
Sore itu Karin di bangunkan oleh suara ponselnya yang terus berdering. Rasa kantuk membuat Karin terlihat malas mengambil ponsel yang masih berada didalam tasnya. Karin hanya menggeser tubuhnyan ke tepi ranjang dan mengulurkan tangan untuk menarik tas yang ia letakkan di atas nakas.
Matanya terbuka lebar saat melihat nama sang kakak yang tertera di layar ponselnya. Perasaannya seketika kacau begitu mendapat panggilan dari Radit. Tidak biasanya Radit menelfonnya.
"Hallo a,,, ada apa.?" Karin langsung mengajukan pertanyaan setelah menggeser tombol hijau.
"Cepetan ke rumah sakit dek, Bapak pingsan pas sampe rumah.!" Seru Radit. Suaranya terdengar sangat panik.
"Apa.?! Bapak,,,,," Teriak Karin histeris. Dia langsung menangis. Pikirannya semakin kacau dan rasa takut mulai menyelimutinya.
"Bapak kenapa a,,?" Serunya dengan isak tangis.
"Atuh gimana kamu dek, jangan nangis. Aku makin bingung, ini ibu juga Lagi nangis nungguin Bapak di periksa. Cepetan kamu kesini, di rumahnya sakit deket rumah." Jelas Rasit panjang lebar, kemudian langsung mematikan ponselnya.
"Hallo a Radit.?!!"
"Kamu kenapa.?" Reynald baru saja masuk kedalam kamar dan berjalan menghampiri Karin yang sudah banjir air mata.
Karin menjatuhkan ponsel di atas ranjang, dia turun dari ranjang dan menghambur kepelukan Reynald. Memeluk laki - laki itu dengan erat, tangisnya semakin pecah.
"Bapak pingsan kak,,," Suara Karin terbata.
"Anterin aku ke rumah sakit sekarang.!" Karin langsung melepaskan pelukannya, dia mengambil tas dan ponsel miliknya.
Wajah Karin terlihat panik, dia berjalan cepat untuk keluar dari kamar.
"Ayo kak cepetan,,," Serunya, Karin berbalik badan sekilas untuk memanggil Reynald yang masih diam di tempat.
Reynald menyusul Karin dengan langkah cepat setelah mengambil kunci mobil.
"Jangan buru - buru.! Ingat kamu sedang hamil.!" Tegur Reynald sembari menarik tangan Karin agar memperlambat langkahnya.
"Tapi kak, aku harus liat Bapak secepatnya,," Karin kembali berurai air mata. Siapapun pasti akan menangis jika mendapatkan kabar buruk mengenai kondisi orang tuanya. Terlebih ini pertama kalinya Bapak Karin pingsan. Selama ini orang tuanya itu tidak pernah sakit parah, apa lagi sampai pingsan.
Ada ketakutan dalam Karin, takut jika orang taunya memiliki penyakit yang serius. Takut jika dia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk melihat orang tuanya.
"Aku tau, tapi pikirkan juga kandungan kamu.! Kamu pikir dia akan baik - baik saja kalau kamu setengah berlari seperti tadi.!" Reynald tidak bisa menahan diri untuk menegur Karin dengan nada tinggi. Bukan tanpa alasan dia menegur Karin seperti itu. Dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungan Karin. Terlebih Karin juga baru pingsan tadi siang. Dia berfikir jika kandungannya akan bermasalah jika Karin berjalan cepat seperti tadi.
Bukannya diam memahami kepanikan Reynald, Karin justru semakin histeris. Tangisnya pecah karna terlalu mengkhawatirkan kondisi orang tuanya.
Reynald menghela nafas pelan, ditariknya tubuh Karin kedalam dekapannya. Reynald memberikan usapan lembut di kepala dan punggung Karin untuk meredakan tangisnya.
"Jangan khawatir, Bapak pasti baik - baik saja."
"Sudah jangan menangis,," Pinta Reynald.
