After Death

After Death
Bab 98: Tumbal Pesugihan



Sore di langit Tuvalu sangat indah. Terlebih saat mendekati senja seperti saat ini. Suara riuh ombak dipadu burung-burung camar semakin menambah kedamaian. Namun, kedamaian itu jelas tak tampak di wajah Pram. Meski tubuhnya masih terlentang santai di bibir pantai, pikiran dan hatinya sangat bergejolak, sangat tidak santai. Ia sangat kaget dengan perkataan Raja Ramadhana yang mengatakan ayahnya melakukan perjanjian dengan jin hitam.


Raja Ramadhana sengaja memberi jeda pada ceritanya, lantaran tahu bahwa hal yang ia katakan bukanlah hal yang membahagiakan untuk didengar. Ia menunggu Pram untuk memintanya agar meneruskan ceritanya.


“Lalu, Raja? Tolong ceritakan semuanya.” kata Pram seperti mendengar kata hati sang raja yang telah menunggunya.


“Kau pasti akan sangat terkejut. Setelah menikah, ibu dan ayahmu pergi merantau dan meninggalkan Sadawira di kampung sendiri. Sejak itu, ibu dan ayahmu tidak pernah kembali untuk sekadar menengok keadaan Sadawira. Kakek buyutmu tahu bahwa ayahmulah yang melarang ibumu untuk datang berkujung. Dan sebagai seorang istri yang taat, ibumu tidak pernah membantah.


Dulu dalam perantauan ayah dan ibumu hidup dalam keterbatasan yang teramat sangat. Mereka bahkan kesulitan untuk bisa makan dengan rutin. Arimbi sering menahan lapar dan mengisi perutnya yang kosong dengan air, karena makanan yang ada dia berikan pada kedua saudaramu yang kembar itu. Tapi ibumu seorang yang teguh dan kuat, dia dan ayahmu yang telah hidup terpisah dari Sadawira, dan memilih mengontrak, tidak menceritakan apapun pada kakek buyutmu. Dan Sadawira yang sebenarnya tahu, juga hanya diam menghargai pilihan ibumu.


Keadaan keluargamu yang sangat susah, membuat ayahmu terjebak pada sebuah perjanjian dengan jin hitam, anak buah anakku, Bemius. Suwignyo akan mendapatkan harta yang melimpah seperti yang dia inginkan saat kau lahir. Dan sebagai gantinya, Bemius meminta tumbal.”


“Iya, Anda benar. Ibu mengatakan padaku bahwa aku adalah keberuntungan bagi ayah. Semua usaha ayah lancar dan maju dengan pesat setelah aku dilahirkan.” kata Pram seraya kembali pada ingatannya di masa lalu.


“Kau tentu tahu tumbal itu apa. Kurban atau persembahan yang diberikan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dan yang dijadikan persembahan pertama oleh Suwignyo adalah istrinya sendiri, ibumu.” kata Raja Ramadhana lirih dan perlahan, tidak ingin membuat Pram terkejut.


“Apa?” tapi Pram masih terkejut pula. Ia sangat tidak menyangka jika ayahnya tega menjadikan ibunya sebagai tumbal. Padahal ia tahu bahwa ayahnya sangat mencintai ibunya lebih dari siapapun.


“Bemius hanya meminta tumbal dari kalangan keluarga. Dan ayahmu, tidak tega mengurbankan saudara-saudaramu. Dia sangat menyayangi anak-anaknya, lebih-lebih anak laki-lakinya.”


Kali ini Pram menutup mulutnya agar air matanya keluar tanpa isakan. Kharon yang berbaring di sampingnya mengelus pundaknya untuk membantu menguatkan. Sedangkan Raja Ramadhana tetap anteng berbaring di sebelah Pram tanpa menatap wajah gadis itu. Sang raja jelas tidak tega.


Pram mulai mengerti mengapa ayahnya selalu bersikap kasar pada kakaknya Ghozie. Hal itu karena Ghozie mungkin selalu mengingatkan ayahnya pada perjanjian yang ujungnya mengorbankan ibunya, orang yang sangat dicintai ayahnya. Pram menyimpulkan demikian karena sikap kasar ayahnya itu semakin parah setelah kematian Arimbi. Ayahnya bahkan terkadang terlihat tidak sudi melihat Ghozie.


“Lalu?” kata Pram saat merasa lebih kuat.


“Kau tidak perlu meneruskan jika tidak kuat mendengarnya, Pram.”


“Tidak, aku harus kuat untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Raja, tolong lanjutkan lagi cerita Anda.”


