
"Bapak,,,," Seru Karin sambil terisak. Mendengar penuturan sang Ibu membuat pikirannya semakin kacau. Bapaknya sedang kritis di dalam, bagaimana dia tidak berfikir macam - macam. Katakutan terbesar dalam dirinya perlahan mulai menyelimuti. Ini yang paling tidak suka Karin bayangkan sejak dulu, yaitu saat dimana dia melihat orang tuanya tidak berdaya. Dan pada akhirnya harus mendengar kabar terburuk.
"Aku mau liat Bapak bu,,," Pinta Karin. Dia tidak henti - hentinya mengeluarkan air mata.
Karin melepaskan pelukannya, dia beranjak menghampiri pintu ICU. Semua orang yang ada di sana berusaha mencegah Karin yang hendak memaksa masuk. Kedua kakak Karin terlihat menenangkannya.
"Bapak sedang berjuang dek, kita do'akan saja dari sini. Kita belum boleh masuk kedalam, dokter sedang melakukan yang terbaik untuk Bapak." Jelas kakak pertama Karin. Matanya juga sembab, dia sudah menangis sebelum Karin datang dan menghentikan tangisnya saat melihat Karin. Sebagai anak tertua, dia tidak mau terlihat lemah di depan adik bungsunya.
"Tapi a, aku mau liat Bapak. Aku mau bicara sama Bapak biar Bapak cepet bangun." Keadaan Karin sudah kacau. Dengan tangis yang semakin pecah, dia terus berusaha untuk berbicara.
"Karin,,," Reynald menarik Karin dan memeluknya. Berkali - kali dia memberikan usapan lembut di punggung Karin. Memang tidak mudah berada di posisi Karin. Siapapun akan menangis histeris jika mendapati orang tuanya kritis dan sedang berjuang antara hidup dan mati.
Hati anak mana yang tidak akan hancur.?
Reynald hanya bisa memberikan ketenangan dan berusaha untuk membuat Karin tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Bapak akan baik - baik saja, percaya padaku."
"Aku sudah mencarikan dokter terbaik untuk mengobati Bapak." Meski sudah berbicara seperti itu, tangis Karin tetap tak kunjung berhenti.
"Ingat anak kita,,," Ujar Reynald dengan suara memohon.
"Kamu harus tetap memastikan bahwa dia baik - baik saja. Bapak pasti akan sedih kalau sampai terjadi sesuatu dengan kandungan kamu,,,"
Sejak tadi Reynald sudah berusaha untuk menahan diri untuk tidak menegur Karin tentang kehamilannya, namun dia sudah sangat takut melihat kondisi Karin yang semakin kacau.
Sementara itu, keluarga Karin sudah tidak lagi menangis. Terutama Ibu Dahlia yang langsung berhenti menangis dan menghapus air matanya. Dia juga tidak ingin membuat Karin semakin cemas karna melihatnya menangis.
Karin mulai meredakan tangisnya, namun badannya masih bergetar dalam pelukan Reynald. Dia tidak bisa sepenuhnya tenang begitu saja. Bagaimana jika Bapaknya tidak bisa bertahan. Karin memeluk erat tubuh Reynald. Hanya Reynald satu - satunya orang yang bisa dia andalkan saat ini kalau Tuhan berkehendak lain atas umur Bapaknya.
"Dok,,!" Seru Kakak dan Ibu Dahlia begitu dokter keluar dari ruang ICU. Karin yang mendengar itu melepaskan diri dari pelukan Reynald dan ikut menghampiri dokter.
"Bagaimana kondisi Bapak dok.?!" Karin yang langsung mengajukan pertanyaan. Semua orang terlihat cemas dan tegang menunggu kabar dari dokter. Mereka sama - sama berdoa dalam hati untuk kesadaran Pak Dadang yang kritis setelah operasi jantung.
Dokter itu terlihat menarik nafas dalam. Dari raut wajahnya saja sudah bisa dipastikan bukan kabar baik yang akan keluar dari mulutnya.
"Kondisi pasien masih kritis, kami sudah melakukan yang terbaik."
"Kita berdoa saja, semoga ada keajaiban untuk kesadaran pasien dan beliau bisa melewati masa kritisnya."
"Kalau ada yang mau masuk kedalam silahkan. Tapi hanya boleh 1 orang saja, boleh bergantian nanti."
"Mungkin dengan memberinya semangat, akan ada kemajuan. Tapi pastikan tidak mengatakan hal yang akan membuatnya sedih."
"Saya permisi,,,"
"Terima kasih dok,," Ucap Reynald tulus. Karna semau keluarga Karin terdiam, mereka terlihat sangat syok mendengar penuturan dokter.
"Aku mau bicara sama Bapak, Bu,,," Ujar Karin lirih.
Ibu Dahlia mengangguk. Dia membiarkan Karin yang lebih dulu bicara dengan pak Dadang.
Ibu Dahlia yakin, Karin akan membuat kondisi Bapaknya membaik.
"Aku antar ke dalam, kondisi kamu tidak baik saat ini." Reynald merangkul bahu Karin.
"Tapi kak, hanya boleh satu orang yang masuk,," Ujar Karin mengingatkan.
"Aku akan menunggu di dekat pintu dan tidak akan bersuara."
"Aku juga harus memastikan kalau kamu baik - baik saja di dalam." Tutur Reynald. Dia memang tidak ingin terjadi sesuatu pada Karin, namun melihat kondisi Karin yang mulai tidak stabil, Reynald tidak yakin kalau Karin akan kuat melihat kondisi bapaknya.
"Temani saja kak,,," Pinta Radit.
Reynald mengangguk dan menuntun Karin masuk kedalam ruang ICU.
