My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
7. Season2



Keramahan kedua orang tua Reynald seakan memberikan sinyal baik bagi hubungannya dan Karin.


Orang tua Karin terlihat senang dengan sifat ramah dan baik yang di tunjukan oleh orang tua calon menantunya itu. Namun mereka masih tak habis pikir dengan perbedaan sifat orang tua dan anak itu yang bagaikan bumi dan langit.


Entah menuruni jejak siapa sifat kaku dan arogan Reynald.


"Pak Dadang dan Ibu Dahlia, sebelumnya saya tulus meminta maaf atas perbuatan putra kami yang sudah,,," Pak Joseph tidak meneruskan ucapannya. Dia menyadari hanya akan membuat mereka km sedih jika mengatakannya. Anaknya itu memang keterlaluan, tidak punya hati sampai tega menghamili seorang gadis yang masih remaja.


"Kami datang kesini benar - benar tulus ingin meminta maaf dan mempertanggung jawabkan apa yang sudah di perbuat oleh putra Kami." Sambungnya lagi setelah diam beberapa saat.


"Saya harap Pak Dadang dan Ibu Dahlia bisa ikhlas memberikan maaf untuk kami dan Reynald. Agar nantinya hubungan keluarga kita tidak didasari kekesalan atau dendam karena kesalahan putra Kami."


Papa Joseph terlihat bersungguh - sungguh untuk menyatukan dua keluarga yang memang harus bersatu karena keadaan. Sejujurnya Papa Joseph sangat menyesali perbuatan buruk putranya itu, namun dibalik semua itu ada rasa senang dan bersyukur yang di rasakan oleh kedua orang tua Reynald.


Karena kejadian ini, mereka tidak perlu menjodoh - menjodohkan Reynald lagi dengan putri teman mereka.


Entah sudah berapa kali mereka mencoba untuk menjodohkan Reynald agar putranya itu mau menikah, tapi laki - laki arogan itu terus menolaknya.


Hatinya sudah tertutup rapat untuk wanita lain.


"Sejujurnya kami kecewa dengan putra Pak Joseph. Selama ini kami sebagai orang tua sudah berhasil mendidik dan menjaga Karin dengan baik, tapi anak kalian merusak dan melecehkannya semudah itu."


"Saya menerima pertanggung jawaban dari Reynald, karena memiliki harapan agar anak dan calon cucu saya tidak mendapat hinaan dari orang lain jika tidak ada suami dan ayah di samping mereka."


Bapak Karin terlihat masih belum menerima kenyataan pahit yang di alami oleh putrinya.


"Untuk itu, saya melepaskan Karin untuk di nikahi oleh nak Reynald."


"Saya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi Karin pada nak Reynald." Bapak Karin begitu serius menatap Reynald. Sedangkan laki - laki itu terlihat santai meskipun ada kegelisahan dalam sorot matanya.


"Saya akan mengambil Karin kembali kalau nak Reynald tidak bisa menjaga dan melindunginya, apalagi kalau sampai melukai hati anak saya.!" Tegasnya.


"Saya mengerti Pak. Saya pasti akan menjalankan tanggungjawab itu,," Jawab Reynald datar.


"Pak Dadang tidak usah khawatir, saya yang akan menjamin kalau Reynald pasti bisa menjaga Karin dengan baik,," Sambung Mama Laras.


Cukup lama mereka terlibat obrolan yang serius seputar tanggungjawab Reynald sebagai suami Karin nantinya.


Mereka juga membahas pernikahan keduanya yang akan di laksanakan sore nanti.


Baik kedua orang tua Reynald ataupun orang tua Karin, mereka sepakat untuk menikahkan mereka secepatnya.


Pernikahan yang hanya akan di hadiri oleh keluarga inti saja tanpa adanya resepsi ataupun pelaminan pada umumnya.


"Huueek,,," Karin langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.


Semua orang di ruangan itu menatap Karin.


"Ke kamar mandi neng,,," Seru B.apak dan Ibu bersamaan.


Karin mengangguk dan langsung beranjak dari duduknya. Dia berpamitan pada mereka dengan cara membungkukkan badan.


Wanita hamil itu berjalan cepat meninggalkan ruang tamu.


"Rey.! Cepat anterin Karin.!" Tegur mama Laras. Dia menatap putranya tajam. Tak habis pikir putranya hanya diam saja saat melihat Karin yang akan muntah.


Tanpa menjawab, Reynald beranjak dan langsung menyusul Karin.


Rupanya Karin sudah masuk kedalam kamar mandi, Reynald hanya bisa mendengar suara Karin yang muntah berulang kali.


Laki - laki itu pergi ke dapur, mengambil air minum dan menunggu Karin di depan pintu kamar mandi dengan bersender pada dinding.


Ini sudah ke 3 kalinya Karin muntah - muntah pagi ini, dan biasanya akan berhenti saat mulai siang.


Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan sebelah tangan yang terus mengusap perut.


Dia tersentak kaget begitu Reynald menyodorkan gelas berisi air minum padanya.


"Minum ini,,!" Ujarnya datar.


"Kak,, bikin kaget saja,," Gumam Karin pelan.


Karin menerima gelas itu yang berisi air hangat, lalu meneguknya perlahan.


"Makasih,," Karin menyodorkan gelas tadi pada Reynald, namun yang ada Reynald malah mendelik menatapnya.


"Taruh sendiri,," Ucapnya cuek, dia berlalu dari hadapan Karin dan kembali ke ruang tamu.


Karin hanya bisa bisa menggelengkan kepala. Reynald memang menyebalkan sejak pertama kali bertemu. Bahkan dulu lebih menyebalkan karena terlalu datar dan ketus. Sering memaksanya sesuka hati.


