
Kenzo Pov
Kenangan buruk membuat papa akhirnya memilih untuk meninggalkan negara kelahirannya dalam waktu cukup lama. Saat itu aku masih berusia 10 tahun. Aku yang tidak tau apa - apa hanya bisa menuruti permintaan papa untuk ikut dengannya.
Aku bahkan harus terpisah dari wanita yang sudah melahirkanku. Aku hanya anak kecil yang tidak paham dengan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
Tapi malam itu, mereka bertengkar hebat. Papa bahkan nyaris membunuh wanita yang sudah melahirkanku. Jika saja aku tidak mencegahnya, mungkin saat itu aku akan kehilangan mama untuk selama - selamanya.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyelidiki masalah yang dulu sempat mereka hadapi.
Ternyata kejahatan yang dilakukan seseorang, membuat papa berfikir jika mama sudah mengkhianatinya hingga mengandung anak dari orang lain.
Meskipun saat ini papa sudah mengetahui kebenarannya, namun dia masih saja tidak bisa memaafkan mama. Sakit hatinya terlalu besar.
Namun aku tau kalau papa masih memiliki cinta yang besar padanya. Jika papa tidak lagi mencintai mama, mungkin sudah sejak dulu dia mencari pengganti.
Selama 15 tahun tinggal di Paris, papa mendidik ku mati - matian agar aku bisa menjadi pemimpin di perusahaan yang baru dia kembangkan saat itu. Hampir sebelum berangkat atau sesudah pulang sekolah, aku akan berkunjung ke kantor papa lebih dulu. Di sanalah aku mulai mengenal dunia bisnis sejak aku masuk duduk di sekolah menengah atas. Sampai akhirnya aku dijadikan wakil CEO di usiaku yang baru genap 22 tahun. Saat itu aku baru saja menyelesaikan kuliah.
Papa memutuskan untuk kembali ke Indonesia setalah perusahaan di Paris mengalami penurunan yang signifikan akibat kecurangan yang di lakukan oleh rekan bisnisnya sendiri.
Sejak 5 tahun yang lalu, kami kembali mengembangkan perusahaan papa yang dulu sempat dia tinggalkan sebelum pergi ke Paris. Perusahaan itu di pegang oleh orang kepercayaan papa selama kami tinggal di Paris. Dua tahun terakhir perusahan kami berkembang pesat, berkat menjalin kerjasama dengan salah satu perusahaan terbesar di negara ini. Namun ada harga yang harus aku di bayar untuk itu.
Awalnya aku menerima keputusan papa dengan senang hati. Terlebih papa memberiku kebebasan untuk mencari tau keberadaan mama yang sudah belasan tahun tidak aku ketahui. Tapi pada akhirnya, aku menyesali keputusan yang sudah aku sepakati. Keputusan yang hanya membuatku terluka dan pada akhirnya aku memilih mencari sugar baby untuk mengalihkan luka yang aku rasakan.
...**...
Marvin ikut ke ruanganku setelah tadi dia menghadiri rapat pemegang saham di perusahaanku. Aku mengenal Marvin sejak 4 tahun yang lalu. Aku tau betul tabiat buruknya yang sering bergonta - ganti pasangan. Sebelum dia menikah, bahkan setelah dia menikah 3 tahun yang lalu. Marvin masih sering bermain dengan wanita. Saat ini aku juga tau kalau dia memiliki sugar baby yang masih berusia belasan tahun.
Pernikahan tanpa cinta membuat Marvin dengan mudahnya melanggar janji suci yang dulu ia ucapkan. Dan pada dasarnya, Marvin memang bukan tipe pria yang bisa setia pada 1 wanita.
Aku tidak membenarkan tabiat buruknya, tapi aku juga tidak menyalahkan apa yang dia lakukan. Karna aku takut suatu saat akan memilih jalan yang serupa dengannya. Dan terbukti saat ini.
"Lu nggak balik ke kantor,,?"
