My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
39. Season2



"Sialan lu.! Ganggu aja.!" Nicho terlihat geram. Dia kedapatan mengomeli seseorang yang menelfonnya. Bagaimana dia tidak kesal, baru saja memulai kesenangan tapi harus terjeda.


"1 jam lagi gue kesana.!" Nicho mematikan sambungan telfonnya, dia melempar ponselnya ke sofa yang ada di depannya. Laki - laki itu berniat untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Saat berbalik badan, dia mendapati Fely sudah merapikan bajunya. Saat ini gadis cantik itu tengah duduk di ujung ranjang sembari memainkan ponselnya.


Nicho terlihat menghela nafas, sedikit kecewa Fely sudah merapikan kembali bajunya. Yang artinya jika gadis itu enggan melanjutkan kegiatan mesumnya lagi.


Nicho mendekat, Fely hanya menatap Nicho saat Nicho ikut duduk disebelahnya. Rasanya dia ingin melarang Nicho untuk tidak lagi berbuat mesum padanya, namun Fely terlihat tidak tega untuk menolak keinginan Nicho. Apa lagi ketika melihat raut wajah Nicho saat dia sedang merengek, rasanya tidak kuasa hanya sekedar menggelengkan kepala. Fely pasti akan menganggukkan kepalanya.


"Aku belum selesai,," Nicho berbisik lembut dengan suara khasnya yang berat. Dia meraih ponsel dari Fely dan meletakkannya begitu saja.


Laki - laki itu kembali menyerang Fely dengan ciuman rakusnya yang semakin menuntut.


Adegan panas tadi sempat terulang kembali, sampai akhirnya Nicho memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi. Dia tidak sanggup lagi menahannya, sedangkan tidak mungkin Nicho melakukannya pada Fely. Wanita itu bahkan ketakutan saat Nicho meminta Fely untuk menyentuh miliknya dari balik celana.


Fely terlihat menggelengkan kepalanya, menatap Nicho yang berjalan cepat ke kamar mandi.


Apa lagi yang akan dia lakukan selain menuntaskan hasratnya yang menggebu.


Fely merasa lega karena Nicho tidak pernah memaksanya untuk melakukan hal lebih dari yang biasa mereka lakukan. Setidaknya dia masih bisa menjaga keperawanannya sampai saatnya nanti Nicho menikahinya.


Cukup lama Fely menunggu Nicho yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Selama itu juga pikiran Fely melayang kemana - kemana. Membayangkan hal kotor yang sedang di lakukan oleh Nicho di dalam sana. Bahkan samar - samar terdengar suara desahan yang tertahan. Bulu kuduk Fely bahkan sampai meremang. Sepertinya Nicho tipe laki - laki yang tahan lama jika bergulat.


Fely bergidik ngeri membayangkannya.


Mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, Fely langsung pura - pura memainkan ponselnya. Dia tidak mau Nicho sampai tau kalau sejak tadi dia berusaha menguping dan memperhatikan pintu kamar mandi.


"Aku antar kamu pulang sekarang. Aku ada urusan,,"


Sambil merapikan bajunya, Nicho terus melangkah tegap. Dia mengambil ponsel di atas sofa, kemudian meraih jaket dan kunci mobilnya.


"Mau kemana.?" Fely terlihat menaruh curiga pada Nicho, terlihat dari tatapan matanya yang seolah sedang mengintrogasi.


"Survei lokasi dan tempat. Aku akan membuka cafe disini." Nicho menghampiri Fely, meraih tangan Fely dan menggandengnya.


Wanita itu terlihat menatap Nicho dengan lekat, laki - laki yang berniat menikahinya itu adalah tipe laki - laki pekerjaan keras. Fely sudah tau usaha yang digeluti Nicho selama berada di New York. Meski saat itu dia masih di fasilitasi oleh orang tuanya, tapi Nicho tidak melulu berpangku tangan dan mengandalkan kekayaan kedua orang tuanya. Dia laki - laki mandiri yang ingin mengembangkan ide dan usahanya sendiri.


"Lalu cafe di New York.?" Fely bertanya dengan hati - hati.


"Aku mempercayakannya pada temanku. Mereka yang akan mengurusnya,," Tiba - tiba Nicho menghentikan langkahnya sebelum keluar dari apartemen. Dia menatap Fely dengan wajah yang serius.


"Aku benar - benar sudah siap menikah. Aku bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kamu dan anak kita nanti." Ungkapan Nicho terdengar tulus dari hati terdalam. Fely bahkan sampai berkaca - kaca mendengarnya.


"Urusan papa biar aku yang selesaikan nanti. Apa salahnya kita menikah lebih dulu, lagipula mama merestui kita. Restu papa bisa menyusul nanti, seiring berjalannya waktu pasti papa bisa menerima kamu."


Nicho menggenggam erat tangan Fely.


"Nasib hubungan kita ada di tangan kamu, kamu hanya perlu membujuk mama kamu untuk menyetujui pernikahan kita."


"Mungkin aku terkesan memaksa, tapi aku hanya takut kehilangan kamu untuk kedua kalinya,,"


Mata Nicho berkaca - kaca, ini pertama kalinya Fely melihat wajah sendu Nicho yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata - kata. Seolah ada ketakutan, kecemasan dan segala perasaan yang bercampur jadi satu.


"Aku benar - benar mencintaimu,," Ucapnya tulus. Nicho merentangkan kedua tangannya, menarik Fely kedalam pelukannya.