Raja Ramadhana menghela nafas panjang. Ia sebetulnya sangat berat untuk bercerita karena cerita tragis yang menimpa sahabatnya itu mengingatkannya pada semua rasa bersalah.


“Saat ibumu mulai sakit-sakitan dan tak sadarkan diri, Sadawira tahu bahwa ada seorang jin hitam yang tengah mengincar roh ibumu, dan telah bersiap untuk mengambilnya. Jin itu tentu saja utusan Bemius. Bukan jin sembarangan, dia berilmu tinggi dan memiliki banyak pasukan yang siap membantu jika dipanggil.


Saat jin hitam itu keluar dan pergi menuju negeri Shaman, Sadawira menghadangnya tepat di gerbang masuk ke negeri Shaman. Singkat cerita, terjadi pertarungan antara kakek buyutmu dengan jin hitam itu. Sebenarnya, mulanya Sadawiralah yang memenangkan pertarungan itu, lalu pergi membawa kantong berisi roh ibumu pulang ke rumahnya di desa. Di sana Kharon dengan setia menjaga jasad kakek buyutmu yang duduk bersila dengan mata terpejam.”


Pram melihat ke arah Kharon yang menangis sesenggukan mengingat masa kelam itu. Raja Ramadhana menghentikan ceritanya sejenak menunggu hingga Kharon lebih tenang. Ia pun berkali-kali mengusap air matanya. Kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.


“Apa aku perlu melanjutkan cerita ini?” Sang raja juga tengah menenangkan dirinya yang justru mulai terisak lebih keras.


“Tidak apa paduka, Pram berhak tahu yang sebenarnya.”


“Ketika tiba di rumahnya, jiwa Sadawira yang membawa roh ibumu, bersembunyi dalam sebuah peti tempat Sadawira biasa meletakkan pusaka-pusaka miliknya. Dan saat jin hitam yang mengejar kakek buyutmu datang bersama seluruh pasukannya, langsung memaksa Kharon untuk menunjukkan tempat persembunyian jiwa Sadawira. Jin hitam itu melihat Diadem Naga Perak dariku itu melingkar di kepala Kharon, yang artinya Kharon tidak bisa berbohong, dia terus menanyakan hal yang sama. Sampai akhirnya Kharon mengatakan letak persembunyian itu. Dan singkat kata, Sadawira dan Arimbi meninggal bersama. Jiwa Sadawira yang telah koyak, kembali ke raganya sebelum pergi ke alam berikutnya. Sedangkan Arimbi, jasadnya telah mati dan rohnya terkurung dalam penjara roh milik Bemius. Penjara khusus untuk para tumbal perjanjian hitam yang dipekerjakan secara paksa oleh Bemius.”


“Jadi, itu sebabnya ibuku tidak ada di Anastasia. Ternyata jiwanya masih terkurung di Shaman.”


“Maafkan aku, Pram. Karena aku, kau kehilangan kakek buyut dan ibumu.” kata Kharon masih dengan tangis lirih.


“Maafkan aku juga karena telah memaksa kakek buyutmu untuk menerima Diadem Naga Perak yang kemudian dipasang di kepala Kharon dan membuat khodammu ini hanya mampu berkata jujur. Mungkin jika tidak, Sadawira dan ibumu masih ada.” ucap Raja Ramadhana penuh sesal.


Pram duduk menghapus air matanya dan tersenyum menoleh ke kiri lalu ke kanan, melihat Kharon dan sang raja bergantian. Kedua lelaki itupun ikut duduk.


“Semua adalah takdir.”


*****


Halo semua.... Terima kasih author sampaikan untuk kalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini. Oh ya, author mau curhat sedikit nih 😄


Author sedang kejar target untuk menulis sebanyaj 60 ribu kata dalam sebulan ini. Mohon dukungan semangatnya dari kakak reader semoga author berhasil menggenapi 60 ribu kata sebelum bulan maret berakhir 😄😄


Karena sedang dalam posisi mengejar sebuah target yang tergolong berat, author berharap kualitas cerita dalam novel ini tidak menurun. Meski demikian, untuk mewanti-wanti hal tersebut, author sangat terbuka dengan segala kritik dan saran. Jika dirasa ada penurunan kualitas cerita, mohon kesediaan kakak reader untuk memberi peringatan dan masukan di kolom komentar. Jika memang cerita dalam novel ini tetap baik dan stabil, mohon beri dukungan berupa like di setiap chapter yg diupdate.


Jangan lupa untuk share Novel ini ke teman-teman agar semakin banyak yang membaca novel-novel bergenre Fantasi 😅😅😅