My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 81. Menyembuhkan luka



Saat aku kembali ke apartemen kak Nicho, suasana terdengar ricuh. Sepertinya kak Edwin sudah berulah lagi.


"Gaya - gayaan ngabisin 2 botol,,!" Cibir kak Marchel.


"Heh.! 2 boto tuh nggak ada apa - apanya. Gue bisa lebih dari itu,,!" Kak Edwin terlihat mulai mabuk, aku jadi ragu untuk bergabung lagi. Masih diam berdiri tak jauh dari mereka.


Saat akan beranjak, kak Fatih menoleh ke arahku.


"Je,," Panggilnya. Semua orang yang ada disana reflek menatapku.


"Calon istri, kamu kemana aja.? Sini duduk,,," Kak Edwin menepuk pahanya. Aku langsung melotot padanya.


"Minta di kuliti hidup - hidup ni bajingan.!" Geram kak Nicho. Dia menyeret kerah baju kak Edwin.


Kak marchel dan kak Felix terbahak - bahak melihat kak Edwin terseok - seok karna terseret. Sepertinya kak Nicho akan membawa kak Edwin ke kamarnya.


"Makanan kamu belum habis Je. Sini duduk,," Ujar kak Fatih. Aku mengangguk dan langsung duduk di sebelahnya. Sudah tidak ada kak Edwin, maka aku akan lebih leluasa.


"Kak Fatih habis bakar daging lagi.?" Tanyaku sembari menatap piring besar yang masih dipenuhi steak.


Kak Fatih mengangguk.


"Aku pikir pacar kamu akan ikut makan nanti,," Sahutnya.


"Bukan pacar, tapi calon suami,,!" Tegas om Kenzo.


Aku memutar malas bola mataku. Aneh sekali dia, tadi tidak mau ikut saat aku mengajaknya. Sekarang tiba - tiba datang dan menyebut dirinya sebagai calon suami.


Dia duduk di sebelahku, membuatku berada di antara kak Fatih dan om Kenzo.


Kak Edwin dan Kak Felix yang tidak tau siapa om Kenzo, hanya bengong menatapnya.


Om Kenzo mengambil menarik piringku ke arahnya hingga berada di tengah - tangah kami. Dia mulai memotong daging dan menyuapkan ke mulutnya.


Aku memilih diam, tidak memberikan tanggapan apapun.


"Sudah selesai masalah kalian.?" Tanya kak Nicho yang kembali gabung bersama kami. Sepertinya dia benar - benar membawa kak Edwin ke kamarnya.


"Adik kamu keras kepala, sama sepertimu,,"


Aku menatap tajam om Kenzo.


"Apaan sih om,,!" Protes ku dengan mencebikkan bibir.


"Dia juga suka ngambek,," Ujarnya lagi.


Om Kenzo terkekeh saat mendengarku mendengus kesal.


Melihat om Kenzo yang terus memakan steak milikku, aku memutuskan mengambil piring lagi dan mengisinya dengan beef slice.


Kak Nicho dan teman - temannya mulai melanjutkan obrolan lagi. Hanya aku, kak Fatih dan om Kenzo yang fokus pada makanan masing - masing.


"Lu bawa kemana si buaya gila itu.?" Tanya Kak Marchel.


"Gue cemplungin ke bathtub.!. Perlu di siram air dingin otaknya biar nggak mesum otaknya,,,"


Jawaban kak Nicho membuat Kak Felix dan kak Marchel tertawa.


"Pasti mau ngoc*k batang lagi tuh anak,, kebiasaan kalo mabok, mesti di kasih lubang,,,"


"Uhhuukkk,,, uhhuukkk,,," Ucapan kak Felix membuatku tersedak.


Seketika suasana hening, hanya ada suara batukku. Mungkin mereka baru sadar kalau ada aku disini.


"Minum dulu Je,,," Ujar kak Fatih sembari menyodorkan minum padaku. Bersamaan dengan itu, om Kenzo juga menyodorkan air minum. Aku melirik bergantian, sebelum akhirnya aku mengambil gelas yang disodorkan oleh kak Fatih.


Om Kenzo kembali meletakan gelas itu di atas meja dengan sedikit menghentaknya.


Biarkan saja dia kesal. Dia pikir melihatnya bertunangan dengan wanita lain tidak membuatku sakit hati dan cemburu.!


"Ada Jeje, kenapa kalian bahas hal semacam itu,," Protes kak Fatih.