Marvin mengikutiku, dia duduk didepan meja kebesaranku.
"Tanggung bro, sejam lagi gue mau ketemu Celina,,"
Aku hanya menggelengkan kepala. Pria bule ini tidak ada puas - puasnya merengkuh kenikmatan. Sudah dapat kepuasan dari rumah, masih juga mencari kepuasan di luar. Meskipun Marvin tidak mencintai istrinya, tapi soal urusan ranjang tetap dia hajar dan jadi prioritas. Menurutnya, tidak perlu ada rasa cinta untuk bercinta. Karna bercinta hanya di dasari oleh hawa nafsu belaka.
"Nggak ada bosen - bosennya lu,,!"
Marvin hanya tertawa meski ucapanku terdengar ketus.
"Urusan ranjang mana ada yang bosen. Kecuali elu,, yang beda aliran,,," Ujarnya dengan candaan. Marvin semakin terbahak - bahak saat aku menatapnya dengan tajam.
Karna kesal, bolpoin yang ada ditanganku akhirnya melayang diwajahnya.
Meski sudah berulang kali aku jelaskan padanya tentang alasanku kenapa sampai saat ini aku belum pernah meniduri wanita, namun Marvin masih terus saja mengejekku.
Mungkin alasanku terdengar klise. Karna aku terlahir dari seorang wanita, dan mama pun harus menderita karna ulah pria biadab yang tidak bertanggung jawab. Itu sebabnya aku memilih untuk menahan diri daripada harus menyalurkan hasratku pada wanita yang belum memiliki ikatan denganku.
"Cariin gue sugar baby, yang seumuran aja sama Celina,,,"
Marvin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu mendengar ku minta di carikan sugar baby. Dia sampai bengong dengan mata yang membulat sempurna.
"Gue nggak salah denger nih,,?" Tanyanya tidak percaya.
"Apa perlu gue colok kuping lu biar lebih jelas dengernya.?"
"Sialan lu.!" Cibir nya. Aku terkekeh geli.
"Lagian nggak ada angin, nggak ada ujan, tau - tau ngelantur ngomongnya."
"Pedang lu udah berontak minta di asah.?" Bikin kesal saja si Marvin, pakai acara bahas benda pusaka segala.
"Gue nggak main cewe lu ngeledekin. Gliran gue minta di cariin cewe, lu kagetnya kayak lagi nidurin cewe lain terus ketangkap basa sama mertua.!"
Wajah Marvin berubah pucat. Mendengar kata mertua seakan menjadi momok yang menakutkan baginya. Terkadang kebahagiaan yang sedang dia rasakan tiba - tiba lenyap begitu saja saat mendengar kata mertua.
Karna tanpa mertuanya, Marvin hanyalah seorang bule yang bekerja sebagai staff perusahaan milik ayah mertuanya.
"Nggak usah bawa - bawa mertua juga.!" Ketusnya
"Iya nanti gue minta Celina buat cariin,,"
Aku merasa sudah tepat dalam mengambil keputusan. Sepertinya memiliki sugar baby akan membuatku sedikit melupakan permasalahan yang tidak kunjung menemukan jalan keluarnya. Dan mungkin aku akan terus terjebak dalam permasalahan itu.
Hari sabtu dan minggu adalah jadwal ku untuk tinggal di apartemen. Aku hanya ingin mencari suasana yang berbeda. Tidak melulu tinggal bersama papa.
Aku merasa lebih bebas jika tinggal di apartemen seorang diri. Juga merasa lebih santai karna tidak ada yang membahas soal perusahaan.
Sore itu Marvin menghubungi ku. Dia mengatakan jika dirinya sudah mendapatkan calon sugar baby untukku. Yang katanya sahabat Celina. Pasti penampilannya tidak jauh berbeda dengan Celina yang sedikit terlihat 'nakal'.
Aku memang belum pernah melihat Celina secara langsung, Marvin hanya menunjukan foto - foto kebersamaannya saat sedang bersama gadis itu.