"Aku tunggu disini. Ingat, jangan bicara apapun yang akan membuat Bapak sedih. Walaupun dia tidak sadarkan diri, tapi dia masih bisa mendengar, jadi pastikan kamu juga tidak menangis." Reynald mengusap sisa air mata yang ada di pipi Karin, kemudian memeluknya sekilas.
"Kamu harus kuat." Tegas Reynald. Karin hanya mengangguk lemas. Dia sedang menguatkan hatinya untuk melihat Bapaknya dari dekat.
Dari kejauhan dia bisa melihat banyak selang dan alat yang ditempelkan pada dada Bapaknya. Juga oksigen yang terpasang rapat dibagian hidung dan mulut.
Karin masih diam di tempat, badannya bergerat, air matanya kembali menetes. Tidak sanggup rasanya melihat dari dekat. Dia seperti bisa ikut merasakan bagaimana sakitnya sang Bapak saat ini.
"Bapak butuh semangat dari kamu, jadi kamu harus kuat untuk berbicara padanya."
Lagi - lagi Karin hanya mengangguk. Dia langsung mengusap air matanya, kemudian berjalan perlahan menghampiri Bapaknya.
Karin langsung membungkam mulutnya. Dia hampir saja teriak histeris melihat keadaan Bapaknya yang sangat memilukan. Matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka dengan wajah yang pucat pasi. Bapak yang selama ini selalu terlihat sehat dan ceria, kini berbaring tak berdaya.
Karin menangis tanpa suara, badanya bergetar hebat. Perlahan dia berlutut di sisi bangsal. Kakinya terasa lemas, rasanya tidak sanggup untuk berdiri.
Cukup lama Karin menangis dengan mulut yang terus dia bungkam agar tidak mengeluarkan suara. Dia berusaha menghentikan tangisnya dan memenangkan diri sebelum berbicara dengan Bapaknya.
Karin menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia membuang sesak di dada yang tak kunjung menghilang.
Karin berdiri setelah dirasa cukup kuat.
"Pak,,, ini Karin,,," Ujarnya lirih. Karin meraih tangan pak Dadang dan menggenggamnya.
"Karin minta maaf karna belum bisa bahagiain Bapak. Karin udah ngecewain Bapak. Maafin Karin ya Pak,,," Karin berusaha keras agar suaranya terdengar baik - baik saja, meski saat ini air matanya terus mengalir.
"Harusnya saat ini Karin masih kuliah, mengejar cita - cita seperti apa yang Bapak harapkan sejak dulu untuk melihat Karin sukses." Karin tersenyum pilu.
Dari kejauhan, Reynald terlihat menarik nafas dalam. Dia merasa menyesal sudah merusak masa depan Karin. Menyesal sudah membuatnya berhenti kuliah dan menghancurkan cita - citanya.
"Tapi kembali lagi, kita nggak pernah tau seperti apa takdir kita kan Pak. Sama seperti yang terjadi pada Bapak saat ini. Selama ini Bapak sehat dan baik - baik saja, tapi siapa yang tau kalau Bapak sakit sampai akhirnya seperti ini."
"Kenapa Bapak nggak cerita sama Karin atau Ibu, kenapa Bapak harus menanggunggnya sendiri."
"Bapak berjuang mati - matian untuk menghidupi kami, tapi kami tidak tau sperti apa kondisi Bapak yang sebenarnya."
Karin kembali membungkam mulutnya, lagi - lagi dadanya terasa sesak dan terhimpit. Rasanya ingin menangis sejadi - jadinya untuk menghilangkan sesak di dadanya. Rasanya ingin berteriak, meminta pada Tuhan untuk kesembuhan Bapaknya.
"Pak,, Karin tau Bapak kecewa sama Karin. Tapi Karin juga yakin kalau Bapak senang karna akan memiliki cucu. Cucu Bapak sudah semakin besar."
Karin mengarahkan tangan Pak Dadang untuk menyentuh perutnya.
"Bapak harus sehat biar bisa liat cucu Bapak. Cepet sehat ya Pak, Bapak pasti kuat. Karin ingin liat Bapak main sama anak Karin."
Karin langsung diam, dia menatap lekat wajah Bapaknya yang sama sekali tidak memberikan respon apapun meski dia sudah bicara panjang lebar.
"Pak jawab Karin,,, Bangun Pak,,," Karin terisak, dia menggoyang pelan tangan Pak Dadang. Perlahan badan Karin terus merosot ke bawah. Reynald dengan sigap menghampiri Karin dan meraih tubuhnya yang sudah lemas.
"Karin.!" Seru Reynald pelan.
"Bapak bangun,,," Ujar Karin lirih sebelum dia tak sadarkan diri.
Reynald mengangkat tubuh Karin dan membawanya keluar.
"Karin.!!" Keluar Karin langsung menghampiri Reynald. Mereka kembali menangis melihat Karin pingsan.
"Neng bangun neng,,," Ibu Dahlia menangis sembari mengusap usap wajah Karin.
"Radit.! Tolong panggilkan suster,,!" Seru Reynald panik.
"Iya kak.!"
Radit berlari cepat untuk memanggil suster. Dia kembali dengan 2 suster yang mendorong bangsal.
Reynald langsung membawa Karin dan membaringkannya di bangsal.
"Kalian disini saja, biar saya yang menjaga Karin." Ujar Reynald pada mereka.
"Tolong jaga Karin nak Rey,,," Pinta Ibu Dahlia. Reynald mengangguk cepat. Dia bergegas mengikuti langkah suster yang mendorong bangsal Karin.
Reynald terus menggenggam tangan Karin.
...****...
Mampir ke Novel Nicho dan tinggalkan VOTE disana yah, ☺
Makasih 🙏