"Aku tidak akan mengantar kamu kalau kamu masih saja menangis.!" Setelah berbicara lembut, Reynald kembali bersuara tegas untuk mengancam Karin agar bisa menghentikan tangisnya.
Karin mengangguk cepat, perlahan tangisnya mulai reda.
Reynald mengulum senyum tipis sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
"Kita berangkat sekarang,," Ajaknya sembari menggandeng tangan Karin.
Sepanjang perjalanan, Karin lebih banyak membuang pandangan ke luar jendela. Selain melamun karna memikirkan Bapaknya, Karin juga menyembunyikan tangisnya dari Reynald.
Meski setuju untuk berhenti menangis, tapi air matanya keluar begitu saja karna terus mengingatnya.
Begitu sampai di rumah sakit, Karin langsung menghampiri Radit yang tengah berdiri di depan ruangan. Raut wajahnya terlihat sendu menatap pintu ruangan yang tertutup rapat.
Reynald hanya bisa menghembuskan nafas begitu Karin melepaskan gandengan tangannya dan menghampiri Radit. Istrinya itu terlalu sulit untuk mendengarkannya. Baru 30 menit yang lalu menyuruhnya untuk tidak berjalan cepat, tapi dia sudah mengulanginya lagi.
"A,, Bapak dimana.? Gimana keadaan Bapak.?" Karin langsung menodongkan pertanyaan pada Radit.
"Bapak udah sadar, Ibu lagi liat Bapak di dalem." Radit mengarahkan manik matanya pada pintu ruangan.
"Kata dokter cuma boleh 1 orang yang masuk. Kamu ke dalam aja kalo Ibu udah keluar." Tutur Radit lesu. Karin sedikit merasa lega mendengar Bapaknya sudah sadarkan diri. Tapi kecemasan dalam dari raut wajahnya belum menghilang.
"Kenapa bisa pingsan a.? Gimana kejadiannya.?" Karin bertanya dengan suara yang bergetar.
Radit mulai menceritakan kejadiannya pada Karin.
Bapaknya tiba - tiba saja jatuh pingsan setelah beberapa langkah masuk kedalam rumah.
"Ibu,,," Karin langsung menghampiri ibunya yang baru saja keluar. Matanya membengkak dengan wajah yang sendu. Sangat terlihat jelas kesedihan di wajahnya.
"Neng,,," Ibu Dahlia memeluk Karin dengan erat. Badannya bergetar, terisak tanpa mengeluarkan suara. Ada kesedihan mendalam yang tidak ingin ia perlihatkan kepada Karin.
"Bapak baik - baik aja kan bu,,?" Tanya Karin lemah.
Ibu Dahlia mengangguk cepat, kemudian melepaskan pelukannya.
"Tadi Bapak nyariin kamu, Ibu bilang kamu masih di jalan." Ibu Dahlia menghapus sisa air mata di pipinya, kemudian tersenyum samar. Senyum yang terlihat mengiris hati.
"Kamu temui Bapak aja ke dalam,,," Perintahnya.
Karin mengangguk dan langsung masuk kedalam.
"Nak Rey,,," Sapa Ibu Dahlia pada Reynald. Laki - laki itu sedang berbicara pada Radit, dia langsung menghampiri Ibu Dahlia begitu di sapa. Mencium punggung tangan Ibu mertuanya dengan sopan.
"Bagaimana kondisi Bapak yang sebenarnya.?" Tanya Reynald. Dia terlihat mencurigai Ibu mertuanya yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Karin.
Ibu Dahlia menunduk lesu, dia kembali berurai air mata dan badannya kembali bergetar. Radit langsung menghampirinya, mendekap sang Ibu untuk menenangkannya.
"Bapak,,,," Karin langsung menghambur kepelukan Pak Dadang yang berbaring lemah di bnagsak dengan jarum infus di tangannya dan selang oksigen yang menempel di hidungnya.