Aku segera pergi ke apartemen Marvin. Di luar dugaanku, sugar baby yang Marvin kenalkan terlihat seperti gadis baik - baik yang polos. Dengan wajah yang imut khas remaja seusianya. Sangat berbeda dengan Celina yang sudah terlihat dewasa.
Aku langsung mengajaknya pergi ke apartemenku untuk menyuruhnya menandatangani surat perjanjian.
Dan memang benar tebakan ku, dia gadis baik - baik dan masih sangat polos. Karakternya juga lucu. Dia sangat suka berbicara dan mudah menyesuaikan diri. Kami langsung nyambung dan akrab dengan cepat tanpa rasa canggung.
Kecerwetannya saat di dalam mobil membuatku gemas padanya. Terlebih saat memperhatikan bibirnya yang merah muda, sangat menggoda sekali. Sebagai pria dewasa, aku tidak bisa menahan diri sampai akhirnya mencium bibirnya yang terasa begitu kenyal dan manis. Ini bukan pertama kalinya aku mencium wanita.
Dulu aku mencium seseorang yang sempat ada dalam hatiku.
Aku sangat terkejutmendengar penuturan gadis cantik bernama Jeje itu. Ternyata dia baru pertama kali berciuman. Pantas saja dia hanya diam saat aku menciumnya. Terlebih pengakuannya yang menyebut dirinya masih virgin, membuatku akhirnya mengurungkan niat untuk menjadikannya sebagai sugar baby. Aku tidak tega untuk merusaknya nanti.
Namun Jeje terus memohon padaku, memaksaku untuk menjadikan dirinya sebagai sugar baby. Dia bahkan nekat pergi ke club karna aku terus menolaknya. Jika saja aku tidak mengikutinya, mungkin saat itu dia sudah di rusak oleh laki - laki yang tidak bertanggung jawab.
Akhirnya aku memutuskan untuk menjadikannya sebagai sugar baby agar dia mau keluar dari club itu.
Beberapa kali bertemu dengannya, nyatanya memang mampu membuatku melupakan semua permasalahan yang ada. Pembawaannya yang cerewet dan ceria, memberikan warna tersendiri. Aku jadi lupa pada permasalahanku kalau sedang bersamanya.
Gadis itu memang cukup menghiburku.
Namun aku sangat penasaran dengan asal usulnya. Dia membuatku curiga karna selalu memakai barang - barang branded. Terlebih waktu itu dia menggunakan alasan yang tidak masuk akal saat memaksaku untuk tetap menerimanya sebagai sugar baby.
Dia beralasan ingin menjadi sugar baby agar bisa membayar biaya sekolahnya. Padahal barang - barang yang dia pakai waktu itu bernilai ratusan juta.
Aku memutuskan untuk menyelidiki latar belakangnya. Aku menyuruh orang untuk mencari informasi tentang gadis yang sudah menjadi sugar babyku selama beberapa minggu itum
Fakta tentangnya membuatku terkejut, ternyata Jeje yang memiliki nama langkap Jenifer Alexander adalah anak dari pengusaha ternama. Yang tak lain adalah sahabat papa.
Malam itu kami di undang oleh keluarga om Alexander untuk makan malam bersama. Sehubungan dengan proyek kerja sama kami yang akan di garap dalam waktu dekat.
Saat itu aku melihat Jeje yang hendak pergi seorang diri. Dia sangat kaget melihat ku yang datang ke rumahnya.
Aku menahannya untuk pergi, lalu menyuruhnya untuk menunggu di apartemenku. Tanpa berdebat lebih dulu, dia mau untuk pergi ke apartemenku.
Itu sifat yang aku suka darinya, dia sangat penurut.
...****...
Sedikit curhatan dari om Kenzo, semoga bisa memberikan titik terang buat yang masih penasaran. 😁
Disini nggak othor buka semua ya, kalo dibuka semua nanti kelar masalahnya🤣