
Kenzo berjalan tergesa - gesa karena panik dan mencemaskan Fely. Dia bahkan tidak menyadari kalau Jeje tertinggal jauh di belakangnya. Jeje nampak memaklumi hal itu, siapapun pasti akan panik jika mendapat kabar buruk dari keluarganya.
Saat di perjalanan tadi, Kenzo juga nampak tidak fokus menyetir dan terlihat gelisah. Secemas dan setakut itu dia mengkhawatirkan keadaan adiknya. Meski mereka baru dipertemukan lagi setelah hampir 20 tahun, namun kasih sayang Kenzo pada Fely tidak pernah berubah seperti dulu iya menyayangi adik kecilnya itu.
Saat akan masuk ke dalam lift, Kenzo baru menyadari tidak ada Jeje di belakangnya. Dia menengok ke belakang dan mendapati Jeje tertinggal jauh. Bukan protes atau keluhan yang diberikan, Jeje justru tersenyum teduh pada Kenzo dan memberikan anggukan untuk mengisyaratkan kalau dia baik - baik saja.
Kenzo terlihat menyesal Karna sampai mengabaikan istrinya. Dia bergegas menghampiri Jeje dengan langkah lebar dan tegap.
"Maaf sayang, aku terlalu panik,,," Kenzo menggandeng tangan Jeje, dia ikut berjalan menyesuaikan langkah istrinya.
"Nggak masalah by, sebaiknya hubby pergi duluan saja, aku bisa menyusul. Jangan khawatir, aku baik - baik saja. Kasihan mama Grace, mama pasti sedang panik saat ini dan butuh hubby di sana."
"Aku juga ingin mengabari kak Nicho, dia pasti belum tau kalau kak Fely sakit."
Ujar Jeje sembari merogoh ponselnya untuk menelfon Nicho.
"Aku harus tetap di sampingmu, kondisi kamu masih belum pulih 100%."
Kenzo merangkul pundak Jeje, dia harus memastikan kalau Jeje akan baik - baik saja pasca dirawat dan baru keluar dari rumah sakit 2 jam yang lalu.
Jeje hanya mengangguk. Dia sedang menunggu Nicho mengangkat sambungan telfonnya.
Saat di perjalan tadi, dia sama sekali tidak ingat untuk menghubungi Nicho. Fokusnya hanya tertuju pada Kenzo yang sedang panik.
Jeje bernafas lega saat panggilan telfonnya terhubung, dia langsung menjelaskan pada Nicho mengenai kondisi Fely yang sedang sakit hingga membuatnya pingsan. Jeje juga menyuruh Nicho untuk segera datang ke apartemen Fely saat itu juga.
Nicho terdengar panik, suaranya bahkan tercekat. Jeje bisa ikut merasakan kepanikan yang sedang dirasakan oleh Nicho.
Kakaknya itu pasti terpukul setelah mendengar keadaan Fely, wanita yang begitu dia cintai sejak 4 tahun terakhir.
Tanpa menekan bel lebih dulu, Kenzo langsung masuk kedalam apartemen Fely. Dia masih terus menggandeng tangan Jeje hingga masuk kedalam kamar Fely.
Di sana ada Mama Grace yang sedang terisak, ada ART, dokter Shela dan Fely yang berbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur.
Rupanya dokter Shela sudah memasangkan jarum infus di tangan Fely.
Kenzo melepaskan tangan Jeje, dia bergegas menghampiri mama Grace dan memeluk erat wanita paruh baya itu yang terlihat sangat kacau.
"Ken,,,," Seru mama Grace. Tangisnya semakin pecah. Ada ketakutan dan trauma yang kembali muncul. Mama Grace sudah tau apa yang telah menimpa anaknya hingga membuat putri cantiknya itu mengalami syok dan tak sadarkan diri.
Bekas kissmark di leher dan dada Fely membuat dokter Shela dan mama Grace berspekulasi jika Fely baru saja mengalami pel*c*han sek - sual yang membuatnya trauma. Suhu tubuh Fely bahkan sangat panas.