"Kalian bisa memberikan dampak buruk padanya nanti,," Ujarnya lagi. Kak Fatih terlihat kesal.


Mungkin kak Fatih mengira aku syok mendengar ucapan vulgar kak Felix, padahal aku teringat pada kegiatan panas ku bersama om Kenzo.


Sepertinya kak Fatih akan syok kalau atau aku tidak sepolos yang dia pikirkan. Aku bahkan sudah melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan sebelum menikah.


"Mulut lu kebiasaan.!" kak Nicho meninju lengan kak Felix.


"Sorry bro, nggak inget kalo ada Jeje,,"


"Habisin makanan kamu Je, terus balik,," Ujar kak Nicho. Aku mengangguk cepat.


Setelah menghabiskan makananku, aku pamit pada mereka untuk kembali ke apartemenku.


Rupanya om Kenzo juga ikut - ikutan beranjak. Aku jadi takut, bisa - bisa om Kenzo menyeret ku ke apartemennya.


Kak Fatih terus menatapku dan om Kenzo yang berdiri bersamaan. Tatapan mata yang datar dan sulit di artikan. Aku tersenyum kikuk padanya.


"Aku duluan kak,," Ucapku pada semuanya.


"Inget Je, balik ke apartemen kamu. Bilang sama kakak kalau dia macam - macam, nanti kakak larang dia buat nggak ketemu kamu lagi." Kak Nicho melirik om Kenzo.


"Coba saja kalau bisa Nich.! Kamu bakal kehilangan surat ijin,," Ujarnya sambil berlalu dari sana. Wajah kak Nicho seketika pucat.


"Gue bercanda bro,,! Jangan di anggep seirus.!" Teriaknya.


Aku tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi aku yakin pasti ada hubungannya dengan kak Fely.


Aku segera beranjak dan keluar dari apartemen kak Nicho, lega rasanya karna om Kenzo sudah tidak ada. Aku pikir dia akan menunggu diluar dan membawaku ke tempatnya.


Apa kak Nicho juga memberitahu nomor apartemenku.?


"Cepat buka pintunya Je, atau Nicho akan melihat kita nanti,," Ucapnya santai.


Aku jadi membayangkan hal yang akan dia lakukan padaku. Jika dulu aku mungkin akan senang, sekarang aku justru merasa takut dan cemas.


"Jangan macem - macem om.! Om mau apa.?!" Ketusku. Om Kenzo tidak menjawabnya, dia malah merogoh akses card di kantong celanaku. Setelah pintu terbuka, dia menyelonong masuk begitu saja.


Aku masuk dan menyusulnya.


"Jangan berbuat seenaknya om, buruan keluar dari sini,," Aku meraih tangan dan menariknya, namun om Kenzo enggan beranjak.


"Aku kangen, biarkan aku tidur disini sama kamu. Aku janji nggak akan macem - macem, kecuali kalau kamu yang meminta,,," Ujarnya dengan seringai mesumnya. Om Kenzo kembali melangkahkan kakinya menuju kamarku. Rupanya dia benar - benar serius dengan ucapannya.


"Kamu nggak tutup pintu dulu.? Kamu mau Nicho datang dan melihat kita satu kamar.?" Ujarnya sembari membalikan badan ke arahku. Dia berdiri di ambang pintu kamarku.


"Dia pasti akan menyuruh kita untuk cepat - cepat menikah. Aku sih nggak keberatan, malah berharap seperti itu,," Ujarnya lagi dengan senyum penuh kemenangan.


Aku hanya bisa menghentakkan kaki ke lantai, lalu kembali ke depan untuk mengunci pintu.


Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa menjalani hari dengan tenang tanpa bayang - bayang masa lalu bersamanya. Sekarang dia malah terus membuntuti ku.!


Saat aku masuk ke kamar, om Kenzo sudah berbaring di sana. Celana panjang yang dia pakai bahkan sudah dilepas dan hanya menyisakan celana pendek nya.


Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dulu, juga mengganti bajuku yang sudah bercampur bau asap barbeque tadi.


Jika saja om Kenzo jujur saat itu, mungkin aku tidak akan pernah menerima cintanya. Apapun alasan yang dia gunakan untuk membohongiku, tetap saja hati ini terasa sakit. Aku sudah melambung tinggi saat dia mengatakan cinta padaku dan berjanji akan menikahi ku, tapi beberapa minggu setelah itu dia malah melangsungkan pertunangan dengan wanita lain. Kenapa semudah itu dia mengabaikan perasaanku. Apa dia pikir hatiku terbuat dari batu, tidak akan hancur melihat orang yang kita cintai bertunangan tanpa mengetahui alasannya.