Sedangkan saat ini Reynald sedikit memiliki kepedulian padanya. Hal itu membuat Karin mengerti bahwa perhatian Reynald diberikan untuk calon anak mereka. Setidaknya meski manusia kaku itu arogan dan ketus padanya, Dia masih memiliki hati nurani untuk bersikap baik pada calon anaknya.


Karin segera kembali dan ikut bergabung bersama mereka. Kedua orang tua Reynald terlihat sedang berusaha untuk membuat orang tua Karin percaya jika anaknya bisa menjaga Karin dengan baik.


"Gimana Karin, masih mual,,?" Tanya Mama Laras penuh perhatian.


"Tidak tante,,," Sahutnya sembari menggelengkan kepala.


"Syukurlah. Memang seperti itu kalau sedang hamil muda. Perbanyak minum air putih untuk mengurangi mualnya," Tuturnya Lembut.


"Jaga kesehatan dan jangan terlalu cape,"


Tak berselang lama, Jeje dan Kenzo datang.


Karin langsung keluar begitu melihat Jeje turun dari mobil.


Sahabatnya itu membuatnya terharu dengan segala kebaikannya padanya. Rupanya mereka sudah saling terhubung sebelum bertemu. Dengan Bapak Karin sebagai perantaranya.


Karin sangat berterima kasih atas bantuan yang sudah Jeje berikan pada orang tuanya kala itu.


Dan sekarang sahabatnya itu juga sangat berjasa dalam membantunya memberitahu Reynald tentang kehamilannya.


Mungkin jika bukan karena dorongan dari Jeje, Karin akan berfikir berulang kali untuk meminta pertanggungjawaban pada Reynald.


"Jee,,," Seru Karin. Matanya berkaca - kaca, dia terlalu bahagia memiliki sahabat seperti Jeje.


Jeje tersenyum lebar, dia berjalan cepat dan segara memeluk Karin.


"Selamat Karin, sebentar lagi kamu akan punya keluarga kecil yang utuh. Aku ikut bahagia, kamu juga harus selalu bahagia untuk baby yang ada disini,," Serunya sembari mengusap perut Karin.


Suara khas remajanya yang manja membuat Karin terkekeh.


Meski wajah dan suaranya seperti anak kecil, tapi sahabatnya itu memiliki pemikiran yang dewasa.


"Makasih banyak Je,," Ucap Karin tulus.


"Ayo masuk,,," Ajaknya ramah.


"Masuk kak,," Karin mengangguk hormat pada Kenzo yang berdiri tegap di belakang Jeje. Laki - laki itu hanya mengangguk.


"Pak Ken,,," Sapa Mama Laras dan Papa Joseph.


Mereka selalu saja bersikap formal dan hormat pada bos anaknya itu.


Kenzo mengangguk dan tersenyum ramah.


"Selamat pagi semuanya,,," Sapanya.


"Pagi om, tante,," Jeje ikut menyapa orang tua Karin dan Reynald.


"Ini istri Pak Kenzo.?" Tanya Mama Laras. Jeje mengangguk.


"Iya Bu."


"Jangan panggil Pak, Kenzo saja,," Pinta Kenzo sopan.


Entah sudah berapa kali Kenzo melarang kedua orang tua Reynald untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Pak.


Mereka terlalu segan dan menghormati Kenzo yang sudah banyak membantu keluarganya.


Kedua orang tua Karin, dan orang tua Reynald, terlibat obrolan serius dengan Kenzo. Mereka sedang membahas apa saja yang di perlukan untuk pernikahan Reynald dan Karin nanti sore.


Berbeda dengan Reynald yang lebih memilih diam dan menyimak obrolan mereka.


Sesekali mengangguk untuk menyetujui usulan dari orang tuanya.


"Apa kak Reynald masih cuek dan ketus,,?" Bisik Jeje pada Karin. Karin mengangguk cepat.


"Tapi dia sedikit perhatian sama calon anaknya,," Sahut Karin pelan.


"Bisa - bisanya dia masih cuek dengan calon istri dan ibu dari anaknya." Geram Jeje.


"Kamu juga harus cuek dan jual mahal Rin, buat kak Reynald yang nantinya mengejar cinta kamu,," Bisikan Jeje semangat. Dia tidak mau sahabatnya terjebak pada perasaannya terhadap Reynald, sedangkan perasaan Reynald belum pasti terhadap Karin.


"Maksudnya.?" Tanya Karin polos.


Jeje menepuk pelan keningnya.


"Kamu harus buat kak Reynald jatuh cinta dengan melayaninya sebaik mungkin. Tapi ingat, kamu harus cuek dan dingin dalam malasah perasaan. Biar kak Reynald penasaran,," Bisiknya penuh semangat.


"Ngajarin apa kamu,,?!" Tegur Reynald pada Jeje.


Kedua remaja itu langsung mendelik menatap Reynald, rupanya sejak tadi laki - laki itu memperhatikan Jeje dan Karin yang asik saling berbisik.


"Rey.!" Geram Kenzo. Dia tidak terima istrinya di tegur oleh Reynald dengan suara ketus seperti itu.


Reynald langsung terdiam. Jika Kenzo yang sudah bersuara, maka dia tidak bisa menentang atau membantahnya.


...***...


Hyyy,,, maaf baru up karna bingung di buat seperti apa bab selanjutnya.


Kisah Karin & Reynald bakal tetep nyatu di sini (Gabung sama Keje Kenzo, & Felly Nicho nantinya). Nggak ada novel baru untuk Karin & Reynald.


Untuk Celina sama duda keren, ada rencana mau di bikin novel. Tapi nggak tau kapan, nunggu novel ini dan novel barunya kelar dulu.


...Btw berapa orang yang masih setia baca.?...


...Tinggalin jempolnya yah,,,...