...*****...


Sementara itu sejak kepulangan Jeje dari rumahnya, Karin lebih banyak melamun. Dia sedang mempertimbangkan matang - matang saran dari Jeje. Dia juga mempertimbangkan keinginan Jeje yang menginginkan dia untuk tetap bertahan dengan Reynald.


Saat ini Karin merasa dilema. Dia tidak tau harus melangkah untuk maju atau melangkah untuk mundur. Rasanya berat jika harus tetap bertahan sedangkan Reynald tidak bisa mencintainya.


Namun Karin juga merasa berat untuk mengakhiri rumah tangganya begitu saja.


Harusnya dia yang berusaha untuk membuat Reynald jatuh cinta padanya lebih dulu, bukan malah membuat perasaan cintanya pada Reynald semakin berkembang. Karin terlalu mudah luluh dengan sikap Reynald yang terkadang lembut padanya. Dan dia menyadari akan hal itu. Dia sadar jika dirinya salah karena sudah membuka hatinya untuk orang yang jelas - jelas belum mencintainya. Membiarkan rasa itu masuk dalam hatinya dan membuatnya dalam kesulitan seperti ini.


Lamunan Karin buyar saat terdengar dering ponsel miliknya. Dia melirik ponsel, membaca nama yang tertera pada layar ponselnya. Karin sempat diam sesaat begitu membaca nama Reynald yang tertera di sana. Dia menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan telfon dari Reynald.


"Sedang apa.? Sudah makan siang dan minum obat.?" Suara datar dan besar itu membuat Karin mengerutkan keningnya. Bukan Reynald kalau tidak membuatnya bingung dan heran.


Pertanyaan itu adalah bentuk perhatian, namun cara penyampainya sama sekali tidak menunjukan bentuk perhatian sedikitpun.


"Karin.!" Suara teguran Reynald membuat Karin sedikit tersentak.


"I,,iya. Aku belum sempat memasak." Karin terlihat gugup, namun menjawabnya dengan cepat.


"Mau makan apa.? Biar aku pesankan,," Suara Reynald lebih rendah 1 oktaf, namun tetap terdengar datar.


"Nggak usah, aku mau masak sekarang." Dengan cepat Karin menolaknya.


"Kakak nggak usah khawatir, aku pasti akan makan dan minum obatnya,," Karin terlihat lebih berani. Sepertinya dia ingin mengikuti saran Jeje untuk tidak terlalu diam agar Reynald tidak berlaku seenaknya padanya.


"Jangan membantah.!"


"Cepat katakan kamu mau makan apa.? Aku sibuk, masih banyak pekerjaan." Reynald memang menyebalkan, suara dan moodnya mudah sekali berubah - ubah. Baru saja memelankan suaranya, kini dia kembali menaikan suaranya.


"Aku udah bilang aku mau masak.! Nggak usah khawatir, aku akan mengurus diriku sendiri."


Karin langsung mematikan sambungan telfonnya, dia meletakan ponselnya begitu saja di atas meja kemudian beranjak ke dapur. Meski ada sedikit rasa takut, namun apa yang baru saja dia lakukan cukup membuatnya lega. Setidaknya kali ini dia bisa memberikan perlawanan atas sikap Reynald yang selalu berbicara ketus padanya.


Di lain tempat, Reynald terlihat bingung menatap ponselnya. Ulah Karin yang memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak membuat Reynald bertanya - tanya. Sejujurnya mulai ada rasa takut yang menyelimutinya.


Terlebih tadi pagi Kenzo bertanya banyak hal mengenai rumah tanggannya dengan Karin. Kenzo bahkan sempat memperingatkannya untuk bersikap baik pada Karin jika tidak ingin kehilangan istri dan anaknya itu.


Kenzo kembali mengingatkan Reynald jika ada Jeje dibelakang Karin yang siap maju jika dia berani menyakiti Karin. Dari situ Reynald tau jika Karin baru saja bertemu dengan Jeje dan menceritakan semuanya.


Meski dia sempat kesal pada Karin karena menceritakan hal itu pada Jeje, tapi sejujurnya Reynald mulai merasa cemas.


Entah sudah keberapa kali Reynald mencoba menelfon Karin lagi, namun Karin tak kunjung mengangkat panggilan telfon darinya.


''Kamu akan menyesal kalau Karin benar - benar pergi."


Ucapan Kenzo terus terngiang - ngiang dalam benaknya. Membuat rasa takutnya semakin besar.


"Angel hanya masa lalu, sebesar apa pun kamu mencintainya,, dia tidak akan pernah kembali padamu.!"


"Jangan karena menunggu kebahagiaan semu, kamu mengabaikan kebahagiaan yang ada didepan mata.!"


"Kamu akan menyesal kalau Karin benar - benar pergi."


Reynald meremas kuat rambutnya. Ucapan Kenzo membuat kepalanya serasa ingin meledak.


Hal itu sedikit membuka hati dan pikiran Reynald atas sikapnya yang sudah keterlaluan pada Karin selama ini.


Reynald mengakui jika saat ini dia memang masih memiliki perasaan pada Angel, rasanya berat untuk melupakan semuanya begitu saja. Dia belum bisa menerima keadaan dan kenyataan pahit yang menimpanya.


Reynald langsung menatap ponselnya begitu ponselnya bergetar. Dia tersenyum tipis membaca pesan dari Karin. Dia terlihat lega karena Karin sudah makan siang.


...*****...


Biasakan like setelah baca🙏