"Mama gagal menjaga Fely, mama gagal menjadi ibu yang baik untuknya, mama tidak bisa menjadi pelindung untuk Fely,," Mama Grace terus meracau. Kondisinya sangat memprihatinkan. Mama Grace terlihat lebih hancur melihat Fely mengalami apa yang pernah dialaminya dulu.
Jeje ikut menitikkan air matanya, dia paling tidak bisa melihat seseorang menangis di depannya.
Meski dia belum tau apa yang sebenarnya terjadi pada Fely, tapi dia ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
"Mama tenang dulu, Fely sudah di tangani dokter. Dia pasti akan baik - baik saja." Kenzo berusaha menenangkan mama Grace. Dia belum tau apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya itu, namun bisa dipastikan Kenzo tidak akan bisa setenang ini setelah tau apa yang terjadi.
"Shela,, bagaimana kondisinya.? Apa adikku baik - baik saja.?" Tanya Kenzo panik. Namun tangannya tak berhenti mendekap tubuh mama Grace.
"Ken,,, saat ini aku hanya bisa menduga kalau dia mengalami trauma. Ada beberapa hal yang membuat seseorang mengalami trauma hingga kondisinya memburuk seperti ini." Shela menjelaskan dengan hati - hati. Dia sudah bisa menebak Kenzo tidak akan mudah menerima pendapatnya, terlebih saat ini Kenzo memasang memasang wajah tak bersahabat.
"Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi.?" Tegas Kenzo, dia semakin dibuat panik dan cemas.
"Aku minta maaf sebelumnya, dengan melihat bukti yang ada, aku hanya bisa menyimpulkan jika adik kamu baru saja mengalami pel*c*han sek - sual."
Shela menunjukan kissmark di leher Fely yang tadinya sengaja dia tutupi menggunakan rambut. Hal itu Shela lakukan agar Mama Grace tidak menangis, karna setiap melihat Fely, dia akan histeris.
Penjelasan Shela seperti cambukan keras bagi Kenzo. Dia juga merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Mama Grace. Ya, hancur tentunya.
"Apa maksud kamu.?!" Seru Kenzo.
Sementara itu mama Grace makin histeris, Jeje juga syok mendengar penjelasan dari dokter. Dia jadi bertanya - tanya, apa mungkin kak Nicho yang sudah memaksa kak Fely melakukan hubungan sek - sual.
"Kamu mau bilang kalau ada seseorang yang memper - kosanya.?!" Suara Kenzo meninggi.
Dia memang melihat bukti di leher Fely, namun berusaha untuk tidak menyakini jika Fely baru saja mengalami pel*c*han sek - sual.
"Aku hanya menduga Ken. Kamu bisa menanyakannya langsung kalau dia sudah siuman."
"Sekarang biarkan dia istirahat, jangan ada keributan dan bising di sini."
"Kondisi tidak terlalu parah, dia akan segara siuman sebentar lagi."
Pamit Shela pada Kenzo, Kenzo hanya mengangguk lemah.
"Ayo mah, kita keluar dulu,,," Kenzo menuntun mama Grace untuk keluar dari kamar.
"Tolong jaga Fely,,," Pintar Kenzo pada ART.
"Baik pak,,,"
"Ayo sayang,,," Kenzo menggandeng tangan Jeje.
Dia merangkul mama Grace dan menggandeng istrinya keluar dari kamar Fely. Mereka duduk di ruang keluarga. Mama Grace masih saja menangis, kali ini Jeje yang memberi pelukan pada ibu mertuanya itu. Dia ikut prihatin melihat kondisi mama Grace.
"Mama harus tenang, aku yakin tidak terjadi sesuatu yang buruk pada kak Fely. Selama ini kak Fely bisa menjaga dirinya dengan baik, bahkan kak Nicho juga menjaga kak Fely dengan baik,,,"
Jeje berusaha menyakinkan mama Grace bahwa Fely tidak mungkin mengalami pel*c*han sek - sual. Meskipun dalam hati kecilnya dia mencurigai Nicho, mungkin saja Nicho berusaha memaksa Fely melakukan hubungan sek - sual, namun Fely menolaknya.