"Kenapa lama sekali,,,"


"Om.!" Aku tersentak kaget saat tiba - tiba om Kenzo memelukku dari belakang. Aku bisa melihatnya yang sedang tersenyum padaku dalam pantulan cermin wastafel.


"Lepasin om.! Katanya nggak macem - macem. Kenapa peluk - peluk.!" Aku bergerak untuk melepaskan diri dari pelukan om Kenzo.


"Kalau kamu kayak gini, akun justru makin macem - macem Je. Kamu nggak sadar ada yang mengeras,," Ujarnya sambil mengembangkan senyum mesum.


Seketika mataku membulat sempurna, aku benar - benar merasakan milik Kenzo yang semakin menyembul. Aku reflek maju agar milik om Kenzo tidak menempel lagi pada bagian belakangku.


"Jangan mesum om. Buruan lepasin, aku mau keluar dari disini,,"


Ku pukul pelan kedua tangan om Kenzo yang melingkar di perutku.


"Kita sudah sering berbuat mesum, apa kamu lupa,,?" Bisiknya dengan seringai licik. Bulu kuduk ku dibuat meremang olehnya.


"Nggak usah di pertegas om."


Aku mengangkat tangan om Kenzo, lalu memberikan gigitan kecil disana.


"Aww..!!"


Saat om Kenzo melepaskan kedua tangannya, aku langsung berlari keluar dengan menahan tawa.


"Je,,,!!" Teriaknya.


Tidak ku hiraukan teriakan om Kenzo. Aku bergegas naik ke atas ranjang, menggulung diri menggunakan selimut dan memposisikan diri di tepi ranjang.


Aku tau om Kenzo pasti akan mengejarku kemanapun aku pergi, jadi percuma saja menghindar. Lebih baik aku langsung tidur saja.


Aku bisa merasakan pergerakan om Kenzo yang naik ke atas ranjangku. Dia merebahkan diri di sampingku hingga tanpa jarak. Punggungku bahkan bersentuhan dengan dadanya.


Perlahan om Kenzo mulai memelukku dari belakang.


"Aku rindu hubungan kita yang dulu Je. Maaf sudah mengecewakanmu,,"


"Kalau aku tidak memikirkan nasib mama dan Felicia, mungkin aku sudah membatalkan perjodohanku dengan Nadine sebelum kita dipertemukan."


"Kalau hubunganku dan Nadine baik - baik saja, aku tidak akan mencari kesenangan diluar,,"


Aku diam, hanya menyimak apa yang disampaikan oleh om Kenzo. Terlepas apapun alasan om Kenzo membohongiku, saat ini aku hanya ingin menyembuhkan luka yang masih tersisa di hati.


"Kalau luka yang aku berikan mampu menghapus perasaanmu padaku, maka biarkan aku menyembuhkan luka itu dan menghadirkan kembali perasaanmu padaku,,"


"Aku serius Je. Aku tidak akan meminta untuk kedua kalinya."


"Aku butuh waktu om. Aku juga ingin fokus pada kuliahku,,"


Aku belum siap untuk terluka lagi nantinya. Aku ingin menata hati agar lebih kuat lagi jika suatu saat aku kembali terluka.


"Aku akan menunggu sampai kamu siap. Tapi jangan bersikap dingin padaku, dan jangan menghindar jika aku ingin menemuimu,,"


Aku hanya mengangguk pelan.


"Aku mencintaimu,," Ucapnya sembari mempererat pelukannya pada perutku.


Jika dulu aku yang terkesan mencintainya dan mengejarnya, sedangkan om Kenzo terlihat cuek padaku. Kini aku merasa setelah kejadian pertunangan itu, keadaan jadi berbalik.


"Jangan terlalu menempel om, aku kegerahan,," Aku mendorong dada om Kenzo dengan siku.


"Siapa suruh pake selimut sampai digulung seperti ini." Om Kenzo menarik - narik selimut ku.


"Lagi pula apanya yang mau kamu tutupi.? Aku sudah melihat semuanya,," Ujarnya santai.


"Om,,!" Tegurku


Om Kenzo hanya terkekeh.


...****...


...Jangan lupa Vote yah 🥰...