Karin kembali menangis, dia tidak menyangka kalau sampai harus dipasang infus dan oksigen.
Itu artinya kondisi sang Bapak tidak baik - baik saja.
"Jangan nangis atuh neng, Bapak sehat kok."
Ujarnya dengan suara lirih. Terdengar sangat lemah di telinga Karin. Dia juga berusaha mengusap pelan punggung anaknya.
"Kalau Bapak sehat kenapa harus di pasang infus sama oksigen segala.?" Karin tidak percaya dengan ucapan Bapaknya.
"Neng,," Pak Dadang mendorong pelan bahu Karin agar Karin melepaskan pelukannya.
"Bapak itu cuma kecapean, mungkin karna kurang tidur dari seminggu yang lalu. Ini teh di infus sama dipasang oksigen biar Bapak cepet seger lagi."
"Nggak usah nangis begini,,"
"Tapi Pak,,,
"Bapak baik - baik aja, kamu nggak usah khawatir."
"Gimana keadaan cucu Bapak.? Sehat neng.?" Pak Dadang menatap Karin dengan senyum yang merekah. Dia terlihat bahagia membahas tentang cucunya yang masih ada di dalam kandungan Karin.
Keduanya terlibat obrolan ringan penuh tawa karna membahas hal itu.
"Suami kamu ikut.?" Karin mengangguk cepat.
"Suruh kesini, Bapak mau ngomong sama manusia kaku itu." Ledek Pak Dadang. Karin hanya tersenyum tipis.
"Sebentar Karin panggilin dulu Pak,,,"
Karin keluar dari rungan itu. Dia menatap Ibu, kakak dan suaminya yang terlihat sedang membicarakan hal serius. Reynald langsung diam dan menatap Karin. Begitu juga dengan Ibu dan kakak Karin.
"Bapak mau ngomong sama kak Reynald." Ujarnya sembari menghampiri mereka.
Reynald mengangguk dan langsung masuk kedalam.
...****...
Karin dan Reynald sedang dalam perjalanan pulang. Tadinya Karin bersikeras untuk menginap di rumah sakit agar bisa menemani orang tuanya. Namun baik orang tua dan suaminya, melarang keras keinginan Karin. Mereka tidak mengijinkan Ibu hamil itu bermalam dirumah sakit dengan alasan kesehatan dia dan anak yang ada di dalam kandungannya.
Reynald memaksa Karin untuk pulang setelah pukul 9 malam.
"Kak,,," Panggil Karin lirih. Entah sudah keberapa kalinya dia memanggil Reynald untuk menanyakan hal yang sama, tapi tidak pernah mendapatkan jawaban yang puas.
"Apa lagi.?" Desah Reynald kesal.
"Kamu tidak percaya padaku.?" Tanyanya dengan lirikan tajam.
"Bukan begitu, tapi kondisi Bapak tidak terlihat baik - baik saja." Keluh Karin sendu.
Reynald menarik nafas dalam dan menghembuskan kasar.
"Bukannya kamu denger sendiri dari mulut Bapak.? Dia sehat, dia baik - baik saja dan hanya butuh istirahat."
"Dia cuma menceramahiku di dalam. Menyuruhku agar tidak kaku, tidak memarahi kamu, dan menegur kamu kalau salah karna membantah perintah ku.!"
Jelas Reynald dengan nada yang semakin meninggi.
Dia kesal sendiri karna Karin terus mendesaknya sejak keluar dari ruangan Bapak mertuanya sampai saat ini sudah berada di jalan.
Karin mencebikkan bibirnya. Katanya di suruh untuk tidak memarah padanya, tapi saat ini terlihat seperti sedang memarahinya dengan suara tingginya itu.
"Kenapa.? Kamu mau bilang aku bohong.?!" Seru Reynald.
Karin tidak meresponnya, dia langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela. Rasanya saja berbicara pada Reynald, yang ada hanya membuatnya semakin penasaran dan kesal.