"Cepat telfon Nicho.!! Sudah sampai dimana bajingan itu.?!!" Geram Kenzo begitu mendengar Jeje menyebut nama Nicho.
Dia langsung beranggapan kalau Nicho yang sudah membuat Fely seperti itu. Terlebih dia pernah memergoki Nicho berada di apartemen Fely.
Laki - laki itu pasti sedang berusaha membujuk Fely untuk melakukan hubungan sek - sual, Kenzo yakin Fely menolaknya dan pada akhirnya Nicho melakukan hal ini pada Fely.
Kenzo sangat yakin kalau Nicho melakukan itu pada Fely, tidak mungkin laki - laki seperti Nicho tidak berbuat macam - macam pada adiknya itu.
"Hubby, kak Nicho tidak bajingan" Tegur Jeje tak terima.
"Kak Nicho pria baik - baik, dia tidak mungkin membuat kak Fely seperti itu. Mana mungkin kak Nicho tega menyakiti orang yang dia cintai."
"Selama menjalani hubungan dengan kak Fely, kak Nicho selalu menjaga kak Fely dengan baik.!"
Jeje tidak habis pikir karna Kenzo menyebut kakaknya bajingan.
"Lalu kamu pikir siapa yang melakukan ini pada Fely.?" Seru Kenzo.
Jeje menatap kecewa pada Kenzo yang kini berdiri di depannya dengan tatapan penuh amarah.
Jeje hanya bisa menghela nafas kasar. Kenzo seolah lupa kalau dulu dia juga melakukan hubungan sek - sual dengan Jeje yang tak lain adalah adalah adik Nicho.
Kalau Kenzo menyakini bahwa Nicho yang sudah melakukan itu pada Fely, harusnya Kenzo tidak perlu bereaksi berlebihan seperti itu.
"Tapi kita belum tau kebenarannya. Hubby boleh mengatakan apapun pada kak Nicho, tapi setelah kak Fely menceritakan semuanya."
Jelas Jeje terengah - engah. Dia sudah terlanjur kesal pada Kenzo.
"Sudah Ken, benar apa kata Jeje. Kita tunggu sampai Fely siuman." Mama Grace menengahi.
Kenzo terlihat frustasi, berkali - kali meremas kuat rambutnya.
Mereka saling terdiam, sibuk dengan pikirannya masing masing dan mencoba untuk menenangkan diri.
Sementara itu Fely terlihat mengerjapkan mata perlahan. Dia mencoba membuka matanya yang terasa berat setelah menangis dari pagi.
Fely memaku, teringat kembali kejadian buruk yang menimpanya semalam.
Bayangan Nathan yang membuka paksa dress dan semua kain yang membalut tubuhnya, terus berputar - putar di ingatan. Bagaimana Nathan mencumbunya dengan kasar akibat pengaruh alkohol. Meninggalkan jejak kepemilikan dileher dan dadanya.
Meski dia sudah memberontak dan berteriak sekuat tenaga, namun tidak ada satu orangpun yang datang menolongnya.
Sampai akhirnya dia kehabisan tenaga dan tidak sadarkan diri karna dia juga mengalami syok.
Entah apa yang terjadi setelah itu, dia tidak tau apapun dan terbangun di pagi hari dalam selimut yang sama bersama Nathan.
"Nicho,,," Ujar Fely tercekat. Air matanya langsung mengucur deras.
Orang pertama yang dia ingat saat Nathan melecehkannya adalah Nicho. Dia memikirkan perasaan Nicho yang pasti akan hancur mengetahui semua ini.
"Non Fely sudah siuman,," Ujar ART. Tanpa pikir panjang, dia langsung berlari ke luar kamar untuk memanggil Kenzo.
...****...
...Yang masih stay disini, tolong tinggalkan likenya 😊...