
...Aku tidak pernah salah menjatuhkan hatiku padamu, dan menyerahkan seluruh hidupku untukmu. Karena hanya kamu yang mampu memberikan kebahagiaan dalam hidupku....
...****...
Seperti inilah indahnya hubungan yang sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan. Apapun yang mereka lakukan akan memberikan kebahagiaan yang menyejukkan hati, juga ketenangan yang tidak bisa mereka dapatkan saat masih berstatus sebagai sugar baby dan sugar daddy.
Sejak tadi, rona bahagia terus terpancar dari wajah pengantin baru itu. Mereka terus mengulas senyum.
Kenzo yang terang - terangan melemparkan senyum pada istrinya, dan Jeje yang tersenyum malu.
Makan satu piring berdua, terasa begitu nikmat bagi mereka. Keduanya bergantian saling menyuapi.
Entah keinginan macam apa yang diminta oleh Kenzo. Awalnya permintaan Kenzo di tolak oleh Jeje, namun Kenzo yang tidak pernah mau dibantah, membuat Jeje akhirnya mau menurutinya.
Jeje pun bisa merasakan kebahagiaan dari keromantisan yang dilakukan oleh Kenzo.
Suapan terakhir diberikan pada Jeje. Kenzo mengambil tisu dan menyeka sudut bibir istrinya.
"Kita seperti remaja yang sedang pacaran saja." Ujar Jeje setelah menelan makanannya.
"Padahal cuma aku yang remaja, my hubby sudah tua,," Celetuknya. Jeje dengan santainya mengambil air minum dan meneguknya. Tanpa mengetahui tatapan tajam yang diberikan Kenzo padanya.
Jeje hampir saja menyemburkan air dalam mulutnya saat melirik ke arah Kenzo.
Namun dia segera menelan air dalam mulutnya, kemudian tersenyum kikuk pada Kenzo.
Dia sadar kalau ucapannya sudah membuat Kenzo mendelik seperti itu.
"Hehe,, maaf by. Jangan marah ya, nanti gantengnya ilang loh,," Rayu Jeje dengan ekspresi wajah yang menggemaskan. Dia mengatupkan kedua tangannya, untuk memohon.
Kenzo tidak bisa menyembunyikan tawanya. Wajah yang tadinya terlihat kesal, kini tertawa karna ulah menggemaskan dari istrinya.
"Kamu paling bisa merayu,,!" Ujarnya sembari mengacak gemas rambut Jeje.
Jeje tersenyum sambil terus menatap Kenzo. Tawa bahagia dari suaminya, seakan menjadi energi positif tersendiri untuknya.
"Om,, aku pengen main ketempat kak Fely." Pinta Jeje.
"Seharusnya dia bisa datang ke acara pernikahan kita."
"Kenapa papa Andreas terus membencinya, padahal kak Fely nggak bersalah,," Ujar Jeje penuh Sesal.
Saat ini Fely sudah menjadi bagian dari keluarganya. Apa lagi Jeje berharap Fely dan Nicho bisa melanjutkan hubungannya hingga ke jenjang pernikahan seperti dirinya dan Kenzo.
Tapi sayangnya, Fely tidak bisa hadir dalam acara pernikahannya.
"Papa memang seperti itu, dia keras kepala dan pendendam,,"
"Kalau aku tidak memikirkan perasaan Felicia, mungkin aku sudah menyuruhnya untuk datang,,"
Kenzo memang berencana untuk mengundang Fely ke acara pernikahannya, namun melihat papanya yang masih terus membenci adik dan ibunya, akhirnya dia mengurungkan niatnya.
Kenzo tidak mau mengambil resiko. Dia yakin pasti pasti papanya akan menghina Fely. Begitu juga dengan papa mertuanya yang juga tidak menyukai Fely.
"Kita kesana saja sekarang."
"Kak Nicho hari ini juga pulang, nanti biar aku suruh kak Nicho langsung ke tempat kak Fely,," Ujar Jeje antusias.
Nicho memang sudah melakukan penerbangan sejak hari sabtu kemarin, tepat di hari pernikahan Jeje. Dan seharusnya pagi ini dia sudah sampai. Tapi Jeje belum mendapat kabar darinya.
Kenzo mengangguk setuju.
"Baik lah, 2 jam lagi kita kesana. Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,,"
Ujarnya. Kenzo harus menyelesaikan pekerjaannya karna dia berniat untuk tidak berangkat ke kantor senin besok. Dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama istrinya.
...****...
Keduanya sudah bersiap untuk pergi ke apartemen Felicia.
Dress selutut berwarna putih, melekat cantik di tubuh langsing Jeje. Rambut panjangnya dia biarkan terurai.
Kesan remaja begitu melekat pada dirinya. Wajah polos khas remaja berusia 18 tahun itu tidak bisa ditutupi meski sudah di tutup make up.
Jika dibandingkan dengan wajah dewasa Kenzo, mereka tidak terlihat seperti pasangan suami istri. Keduanya lebih mirip seperti adik kakak, bahkan seperti om dan keponakannya.
Kenzo tersenyum melihat Jeje yang sedang berdiri di depan cermin dengan sisir di tangannya.
Wanita cantik itu masih sibuk merapikan rambutnya.
Kenzo berjalan mendekat, berdiri di belakang Jeje dan memeluknya. Dia meletakan dagu di pundak Jeje.
