu bergegas pergi dengan langkah cepat.
Karin menutup pintu setelah Reynald hilang dari pandangan matanya.
Baru saja menikah, dia sudah diharapkan dengan masa lalu Reynald yang mengejutkan.
...****...
Kemaren sakit, jadi nggak up.
ini pun masih lemes, pusing + demam.
Minta do'anya yah😊🙏 biar cepet sembuh.
Kasian om Kenzo dari kemaren ngurusin aku terus, mandiin anak juga. istrinya cuma bisa rebahan di kasur dari kemaren sore. 🤣