Melihat tingkah suaminya yang membuat jantungnya berdetak kencang, Jeje hanya mampu mengulas senyum tipis dari pantulan cermin.
Kedua manik matanya terus menatap sosok laki - laki tampan yang sedang memeluknya dari belakang itu.
"You're my happiness,," Bisik Kenzo.
Senyum lebar terbit di bibir Jeje, dia begitu meleleh mendengar bisikan dari Kenzo yang membuatnya melambung.
"Rasanya tidak sabar untuk melahapmu,," Bisiknya lagi. Kali ini Jeje dibuat melotot. Dia mencubit gemas tangan suaminya yang melingkar erat diperut ratanya.
"Pagi - pagi jangan mesum by,," Protesnya.
"Bukannya kamu suka kalau aku berbuat mesum,,?" Tangan jahil Kenzo mulai bergerak keatas. Dia menangkup kedua aset kembar milik istrinya dan meremasnya.
"Byyyy,,,,!!" Pekik Jeje dengan mata yang membulat sempurna. Dia tidak habis pikir dengan suaminya yang berbuat mesum seenaknya. Bisa - bisanya dalam keadaan akan pergi, Kenzo meremas kedua asetnya. Hingga pipinya merona karna malu.
Kenzo terkekeh melihat raut wajah Jeje yang terlihat kesal sekaligus malu.
"Aku rindu padanya,,"
Ucapan Kenzo berhasil membuat badannya menegang. Jeje ingat bagaimana Kenzo begitu menyukai kedua aset kembarnya. Laki - laki itu seakan tidak pernah puas saat melahap benda favoritnya.
"Ayo berangkat,,," Rengek Jeje sembari menggerakkan badannya agar terlepas dari pelukan Kenzo. Dia sudah tidak tahan lagi membahas hal yang membuatnya terus berfikir mesum.
"Cium aku dulu,," Pinta Kenzo, dia mensejajarkan wajahnya dengan Jeje dan menoleh ke arahnya.
Enggan membuang waktu lebih lama lagi, akhirnya Jeje menuruti permintaan Kenzo.
Dia mencium bibir Kenzo, bahkan melu**tnya sekilas.
"Sudah,,," Ujar Jeje malu - malu.
"Ayo berangkat,,"
Dia menyingkirkan tangan Kenzo dari perutnya, kemudian beranjak keluar kamar. Disusul oleh Kenzo yang berjalan di belakangnya. Dengan rona bahagia yang semakin membuatnya terlihat tampan dan lebih muda.
"Kita ke mall dulu. Aku harus membeli keperluan bulanan dan bahan makanan untuk Felicia,,"
Ujar Kenzo setelah mobil mereka keluar dari gedung apartemen.
Meskipun dia sudah memberikan uang setiap bulan untuk adiknya, Kenzo tidak pernah absen untuk menyetok kebutuhan Fely. Dia tidak mau adiknya kekurangan apapun. Selama ini dia tau bagaimana susahnya hidup yang dijalani oleh adik dan ibunya.
"Okee,, siap boss,,!" Sahut Jeje semangat.
Melihat Kenzo yang begitu perhatian dan peduli pada adiknya, tentu saja Jeje merasa senang. Kenzo sudah seperti Nicho yang juga peduli dan perhatian padanya.
Keduanya sudah sampai di pusat perbelanjaan. Jeje hanya bisa mengikuti kemanapun suaminya melangkah. Karna hanya suaminya yang tau, apa yang akan di beli untuk Fely.
Jeje hanya request bahan makanan yang ingin dia masak untuk makan siang bersama di sana.
"Ken,,,!" Teriakan perempuan dari arah belakang, membuat keduanya menoleh bersamaan.
Jeje menatap intens wanita yang baru saja memanggil suaminya.
Tubuh seksi berbalut dress ketat, membuat penampilan wanita itu terlihat menggiurkan.
Dengan senyum yang merekah, dia berjalan anggun menghampiri Kenzo dan Jeje.
"Wah,, aku nggak nyangka kamu hobby belanja bulanan seperti ini,," Ucapnya sembari menatap troli yang hampir penuh dengan belanjaan.
Kenzo hanya mengulas senyum tipis. Berbeda dengan Jeje yang masih diam mematung.
"Ini adik kamu yang ingin kamu cari waktu itu.?" Dia menunjuk Jeje.
"Dia sangat cantik dan manis,," Wanita itu mencubit gemas pipi Jeje.
"Aww, sakit tante,,!" Seru Jeje sembari menepis pelan tangannya.
"Cla.! Kamu ini.!" Tegur Kenzo, dia menatap Clara dengan tajam.
"Ya ampun, sorry Ken. Aku terlalu gemas sama adik kamu yang lucu ini,," Clara mengulas senyum.
"Dia istriku, bukan adikku.!" Tegas Kenzo.
Clara tidak bisa menahan tawanya, dia terbahak - bahak mendengar penuturan Kenzo.
"Aku tau kamu terluka karna pernikahan kamu dan Nadine harus gagal. Tapi nggak harus mengakui adik kamu sebagai istri juga Ken.!" Ujarnya dengan menahan tawa.
"Atau ini cara kamu buat nolak aku lagi,,?" Sambungnya. Kali ini wajah Clara berubah serius.
Begitu juga dengan Jeje yang terlihat bengong menatap wanita itu dan Kenzo bergantian.
...****...
Jangan lupa tinggalkan likenya.